[MFA2023] Tak Perlu Takut Ataupun Sedih – Widji Wuri


Salah satu ayat favorit saya adalah penggalan ayat “Fa laa khawfun ‘alayhim walaa hum

yahzanuun.”

“… tidak perlu takut, juga tidak bersedih hati [niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka,

dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS Al Baqarah: 38)

Ustaz Nouman menerangkan ayat ini dengan memberi contoh orang sakit. Biasanya, kita

akan kasihan pada mereka. Namun, sedikit janggal ketika seseorang sakit dibawakan

kepada Rasulullah, beliau berkomentar, La ba’s- (tidak mengapa). Thahuurun, (insyaAllah-Ini adalah pembersih dengan kehendak Allah).

Seolah, semakin lama seseorang sakit, semakin banyak dosanya yang dihapuskan.

Sehingga saat menghadap Allah di Hari Penghakiman kelak, alih-alih mengeluh, 

Yaa Allaah mengapa Engkau membuat saya sakit ini dan itu, begitu lama?” 

Pada hari kiamat justru ia akan berterima kasih kepada Allah untuk penyakit tersebut. Sebab setiap detik dari penyakit itu akan menyingkirkan dosa-dosanya sehingga saat menghadap Allah, ia dalam kondisi suci.

Subhanallah. Jadi orang yang mengalami penderitaan di dunia ini, sejatinya bukanlah kesedihan bagi mereka. Allah ‘azza wajall bahkan menjadikan keadaan itu sebagai kebahagiaan. 

Laa khawfun ‘alayhim wa laa hum yahzanuun

“Dan tak seorang pun, di luar agama ini yang dapat menikmati ketenangan dan kedamaian ini.” MaasyaaAllah.

Awal mula didiagnosa kanker dan saat proses menerima penyakit ini, saya sempat menelusuri berbagai kemungkinan penyebab atau pemicu kemunculannya, dari terhirupnya

partikel kimia selama belasan tahun saya meracik obat tanpa aware dengan safety terhadap

diri. Atau dari potensi genetis di jalur bapak (uwak dan almarhum sepupu saya terkena kanker otak dan kelenjar getah bening). Mungkin dari konflik batin yang sempat menghampiri karena sesuatu masalah di keluarga besar, dan seterusnya.

Namun pada akhirnya saya tidak menyalahkan siapa pun, sebab semua terjadi atas izin Allah Ta’ala dan telah tertulis pula di lauh mahfuz. Sepenuh yakin saya menerima dan berbaik sangka kalau penyakit ini pasti baik untuk saya. Tak perlu melawan dan memusuhi penyakit yang Allah rezekikan bagi kita, sebab ia juga makhluk Allah yang patuh pada perintah-Nya saat dititipkan pada tubuh kita. 

Terima lalu akrabi ia sebagai jalan pintas menuju keridaan Allah untuk mempersilakan kita memasuki Jannah-Nya.

Kesembuhan adalah mutlak keputusan Allah, bukan milik dokter atau tindakan medis apa

pun, ranah kita adalah terus berikhtiar dengan cara-cara yang Allah rida. 

Sembuh, tetap sakit atau bahkan dipanggil pulang kepada Ilahi, itu semua baik. Asal jiwa kita rida dan Allah pun meridai cukuplah sudah. Panggilan Allah, 

“Yaa ayyatuhannafsulmuthmainnah, irji’i ilaa rabbiki raadhiyatammardhiyyah…” sungguh sangat indah.

Sebagai manusia, wajar sih kalau kita cenderung tidak menyukai kondisi tidak nyaman,

kesedihan, penderitaan dan semisalnya. Kita tuh ingin hidup kita baik-baik saja, tercukupi

segalanya, sehat, bahagia, bisa beribadah dengan leluasa dan seterusnya.

Namun, apakah jika kehidupan tidak berjalan seperti yang kita inginkan menjadi sesuatu yang buruk? Belum tentu. Dalam kacamata iman, kita meyakini bahwa hidup tidak sebatas di dunia ini saja, tetapi kehidupan yang sesungguhnya adalah nanti di akhirat sana.

Meyakini, bahwa tak ada yang buruk pada setiap takdir Allah Ta’ala. 

Sesungguhnya hati kitalah yang kurang jernih jika belum mampu melihat kebaikan serta menangkap hikmah darinya, bila tak bisa berbaik sangka atas segala ketetapan-Nya.

Ketika hati kita dipenuhi rasa rida dan cinta pada Dzat Yang Maha Bijaksana, yang menetapkan segala sesuatu berdasarkan ilmu-Nya, yang Maha Berkehendak sebab Dialah

Sang Maha Pencipta, yang Maha Penyayang dan tak pernah sekalipun menzalimi hamba-Nya, maka yang tampak hanyalah kebaikan, kebaikan dan kebaikan Allah semata.

Yakinlah apa pun keputusan Allah saat ini selalu untuk kebaikan kita, baik di dunia maupun

di akhirat kelak. Dengan begitu kita akan merasakan ketenangan yang berasal dari iman.

Tidak ada kekhawatiran karena yakin akan janji Allah Ta’ala. 

Fa laa khawfun ‘alayhim wa laahum yahzanun.

Ujian itu bukan untuk membuktikan seberapa kuat diri kita, tetapi supaya kita mengakui

kelemahan kita di hadapan-Nya, sepenuh pasrah menyerah pada kehendak-Nya dan

seberapa banyak kita meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala.

Dan musibah yang mendekatkan diri kita kepada Allah sejatinya ia adalah Nikmat, sedangkan nikmat yang menjauhkan kita dari Allah Ta’ala adalah musibah yang sesungguhnya. Wallahu Ta’ala A’lam.

Oleh: Widji Wuri
Sumber tulisan: https://youtu.be/xq57myJ5e34

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s