[MFA2022] IBU – Maulina Nur Latifah


Syukur Alhamdulillah, aku dilahirkan ke dunia dari bapak dan ibu rahimahulah yang sabar, bijaksana, tegas, dan penuh kasih sayang. Melalui mereka berdualah aku mengenal siapa penciptaku, Allah ﷻ dan nabiku Muhammad ﷺ serta Islam sebagai agama rahmatan lil’alamiin. Mereka bukanlah ahli agama, tapi masyaallah sangat berusaha mendidik sedari lahir hingga dewasa dengan pendidikan yang terbaik, termasuk mengikutsertakan aku dalam pendidikan agama.

Hingga suatu saat (tepatnya 20 tahun yang lalu) Allah ﷻ memanggil kembali bapak untuk pulang ke peristirahatan terakhir. Sedih sudah pasti, karena beliau lah tulang punggung keluarga kami. Ibu hanya seorang ibu rumah tangga, saat itu aku baru 18 tahun, masih ada adik, dan 2 kakak yang kuliahnya pun belum selesai.

Bukan tugas yang mudah bagi beliau rahimahullah melanjutkan pendidikan putra-putrinya seorang diri. Tapi masyaallah Ibu rahimahullah adalah seorang yang tak pantang menyerah. Meski tanpa bergelimang harta Beliaulah yang siang dan malam senantiasa mengingatkan putra-putinya agar jangan sampai meninggalkan salat dan hanya memohon pertolongan Allah ﷻ meski putra-putrinya sudah berumah tangga.

Beliau yang senantiasa menguatkan anak-anaknya. Beliau juga mengajarkan untuk senantiasa berbuat baik dan mendoakan untuk kebaikan pada siapapun meski dengan orang yang pernah menyakiti. Beliau yang rela direpotkan demi kebahagiaan putra-putrinya bahkan sampai cucunya. Beliau yang ikhlas memendam rasa lelahnya. Beliau yang sangat gembira setiap mendengar kabar bahwa putra-putrinya yang tinggal jauh di luar kota akan datang mengunjunginya.

Masih banyak lagi kebaikan beliau pada putra-putrinya yang tak kan pernah terlunasi walau dengan segunung emas permata, kecuali dengan menjadi anak yang saleh yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya. Dari seorang ibu selalu ada doa paling ikhlas dalam salatnya untuk kebaikan putra-putrinya.

Sehingga aku tertegun pada firman Allah ﷻ QS. An’am ayat 151,

۞ قُلْ تَعَالَوْا۟ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَوْلَٰدَكُم مِّنْ إِمْلَٰقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا۟ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Katakanlah (Muhammad), “Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apa pun; berbuat baik kepada ibu bapak; janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan keji, baik yang terlihat ataupun yang tersembunyi; janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti.”

Ustaz Nouman Ali Khan pernah memberikan penjelasan bahwa dari ayat tersebut ada beberapa hal yang jelas tertulis diharamkan oleh Allah ﷻ, kecuali berbuat baik kepada orang tua. Ini merupakan cara Al-Qur’an yang luar biasa mengekspresikan bagaimana seharusnya seseorang harus memperlakukan kedua orang tuanya. Kata “Wabilwalidaini ihsana” bermakna “the best for your parents is a must”.

Aku pun melihat bahwa ibu rahimahullah meski mungkin belum memahami ayat ilmu dalam ayat tersebut tapi ibu telah mempraktikkannya dalam mendidik putra-putrinya sepeninggal bapak dan Yakin bahwa Allah ﷻ satu-satunya penolong dan pemberi rezeki. Aku dan suamiku pun selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi ibu dan tinggal beberapa hari menemani beliau.

Bagi kami waktu bersama beliau sangat berharga, meski tak selalu mengajaknya pergi ke suatu tempat. Hanya makan bersama atau sekedar mengobrol melepas kerinduan telah membuat ibu bahagia. Karena kebetulan kami tinggal jauh di luar kota. Kami bisa jadi seperti saat ini juga bukan karena kemampuan kami tetapi karena rida Allah ﷻ dan doa yang tulus ikhlas dari Ibu.

Sehingga tepat di bulan Dzulhijjah tahun lalu Allah ﷻ sang pemilik alam semesta lebih menyayangi beliau dan memintanya kembali ke pangkuan-Nya. Dan ini merupakan bulan Ramadhan pertamaku tanpa bisa lagi bersama-sama dengan beliau.

Belum banyak kebaikan yang aku berikan kepadanya namun dalam sujudku, aku selalu memohon kepada sang pemilik hati Allah ﷻ untuk senantiasa memberikan yang terbaik, Husnul Khotimah untuk beliau berdua dan menjadikan kami, putra-putrinya menjadi putra-putri yang saleh dan salehah sehingga kelak bisa dikumpulkan kembali dalam balutan kasih sayang Allah di Jannah-Nya. Aamiin

Bagi yang masih memiliki orang tua lengkap (ayah dan atau ibu) luangkan waktumu berbaik-baiklah terhadap beliau. Bukan emas yang diharapkan dari kesuksesanmu tapi lebih dari perhatianmu. Kunjungi beliau sesering mungkin, mintalah restu dan doanya dan mohonlah maaf.

Dan sebaliknya senantiasa doakan pula orang tuamu yang masih hidup agar senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang untuk taat beribadah kepada Allah ﷻ. Jangan sekali-kali menyakiti hatinya karena hingga kau kehilangan beliau maka akan ada penyesalan seumur hidup yang tak pernah bisa terlupakan.

Ya Allah ya Rahman ya Rahim ridai ibu dan bapak kami, lapangkan kubur beliau berdua, ampuni segala dosa, terima semua amal ibadah beliau semasa di dunia, mudahkan hisabnya, dan berikan tempat terbaik di taman-taman surga-Mu. Aamiin ya robbal alamiin ya mujibassailiin.

Sumber Referensi :

Buku Semua Ada Saatnya, Syekh Mahmud al-Misri, diterjemahkan oleh Ustadz Abdul Shomad

Buku Amalan Ringan Paling Menakjubkan, Syekh Ali Jaber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s