[MFA 2022] Apakah Setiap Muslim Wajib Berdakwah? – Mutia Faridah


Pertanyaan itu sudah lama muncul di pikiran saya. Salah satu kejadian yang melatarbelakangi pemikiran tersebut karena seringnya melihat postingan di media sosial yang berlomba-lomba mengajak berdakwah terutama di media sosial.

Ajakan menggunakan media sosial untuk berdakwah ini cukup menarik. Karena jika kita tidak bisa membuat konten sendiri, kita bisa repost dari postingan orang lain. Sangat mudah dilakukan. Apalagi dengan iming-iming pahala jariah. Makin semangat lagi.

Salah satu jenis konten yang saya pilih pertama kali adalah tadabur al-Qur’an ayat tertentu sesuai dengan yang sedang saya pelajari. Tapi itu bertahan beberapa bulan saja. 

Lain waktu saya juga mencoba jenis konten lain, tapi lagi-lagi kurang bisa konsisten dan berakhir dengan menghapus akun tersebut.

Kendalanya ada dalam diri saya sendiri. Saya merasa tidak terlalu percaya diri menunjukkan pemikiran saya pada orang lain. Disisi lain, saya juga merasa tidak pantas memberikan nasehat karena kurangnya ilmu dan pengamalan. Dan faktor manajemen waktu juga dimana saya kurang bisa mengatur jadwal postingan secara konsisten.

Ada perasaan berdosa ketika saya tidak mengambil peran dakwah di media sosial. Terutama karena saya pernah mengambil beberapa pelatihan tentang ilmu media sosial. Saya merasa ilmu tersebut belum saya gunakan secara maksimal untuk menolong agama Allah.

Kejadian lain yang melatarbelakangi pertanyaan tersebut adalah beberapa kali saya melihat seorang Dai yang ceramah dimana-mana dan dihormati masyarakat tapi anaknya bermasalah seperti melakukan pergaulan bebas hingga hamil diluar nikah. Naudzubillahi min dzalik.

Dan lagi-lagi pertanyaan itu muncul, apakah setiap muslim wajib berdakwah? 

Jika iya bagaimana skala prioritasnya dengan kewajiban lainnya?

Pertanyaan ini Alhamdulillah terjawab ketika saya sedang mencari sebuah video pada channel youtube Nouman Ali Khan Indonesia.  Video tersebut berjudul “Tugas Seorang Muslim”. 

Sebuah kejutan!  Karena dari judulnya saya tidak mengira ini jawaban yang saya cari selama ini.

Dalam video tersebut, Ustaz Nouman membahas makna potongan ayat dari QS. Al Baqarah ayat 128:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau

Penjelasan ustaz Nouman terkait ayat diatas kurang lebih seperti ini:

Ayat di atas merupakan doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam agar dirinya, istrinya dan anak keturunannya termasuk kita menjadi seorang muslim.

Artinya tugas dan gelar kita dalam kehidupan ini bukanlah menjadi seorang Dai tapi menjadi seorang muslim (seseorang yang berserah diri pada Allah). Itulah yang utama. Yang lainnya adalah cabang dari tugas tersebut.

Sebagai seorang muslim kita punya banyak tanggung jawab yang kadang harus kita penuhi tiap hari. Dan kita harus berusaha adil untuk memenuhi semua tanggung jawab itu.

Misalnya sebagai orang tua, kita harus memberi waktu untuk anak. Disisi lain, kita juga harus memberi waktu untuk Allah, memberi waktu untuk diri kita sendiri dan lain sebagainya.

Ditengah hal tersebut, kadang kita juga harus menyediakan waktu untuk menunjukkan agama Allah sebaik yang kita bisa.

Apa itu artinya kita harus menjadi Dai? Jika kita memiliki waktu untuk itu, itu sangat baik. Tapi jika tidak itu bukan berarti kita meninggalkan kewajiban. Karena Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan dakwah sebagai tugas umat bukan individual.

Diantara sekian banyak tanggung jawab itu, kita harus membuat semuanya seimbang. Karena belakangan ini kita melihat banyak orang yang hidupnya tidak seimbang misalnya orang yang sukses karirnya tapi rumah tangganya berantakan.

Ketika tanggung jawab yang kita miliki dapat terpenuhi secara seimbang. Maka orang akan tertarik dengan keseimbangan tersebut. Kita menunjukkan melalui cara hidup kita bagaimana menjadi muslim sejati. Dan itulah dakwah terbesar kita.

Dari penjelasan ustaz Nouman di atas saya menggaris bawahi. Bahwa tugas utama kita sebagai muslim yang sifatnya fardu ‘ain adalah memenuhi tanggung jawab yang berhubungan pribadi dengan kita secara langsung. Keluarga, pekerjaan, diri sendiri, Allah dan seterusnya. Itulah dakwah utama kita. Prioritas pertama kita.

Artinya jika ada tugas dakwah, yang pertama harus didakwahi adalah diri kita sendiri. Apakah kita sudah memperhatikan diri kita secara adil (seimbang), apakah hubungan kita dengan Allah sudah sesuai tuntunan-Nya, apakah waktu yang kita alokasikan untuk belajar bertabrakan dengan waktu untuk keluarga dan seterusnya.

Saya jadi teringat tentang kata-kata seorang ustaz bahwa setiap dari kita (setiap muslim) adalah brand ambassador Islam. Duta Islam.

Orang non muslim mungkin tidak memahami tentang isi Al-Qur’an tapi mereka melihat kita (orang Islam). Mereka melihat bagaimana cara kita hidup, berpenampilan, berperilaku dan lain sebagainya. Kebaikan atau keburukan yang mereka lihat dari diri kita, kita tidak bisa menyalahkan jika mereka menyimpulkan; begitulah Islam.

Makanya penting untuk berusaha hidup secara seimbang (adil) seperti yang Ustaz jelaskan di atas. Salah satunya agar kita bisa menampilkan wajah Islam yang sebenarnya.

Adapun berdakwah kepada khalayak umum itu sifatnya fardu kifayah. Artinya jika kita punya waktu lebih maka akan sangat baik untuk mengambil bagian dalam dakwah. Tapi jika tidak, kita pun tidak berdosa.

Terkait mengambil bagian dalam dakwah, kita tidak harus secara langsung menjadi Dai yang berceramah di hadapan banyak orang. Kita bisa mengambil bagian dalam komunitas dakwah entah offline atau online sesuai dengan kemampuan kita. 

Seperti program MFA (My Favourite Ayah) pada komunitas NAK Indonesia ini, ada volunter yang bagian memposting, bagian mengedit tulisan, bagian share ke media sosial, bagian menerima pendaftaran peserta, bagian membuat desain konten dan lain lain. Masyaallah.

Sekecil apapun peran kita dalam dakwah insyaallah menjadi ladang amal saleh yang semoga menambah timbangan amal baik kita di akhirat nanti. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.

Referensi :

One thought on “[MFA 2022] Apakah Setiap Muslim Wajib Berdakwah? – Mutia Faridah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s