[VoB2022] Parental (Mis)-guidance


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-565

Topik: Pearls from Al-Kahfi

Jum’at, 7 Januari 2022

Materi VoB Hari ke-565 Pagi | Parental (Mis)-guidance

Oleh: Heru Wibowo

#FridayAlKahfiWeek81Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Cara pandang yang berbeda, yang kita pelajari di part sebelumnya, berasal dari pemahaman kita bahwa qayyiman berarti lurus. Atau bimbingan yang lurus.

Sehingga Al-Qur’an berhak untuk meluruskan. Meluruskan apa yang menyimpang. Maka tidak mengherankan ketika kita menjumpai adanya warning atau peringatan di ayat kedua Al-Kahfi ini.

Liyundzira artinya untuk memperingatkan. Ba’san artinya siksa. Syadiidan artinya yang sangat pedih.

Mengapa Al-Qur’an perlu memperingatkan akan adanya siksa yang sangat pedih? Dan apakah ini ada hubungannya dengan kehidupan kita di zaman sekarang?

Al-Qur’an perlu memberi peringatan karena ‘iwaja atau kebengkokan yang terjadi di masyarakat sudah sangat parah. Kebengkokan itu terjadi di zaman dulu, dan terjadi pula di zaman now.

Ada hal-hal yang memalukan yang terjadi di masyarakat kita. Sangat memalukan dan tidak ada satu pun yang bisa menerimanya.

Ustaz memberi contoh sederhana. Ada tanda di pantai-pantai di Amerika Serikat tentang pakaian yang seharusnya dikenakan oleh pria dan wanita.

Siapa pun bisa kena denda jika berpakaian yang tidak senonoh di pantai. Paparan yang tidak senonoh (indecent exposure) benar-benar dilarang.

Itu adalah contoh di California, Amerika Serikat. Di Florida.

Tapi itu beberapa puluh tahun yang lalu.

Sekarang, apa yang terjadi? Seorang ayah berjalan bersama putrinya yang berusia 16 tahun, yang bisa dibilang hampir tidak berpakaian sama sekali, berjalan menyusuri sebuah pantai.

Dan yang seperti itu, sekarang, tidak kena denda. Tidak lagi dianggap masalah. Dianggap completely fine.

Ustaz menambahkan, sudah gitu, perempuan remaja itu taking selfies dan membiarkan foto dirinya terpampang di facebook.

Ada hewan atau binatang, kata Ustaz, yang bahkan berpakaian lebih layak dan lebih pantas daripada manusia-manusia seperti ini.

Ini adalah sebuah contoh kecil dari ‘iwaja.

Contoh kedua yang Ustaz berikan adalah entertainment industry. Industri hiburan. Mirip contoh sebelumnya, di contoh ini, ada pergeseran juga yang terjadi.

Bergeser dari mana ke mana?

Yang dulunya terlarang untuk usia di bawah 17 tahun, sekarang rated atau dinilai hanya PG-13 alias boleh untuk usia di bawah 17 tahun tapi di atas 13 tahun asal ada parental guidance.

Harus ada bimbingan orang tua, untuk yang usianya di bawah 13. Dan itu pun, orang tuanya belum tentu hadir bersama anak-anaknya.

Seandainya orang tuanya ikut menemani, orang tua jenis yang seperti apa? Orang tua yang lurus? Atau ‘iwaja?

Kalau orang tuanya masuk kategori ‘iwaja, lalu apa yang terjadi dengan anak-anaknya?

Ustaz bercanda, yang terjadinya akhirnya bukan PG atau parental guidance, tapi PM atau parental misguidance … 😊 …

Insyaallah bersambung. 

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 14. Al-Kahf (Ayah 2a) – A Deeper Look (40:34 – 42:39)


Materi VoB Hari ke-565 Siang | We Have Fragments of What Islam Means to Us – How to Fix That?

Oleh: Heru Wibowo

#FridayAlKahfiWeek81Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Menurut Ustaz, yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana umat Islam menyikapi kebengkokan yang terjadi di tengah masyarakat itu.

Salah menyikapi, misalnya dengan demonstrasi yang tidak bertanggung jawab, membuat masalah intinya tidak selesai, tapi justru muncul masalah yang baru. 

Menyuarakan sesuatu, meski untuk kebaikan, tapi didasari oleh emosi semata, tanpa didasari ilmu, bisa menimbulkan masalah baru.

Ini adalah tantangan kita di zaman ini, saat ini.

Dan cara yang direkomendasikan Ustaz untuk menyikapi kebengkokan yang terjadi di tengah masyarakat itu adalah dengan mempelajari Al-Qur’an.

Supaya kita bisa punya alasan yang sahih saat menyuarakan sesuatu. 

Supaya kita juga bisa meluruskan apa yang bengkok yang masih ada di dalam diri kita sendiri.

Ada jenis-jenis kebengkokan yang terjadi. Ada kebengkokan pikiran. Ada kebengkokan dalam masalah penetapan prioritas. Ada kebengkokan dalam cara kita memandang dunia. 

Cara umat Islam belajar Islam itu berbeda-beda. 

Yang hidup di zaman modern ini, umumnya belajar Islam sedikit demi sedikit. Dari sumber yang berbeda-beda. Dari sana sini.

“So we have fragments of what Islam means to us,” kata Ustaz. Pemahaman Islam kita itu sepotong-sepotong dan mungkin belum utuh.

How to fix that? Bagaimana cara memperbaikinya?

Bagaimana supaya kita bisa memiliki pemahaman Islam yang utuh? 

Bagaimana caranya kita melakukan kalibrasi terhadap pemahaman Islam kita?

Supaya akhirnya kita, secara umum, memiliki pemahaman yang kira-kira sama. 

Supaya prioritas utama kita juga sama. 

Supaya pemahaman kita akan moralitas juga kira-kira sama.

Supaya cara pandang kita tentang apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kebengkokan di dunia juga sama.

Maka satu-satunya yang bisa kita jadikan dasar pijakan untuk menyamakan cara kita berpikir dan bersikap itu adalah kitaabullaah. Al-Qur’an.

Insyaallah bersambung. 

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 14. Al-Kahf (Ayah 2a) – A Deeper Look (42:39 – 44:40)


Materi VoB Hari ke-565 Sore | Story Night di Birmingham

Oleh: Heru Wibowo

#FridayAlKahfiWeek81Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Ustaz memberi sebuah contoh lagi, saat Ustaz mengadakan sebuah program Story Night di Birmingham, di Britania Raya.

Menurut Ustaz, komunitas muslim di Birmingham adalah salah satu komunitas muslim paling divisive atau terpecah-belah sepanjang pengamatan Ustaz.

Bisa terjadi saling pukul dan saling hajar gara-gara beda mazhab. Gara-gara beda school of thoughts.

Betapa buruk situasinya. Umat Islam, komunitasnya muslim, mentalitasnya geng.

Tapi, Ustaz bercanda, sebenarnya keadaan di sana itu antara menyedihkan di satu sisi tapi juga “menghibur” di sisi yang lain.

It’s really entertaining to watch … 😊 …

Saat Ustaz memberikan Story Night di sana, audiens yang hadir ada sekitar seribu orang.

Selesai Story Night, ada seseorang yang menghampiri Ustaz, 

“Kami sangat menghargai penyampaian Anda. Istri saya dan saya sendiri sudah bertahun-tahun memeluk Islam. Kami juga hadir bersama 50 orang di sini. 

Tolong jangan beritahu siapa-siapa: kami adalah dari komunitas Syi’ah. Kami hadir di sini supaya Anda tahu bahwa kami menghargai apa yang sudah Anda lakukan.”

Ustaz merespons dan mengucapkan terima kasih karena telah hadir di program Story Night.

Lalu ada seseorang yang juga menghampiri Ustaz, mengaku penganut Baha’i. 

“Mereka tidak menganggap saya sebagai muslim. Tapi saya sangat menghargai apa yang Anda lakukan. Mohon lanjutkan. Dan mohon jangan bilang ke siapa-siapa tentang saya.”

Ada sekitar 3 atau 4 kelompok yang menghampiri Ustaz dan mengatakan hal yang serupa itu.

Ustaz tidak berusaha mengoreksi mereka. “Kalian tolonglah berusaha supaya menjadi muslim yang normal.” Tidak, Ustaz tidak mengatakan itu. Itu bukan tugas Ustaz.

Tugas Ustaz, dan juga tugas kita, adalah untuk berbagi mutiara Al-Qur’an. Untuk menyebarkan pesan-pesan Al-Qur’an.

Tugas Allah adalah membimbing hati mereka. 

Kalau kita terlibat dalam debat dengan mereka, tidak jelas akhir kesudahannya. Bisa jadi jurangnya makin menganga lebar.

Insyaallah bersambung. 

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 14. Al-Kahf (Ayah 2a) – A Deeper Look (44:40 – 47:55)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s