[VoB2021] Humiliation Can Be Something Good


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-535

Topik: Pearls from Ali Imran

Rabu, 8 Desember 2021

Materi VoB Hari ke-535 Pagi | Humiliation Can Be Something Good

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek77Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Kita sampai di bagian ayat ke-26 surah Ali ‘Imran di mana Allah mengajarkan Rasulullah berdoa, “Di tangan-Mu lah segala kebajikan.” 

بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ 

Ayat ini juga bermakna: tidak ada seseuatu pun yang lahir dari tangan Allah kecuali hanya kebajikan.

Apa itu artinya?

Tu’til mulka man tasyaa’ adalah kebajikan.

Tanzi’ul mulka mimman tasyaa’ adalah kebajikan.

Tu’izzu man tasyaa’ adalah kebajikan.

Tudzillu man tasyaa’ adalah kebajikan.

Mari kita pikirkan dua hal yang bersifat kontras ini: Fir’aun dan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Fir’aun punya kerajaan, dihormati dan ditakuti rakyatnya.

Rasulullah tidak punya kerajaan, tidak dihormati kaumnya, diejek, dikatakan gila, diancam akan dibunuh, bahkan harus hijrah meninggalkan tanah kelahiran Beliau sendiri.

Apa peninggalan Fir’aun? 

Tidak ada, kecuali sebuah cerita tentang kesombongan manusia yang mengaku dirinya tuhan dan kejahatan pembunuhan tanpa alasan yang hak.

Apa peninggalan Rasulullah?

Salah satunya, Al-Qur’an yang agung, yang bahkan masih kita baca sampai saat ini, dan akan masih dibaca oleh generasi-generasi setelah kita.

Apa yang dialami Rasulullah, termasuk penyiksaan fisik dan nonfisik, itu semua merupakan bagian tak terpisahkan yang pada akhirnya menyusun isi Al-Qur’an.

Orang-orang yang jahat seperti Fir’aun, Abu Jahal, dan Abu Lahab, itu semua merupakan bagian yang terencana yang pada akhirnya menyusun isi Al-Qur’an.

Humiliation can be something good.

Ini mungkin terdengar aneh. Penghinaan bisa menjadi sesuatu yang baik. Mengapa bisa begitu?

Contohnya adalah Maryam salaamun ‘alayhaa. Beliau dihina karena dianggap punya anak haram (illegitimate child).

Dihina di depan seluruh jemaah. Hari itu rasanya Beliau ingin mati saja. 

فَأَجَاۤءَهَا الْمَخَاضُ إِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِۚ قَالَتْ يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا ٢٣

Rasa sakit akan melahirkan memaksanya bersandar di pangkal pohon kurma. Maryam berkata, “Oh, seandainya aku mati sebelum ini dan menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” (QS Maryam, 19:23)

Insyaallah bersambung.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali ‘Imran / 10. ‘Ali ‘Imran – Ayah 26-27 Ramadan 2018 (37:00 – 39:02)


Materi VoB Hari ke-535 Siang | Bal Huwa Khayrullakum

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek77Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Seandainya aku mati saja dan tak ada seorang pun yang tahu di mana letak makamku … luar biasa sekali jika itu terjadi.

Kira-kira begitulah apa yang dipikirkan Maryam salaamun ‘alayhaa saat itu. Tidak terbayangkan penghinaan yang akan Beliau hadapi.

Itu adalah interpretasi atas perasaan Beliau, namun kenyataannya, Beliau tetap melanjutkan kehidupan dan menerima segala penghinaan itu.

Tapi semua penghinaan itu akhirnya berubah menjadi harapan (hope), penghormatan (honor), dan petunjuk (guidance).

Artinya, penghinaan itu adalah bagian dari skenario dan rencana besar Allah yang sejatinya adalah kebajikan. Biyadikal khayr.

Bertahun-tahun setelah itu, manusia masih membaca Injil. Kebajikan yang berasal darinya bertahan hingga waktu yang lama.

Rasulullah dan Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa pernah mengalami masa yang sulit sebagai pasutri yang berlangsung kira-kira sebulan lamanya.

Apakah kejadian itu buruk?

Al-Qur’an justru menegaskan yang sebaliknya.

إِنَّ الَّذِيْنَ جَاۤءُوْ بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْۗ لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْۗ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ 

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah kelompok di antara kamu (juga). Janganlah kamu mengira bahwa peristiwa itu buruk bagimu, sebaliknya itu baik bagimu. (QS An-Nur, 24:11)

Berita bohong ini adalah mengenai ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa, Ummul Mukminin, setelah perang dengan Bani Muṣṭaliq pada bulan Syakban 5 H. 

Perang itu diikuti kaum munafik dan turut pula ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa dengan Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Dalam perjalanan kembali, mereka berhenti pada suatu tempat. ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. 

Sekedup adalah pelana atau tempat duduk dari kayu, yang dipasang di punggung unta. 

Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pun mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa masih ada dalam sekedup. 

Setelah ‘Aisyah r.a. mengetahui sekedupnya sudah berangkat, dia duduk di tempatnya dan berharap sekedup itu akan kembali menjemputnya. 

Secara kebetulan, seorang sahabat Nabi bernama Ṣafwan bin Mu‘aṭṭal lewat di tempat itu dan menemukan seseorang yang sedang tidur sendirian. 

Ṣafwan terkejut seraya mengucapkan, “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn, istri Rasul!” ‘Aisyah r.a. terbangun. 

Lalu, Ṣafwan mempersilakan ‘Aisyah menaiki untanya. Ṣafwan berjalan menuntun unta sampai Madinah. 

Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Kemudian, kaum munafik membesar-besarkannya. 

Maka, fitnah atas ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa itu pun bertambah luas sehingga menimbulkan keguncangan di kalangan kaum muslim.

Apakah peristiwa itu adalah sesuatu yang buruk?

Al-Qur’an menegaskan yang sebaliknya: laa tahsabuuhu syarrallakum. Jangan mengira bahwa peristiwa itu buruk. 

Bal huwa khayrullakum. Sebaliknya, itu justru baik bagimu.

Insyaallah bersambung.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali ‘Imran / 10. ‘Ali ‘Imran – Ayah 26-27 Ramadan 2018 (39:02 – 39:48)


Materi VoB Hari ke-535 Sore | Siang Tak Selamanya Siang

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek77Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Mungkin peristiwa-peristiwa itu, diberikannya kekuasaan kepada Fir’aun, penghinaan kepada Maryam, peristiwa sulit yang dialami Rasulullah dan Aisyah sebagai pasutri, tidak bisa kita pahami sebagai sesuatu yang baik.

Satu hal yang pasti: peristiwa-peristiwa itu mengandung kebaikan, karena Allah yang menegaskannya.

إِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٢٦

Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Ali ‘Imran, 3:26)

Tidak saja Allah Mahakuasa memberikan dan mencabut kekuasaan, tapi Allah juga berkuasa untuk menetapkan kebajikan pada sesuatu yang tampaknya buruk, atau sebaliknya.

Setiap harinya, selama 24 jam, selalu ada perubahan. Di pagi buta, jika kita ditanya, ini saat apa, kita menjawab, “Shubuh.”

Di siang hari, jawaban kita berbeda, “Zhuhur.”

Di sore hari, jawaban kita berbeda lagi, “’Ashar.”

Saat petang, jawaban kita “Maghrib” dan ketika malam mulai menyelimuti, kita menjawab, “’Isya’.”

تُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ 

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. (QS Ali ‘Imran, 3:27)

Luar biasanya, perubahan itu terjadi secara “perlahan”. 

Siang tidak berubah menjadi malam secara tiba-tiba. Cahaya siang dicabut sedikit demi sedikit. Malam merayap datang pelan-pelan. 

Malam yang gelap pun tidak berubah menjadi siang secara mengejutkan. Cahaya matahari merayap menghangatkan secara perlahan.

Silih bergantinya siang dan malam itu juga menjadi “kode” bahwa terjadi pergiliran kekuasaan, yang disinggung di ayat sebelumnya.

Mari kita melakukan refleksi atas hidup kita sendiri. Dan atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita.

Raja, presiden, menteri, gubernur, walikota, dan sebagainya, tidak ada yang bertahta selamanya. Pejabatnya silih berganti, seperti siang dan malam.

Maka siang pun tak akan menjadi siang selamanya. Itu akan merusak bumi. Luar biasa karunia Allah yang melindungi manusia dan bumi yang ditinggalinya.

وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ٢٥١

Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Akan tetapi, Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam. (QS Al-Baqarah, 2:251)

Insyaallah bersambung.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali ‘Imran / 10. ‘Ali ‘Imran – Ayah 26-27 Ramadan 2018 (39:48 – 42:49)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s