[VoB2021] The Invisible


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-505

Topik: Pearls from Juz ‘Amma

Senin, 22 November 2021

Materi VoB Hari ke-519 Pagi | The Invisible

Oleh: Heru Wibowo

#MondayJuzAmmaWeek75Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Salah satu komunitas muslim yang paling terabaikan dan terlupakan adalah para penyandang cacat.

Apakah masjid-masjid itu wheelchairs accessible alias mudah diakses oleh muslim yang menggunakan kursi roda?

Apakah masjid-masjid itu punya akomodasi untuk muslim yang tuli atau muslim yang buta?

Kalau ada pertanyaan tentang fasilitas buat para penyandang cacat yang dilayangkan kepada pengurus masjid dari seseorang yang mencoba mewakili mereka, mungkin pertanyaan seperti itu justru dianggap mengganggu.

Karena yang bertanya adalah “orang normal”, pertanyaannya dianggap mengada-ada.

Padahal para penyandang cacat benar-benar membutuhkannya. Dan mereka biasanya tidak punya “pengacara” untuk menyampaikan suara hati mereka.

Kalau pun ada “penyambung lidah” mereka, belum tentu juga ada kepastian apakah suara hati mereka didengar atau tidak.

Kita belajar dari an jaa-ahul a’ma (أَنْ جَاۤءَهُ الْأَعْمٰىۗ) bahwa seorang penyandang cacat justru bisa lebih penting dari para pembesar atau mereka yang dianggap orang-orang VIP.

Para penyandang cacat itu tidak punya kehidupan sosial yang normal. Mungkin sejak kecil pun mereka tidak bermain bersama anak-anak yang lain. Tidak seperti anak-anak kecil yang normal.

Saat mereka bersekolah, mereka juga mungkin tidak duduk di bangku yang biasa ditempati oleh anak-anak usia sekolah yang normal.

Mereka juga dipandang sebagai “makhluk yang berbeda”.

Mereka kadang dianggap bukan sebagai anggota masyarakat yang normal.

Sehingga secara sosial para penyandang cacat lebih terisolasi dibandingkan yang bukan penyandang cacat.

Tidak mengherankan jika perilaku mereka menjadi berbeda. Apa yang biasa mereka anggap normal tidak sama dengan apa yang biasa kita anggap normal.

Kadang-kadang suara mereka lebih keras atau lebih lantang dari suara orang-orang kebanyakan. 

Hal itu bisa terjadi karena sudah terlalu lama keberadaan mereka di dunia bisa dikatakan tidak dianggap sama sekali.

Itulah yang membuat mereka kadang terlihat lebih agresif daripada orang-orang normal kebanyakan.

Ustaz pernah menyelenggarakan sebuah program di London. Ada seorang perempuan yang buta yang mengikuti program itu. 

Di akhir program, perempuan yang buta itu menyatakan kepada Ustaz bahwa dia sangat kesal terhadap Ustaz.

Ustaz mendengarkan dengan penuh perhatian dan memintanya untuk melanjutkan keluh kesahnya.

Dia bilang bahwa tidak ada seorang pun imam atau khatib atau penceramah yang peduli dan membahas topik yang berhubungan erat dengan para penyandang cacat. 

“Tidak ada yang peduli sama kami,” katanya. “Seakan-akan kami ini adalah makhluk yang tak terlihat (the invisible).”

“Ada topik tentang anak-anak yang mengalami bullying di sekolah, tentang hak-hak sipil dari komunitas muslim, dan banyak lagi variasi topik yang lain, tapi mana topik tentang para penyandang cacat? Mana??!!”

Insyaallah bersambung.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 80. Abasa / 01. ‘Abasa (Ayah 1-10) – A Concise Commentary (22:25 – 25:01)


Materi VoB Hari ke-519 Siang | Yazzakka bukan Yatazakka

Oleh: Heru Wibowo

#MondayJuzAmmaWeek75Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Perempuan yang buta itu menumpahkan apa yang mengganjal di hatinya. Dia pun menangis.

Ustaz memohon maaf. Sungguh-sungguh menyatakan permintaan maaf. 

Perempuan itu juga meminta maaf. Karena dia berbicara seperti setengah berteriak. Sehingga mengundang banyak perhatian.

Ustaz menegaskan bahwa Ustaz yang harus meminta maaf. Karena kurang peduli terhadap penyandang disabilitas.

Perempuan itu merasa canggung dan setelah menyadari situasinya, agak menyesal karena mungkin dianggap telah “menyerang” Ustaz secara tidak sopan.

Tapi Ustaz fokus pada hal-hal indah yang tersembunyi di balik “serangan” perempuan itu. Dan Ustaz sadar bahwa penyandang disabilitas bisa, atau punya kecenderungan, untuk “menyerang” seperti itu.

Dan justru di situlah poinnya. 

Di situlah kita akan bisa memahami secara lebih baik makna dari ayat ketiga surah ‘Abasa.

وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ ٣

Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa). 

(QS ‘Abasa, 80:3)

Kata yudriika (يُدْرِيْكَ) berasal dari akar kata diraya (دري) yang artinya mencari tahu atau mencoba memahami supaya akhirnya sampai kepada sebuah kesimpulan.

Ketika ada orang yang mendatangi kita dan tampak menjengkelkan (obnoxious) atau menunjukkan perilaku yang tidak pantas (inappropriate), apa yang pertama kali kita pikirkan?

“Tidak bisakah dia punya kesopanan (decency) untuk melakukannya?”

“Tidak tahukah dia bahwa aku saat ini sedang sangat sibuk?”

“Mengapa dia nada bicaranya begitu keras seperti knalpot bocor?”

Di surah ‘Abasa kita belajar bahwa Allah meminta kita, “Berhentilah berpikir seperti itu! Sadari bahwa siapa tahu dia sedang ingin memperbaiki diri.”

Allah telah memilih sebuah kata yang indah di ayat ini: yazzakkaa (يَزَّكّٰىٓۙ). Bukan yatazakkaa (يَتَزَّكّٰىٓۙ). Kata yatazakkaa artinya menyucikan diri secara seratus persen sempurna. Beda dengan yazzakkaa yang berarti memulai untuk menyucikan diri.

Siapa tahu sepatah dua patah kata dari Rasulullah untuknya, sudah cukup untuk membuatnya menjadi muslim yang lebih baik.

Insyaallah bersambung.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 80. Abasa / 01. ‘Abasa (Ayah 1-10) – A Concise Commentary (25:01 – 27:07)


Materi VoB Hari ke-519 Sore | Dua Skenario Belajar

Oleh: Heru Wibowo

#MondayJuzAmmaWeek75Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Di dalam kata yazakkaa sebenarnya ada sebuah petunjuk yang luar biasa untuk orang-orang yang beriman yang ingin memperbaiki diri.

Kita mungkin pernah mendengar orang yang mengatakan, “Apa gunanya ikut kajian? Tidak ada yang berubah!”

Orang yang mengatakan kata-kata seperti itu tidak punya pengetahuan tentang apa yang terjadi di dalam hati setiap manusia.

Dia tidak tahu bahwa ada yang berubah di dalam diri orang-orang yang ikut kajian. Mungkin tidak semuanya. Tapi ada yang berubah. Dan perubahan itu tidak tampak dari luar karena terjadinya di dalam diri.

Kata-kata yang penuh ketulusan akan punya dampak. Membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih baik.

Para penyandang disabilitas, termasuk Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, apakah mereka mendapatkan hak dan kesempatan yang sama?

Tidak.

Maka wajar jika kesempatan sekecil apa pun, setipis apa pun yang mereka jumpai, akan mereka manfaatkan semaksimal yang bisa mereka usahakan.

Mungkin kita sudah pernah mendengar kajian selama puluhan atau ratusan jam. Atau lebih. 

Dan mungkin para penyandang disabilitas itu hanya pernah punya kesempatan untuk mendengar kajian selama satu dua jam atau bahkan beberapa menit saja.

Samakah kira-kira sikap belajar dari para penyandang disabilitas itu dalam memanfaatkan waktu atau kesempatan yang sedikit buat mereka?

Tidak sama.

Adanya perbedaan itu disebabkan karena kesempatan mengikuti kajian adalah kesempatan yang langka buat para penyandang disabilitas. Membuat mereka jauh lebih menghargai kesempatan yang terbatas itu.

Jadi ada dua skenario yang mungkin terjadi setelah seseorang belajar atau mengikuti kajian, yang dibahas di ayat 3 dan 4.

1️⃣

Pertama, orang itu memanfaatkan kesempatan majelis ilmu dengan baik dan dia menjadi pribadi yang berubah lebih baik. Ini adalah yang di ayat 3.

2️⃣

Kedua, orang itu belum berubah, tapi melakukan internalisasi dari apa yang diajarkan. Dia menghayatinya dan menghafalkannya. Ini adalah yang di ayat 4.

أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ ٤

“ … atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya?” 

(QS ‘Abasa, 80:4)

Insyaallah bersambung.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 80. Abasa / 01. ‘Abasa (Ayah 1-10) – A Concise Commentary (27:07 – 29:26)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

One thought on “[VoB2021] The Invisible

Leave a Reply to [VoB2021] The Invisible – Nouman Ali Khan Indonesia | kokicat Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s