[VoB2021] Untuk Melukiskan Kebesaran-Nya


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-487

Topik: Divine Speech

Kamis, 21 Oktober 2021

Materi VoB Hari ke-487 Pagi | Untuk Melukiskan Kebesaran-Nya

Oleh: Heru Wibowo

#ThursdayDivineSpeechWeek70Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Allah menggunakan kata ganti “Aku” di Al-Qur’an untuk melukiskan rasa cinta yang ekstrem, atau kemarahan yang ekstrem.

Lalu kapan Allah menggunakan kata ganti “Kami”? Kata ganti “Kami” digunakan ketika Allah melukiskan sesuatu yang dihubungkan dengan kerajaan-Nya.

Raja biasanya menggunakan kata “Kami”. 

Allah juga menggunakan kata ganti “Kami” di ayat-ayat yang berkenaan dengan air. 

Menariknya, singgasana Allah berada di atas air. Jadi, air itu sendiri ada hubungannya dengan kerajaan Allah ‘azza wajalla. 

Air itu tidak saja murni, tapi juga memurnikan. Baik secara fisik maupun secara spiritual.

Secara spiritual, karena kita menggunakan air saat wudhu’, air membilas dosa-dosa kita dan dengan itu kita selanjutnya melaksanakan salat.

Untuk hal-hal yang utama, untuk hal-hal yang besar, untuk hadiah Allah yang besar, Allah menggunakan kata ganti “Kami”. 

Jadi, Allah menggunakan kata ganti “Dia” untuk pernyataan yang bersifat resmi. Dan Allah menggunakan kata ganti “Kami” untuk pernyataan yang berhubungan dengan hal-hal yang besar.

Yang luar biasa, setelah Allah menggunakan kata ganti “Kami”, selanjutnya Allah menggunakan kata ganti bentuk tunggal. Allah menegaskan bahwa Allah masih tetap satu.

Mari kita lihat contohnya.

إِنَّآ أَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ ١ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢

1.  Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak.

2.  Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!

Pada ayat kedua, Allah langsung menegaskan tentang Rabb yang satu. Ayat kedua tidak berbunyi fashalli lanaa, “maka laksanakanlah salat kepada Kami”.

Tapi ayat keduanya bukan begitu.

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Divine Speech / 11. We in Quran (13.40 – 16:15)


Materi VoB Hari ke-487 Siang | Rabi tentang Kami

Oleh: Heru Wibowo

#ThursdayDivineSpeechWeek70Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Begitulah polanya di Al-Qur’an. Setelah kata ganti “Kami”, Allah melanjutkan dengan menegaskan bahwa Allah tetaplah satu.

Berikut ini adalah contoh yang lain.

إِنَّآ أَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar. (QS Al-Qadar, 97:1)

Selanjutnya, di ayat 2 dan 3, ada percakapan tentang Lailatulqadar. Tentang malam kemuliaan.

Lalu di ayat 4, Allah menegaskan bahwa Allah tetaplah satu.

تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ أَمْرٍۛ ٤

Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. (QS Al-Qadar, 97:4)

Bagaimana bunyi ayatnya? Apakah bi-idzninaa? Dengan izin “Kami”? 

Bukan. 

Bukan bi-idzninaa. 

Bukan “dengan izin Kami”.

Tapi bi-idzni rabbihim. 

Dengan izin “Rabb yang satu”.

Ustaz pernah bertanya pada seorang rabi, “Apakah Tuhan menggunakan kata ganti ‘Kami’ di Taurat yang berbahasa Ibrani yang ia miliki?”

Rabi tersebut mengiyakan, bahkan menegaskan bahwa penggunaan kata “Kami” tersebut dijumpai di banyak tempat di Taurat.

Lalu Ustaz bertanya, “Apakah kata ‘Kami’ tersebut menunjukkan bahwa Tuhan itu jumlahnya banyak?”

Rabi tadi menjawab, “Tentu saja tidak. Kesimpulan seperti itu adalah sebuah kesimpulan yang bodoh. Tuhan itu hanya satu. Kata ganti ‘Kami’ digunakan untuk melukiskan kerajaan-Nya.”

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Divine Speech / 11. We in Quran (16:15 – 18:16)


Materi VoB Hari ke-487 Sore | Fondasi yang Goyah oleh Seekor Lalat

Oleh: Heru Wibowo

#ThursdayDivineSpeechWeek70Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Selanjutnya Ustaz memberikan sebuah contoh yang lain.

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ ۗإِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ ۗوَإِنْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنْقِذُوْهُ مِنْهُۗ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْبُ ٧٣

Wahai manusia, suatu perumpamaan telah dibuat. Maka, simaklah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka pun tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. (Sama-sama) lemah yang menyembah dan yang disembah. (QS Al-Hajj, 22:73)

Ada dua hal yang diseru oleh manusia selain Allah. Yang pertama adalah tuhan-tuhan palsu yakni patung-patung. Yang kedua adalah raja-raja.

Raja yang disembah, misalnya adalah Fir’aun.

Di ayat ini dijelaskan bahwa mereka tidak mampu menciptakan seekor lalat. Patung-patung tidak mampu. Fir’aun juga tidak mampu. Bahkan jika mereka semua bersatu untuk menciptakan seekor lalat.

Bahkan jika seekor lalat mencuri sesuatu dari mereka, mereka tidak mampu untuk mendapatkannya kembali.

Sebelum Ustaz melanjutkan, Ustaz mengajak kita untuk memahami sebuah perumpamaan.

Di ayat ini Allah menyebutkan patung-patung dan raja-raja. Allah juga menyebutkan bahwa mereka tidak mampu menciptakan seekor lalat.

Jangankan menciptakan seekor lalat, ada yang dicuri dari mereka oleh lalat pun mereka tidak mampu mendapatkannya kembali.

Tanpa bermaksud menertawakan agama atau kepercayaan apa pun, Ustaz mengajak kita untuk mengamati sebuah fakta yang menarik.

Yakni bahwa di agama atau kepercayaan yang menyembah patung, mereka kadang menaruh susu, madu, coklat, buah atau makanan ringan, di depan patung yang mereka sembah.

Seekor lalat terbang dan hinggap di hidung patungnya. Seakan-akan ingin mengabarkan, “Aku mau mencicipi sajian yang ada di depanmu. Boleh kan ya?”

Maka lalat itu pun terbang rendah, mencicipi beberapa, dan setelah cukup puas, terbang menghilang.

Apakah patung yang disembah itu mampu untuk mengamankan sajian yang dipersembahkan untuknya?

Ayat ini sangat dahsyat karena menuturkan bahwa fondasi keimanan penyembah patung itu tidak kokoh. Sangat mudah digoyahkan. Bahkan hanya oleh seekor lalat. Dan kenyataan itu dihadirkan di depan mata para penyembahnya sendiri.

Insyaa Allaah kita lanjutkan pekan depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Divine Speech / 11. We in Quran (18:16 – 23:17)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s