[VoB2021] Tarik Tambang Kekuasaan


[VoB2021] Tarik Tambang Kekuasaan

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-486

Topik: Pearls from Ali Imran

Rabu, 20 Oktober 2021

Materi VoB Hari ke-486 Pagi | Tarik Tambang Kekuasaan

Oleh: Vivin Ardiani

#WednesdayAliImranWeek70Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Ustaz melanjutkan pembahasan penggalan ayat ke-26,

Tu’til mulka man tasyā’   

Engkau berikan mulk kepada siapa pun yang Engkau kehendaki,

Kita telah belajar bahwa mulk tidak hanya bermakna kerajaan, tetapi juga berarti kontrol, kendali. Terjemah Kemenag menyebutnya kekuasaan. 

Kepada siapa Allah berikan kerajaan beserta kendalinya? Man tasyā’. Kepada siapa pun yang Ia kehendaki.

Salah satunya Fir’aun.

Fir’aun berkata kepada kaumnya, alaisa lii mulku mishra? Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku? 

Dalam ayat lain Allah menyatakan bahwa Ia qaaiman bil qisth, yang menegakkan keadilan. 

Artinya, Ia akan memberikan kekuasaan kepada mereka yang juga bisa adil, kan? Iya itu formulanya, bagi kita. 

Al-Qur’an memberikan potret lainnya. Allah juga memberi kekuasaan itu kepada Namrud yang juga mengaku Tuhan. Bahkan mengaku bisa menghidupkan dan mematikan. 

Allah mendeskripsikan Namrud dalam ayat:

أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِى حَآجَّ إِبْرَٰهِـۧمَ فِى رَبِّهِۦٓ أَنْ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ 

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). (QS Al-Baqarah 2:258)

Literally Allah berkata bahwa Allah memberikan mulk kepada Namrud, raja yang hendak membunuh Nabi Ibrahim. Allah menjadikannya raja, padahal ia melawan Allah? Ya. Demikianlah Allah memberikan kekuasaan kepada siapa pun yang Ia kehendaki. 

Allah memberikan kekuatan kepada Quraisy, kepada Bani Israil. Allah memberikan kemenangan ketika perang Badar, mencabutnya di perang Uhud. 

Wa tanzi’ul mulk min man tasyā’

dan Engkau bisa mencabutnya dari siapa pun yang Engkau kehendaki.

Dalam pemahaman kita, lawan kata memberi adalah mengambil. Allah memberi kekuasaan dan Ia pula yang mengambil kekuasaan. 

Alih-alih menggunakan kata ta’khudzu, yang berarti mengambil. Allah memilih kata naza’a.

Naza’a berarti mencabut, menarik kuat-kuat, merenggut paksa.

Gagasannya adalah semacam ketika kita mengupas dengan kuat madu yang menempel lekat pada sisiran sarang lebah. Atau, menarik kuat-kuat daging untuk terlepas dari tulangnya. Sebagai ilustrasi bagi kita bahwa seseorang akan sangat sulit melepaskan kekuasaan yang ia miliki. Ia akan “menggenggam” sekuat ia mampu.

Ustaz memberikan ilustrasi seorang raja. Raja tentu ingin mewariskan kekuasaannya pada keturunannya, 

Dilanjutkan pada keturunan berikutnya, 

Lalu diwariskan ke keturunan berikutnya, 

Dan seterusnya, 

Hingga terbentuk sebuah dinasti. 

Bahkan ketika sang Raja hanya terbaring sakit tinggal menunggu ajal menjemput, ia masih menolak ketika ditawarkan suksesi. Ia terbatuk-batuk dengan suara parau menjawab, “Tidak. Saya baik-baik saja”, demi mempertahankan kekuasaannya.

Sang Raja begitu berat melepas kekuasaan. Kalaupun akhirnya ia setuju suksesi, ia akan meminta anaknya sebagai pengganti agar ia masih berada dalam lingkaran takhta kekuasaan.

Dan Allah berkata,

Ia memberikan kekuasaan kepada yang Ia kehendaki dan akan mencabut kekuasaan dari siapa pun yang Ia kehendaki.

Ketika Allah sudah berkehendak mencabut kekuasaan itu dari kita, sekuat apa pun kita menahan agar tak terlepas, tak akan bisa.

Akan terlepas, p.a.s.t.i.

Kita tidak akan pernah memenangkan tarik ulur ini.

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

👑👑👑👑👑

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali ‘Imran / 10. ‘Ali ‘Imran – Ayah 26-27 Ramadan 2018 (15:42 – 19:54)


Materi VoB Hari ke-486 Siang | Having and Losing Control

Oleh: Vivin Ardiani

#WednesdayAliImranWeek70Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Tanzi’ul mulk menggambarkan sebuah ekspresi yang kita tahu sesuatu itu sulit kita lepaskan. Kata ini juga digunakan dalam ayat berikut:

وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَٰبِلِينَ 

Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka (QS Al-Hijr, 15:47)

Perselisihan di antara orang beriman kadang tidak bisa terelakkan. Ada orang yang menyakiti Anda karena perbedaan pendapat dan ia melakukannya dengan cara yang sangat buruk. Anda tidak terima, tidak bisa lupa. Yes, believers are brothers. Saudara sih, tapi … sulit untuk memaafkannya. 

Seribu orang menyarankan untuk memaafkan yang bersangkutan.

Sudahlah, maafkan saja. 

Maafkanlah.

Ayolah, maafkan.

Tapi Anda masih belum bisa. ”Bagaimana caranya melupakan luka yang terlanjur menganga? Mereka mudah saja menyuruh karena tidak tahu sakitnya diperlakukan seperti itu.”

Naza’naa… Dan Allah akan mencabut perasaan ghill itu, nanti, di surga. Yang jika tanpa karunia tersebut, kita tidak akan bisa mengubur perasaan itu. Itulah karunia Allah. Bisa kembali bersama-sama berbahagia dengan ia yang menoreh luka jika sama-sama masuk surga. Wa naza’naa maa fii shudurihim min ghillin. Karena Allah telah mencabut, melenyapkan perasaan itu.

Kembali ke bahasan kata naza’a, atas kekuasaan.

Tanzi’ul mulk

Karena ketika seseorang telah merasakan memiliki kewenangan, akan sulit baginya melepaskan. Sebelumnya Ustaz memberikan ilustrasi seorang raja. Secara umum mulk bisa didefinisikan kontrol, kendali atas sesuatu, kekuasaan. 

We love having control and we hate losing control. Setiap orang, umumnya begitu.

Mainan seorang anak terhambur di lantai bagaikan Bani Israil yang tersesat di gurun, berserakan. Begitu ada tamu seorang anak sebaya yang mengambil mainan Spiderman, ia otomatis sigap menentang dan merebut paksa. Padahal yang diambil hanyalah mainan yang kakinya patah dan sebelumnya tidak digunakan. Tapi ia langsung spontan bereaksi. Merasa “kekuasaannya” terancam.

Orang dewasa pun akan protes kepada orang lain yang melanggar batas kursi pesawatnya. Anda akan protes. “Permisi mas, ini kursi saya”, saatnya menegakkan kekuasaan.

Seorang manajer tidak terima ketika mendapati bawahannya yang dulu di bawah kendalinya sekarang mendapatkan promosi melampaui jabatannya.

Semakin besar kendali yang kita punya, kita akan merasa semakin berat untuk melepaskan. 

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِۗ 

   (QS Ali Imran, 3:14) 

Manusia tidak hanya ingin memiliki hal-hal tersebut secara fisik, tetapi juga ingin memiliki kendali. Memiliki kendali atas anak, pasangan, uang, bisnis, dan semuanya. 

Dan Allah berfirman bahwa Ia dapat mencabutnya kapan pun Ia memutuskan. Bukan karena orang baik/jahat yang akan mendapatkannya. Allah akan memberikan kepada siapa pun yang Ia putuskan, itu pun adalah wujud kebijaksanaan-Nya. 

Insyaa Allaah kita lanjutkan pekan berikutnya.

👑👑👑👑👑

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali ‘Imran / 10. ‘Ali ‘Imran – Ayah 26-27 Ramadan 2018 (19:55 – 25:16)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s