[VoB2021] A Sign for Ya’qiluun


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-469

Topik: Heavenly Order

Ahad, 3 Oktober 2021

Materi VoB Hari ke-469 Pagi | A Sign for Ya’qiluun

Oleh: Heru Wibowo

#SundayHeavenlyOrderWeek67Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Contoh favorit Ustaz ada di surah An-Nahl. Surah nomor 16. Ustaz punya kesan yang mendalam dari contoh ini.

Ayatnya adalah ayat ke-64 hingga ayat ke-69.

Wamaa anzalnaa ‘alaykal kitaaba illaa litubayyina lahumulladzikhtalafuu fiihi wahudan warahmatan liqawmin yu’minuun.

وَمَآ أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِى اخْتَلَفُوْا فِيْهِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ٦٤

Wamaa anzalnaa ‘alaykal kitaaba. We did not send the Book onto you. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu, Muhammad shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Illaa litubayyina lahum alladzikhtalafuu fiihi. Except that you should clarify for them the things that they disagree about. Kecuali bahwa kamu seharusnya menjelaskan kepada mereka hal-hal yang mereka perselisihkan.

Wahudan. And as a guidance. Dan sebagai sebuah petunjuk. 

Warahmatan. And as a mercy. Dan sebagai sebuah bentuk kasih sayang.

Liqawmin yu’minuun. For a group of people that wish to believe. Untuk orang-orang mukmin.

Lalu ayat 65: Wallaahu anzala minassamaa-i maa-an fa-ahyaa bihil-ardha ba’da mawtihaa. Inna fii dzaalika la-aayatan liqawmin yasma’uun.

وَاللّٰهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاۗ إِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَأٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ ࣖ ٦٥

Wallahu. And Allah. Dan Allah.

Anzala. He sent down. Dia mengirimkan atau menurunkan.

Minassamaa-i. From the sky. Dari langit.

Maa-an. Water. Air atau air hujan.

Fa-ahyaa bihil ardha ba’da mawtihaa. And by means of water, He brought life to the earth after it had died. Maka Dia menghidupkan, dengan air hujan itu, bumi setelah matinya (setelah bumi itu mati).

Inna fii dzaalika la-aayatan liqawmin yasma’uun. Certainly there is a sign in that for people that are willing to listen, that are trying to listen.

Sesungguhnya di situ (di ayat itu, yang mengungkapkan fakta kehidupan bumi setelah matinya dengan air hujan yang Allah turunkan) benar-benar terdapat tanda (atau “kode” atau “sinyal”) bagi orang-orang yang mau mendengar.

Lalu ayat 66: Wa inna lakum fil an’aami la’ibrah. Nusqiikum mimmaa fii buthuunihii min bayni fartsin wadamin labanan khaalishan saa-ighan lisysyaaribiin.

وَإِنَّ لَكُمْ فِى الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۚ نُسْقِيْكُمْ مِّمَّا فِيْ بُطُوْنِهٖ مِنْۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَّدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَاۤىِٕغًا لِّلشّٰرِبِيْنَ ٦٦

Wa inna lakum fil an’aami la’ibrah. And in cattle, there is yet another great lesson for you. Dan sungguh, bagimu, dalam binatang ternak (dengan mengamati binatang ternak), sungguh ada sebuah pelajaran yang luar biasa.

Di mana terdapat pelajaran yang luar biasa itu? In cattle. Di dalam binatang ternak. Dengan mengamati binatang ternak.

Nusqiikum mimmaa fii buthuunihii. We give you drink from what is found in its belly. Kami memberimu (memberi manusia) minuman dari apa yang terdapat di dalam perutnya (di dalam perut binatang ternak itu yakni susu).

Min bayni fartsin wadamin. From between feces and blood. Dari antara kotoran dan darah. 

Labanan khaalishan saa-ighan lisysyaaribiin. Pure milk that replenishes, rejuvinates those who drink. Susu murni yang terisi ulang secara otomatis, yang menyegarkan mereka yang meminumnya.

Lalu ayat 67: Wamin tsamaraatinnakhiili wal-a’naabi tattakhidzuuna minhu sakaran warizqan hasanan. Inna fii dzaalika la-aayatan liqawmin ya’qiluun.

وَمِنْ ثَمَرٰتِ النَّخِيْلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْهُ سَكَرًا وَّرِزْقًا حَسَنًاۗ إِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَأٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ ٦٧

Wamin tsamaraatinnakhiili. And from the fruits that come from palm trees. Dan dari buah-buahan yang berasal dari pohon palem.

Wal-a’naabi. And from grapes. Dan dari anggur.

Tattakhidzuuna minhu sakaran warizqan hasanan. You use it to produce wine and good sustenance, too. Kamu (maksudnya adalah kita, manusia) menggunakannya untuk menghasilkan anggur dan makanan yang baik, juga.

Inna fii dzaalika la-aayatan liqawmin ya’qiluun. In all of that is certainly a sign for a group of people that are trying to understand. Sesungguhnya dalam semua fakta atau kejadian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang berakal (atau, orang-orang yang mencoba memahaminya).

Insyaa Allaah kita lanjutkan dengan ayat 68 di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Heavenly Order / Heavenly Order – Lesson 07_Linear Coherence of a Passage_Al-Baqarah,Ali’Imran, An-Naba, An-Nahl (22:10 – 24:31)


Materi VoB Hari ke-469 Siang | A Sign for Yasma’uun

Oleh: Heru Wibowo

#SundayHeavenlyOrderWeek67Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Kita lanjutkan, masih di surah An-Nahl, ayat ke-68.

Wa awhaa rabbuka ilannahli anittakhidzii minal jibaali buyuutan waminasysyajari wamimmaa ya’risyuun.

وَأَوْحٰى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِيْ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا وَّمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَۙ ٦٨

Wa awhaa rabbuka ilannahli. And your Master revealed to the bee. Dan Rabb-mu mengilhamkan kepada lebah.

Anittakhidzii minal jibaali buyuutan. That you should take from the mountains, take up homes from the mountains. “Buatlah sarang di gunung-gunung.”

Waminasysyajari. And take up homes from the trees. “Dan buatlah sarang di pohon-pohon juga.”

Wamimma ya’risyuun. And from whatever they build. “Dan dari apa pun yang mereka buat.” Artinya, di mana pun, bukan di gunung, bukan di pohon.

Lalu ayat 69: Tsumma kulii min kullitstsamaraati faslukii subula rabbiki dzululan. Yakhruju min buthuunihaa syaraabun muktalifun alwaanuhuu, fiihi syifaa-un linnaas. Inna fii dzaalika la-aayatan liqawmin yatafakkaruun.

ثُمَّ كُلِيْ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًاۗ يَخْرُجُ مِنْۢ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهٗ ۖفِيْهِ شِفَاۤءٌ لِّلنَّاسِۗ إِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَأٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ٦٩

Tsumma kulii min kullitstsamaraati. Then eat from all of the fruits. Kemudian makanlah dari segala macam buah-buahan itu.

Faslukii subula rabbiki. Then pursue the pathways identified by your Master. Lalu tempuhlah jalan Rabb-mu.

Dzululan. Yang telah dimudahkan bagimu.

Yakhruju min buthuunihaa syaraabun muktalifun alwaanuhuu. What comes from its bellies, meaning the bellies of the bees, is a drink (honey) of different colors. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya.

Fiihi syifaa-un linnaas. In which there is healing for people. Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.

Inna fii dzaalika la-aayatan liqawmin yatafakkaruun. In all of that there is certainly a miraculuous sign for people that think deeply. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.

Coba kita renungkan semua ayat itu. Surah An-Nahl ayat 64 hingga 69. Kira-kira apa yang menghubungkan keenam ayat itu?

Apa ya?

Minuman.

Air dari langit.

Susu.

Anggur.

Jus buah.

Madu.

Tapi ada yang lebih lagi dari itu. Ustaz dengan sengaja memasukkan ayat 64 untuk kita renungkan bersama ayat-ayat berikutnya hingga ayat 69.

Ayat 64 bukanlah ayat tentang minuman. Sama sekali bukan.

Tentang apakah ayat 64?

Ayat 64 adalah tentang wahyu yang turun sehingga Rasulullah bisa menjelaskannya ke umat.

Wahyu itu bermanfaat buat umat. Apa manfaatnya? Untuk apa wahyu buat umat?

Sebagai petunjuk atau pedoman hidup. Juga sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada manusia. Utamanya kepada orang-orang yang beriman.

Segala sesuatu yang mengikuti adalah gambaran yang akan membuat kita makin paham tentang wahyu itu sendiri.

Gambaran itu adalah pelajaran dan hikmah yang memungkinkan kita untuk mempelajari proses turunnya wahyu itu sendiri dan efek yang ditimbulkannya.

Allah menyatakan, Dia mengirim air dari langit dan air itu menghidupkan bumi.

Tepat seperti wahyu turun dari langit, dan wahyu itu menghidupkan hati sanubari manusia.

Dan biasanya ketika air turun dari langit, dan menghidupkan bumi, apakah itu adalah sebuah tanda untuk pendengaran kita? Atau, apakah itu adalah sebuah tanda untuk penglihatan kita?

Lihatlah akhir ayat 65. Inna fii dzaalika la-aayatan liqawmin yasma’uun. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Heavenly Order / Heavenly Order – Lesson 07_Linear Coherence of a Passage_Al-Baqarah,Ali’Imran, An-Naba, An-Nahl (24:31 – 26:58)


Materi VoB Hari ke-469 Sore | Mutiara dalam Lumpur

Oleh: Heru Wibowo

#SundayHeavenlyOrderWeek67Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Sebenarnya, manakah yang menjadi sebuah tanda untuk orang-orang yang mendengarkan: wahyu atau air?

Jadi, yang kita bicarakan di sini sebenarnya adalah tentang revelation. Tentang wahyu.

Saat kita melihat air, menyaksikan turunnya air hujan, entah gerimis entah hujan deras, kita jadi berpikir.

Tapi kita memang harus “senam otak” sedikit: apakah Allah sedang bicara tentang air, atau Allah menggunakan air sebagai metafora?

Tidakkah kita berpikir bahwa Allah “meminjam” air untuk menyadarkan kita tentang apa yang bisa dilakukan oleh wahyu dari-Nya?

Sebagaimana air yang menghidupkan bumi, tidakkah kita berpikir bahwa wahyu dari-Nya menghidupkan hati manusia yang tadinya mati?

Bicara tentang minuman, membaca ayat 66 An-Nahl seharusnya membuka pikiran kita bahwa pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kita.

Ayat 66 itu merupakan sebuah perumpamaan yang baik. Minuman tidak hanya datang dari langit. Ada juga jenis minuman yang lain yang dinikmati manusia. Seperti misalnya: susu.

Dari mana susu itu berasal? Dari perut hewan ternak. Secara spesifik disebutkan di ayat 66: antara fartsin dan damin. Antara kotoran dan darah.

Apa?

Susu? 

Dihasilkan di antara kotoran dan darah?

Mari kita tengok sejarah: para sahabat dulu berada di lingkungan yang baik, atau lingkungan yang buruk?

Mereka hidup di zaman jahiliyyah. Boleh dibilang mereka hidup di lingkungan terburuk di bumi ini, saat itu.

Mereka, para sahabat itu, dikelilingi oleh apa yang bisa kita sebut sebagai feces and blood. Kotoran dan darah. Alias kaum yang rusak moralitasnya kemanusiaan dan spiritualitasnya.

Tapi ketika Allah berkehendak, ketika Allah menginspirasikan, maka kemurnian itu bisa dihasilkan dari lingkungan yang paling kotor sekalipun.

Para sahabat mewakili kemurnian itu. Para sahabat adalah seperti bongkahan-bongkahan mutiara yang berada di dalam lumpur lingkungan jahiliah.

Tentu saja yang hebat adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an turun di lingkungan yang “penuh kotoran dan darah”. Dan terbukti sudah: Al-Qur’an berhasil “memurnikan” manusia.

Al-Qur’an telah berhasil menghasilkan “susu yang bersih dan murni”. Labanan khaalishan, begitu disebutnya di ayat 66 An-Nahl.

Subhaanallaah. Al-Qur’an memang luar biasa.

Jadi, di titik ini kita sudah belajar bahwa Al-Qur’an bisa menghidupkan hati yang mati, dan bisa “membilas manusia” sehingga menjadi murni kembali meski dia hidup di lingkungan yang “penuh kotoran dan darah”.

Sekarang, bagaimana dengan ayat tentang buah-buahan dari pohon palem, dan anggur?

Di ayat 67 Allah menyebutkan tattakhidzuuna minhu sakaran warizqan hasanan. Ada dua outcome di sini: sakaran (yang buruk, minuman yang memabukkan) dan rizqan hasanan (rezeki yang baik).

Dari buah kurma dan anggur, manusia dapat membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang menyehatkan.

Dari perumpamaan sebelumnya, kita belajar tentang lingkungan yang buruk, lalu ada kebaikan yang keluar darinya.

Ayat 67 adalah kebalikan dari perumpamaan itu. Dari yang baik (pohon palem dan anggur), yang dihasilkan darinya adalah sesuatu yang buruk. Minuman yang memabukkan.

Bani Israil itu diberi kebaikan yang banyak. Nabi-nabi yang banyak, kitab Taurat. Tapi bagaimana mereka menggunakannya?

Mereka seharusnya bisa menggunakan kebaikan-kebaikan Allah itu menjadi rizqan hasanan. Tapi mereka malah menjadikannya sakaran.

Jadi, tidak mengherankan bahwa bagian akhir dari surah An-Nahl mengkritik Bani Israil, meski surah An-Nahl adalah surah makkiyyah.

Poinnya di sini adalah bahwa manusia bisa menyalahgunakan wahyu juga. Al-Qur’an itu baik dan suci. Tapi manusia bisa menyalahgunakannya.

Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan kaum yang menyalahgunakan Al-Qur’an yang baik dan suci. Na’uudzu billaahi min dzaalik.

Insyaa Allaah kita lanjutkan pekan depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Heavenly Order / Heavenly Order – Lesson 07_Linear Coherence of a Passage_Al-Baqarah,Ali’Imran, An-Naba, An-Nahl (26:58 – 30:25)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s