[VoB2021] Listening Bukan Hearing


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-451

Topik: Pearls from Ali Imran

Rabu, 15 September 2021

Materi VoB Hari ke-451 Pagi | Listening Bukan Hearing

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek65Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Hearing dan listening itu beda. Menurut Merriam-Webster, hearing itu sebatas menerima sesuatu yang berbunyi. 

Sementara itu, masih menurut Merriam-Webster, listening artinya mendengarkan dengan penuh perhatian, bahkan dengan proses perenungan.

Sayangnya, bahasa Indonesia dari hearing dan listening adalah sama: mendengarkan. 

Maka, ketika kita mendengar ada orang yang bilang, “Saya mendengarkan Al-Qur’an”, kita tidak tahu persis apakah yang dia maksud adalah hearing atau listening.

Jika yang kita lakukan terhadap Al-Qur’an hanya hearing, maka kita tidak taking the medicine. Kita tidak minum obatnya. Tidak terjadi proses penyembuhan terhadap diri kita.

Yud’awna ilaa kitaabillaah di Ali ‘Imran 23 artinya they are invited to the Book of Allah. Mereka diundang untuk memperhatikan Kitab Allah. Untuk listening, bukan hearing.

Jika kita berpaling dari Kitab Allah, apa yang terjadi? 

Ayat berikutnya melukiskannya.

Siapa yang bisa berpaling dari Kitab Allah? Semua manusia punya potensi ini, beriman maupun tidak beriman. 

Bahkan ulama pun bisa punya potensi seperti ini juga. Yakni ulama yang sudah “berhenti” jadi ulama, yang tidak pernah belajar lagi, yang tidak pernah mengajarkan agama lagi. 

Ustaz mengajak kita membayangkan diri kita berada di sebuah madrasah. Menjadi seorang murid yang belajar di madrasah itu.

Suatu hari seorang guru memasuki kelas. Guru tersebut bertanya, “Kalian agamanya apa?”

Beberapa murid menjawab, “Agama Ibrahim.” 

Satu dua murid saling bertanya satu sama lain, “Itukah agama kita?” Yang lain menjawab, “Ya, itu agama kita, agama Ibrahim.”

Lalu sang guru bilang, “Ibrahim adalah orang Yahudi.” 

Anda tidak bisa menerima pernyataan itu dan segera meminta, “Mohon tunjukkan buktinya dengan Taurat.”

Guru itu menegaskan, “Tidak, kita tidak akan membahas Taurat.” Setelah bilang begitu, guru itu pergi begitu saja. Meninggalkan kelas.

Aneh.

Bagaimana Anda merespons situasi ini? Apakah Anda akan berpikir, “Ah sudahlah, ini bukan urusan penting.”

Atau, siapa sebenarnya Nabi Ibrahim, apa agamanya, itu adalah urusan yang penting?

Untuk orang yang secara jujur ingin mempelajari Kitab Allah, apakah seharusnya hal seperti itu menjadi urusan yang penting?

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali ‘Imran / 09. ‘Ali ‘Imran – Ayah 23-25 Ramadan 2018 (51:38 – 53:48)


Materi VoB Hari ke-451 Siang | A Powerful Rhetorical Expression

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek65Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Apakah Ibrahim itu orang Yahudi atau bukan, sebagai pembelajar Al-Qur’an, itu adalah sebuah urusan yang penting.

Tapi begitulah. Ada orang-orang yang menganggap bahwa berpaling dari Kitab Allah itu bukan urusan yang penting.

Mereka menganggap bahwa berpalingnya mereka dari Kitab Allah itu tidak akan membawa dampak apa-apa buat mereka.

Menyangkal kebenaran Rasulullah dan ajaran yang dibawanya tidak mencerminkan julukan yang mereka sandang sebagai people of the Book, sebagai ahli kitab.

Mereka diundang untuk mempelajari Al-Qur’an, mereka menolak. Bahkan kitab mereka sendiri, Taurat, mereka menolaknya.

Untuk mereka yang menolak Al-Qur’an itu, tidak diragukan lagi, tempatnya adalah neraka untuk selama-lamanya.

Permanen.

Tidak seperti persangkaan mereka di Ali ‘Imran 24.

لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّآ أَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍ 

“Api neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hitungan hari saja.” 

Tidak akan seperti itu. Mereka yang menyangkal Al-Qur’an akan berada di neraka untuk selama-lamanya. 

Semoga Allah melindungi kita dari keingkaran menyangkal Al-Qur’an. Semoga Allah menghindarkan kita dari neraka.

Ali ‘Imran ayat 25 dimulai dengan fakayfa.

فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنٰهُمْ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيْهِۗ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ٢٥

Bagaimanakah (nanti) ketika mereka Kami kumpulkan pada hari (Kiamat) yang tidak ada keraguan padanya dan setiap jiwa diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya tanpa dizalimi? (QS Ali ‘Imran, 3:25)

Fakayfa artinya bagaimana. Tidak dijelaskan apakah maksudnya “bagaimana halnya dengan mereka”. Atau “bagaimana keadaan mereka”. Atau “bagaimana tampaknya wajah-wajah mereka”. Atau “bagaimana perasaan mereka”.

Allah tidak menyebutkan itu semua. Allah hanya menyebutkan fakayfa. Artinya “maka bagaimana …” Sudah, itu saja. 

Tidak ada khabar di sini. 

Ini adalah ekspresi retorika yang sangat dahsyat. A powerful rhetorical expression.

Di mana letak kedahsyatannya?

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali ‘Imran / 09. ‘Ali ‘Imran – Ayah 23-25 Ramadan 2018 (53:48 – 56:49)


Materi VoB Hari ke-451 Sore | Full Payment

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek65Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Betapa mengerikannya keadaan mereka nanti. Betapa horornya apa yang akan mereka alami. Betapa beratnya hukuman yang akan mereka hadapi. Betapa hinanya martabat mereka nanti. Betapa terpuruknya kondisi mereka.

Begitu banyaknya “betapa” sehingga yang bisa dikatakan hanyalah kayfa. Atau fakayfa

Idzaa jama’naahum. “Ketika mereka Kami kumpulkan”. Bahkan sebelum neraka. Yakni ketika Allah mengumpulkan mereka di hari penghakiman.

Ketakutan mereka itu sudah akan terjadi saat mereka masih dikumpulkan di hari penghakiman.

Keraguan mereka akan Kitab Allah, keraguan mereka akan Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallam, telah sirna. Tidak ada lagi keraguan yang tersisa. Karena hari itu sudah hari kiamat.

Di hari kiamat, tidak ada lagi kata keraguan di kamus mereka. Tapi semuanya sudah terlambat.

Wawuffiyat kullu nafsin maa kasabat. Dan kepada setiap jiwa diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya.

Wahum laa yuzhlamuun. Dan mereka tidak akan dizalimi. Mereka tidak akan dirugikan.

Ayat ini berlaku untuk siapa saja. Tanpa pandang bulu. Pendosa, ulama, sarjana, guru agama, tokoh panutan, politisi, aparat negara, semuanya bisa kena.

Ketika mereka secara sengaja menyembunyikan kebenaran, ketika mereka secara sadar memanipulasi rakyat, maka mereka akan mendapatkan balasan yang sempurna. 

Full payment.

Balasannya sempurna.

Sesuai janji dari ayat ini. 

Insyaa Allaah kita lanjutkan pekan depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali ‘Imran / 09. ‘Ali ‘Imran – Ayah 23-25 Ramadan 2018 (56:49 – 59:04)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s