[VoB2021] Belajar Percaya Diri dari Nabi Yusuf


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-445

Topik: Divine Speech

Kamis, 9 September 2021

Materi VoB Hari ke-445 Pagi | Belajar Percaya Diri dari Nabi Yusuf

Oleh: Icha Farihah

#ThursdayDivineSpeechWeek64Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Salah satu inspirasi Ustaz Nouman dalam hal percaya diri, termasuk saat mengajar, adalah kisah dari Nabi Yusuf ‘alayhis salam.

Sejak kecil, Yusuf ‘alayhis salam sudah dikenal sebagai pribadi yang rendah hati. 

Selain itu, Yusuf ‘alayhis salam diketahui memiliki kemampuan yang jarang dimiliki orang lain, yaitu menafsirkan mimpi, termasuk mimpi sang raja tentang masa paceklik.

Ketika Yusuf ‘alayhis salam dibawa ke pengadilan, ia akhirnya dinyatakan tidak bersalah dan bebas. Pada saat yang bersamaan, berita tentang krisis ekonomi yang akan melanda negerinya selama beberapa tahun ke depan telah menyebar. Diprediksi bahwa tidak akan ada persediaan makanan sehingga mulai sekarang mereka harus mulai mengaturnya dengan baik.

Krisis ekonomi menjadi beban semua orang, terutama sang raja dan menteri-menterinya. 

Apabila tanggung jawab krisis ekonomi tidak dipegang oleh orang yang tepat, maka dapat dipastikan orang-orang akan mati kelaparan. Masyarakat akan menjadi korban dan kerajaan pun akan hancur.

Yusuf ‘alayhis salam melihat orang-orang yang hadir di persidangannya, ia mengamati para petinggi kerajaan dan berkata kepada sang Raja, “Wahai Raja, menteri-menterimu sangat tidak handal, kenapa Engkau tidak mempekerjakan aku saja?”

“Qaalaj ‘alniy ‘alaa khazaainil ardhi”.

Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir)” (QS Yusuf, 12:55)

Yusuf ‘alayhis salam bukan seorang doktor lulusan Ekonomi atau semacamnya. Masa mudanya dihabiskan sebagai budak dan tahanan. 

Sekarang dia berdiri di hadapan raja dan menawarkan dirinya sebagai bendahara negeri atau menteri keuangan.

Lihatlah betapa percaya dirinya seorang Yusuf ‘alayhis salam.

Kenapa ia begitu percaya diri?

Karena sebenarnya yang dibutuhkan bukanlah seorang lulus ekonomi dengan ijazah formalitas semata. 

Yang dibutuhkan untuk kualifikasi ini hanya dua: pekerjaan sebagai menteri keuangan itu dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan jujur.

Alih-alih, merasa kecil karena seorang tahanan, Yusuf ‘alayhis salam malah mencalonkan dirinya sendiri sebagai seorang menteri.

Yusuf ‘alayhis salam menilai bahwa politisi-politisi di sisi raja tidak tulus. Maka, ia menawarkan dirinya ketika tidak ada orang lain yang bisa mengambil tugas berat itu.

Terkadang kita tahu bahwa Allah telah memberikan kita sebuah “hadiah” yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain dan “hadiah” itu bisa jadi berguna untuk membantu sesama. Jadi, jangan sekali-kali mengatakan bahwa kita bukan siapa-siapa.

Insya Allah bersambung.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Divine Speech / 09. Order Within a Surah (41:40 – 44:16)


Materi VoB Hari ke-445 Siang | Percaya Diri vs Sombong

Oleh: Icha Farihah

#ThursdayDivineSpeechWeek64Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Jangan katakan bahwa kita bukan siapa-siapa padahal Allah sudah memberikan hadiah-Nya.

Yang harus kita lakukan adalah menggunakan “hadiah” itu untuk kebaikan. Kita harus keluar dari zona nyaman dan melakukan sesuatu.

*****

Selanjutnya Ustaz membahas tentang perbedaan sifat sombong dan percaya diri.

Sifat sombong terdiri dari dua parameter. Pertama, ketika kita terkesan dengan diri kita sendiri. Kedua, ketika kita berpikir bahwa kita lebih baik dari orang lain.

Kita tidak boleh terkesan dengan diri sendiri, tapi bukan berarti kita menyangkal bakat dan potensi yang Allah berikan.

Ustaz tidak malu mengatakan, “Saya pikir, Allah menjadikan saya seorang guru yang baik.”

Dan Ustaz pun tidak malu untuk mengatakan, “Saya punya banyak kekurangan. Istri saya tahu semuanya, dia bahkan bisa menjadikannya sebagai sebuah buku. Begitu juga, ibu dan ayah saya. Mereka tahu semua kelemahan saya.”

Ustaz memberikan saran tentang cara terlindung dari sifat sombong, tapi saran ini murni dari Ustaz, bukan sebuah dalil dari Al-Qur’an maupun hadis.

Cara paling ampuh agar terhindar dari kesombongan adalah mengelilingi diri kita dengan orang-orang yang sama sekali tidak terkesan dengan kita.

Siapa orang-orang itu? Ibu dan ayah kita.

Kalau kita menghabiskan waktu bersama mereka, bisa dipastikan kita akan menjadi rendah hati.

Seberapa hebat seorang anak di luar, ia pasti akan tetap menjadi pecundang di rumahnya, apalagi jika bertemu ayahnya.

Seorang anak laki-laki yang menyelesaikan gelar doktor pun akan kalah dengan ayahnya sendiri, “Nak, kamu tahu, saat Ayah seusiamu, ayah bisa saja dapat empat gelar doktor.”

Seorang ayah terkadang tidak akan pernah puas dengan pencapaian anaknya sehingga sang anak akan terus merasa kurang baik. Dan itu hal yang baik untuk melatih kerendahan hati.

Jadi, kalau ingin memeriksa seberapa rendah hatinya kita, coba hubungi dan berbicara setidaknya 15 menit dengan ayah kita.

*****

Sifat rendah hati dan sombong dapat kita nilai dengan beberapa hal yang kita lakukan sehari-hari.

Misalnya, seorang yang sujud saat shalat, bisa saja berpikir bahwa sujudnya lebih baik daripada orang lain. Ia pun menerima asumsi tersebut dan itu menjadi sebuah masalah bagi hatinya.

Tapi, berbeda dengan mengambil tanggung jawab dan membantu sesama. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus melakukan tugas itu.

*****

Seorang murid dari Inggris pernah berkonsultasi kepada Ustaz.

Dengan aksen British, perempuan itu berkata, “Ustaz, apa yang harus saya lakukan ketika kembali ke rumah? Saya ingin terus tinggal di sini, di Texas. Di sana tidak ada tempat untuk belajar.”

Ustaz menjawab, “Di sana itu tidak ada apa-apa karena kamu ada di sini.”

Ia menjawab, “Tidak ada aktivitas apapun Ustaz, termasuk aktivitas untuk perempuan.”

Ustaz menjawab lagi, “Mereka tidak melakukan apapun karena kamu ada di sini.”

Kita lah yang harus melakukan sesuatu, _step up,_ dan ambil tanggung jawab. 

Terkadang kita hanya menunggu dan menunggu agar pertolongan datang untuk membantu kita, tanpa sadar sebenarnya kita bisa menjadi penolong yang pertama untuk kondisi yang kita hadapi.

Ustaz mengaku bahwa dirinya pun pernah menjadi orang yang seperti itu. Dahulu Ustaz tipe orang yang selalu mengeluh. 

“Kenapa tidak ada pemimpin yang baik?”

“Kenapa masjid tidak membuat aktivitas yang menyenangkan?”

“Kenapa tidak acara untuk pemuda di masjid?”

“Kenapa begini? Kenapa begitu?”

Semua Ustaz tanyakan ke mentor-mentornya sampai suatu ketika seorang mentornya memegang lengannya sambil berkata, “Nouman, kalau kamu tidak bisa menemukan “orang itu.” Maka jadi lah “orang itu.””

Kita harus melangkah keluar dan berhenti bersembunyi di balik semua keluhan dan alasan.

Gunakan hadiah-Nya untuk membantu sesama, ambil tanggung jawab, dan singkirkan keinginan untuk membuat orang lain terkesan.

Insya Allah bersambung.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Divine Speech / 09. Order Within a Surah (44:16 – 48:02)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

One thought on “[VoB2021] Belajar Percaya Diri dari Nabi Yusuf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s