[VoB2021] Dua Urutan yang Tak Biasa


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-425

Topik: Pearls from Al-Kahfi

Jum’at, 20 Agustus 2021

Materi VoB Hari ke-425 Pagi | Dua Urutan yang Tak Biasa

Oleh: Heru Wibowo

#FridayAlKahfiWeek61Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Sekarang kita akan membahas masalah urutan. Yang dimaksud di sini adalah urutan kata di ayat pertama dari surah Al-Kahfi.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ أَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ 

Alhamdulillahi, segala puji dan terima kasih bagi Allah. Alladzii anzala ‘abdihi, yang telah menurunkan kepada hamba-Nya. Al-kitaaba, Kitab Suci (Al-Qur’an).

Coba sekarang kita rangkai.

“Segala puji dan terima kasih bagi Allah, yang telah menurunkan kepada hamba-Nya, Kitab Suci (Al-Qur’an).”

Apakah kalimat tersebut terdengar sebagai sebuah kalimat yang “normal”?

Mari kita perhatikan urutannya. 

Yang didahulukan adalah “kepada hamba-Nya”. Baru setelah itu “Kitab Suci (Al-Qur’an)”.

Urutan yang “normal” seharusnya adalah “… menurunkan Kitab Suci (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya.”

Bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, semuanya sepakat bahwa urutan yang “normal” adalah seperti itu.

Jadi, urutan yang “diharapkan” dalam bahasa Arab adalah alhamdulillaahilladzii anzalal kitaaba ‘alaa abdihi.

Ini adalah persoalan urutan yang pertama. ‘Alaa ‘abdihi mendahului al-kitaaba. Yang “normal” seharusnya al-kitaaba sebelum ‘alaa ‘abdihi.

Lalu ada persoalan urutan yang kedua. Yang terjadi di akhir ayat pertama dan di awal ayat kedua.

… وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ۜ ١ قَيِّمًا …

“… dan Dia tidak membuat padanya sedikit pun kebengkokan. Sebagai bimbingan yang lurus …” (QS Al-Kahfi, 18:1-2)

Urutan yang “normal” adalah “… sebagai bimbingan yang lurus dan Dia tidak membuat padanya sedikit pun kebengkokan …”

Jadi ada dua urutan yang diubah di sini. Keduanya merupakan style dari ayat tersebut.

Yang menjadi pertanyaan adalah: mengapa terjadi perubahan urutan yang “normal” tersebut? 

Apa manfaat perubahan urutan tersebut?

Akan dijelaskan dua pendapat ulama di sini, yang satu dari Al-Alusi dan yang satunya lagi dari Ibnu ‘Asyur.

Ustaz tidak mengetahui apakah Al-Alusi membaca tulisan Ibnu ‘Asyur, dan sebaliknya. Tapi keduanya telah membantu kita memahami perubahan urutan tadi.

Bahkan, bukan sekadar paham. Insyaallah juga akan tersingkap rahasia yang dahsyat di balik perubahan urutan kata-kata itu.

Penjelasan Al-Alusi juga dapat kita baca dalam kitab tafsir Ruh Al-Ma’ani.

Bagaimana penjelasannya? 

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 12. Al-Kahf (Ayah 1c) – A Deeper Look (29:01 – 31:07)


Materi VoB Hari ke-425 Siang | Penjelasan Al-Alusi dan Ibnu ‘Asyur

Oleh: Heru Wibowo

#FridayAlKahfiWeek61Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Kata kitaab disebutkan kemudian. Mengapa demikian?

Karena walam yaj’al lahuu ‘iwajaa (dan Dia tidak menjadikannya bengkok) ingin ditempatkan tepat setelah kata kitaab.

Kitab Suci Al-Qur’an dihubungkan secara erat dengan tidak adanya penyimpangan atau kebengkokan. 

Dan hubungan yang erat itu diwujudkan secara fisik dalam kalimat tersebut, di ayat pertama surah Al-Kahfi itu, dengan memastikan kata kitaab tepat berada di sebelah kata walam yaj’al lahuu ‘iwajaa.

Gagasan bahwa tidak ada sedikit pun penyimpangan di Kitab Suci Al-Qur’an ditempelkan tepat di sebelah kata kitaab.

Dengan kata lain, ketika kita berpikir tentang Kitab Suci Al-Qur’an, maka kita segera berpikir tentang tidak adanya penyimpangan. Tentang tidak adanya sesuatu pun yang bengkok di dalam Kitab Suci Al-Qur’an.

Keduanya tidak bisa dipisahkan sebagaimana Allah telah membuat keduanya, kitaab dan walam yaj’al lahuu ‘iwajaa, tidak terpisahkan di Al-Kahfi ayat pertama.

Itulah manfaat dari urutan kata-kata di ayat pertama. Sebuah manfaat yang dahsyat dan bermakna.

Sebuah penjelasan yang luar biasa oleh Al-Alusi.

Bagaimana dengan Ibnu ‘Asyur?

Ibnu ‘Asyur tidak memberi komentar tentang penempatan kata kitaab. Tapi Beliau memberi komentar tentang frasa ‘alaa ‘abdihi.

Ini keren sebenarnya. Yang tadi, Al-Alusi menjelaskan mengapa kitaab ditulis belakangan. Sekarang, Ibnu ‘Asyur menjelaskan mengapa ‘alaa ‘abdihi ditulis lebih dahulu.

Penyebutan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam sebagai ‘abd, dan penyebutannya lebih dahulu, adalah untuk menggambarkan kedekatan Beliau kepada Allah.

Melukiskan kedekatan antara Allah sebagai Rabb dengan ‘abdihi. Dengan hamba-Nya.

Anzala ‘alaa abdihi. Kata anzala adalah fi’l yang memuat Allah di dalamnya. “Dia yang telah menurunkan”. 

Dengan demikian maka hamba-Nya (pada kata ‘alaa ‘abdihi) menjadi lebih dekat kepada Allah (pada kata anzala).

Jadi Ibnu ‘Asyur menjelaskan betapa Allah ingin memastikan kedekatan-Nya dengan hamba-Nya dengan menempatkan kata ‘alaa ‘abdihi tepat setelah kata anzala.

Penjelasan Ibnu ‘Asyur ini tidak kalah seru dibandingkan penjelasan Al-Alusi sebelumnya. Sama-sama dahsyat dan bermakna.

Subhaanallaah.

Sekarang … bagaimana perubahan urutan seperti ini jika ditinjau dari perspektif linguistik? Apakah ada manfaatnya?

Dari perspektif linguistik, setidaknya ada empat manfaat dari perubahan urutan seperti ini. 

Insyaa Allaah kita bahas keempat manfaat itu di part berikutnya.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 12. Al-Kahf (Ayah 1c) – A Deeper Look (31:07 – 33:13)


Materi VoB Hari ke-425 Sore | The Four Linguistic Benefits

Oleh: Heru Wibowo

#FridayAlKahfiWeek61Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Dalam bahasa Arab, secara linguistik, perubahan urutan kata seperti itu memiliki setidaknya empat manfaat.

1️⃣

Pertama: Al-Ikhtishaash (الإختصاص)

Al-ikhtishaash berarti exclusivity. Eksklusivitas atau pengkhususan. Allah telah memilih hamba-Nya secara khusus.

Tidak ada satu pun manusia yang lainnya yang memenuhi kualifikasi. Hanya Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam saja yang menerima Al-Qur’an.

2️⃣

Kedua: At-Tasywiiq (التشويق)

At-tasywiiq artinya to create curiosity. Untuk menciptakan rasa ingin tahu. Allah menurunkan kepada hamba-Nya …

Apa yang Allah turunkan? 

Ada dua pelajaran penting dalam hal ini. Pertama, rasa ingin tahu bahwa yang diturunkan adalah Al-Qur’an. Kedua, rasa ingin tahu terhadap Al-Qur’an itu sendiri.

3️⃣

Ketiga: At-Ta’jiil (التعجيل)

At-ta’jiil artinya adalah karena rasa antusiasme yang tinggi. Penempatan ‘alaa ‘abdihi di awal artinya cinta Allah kepada Rasul-Nya begitu dalam.

Sehingga bahkan sebelum Allah bicara tentang Kitab-Nya, Allah lebih antusias bicara tentang Nabi-Nya.

4️⃣

Keempat: At-Tawkiid (التوكيد)

At-tawkiid artinya adalah untuk menekankan. Yakni lebih menekankan kepada Rasul-Nya. Dan juga menekankan pada fakta bahwa Beliau adalah seorang hamba.

Biasanya, dalam psikologi komunikasi, at-tawkiid ini ditandai dengan raising the voice atau menaikkan volume suara.

Alhamdulillah.

Kita telah cukup lama membahas ayat pertama dari surah Al-Kahfi. Tapi tidak berarti pembahasan ayat pertama sudah selesai sampai di sini. Di bagian ketiga (Ayah 1c) ini. 

Masih ada bagian keempat (Ayah 1d) yang insyaallah kita lanjutkan minggu depan.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 12. Al-Kahf (Ayah 1c) – A Deeper Look (33:13 – 38:00) [End]


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.

Jazakumullahu khairan

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

One thought on “[VoB2021] Dua Urutan yang Tak Biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s