[VoB2021] Fitrah Manusia pada Hubungan Ketergantungan


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-415

Topik: Pearls from Al Baqarah

Selasa, 10 Agustus 2021

Materi VoB Hari ke-415 Pagi | Fitrah Manusia pada Hubungan Ketergantungan

Oleh: Wina Wellyanna

#TuesdayAlBaqarahWeek60Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

🕋🕋🕋

Allah menegaskan pada ayat sebelumnya (ayat 21), agar manusia sebagai ’abd (budak atau hamba)-nya Allah, hanya menyembah kepada-Nya yang telah menciptakan manusia dan manusia sebelum kita agar kita menjadi orang yang bertakwa.

Ada urutan yang menarik dari ayat tersebut, pada beberapa kesempatan Allah memastikan kita paham hubungan kita sebagai manusia dengan-Nya adalah sebagai Rabb dan ’abd merupakan hal yang paling pertama, kemudian menyinggung hubungan yang kedua yaitu sebagai penciptanya kita. 

Sabbiḥisma rabbikal-a’lā, allażī khalaqa fa sawwā 

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya).”  (Q.S Al-A’la ayat 1-2)

🕋🕋🕋

Hubungan kita dengan Allah diawali dengan Allah sebagai Master dan kita sebagai hamba, kemudian Allah sebagai pencipta kita.

🔃🔃🔃

Urutan ini seringkali terbalik, awalnya ketika kita masih anak-anak menganggap Allah sebagai pencipta kita, baru setelah dewasa ada pemahaman kalau Allah adalah Tuan dan kita hamba.

Pencipta manusia, kemudian sembahan manusia, pemikiran default-nya manusia.

Allah memutar balik urutan ini pada beberapa kesempatan di Al-Qur’an, sebagaimana manusia selalu menginginkan sesuatu dengan urutan yang kronologis dan logis maka Al-Qur’an menggunakan bahasanya yang kuat dan kreatif untuk mendobrak pemikiran default-nya manusia.

🔃🔃🔃

Kenapa Allah melakukan ini? 

Ketika seseorang masih anak-anak, hal yang paling mereka takuti ketika tidak ada yang akan menjaga mereka.  

Ketika lapar atau takut atau marah, seorang anak akan mencari ibunya meminta perlindungan atau solusi.

🕋🕋🕋

Fitrah manusia akan mencari perlindungan dari yang lebih kuat ketika ia membutuhkan pertolongan, sejak kita masih kecil.

Manusia memiliki kebutuhan dasar, sebuah fitrah yaitu ketergantungan kepada sesuatu.  Sudah barang tentu, ketergantungan ini harus diletakkan pada tempat yang semestinya, yaitu ketergantungan pada Rabb-nya.

Ketika manusia sudah memiliki sesuatu tempat bergantung, ia kemudian akan menghargai hubungan ini.

🤔🌎

Setelah berusia dewasa, beberapa dari kita kemudian mulai mempertanyakan alasan keberadaannya di dunia.

Iya, tidak banyak manusia yang berpikir mendalam mengenai dari mana dirinya berasal, kenapa dirinya diciptakan, siapa yang menciptakannya, pertanyaan-pertanyaan filosofis mulai memenuhi akalnya.

🤔🌎

Tidak banyak manusia yang menggunakan akalnya untuk berpikir seperti itu, seringnya kita berpikir “keras” untuk “makan siang apa ya hari ini?” atau “hmm, bagaimana caranya supaya bos naikin gaji saya?” atau berpikir keras bagaimana memiliki rumah sendiri.

Hal-hal ini yang sering menyita pikiran manusia, apa-apa yang mereka ingin dapatkan dan bagaimana mereka kelak akan terjaga selama hidupnya.

Insyaa Allaah berlanjut ke part 2.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 2. Al-Baqarah / 09. Al-Baqarah (Ayah 23-25) – A Deeper Look (01:28 – 04:17)


Materi VoB Hari ke-415 Siang | Tantangan Ketaatan

Oleh: Wina Wellyanna

#TuesdayAlBaqarahWeek60Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Rabb adalah sebuah kata yang memiliki arti “Yang Menjaga Manusia”.

Rabb termasuk diantaranya Malik, Murobbi, Qayyim.

Rabb juga memiliki beberapa arti “Sang Pemilik”, “Yang Mencukupi”, “Yang Menjaga”, hal-hal mendasar yang manusia butuhkan.

🌏 🪐☀️

Kemudian Allah juga menekankan, selain sebagai Master, Allah juga sebagai pencipta kita.

Agar pemahaman kita sampai pada Allah adalah pencipta kita, kita harus “mengingat” kembali ke belakang, tapi apakah kita bisa mengingat saat kita diciptakan? 😅🤔  

Allah mengakui ini dalam surat Al-Kahfi ayat 51:

“Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri;”

Tidak mungkin kita ingat bagaimana kita diciptakan, lalu bagaimana kita bisa berpikir saat penciptaan kita?.

Anggap saja seseorang tidak percaya pada hal-hal gaib, tapi pasti ia menyadari pertama kali ia diciptakan di dalam rahim ibunya.

🤰🏻🤱🏻

Dengan sendirinya, fitrah manusia adalah taat kepada orang tuanya, ketaatan ini kemudian melebar kepada lingkungannya, taat pada adat istiadatnya, taat pada nenek moyangnya.

Karena orang tua kita memiliki orang tua lagi terus memanjang sampai ke atas.

Tentu saja hal ini membuat seorang manusia menjadi bagian dari masyarakat luas yang punya bahasanya sendiri, budayanya sendiri, norma-norma yang berlaku di dalam lingkungannya.

🤰🏻🤱🏻

Semua ini berawal dari satu gagasan: bahwa ia diciptakan di dalam rahim ibunya.

Gagasan yang paling mendasar bahwa kita diciptakan di dalam rahim ibu, meluaskan pemahaman kita sampai pada hidup kita di tengah masyarakat.

Kemudian Allah mengajak kita berpikir lebih jauh, jauh dari sebelum kita ada di rahim ibu kita, butuh daya pikir yang lebih jauh memang untuk sampai pada tahap Allah yang menciptakan kita.

🔐 🔒 🔓

Ini sebuah tantangan dari Allah, sejauh apa ketaatan kita sebagai hamba (budak) kepada Tuannya.

Ketaatan adalah faktor penting untuk menjaga hubungan kita sebagai hamba (budak) kepada Tuannya.

Tanpa taat, seorang hamba (budak) akan melanggar peraturan-peraturan yang telah ditetapkan Tuannya ketika Tuannya tidak melihatnya, sebaliknya, ia akan taat saat Tuannya sedang mengawasinya.

🔐 🔒 🔓

Flash back, pada awal surat Al-Baqarah, Allah sudah menekankan 

Yu`minụna bil-gaibi 

“Yang beriman kepada yang gaib”

Sudah pasti Allah bersifat gaib, sehingga ketaatan kita sebagai hamba (budak) diuji.

Kecenderungan manusia yang membutuhkan indra penglihatan sebagai bukti bahwa sesuatu itu ada, menganggap hal-hal yang tidak bisa dilihat (gaib) membuat mereka bebas untuk melakukan hal-hal yang disuka.

Seperti apa contohnya?

Insyaa Allaah berlanjut ke part 3.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 2. Al-Baqarah / 09. Al-Baqarah (Ayah 23-25) – A Deeper Look (04:17 – 06:40)


Materi VoB Hari ke-415 Sore | Kegaiban: Tantangan Ketaatan

Oleh: Wina Wellyanna

#TuesdayAlBaqarahWeek60Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Contoh paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, sebagai anak-anak kita pernah mengalami fase dipaksa untuk salat. 

😆😆😆

Ketika orang tua kita sedang di sekitar kita dan menyuruh kita salat magrib, kita akan taat.  

Tapi ketika mereka akan keluar rumah dan sebelumnya wanti-wanti agar kita salat magrib, ada kecenderungan kita untuk tidak taat.

🤭🤭🤭

Mungkin pun kita salat tapi, malas berwudu sebelumnya.

😅😅😅

“Kegaiban” ini menguji ketaatan kita kepada orang tua kita.

Semakin manusia dewasa, cakupan ketaatannya meluas, kepada orang tuanya orang tua kita, nenek moyang kita, sampai pada taat dengan budaya dan tradisi kita.

Ini beberapa alasan mengapa banyak orang menolak untuk taat kepada Allah, menolak risalah yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.

🔎🔎🔎

Jika ditanyakan kepada mereka yang menolak ini, jawabannya hampir seragam:

“Nanti orang tua saya menganggap saya apa?”

“Ini bertentangan dengan adat istiadat saya”

“Keluarga besar saya akan menentang saya”

Adat istiadat yang telah terbentuk ratusan tahun adalah sesuatu yang menjadi kebanggaan sebagai bagian dari suku mereka atau komunitasnya, mana mungkin “dirusak” dengan menerima risalahnya Rasulullah ﷺ ini?

🕋🕋🕋

Allah sudah menjawab penolakan ini dengan ayat 21 surat Al-Baqarah:

“Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,”

🕋🕋🕋

Taat yang sesungguhnya bukan kepada tradisi yang dibangun leluhur-leluhur kita, Allah menekankan bahwa  taat kepada Allah bukanlah sebuah pengkhianatan kepada leluhur-leluhur kita.  

Karena leluhur kita pun juga memiliki kewajiban untuk taat kepada Allah.

Minggu depan in syaa Allah akan membahas mengenai fa`tụ bisụratim mim miṡlihī.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 2. Al-Baqarah / 09. Al-Baqarah (Ayah 23-25) – A Deeper Look (06:40 – 08:30)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s