[VoB2021] Makna Kitab dari Perspektif Hukum


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-411

Topik: Pearls from Al-Kahfi

Jum’at, 6 Agustus 2021

Materi VoB Hari ke-411 Pagi | Makna Kitab dari Perspektif Hukum

Oleh: Icha Farihah

#FridayAlKahfiWeek59Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Alhamdulillahil ladzii anjala ‘alaa ‘abdihil kitaaba. (QS Al-Kahfi, 18:1)

Allah telah menjamin tentang keamanan Al-Qur’an di masa depan. Dan itulah sebabnya kita mengucapkan Alhamdulillah sejak di ayat pertama surat Al-Kahfi.

Ayat pertama ini bahkan mengisyaratkan sebuah kesenangan dan hiburan kepada para sahabat dan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa salam terkait wahyu yang Allah turunkan pasti akan lengkap dan sempurna. 

Sebagaimana Allah sampaikan di surat At-Taubah,

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai.” (QS At-Taubah, 9:32)

*****

Ustaz akan menjelaskan lagi tentang makna kata kitab dengan pembahasan yang lebih luas dan bersifat lebih harmonis.

Kitab dapat bermakna sesuatu yang wajib, sesuatu yang secara legal bersifat mengikat, atau sebuah putusan.

Kitab juga dapat bermakna ketetapan, seperti sebuah ketetapan dari seorang hakim.

Jadi, ketika sesuatu tertulis kepada seseorang dalam bahasa Arab, itu berarti suatu hal yang wajib untuk dijalankan.

Kita bisa menemukan contohnya di dalam Al-Qur’an seperti kutiba ‘alaykumus shiyaamu, kutiba ‘alaykumul qishaashu.

Berpuasa diwajibkan bagimu. Melakukan qishash diwajibkan bagimu.

Maka dari sudut pandang aturan hukum, kitab berarti hal yang wajib dijalankan.

******

Selanjutnya, Imam Ar-Razi menyampaikan bahwa kata kitab berarti sebuah masdar, yaitu infinitif.

Apa itu masdar dan infinitif?

Bersambung insyaAllah.

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Surahs/ Al-Kahf/ 12. Al-Kahf (Ayah 1c) – Deeper Look (15.00-16.30)


Materi VoB Hari ke-411 Siang | Tujuan Mempelajari Al-Qur’an

Oleh: Icha Farihah

#FridayAlKahfiWeek59Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Sebelum membahas masdar, Ustaz mengingatkan bahwa tujuan pemberian materi ini bukan untuk memberi tahu kita tentang sejumlah perkataan ulama saja.

Ustaz memang mengutip banyak pendapat ulama, tapi bukan itu poin pentingnya.

Kelas Al-Qur’an yang Ustaz ajar bertujuan agar kita dapat memahami Al-Qur’an berdasarkan pendapat para ulama.

Ustaz sering menyampaikan ini di kelas bahasa Arabnya, tapi baru sekarang disinggung saat kelas Al-Qur’an.

Ustaz menyampaikan kepada murid-muridnya di kelas bahasa Arab, 

“Tugas saya adalah mengajar bahasa Arab, bukan meyakinkan kalian seberapa banyak saya mengetahui bahasa Arab. Terkadang ada murid yang kagum ketika gurunya tahu banyak hal padahal kekaguman itu tidak memberikan manfaat untuk para murid dan guru itu sendiri.”

Jadi, pendapat para ulama bukanlah tujuan utamanya. Ustaz mengutip untuk memastikan para murid dapat menganalisis, membuat koneksi, dan memahami apa yang disampaikan Al-Qur’an.

Kelas bukan tempat penyampaian informasi, tetapi tempat seorang guru mengajarkan kepada para murid tentang konsep yang bisa dipahami.

Terkadang ada murid yang membaca tafsir dan mendengar pendapat ulama tentang Al-Qur’an, tapi mereka tidak memikirkannya atau tidak memproses apa yang mereka dapatkan tersebut.

Mendapat informasi dengan memahami isi informasi adalah dua hal yang berbeda.

Tugas seorang guru adalah membantu para murid memproses informasi tersebut.

*****

Sekarang, kita kembali membahas tentang masdar.

Dalam bahasa Arab, infinitif disebut sebagai masdar.

Kalau pernah belajar bahasa Arab, kita mengenal istilah ism yang meliputi nama orang, tempat, benda, dan ide.

Ide yang ada di ism punya istilah sendiri yaitu masdar. Contoh dari sebuah ide atau masdar adalah Islam, pendidikan, kapitalisme, dan lain-lain.

Terkadang di dalam bahasa Inggris, ide juga diakhiri dengan -ing, seperti eating, sleeping, crying.

Ketika kita meletakkan sebuah ide setelah kalimat “I love ….” maka itu adalah masdar.  Misalnya, I love eating, I love sleeping, I love crying, dan lain-lain.

Penggalan -ing tidak selalu menunjukkan verb (kata kerja), tapi ia bisa juga sebagai ide/masdar/infinitif.

Selain itu, bisa juga kata to read, to cry, dan lain sebagainya disebut sebagai masdar.

Untuk memahami bagian ini, kita juga harus tahu tentang ism maf’ul.

Ism maf’ul diartikan sebagai sesuatu yang telah selesai. Contohnya, the eaten, the beaten, the killed, dan lain-lain.

The food that was eaten. Makanan yang telah dimakan.

The houses that are bought. Rumah yang telah dibeli.

Semua kalimat di atas menggambarkan sesuatu yang telah dikerjakan. Itulah definisi dari maf’ul.

Bersambung insyaAllah.

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Surahs/ Al-Kahf/ 12. Al-Kahf (Ayah 1c) – Deeper Look (16.30-20.22)


Materi VoB Hari ke-411 Sore | Kitab Adalah Bentuk Masdar

Oleh: Icha Farihah

#FridayAlKahfiWeek59Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Di dalam bahasa Arab, terkadang ketika seseorang menggunakan kata infinitif/masdar maka maknanya sekaligus bisa menjadi maf’ul.

“Ia mengatakan kata pertama, tapi maknanya kata yang kedua.”

Sebagai contoh adalah kata libaas yang berarti berpakaian (masdar), tapi juga sekaligus berarti pakaiannya telah dipakai (maf’ul).

Berpakaian (clothing/dressing) adalah sebuah ide, tetapi bisa juga memiliki arti sebagai sesuatu yang telah dilakukan.

Begitu juga dengan kata kitab yang artinya penulisan/menulis (writing/to write). 

Kata kitab pada dasarnya merupakan masdar, maka artinya menjadi to write. 

Kata kitab tidak hanya merujuk pada sebuah buku dalam bentuk fisik. Selain itu, kata kitab sebenarnya kata yang baru bagi dunia fisik.

Ketika kita berpikir sebuah buku sebagai buku fisik, maka kita sebenarnya berpikir tentang maf’ul. Karena sebuah buku fisik adalah sesuatu yang telah ditulis.

Akan tetapi, ketika kita berbicara menulis (writing), seperti I love writing. Maka writing menjadi sebuah ide atau masdar.

Ruang lingkup ide lebih besar dari satu buku fisik. 

Seperti ketika Ustaz berbicara tentang menulis, maka Ustaz membahas sesuatu yang sangat luas, karena writing adalah ide yang sifatnya infinitif, tidak terbatas.

Berbeda jika Ustaz membicarakan tentang sebuah buku fisik, maka pembicaraan Ustaz hanya terfokus pada buku itu.

Allah memanggil nama buku-Nya dengan kitab, bukan maktub.

Jika yang dipakai adalah maktub maka maknanya menjadi spesifik dan terbatas.

Sedangkan kitab adalah bentuk paling tinggi dari mubalaghoh hiperbola dalam bahasa Arab. Apa maksudnya?

Bersambung insyaAllah.

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Surahs/ Al-Kahf/ 12. Al-Kahf (Ayah 1c) – Deeper Look (20.22-22.13)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.

Jazakumullahu khairan

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

One thought on “[VoB2021] Makna Kitab dari Perspektif Hukum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s