[VoB2021] Security and Economic Prosperity


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-410

Topik: Divine Speech

Kamis, 5 Agustus 2021

Materi VoB Hari ke-410 Pagi | Security and Economic Prosperity

Ditulis oleh: Heru Wibowo

#ThursdayDivineSpeechWeek59Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Di sesi ini akan dijelaskan hubungan antara sepuluh surah terakhir di Al-Qur’an. Tepatnya, urutannya … urutan dari sepuluh surah terakhir di Al-Qur’an itu.

Kita akan mulai dengan surah Al-Fiil. Surah ini dibuka dengan alam tara kayfa fa’ala rabbuka bi-ash-haa bil-fiil. (QS Al-Fiil, 105:1)

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحٰبِ الْفِيْلِۗ ١

Surah Al-Fiil adalah tentang Ka’bah, tentang kota Makkah, yang diserang oleh tentara bergajah. Dan serangan itu gagal karena Allah melindungi kota itu.

Surah selanjutnya adalah surah Quraisy. Surah ini dimulai dengan ayat li-iilaa fiquraisy. (QS Quraisy, 106:1)

لِإِيْلٰفِ قُرَيْشٍۙ ١

Di surah Quraisy ini Allah berbicara tentang kemakmuran ekonomi (economic prosperity) dari kota Makkah.

إٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِۚ ٢

Mereka dapat bepergian di musim panas maupun di musim dingin secara bebas. (QS Quraisy, 106:2)

Sekarang, marilah kita mengingat sebuah doa. Doa dari Nabi Ibrahim ‘alayhis salaam. Beliau pernah memohon supaya kota Makkah menjadi kota yang damai.

Tidak hanya itu. Beliau juga berdoa supaya Allah memberikan segala jenis buah-buahan untuk kota ini.

رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَّارْزُقْ أَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ …

“Ya Rabb-ku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya …” (QS Al-Baqarah, 2:126)

Jadi ada dua hal yang akan kita soroti dari doa Nabi Ibrahim dalam hal ini: kota yang damai, dan tersedianya berbagai jenis buah-buahan.

Kota yang damai adalah tentang keamanan (security). Sedangkan tersedianya buah-buahan adalah tentang kemakmuran ekonomi (economic prosperity).

Kedua surah tersebut, surah Al-Fiil dan surah Quraisy, keduanya adalah tentang pemenuhan dari doa Nabi Ibrahim tersebut.

Di surah Al-Fiil, meski yang menyerang adalah tentara bergajah, kota Makkah tetap aman. 

Di surah Quraisy, orang-orang Quraisy bisa bepergian baik di musim panas maupun di musim dingin. 

Orang-orang Quraisy berada di tengah-tengah masyarakat Arab. Dan orang-orang Arab saat itu terkenal mati-matian dalam soal merampok, kecuali merampok orang-orang Quraisy.

Jadi, orang-orang Quraisy bisa bepergian ke mana pun mereka mau. 

Saat itu, biasanya orang-orang Arab hanya bepergian di musim panas yang sangat panas. Atau di musim dingin yang sangat dingin. 

Mereka hanya akan bepergian di saat-saat yang ekstrem yang sangat menyulitkan itu. Karena para perampok juga akan mengalami kesulitan di saat-saat seperti itu. Sangat kecil kemungkinannya mereka akan merampok di saat-saat seperti itu.

Itu berlaku untuk orang-orang Arab kebanyakan, tapi bukan untuk orang-orang Quraisy. 

Orang-orang Quraisy bisa bisa bepergian kapan saja. 

Mengapa bisa begitu?

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Divine Speech / 09. Order Within a Surah (00:00 – 03:12)


Materi VoB Hari ke-410 Siang | Fulfilling the Legacy of Ibrahim

Ditulis oleh: Heru Wibowo

#ThursdayDivineSpeechWeek59Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Tidak ada yang berani merampok orang-orang Quraisy. Karena mereka adalah penjaga patung-patung dan berhala (idols) di Makkah.

Saat itu orang-orang Arab dari berbagai suku memiliki patung-patung dan berhala mereka yang ditempatkan di sekeliling Ka’bah.

Orang-orang Arab itu secara periodik melakukan sembahyang, menyembah berhala-berhala mereka, di Makkah.

Mereka tidak mungkin berani merampok orang-orang Quraisy. Kalau saja mereka nekat melakukannya, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi.

Ya! Orang-orang Quraisy akan terlalu mudah untuk membalas. “Mau merampok kami di jalan? Tunggu saja saatnya … saat kalian mengunjungi tuhan-tuhan sesembahan kalian di Makkah nanti!”

Atau, tidak perlu menunggu lama. Ada alternatif lain yang tidak kalah menariknya: orang-orang Quraisy itu menghancurkan patung sesembahan dari suku yang menyerang mereka.

Jadi, jelas sudah … kita paham alasan mengapa mereka tidak mau bermain-main dengan orang-orang Quraisy. Bermain-main dengan orang Quraisy berarti mereka mengambil risiko yang terlalu besar atas sesembahan mereka.

Ditambah lagi, setelah peristiwa penyerangan Makkah oleh pasukan bergajah yang gagal total, kaum musyrik percaya bahwa orang-orang Quraisy itu “tak tersentuh” (untouchable).

They are crazy powerful. We don’t mess with them. Because even The Elephants Force can’t mess with them!

Begitulah kata orang-orang musyrik tentang orang-orang Quraisy. Buat orang-orang musyrik, orang-orang Quraisy itu punya kekuatan yang dahsyat.

Orang-orang musyrik itu tidak berani macam-macam sama orang-orang Quraisy. “Pasukan bergajah aja lewat, apalagi kami,” begitu pikir mereka.

Maka kita makin paham dengan ayat ini. Rihlatasysyitaa-i washshayf. Mereka tidak diganggu. Mereka bisa bepergian kapan saja. Di musim dingin maupun di musim panas.

Dan siapakah yang membuat orang-orang Quraisy bisa nyaman seperti itu? Tidak lain: Allah.

Saat mereka bepergian kapan pun mereka mau itu, mereka membawa pulang berbagai jenis buah-buahan (all kinds of fruits).

Semua itu tidak lepas dari doa Nabi Ibrahim ‘alayhis salaam yang direstui Allah: warzuq ahlahuu minatstsamaraat. Yang sudah kita bahas di part sebelumnya.

Dengan rezeki Allah yang luar biasa itu, apa yang seharusnya orang-orang Quraisy itu lakukan? Mereka seharusnya membenarkan warisan ayahanda mereka, Ibrahim.

Harusnya orang-orang Quraisy itu sadar, Nabi Ibrahim membangun Ka’bah bukan supaya mereka menjadi syirik. Bukan supaya mereka menyembah tuhan-tuhan yang palsu.

Ibrahim ‘alayhis salaam membangun Ka’bah supaya mereka bisa menyembah Allah: falya’buduu rabba haadzal bayt. (QS Quraisy, 106:3)

فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِۙ ٣

“Maka hendaklah mereka menyembah Rabb (pemilik) rumah ini (Ka‘bah).”

Mengapa Ka’bah disebut-sebut di ayat ketiga surah Quraisy ini? Supaya diingat siapa yang meninggikan bangunannya. Nabiyullah Ibrahim ‘alayhis salaam.

Supaya orang-orang Quraisy itu ingat bahwa kemakmuran ekonomi mereka tidak lepas dari doa Ibrahim ‘alayhis salaam.

Kembali ke hubungan antara surah Al-Fiil dan surah Quraisy. Dua-duanya sudah kita bahas. Dua-duanya berhubungan dengan doa Ibrahim ‘alayhis salaam.

Setelah surah Al-Fiil (surah ke-105) dan surah Quraisy (surah ke-106), ada surah Al-Ma’un (surah ke-107).

Apakah surah Al-Ma’un masih ada hubungannya dengan warisan Nabi Ibrahim ‘alayhis salaam?

Ya.

Apa hubungannya?

Dengan berbagai kenikmatan terutama berupa keamanan dan kemakmuran ekonomi itu, orang-orang Quraisy itu seharusnya “memenuhi warisan Nabi Ibrahim”.

Apa yang dimaksud dengan “memenuhi warisan Nabi Ibrahim” itu?

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Divine Speech / 09. Order Within a Surah (03:12 – 05:22)


Materi VoB Hari ke-410 Sore | Dari Al-Ma’un Hingga Al-Kafirun: Ya Ampun Bikin Tertegun 

Ditulis oleh: Heru Wibowo

#ThursdayDivineSpeechWeek59Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Yang dimaksud dengan “warisan Ibrahim” adalah menyembah Allah, beribadah kepada Allah setulus-tulusnya. Dan melayani umat. 

Nabi Ibrahim orangnya sangat baik. Sangat murah hati. Ada orang yang tak dikenal yang datang ke rumah Beliau; apa yang Beliau lakukan?

Beliau sajikan daging terbaik yang ada di rumah. Bahkan meskipun itu adalah satu-satunya, dan setelah itu tidak ada lagi daging yang tersisa.

He is a giving person. Beliau adalah orang yang suka memberi. Yang tangannya selalu di atas. Yang selalu peduli pada sesama.

Malaikat turun mengabarkan akan menghancurkan kaum Luth. Apa yang beliau katakan?

Beliau bilang bahwa sebaiknya penghancuran kaum Luth tidak dilakukan. Saking pedulinya Beliau kepada umat manusia.

Beliau rajin berdoa untuk orang lain. Untuk generasi yang Beliau tidak lagi hidup di zamannya. Dan untuk kota suci yang Beliau pun tidak ikut menikmati hasil doanya.

Jadi Beliau punya dua kualitas yang unggul. 

1️⃣

Yang pertama, Beliau sangat dekat dengan Allah, menyembah-Nya setulus-tulusnya. 

2️⃣

Yang kedua, Beliau sangat perhatian kepada manusia, dikenalnya atau tidak, bahkan yang hidup di zamannya maupun yang tidak.

Sayangnya, orang-orang Quraisy tidak mewarisi kualitas Beliau. Mereka menyembah yang selain Allah. Mereka tidak benar-benar peduli pada sesama.

Seperti apa watak orang-orang Quraisy itu? Surah Al-Ma’un, surah yang tepat berada setelah surah Quraisy, melukiskannya. 

أَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ ١ فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ ٢ وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ ٣

1.  Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

2.  Itulah orang yang menghardik anak yatim

3.  dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.

(QS Al-Ma’un, 107:1-3)

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ ٤ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ ٥ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ ٦

4.  Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat,

5.  (yaitu) yang lalai terhadap salatnya,

6.  yang berbuat riya’. 

(QS Al-Ma’un, 107:4-6)

Riya’ adalah melakukan sesuatu perbuatan tidak untuk mencari keridaan Allah, tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.

Mereka salat karena pamer. Mereka pun malas dan tidak sungguh-sungguh melakukannya. 

وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ ࣖ ٧

7.  dan mereka enggan (memberi) bantuan.

(QS Al-Ma’un, 107:7)

Bahkan maa’uun pun mereka enggan memberikannya. Maa’uun adalah pemberian yang sangat-sangat kecil.

Ada orang yang penghasilannya puluhan juta atau bahkan ratusan juta per bulan. 

Seseorang minta kepadanya dua ribu rupiah saja. Bukan dua triliun. Dua ribu itu terlalu receh dibandingkan dua triliun. Tapi orang tadi enggan memberi juga.

Atau orang yang tinggal di apartemen yang suka masak dan stoknya selalu banyak. Baik stok makanan siap santap maupun stok bahan makanan.

Suatu hari tetangganya minta garam sedikit. Satu sendok teh saja. Atau kurang dari itu. Tapi orang tadi enggan memberi juga. 

Kualitas orang-orang Quraisy itu justru kebalikan kualitas Nabi Ibrahim. Salatnya tidak tulus, plus jahat dan pelit.

Terbukti sudah bahwa orang-orang Quraisy itu tidak masuk kualifikasi untuk meneruskan warisan Ibrahim ‘alayhis salaam. Surah Al-Ma’un membuktikannya.

Lalu adakah seseorang yang masuk kualifikasi untuk meneruskan warisan Nabi Ibrahim? Ada. Surah berikutnya, surah Al-Kautsar, membuktikannya.

Apa dua hal yang Allah perintahkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam di surah Al-Kautsar dan Rasulullah melaksanakan kedua perintah itu?

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢

2.  Maka, laksanakanlah salat karena Rabb-mu dan berkurbanlah! 

(QS Al-Kautsar, 108:2)

Benarkah Rasulullah melaksanakan perintah itu? 

Ya. Salat beliau … bahkan salat malam beliau sampai membuat kaki beliau bengkak. Beliau berkurban kambing pun bukan untuk diri sendiri tapi juga untuk keluarga dan umatnya … bukan kurban receh atau sekadar maa’uun.

Makin jelas sudah … orang-orang Quraisy tidak masuk kualifikasi dan Rasulullah masuk kualifikasi … untuk meneruskan kualitas Nabi Ibrahim.

Tapi, tunggu dulu … bukankah Rasulullah juga orang Quraisy? 

Dulu, ya. Tapi sejak saat itu, tidak lagi. Maka Nabi pun memanggil mereka dengan sebutan yang memisahkan diri Beliau yang qualified dengan orang-orang kafir Quraisy yang unqualified.

قُلْ يٰٓأَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ ١

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai orang-orang kafir …”

(QS Al-Kafirun, 109:1)

Laa ilaaha illallaah memisahkan Rasulullah dan pengikut Beliau yang mukmin dengan kafir Quraisy.

Pemenuhan kualifikasi warisan Nabi Ibrahim ‘alayhis salaam juga memisahkan kedua kelompok itu.

Dua kelompok itu menjadi musuh satu sama lain. Qul yaa ayyuhal kaafiruun adalah sebuah deklarasi peperangan antara kedua kelompok itu. Ada konflik yang nyata antara dua kelompok itu.

Lalu siapakah yang menang, dan siapakah yang kalah dari peperangan itu? Dari konflik itu?

Mungkinkah kedua kelompok itu “menang bersama” seperti Barshim dari Qatar dan Tamberi dari Italia yang sama-sama mendapat medali emas di Olimpiade Tokyo?

Tidak. Ini beda. Ini bukan loncat tinggi (high jump). Ini adalah persoalan akidah. Ini adalah persoalan iman. 

Ada yang menang dan ada yang kalah. Dua-duanya dijelaskan di dua surah berikutnya: An-Nashr dan Al-Lahab.

Insyaa Allaah kita lanjutkan minggu depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Divine Speech / 09. Order Within a Surah (05:22 – 10:50)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s