[VoB2021] Cerminan Universalitas Islam


[VoB2021] Cerminan Universalitas Islam

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-409

Topik: Pearls from Ali Imran

Rabu,4 Agustus 2021

Materi VoB Hari ke-409 Pagi | Cerminan Universalitas Islam

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek58Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Pesan seperti apakah yang perlu didengar oleh audiens yang mengikut khotbah Jumat?

Pesan tentang a-aslamtum (QS Ali ‘Imran, 3:20). Sebuah pertanyaan pada diri sendiri, apakah sang khatib maupun seluruh jama’ah sudah benar-benar berserah diri kepada Allah.

Sebuah pertanyaan pada diri sendiri, masihkah mencari kedamaian dengan cara menyerahkan hasil dari seluruh daya upayanya hanya kepada Allah semata.

Pesan seperti ini seharusnya disebarkan ke sebanyak mungkin orang. Kepada audiens yang lebih luas.

Terlalu sering, khotbah itu berisi pembelaan atas pendapat tertentu, dari kelompok tertentu … dan pada saat yang sama melupakan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh audiens.

Jika salah satu dari kita diberi kesempatan untuk mengisi khotbah Jumat, apa persisnya yang akan kita lakukan?

“Aku akan mengambil petikan yang keren dari kitab yang juga keren ini. Dengan begitu, jama’ah semua akan tahu, kitab apa yang sudah aku baca.”

“Aku akan menyampaikan sebuah petikan dalam bahasa Arab yang akan membuat jama’ah mengangguk-angguk terkesima. Aku ingin mendengar banyak dari mereka mengucapkan masyaallah …”

“Aku akan menutup khotbah dengan sebuah kutipan yang tampak hebat sekali (epic quote) dan supaya mereka setidaknya mengakui kualitas keilmuanku. Dan supaya mereka juga tahu aku ada di kelompok yang mana …”

Jika kita melakukan contoh-contoh di atas, kita hanya melayani diri sendiri. Dan melayani kelompok tertentu. Kita tidak melayani seluruh jama’ah yang hadir.

Di Ali ‘Imran ayat 20 ini Allah berpesan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam untuk melayani dua kelompok sekaligus: alladziina uutul kitaab dan al-ummiyyiin.

Apa artinya?

Mayoritas jama’ah adalah ummiyyiin dari segi pemahaman terhadap agama. Meski mereka mungkin punya pendidikan umum yang tinggi sekalipun.

Apa artinya, lagi?

Mereka semua membutuhkan pesan yang bersifat universal. Mereka tidak membutuhkan pesan yang hanya memuaskan kelompok tertentu. Apalagi yang hanya memuaskan diri sang khatib sendiri.

Bahasa yang khatib gunakan, frasa-frasa yang khatib pilih, jangan sampai beresonansi hanya untuk kelompok tertentu. Jangan sampai membuat bingung jama’ah yang lebih luas. Jangan sampai membuat jama’ah pulang dari masjid dengan hati hampa.

Bahasa yang dipilih janganlah bahasa yang susah dicerna. Bahasa yang dipilih seharusnya adalah bahasa yang jama’ah gunakan sehari-hari.

Universalitas Islam seharusnya juga hadir dan tercermin dari cara kita mempresentasikan Islam.

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali ‘Imran / 08. ‘Ali ‘Imran Ayah 19 (22)-22 Ramadhan 2018 (42:37 – 44:40)


Materi VoB Hari ke-409 Siang | Obsesi Dakwah yang Salah

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek58Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

A-aslamtum. Have you submitted yourselves? “Apakah kalian telah menyerahkan diri kalian kepada Allah?”

Salah satu respons dari pertanyaan ini diantisipasi di kalimat berikutnya, masih di ayat yang sama.

Fa in asalamuu faqadihtadaw. Jika mereka menyerahkan diri mereka, maka itu berarti mereka telah berkomitmen terhadap petunjuk-Nya.

Bagaimana jika respons mereka sama sekali berbeda … berlawanan seratus delapan puluh derajat?

Wa in tawallaw, dan jika mereka berbalik ke belakang … atau, jika mereka memilih untuk tetap melakukan kesalahan seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka dahulu, fa innamaa ‘alaykal balaagh.

Maka hasil akhirnya bukan menjadi tanggung jawab Nabi. Tugas Nabi hanya mengomunikasikan pesan-pesan Allah sejelas-jelasnya.

Tidak perlu berdebat. Tidak perlu adu pendapat. Tidak perlu mengeluarkan berbagai jurus argumentasi.

Itu jebakan mereka. Mereka suka sekali kalau Nabi terjebak dalam debat yang tak berujung.

Jika Nabi tidak bisa menahan diri dan terjerat dalam adu argumentasi, mereka akan mengendalikan diskusinya.

Yang mereka inginkan adalah supaya Nabi larut dalam diskusi sehingga Nabi lupa untuk menyampaikan pesan Allah yang seharusnya disampaikan kepada mereka.

Ibarat main bola. Seharusnya Nabi “menyerang” dengan pesan-pesan dari Allah. Tapi jika Nabi lengah dan berdebat, maka Nabi justru playing defense. Bermain bertahan, bukan menyerang.

Nabi kan sudah tahu bahwa Beliau mengomunikasikan kebenaran. Maka Beliau tinggal melakukannya. Tinggal menyampaikan pesan-pesan Allah itu. Itulah tanggung jawab beliau.

Tapi Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam dan setiap pendakwah setelah Beliau mulai berpikir, “Saya sudah menyampaikannya tapi sepertinya mereka tidak mau berubah.”

Ada yang pernah datang ke Ustaz. Seorang pendakwah. Beliau seperti sudah kehabisan akal. Ingin mengubah sebagian masyarakat di lingkungannya yang masih melakukan kebatilan. Tapi setelah sekian lama, mereka tidak juga mau berubah. 

Ustaz menghargai upaya, perjuangan, dan kerja keras pendakwah tadi, sambil mengingatkan bahwa kesalahannya mungkin terletak pada obsesi untuk mengubah orang-orang itu. Sebuah obsesi dakwah yang salah.

Pendakwah tadi perlu diingatkan akan sebuah ayat. Sebuah ayat di mana Allah memberikan sebuah nasihat yang penting kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam.

لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ ٢٢

“Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (QS Al-Ghasyiyah, 88:22)

You have no control over them. Your only job is to deliver a message to them.

Tetaplah menyampaikan pesan-pesan Allah kepada mereka. Tapi tidak perlu sakit kepala jika mereka tidak mau berubah.

Bahkan CCTV pun, jika di zaman itu sudah ditemukan, tidak perlu dipasang untuk mengamati gerak-gerik mereka. Untuk mengetahui apakah mereka mau berubah.

Tanpa itu, lalu siapa yang mengawasi mereka? 

وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِۚ ١٥

Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. (QS Ali ‘Imran, 3:15)

Mengawasi mereka, mengawasi perilaku mereka, Allah tegaskan, bukanlah tugas Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali ‘Imran / 08. ‘Ali ‘Imran Ayah 19 (22)-22 Ramadhan 2018 (44:40 – 46:42)


Materi VoB Hari ke-409 Sore | Balagh Yes, Baghi No

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek58Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Kita harus memahami cara kerjanya. Bagaimana mekanisme kerja dakwah itu. Supaya kita tidak punya obsesi dakwah yang salah.

Cara kerjanya tentu saja bukan: kita berdakwah lalu kita yang memutuskan siapa di antara yang kita dakwahi itu yang mendapat hidayah.

Cara kerjanya adalah: kita berdakwah, mengomunikasikan pesan-pesan Allah secara jelas, lalu Allah yang akan memutuskan, siapa di antara yang kita dakwahi itu yang Allah bukakan pintu hidayah kepadanya.

Kita memberikan pencerahan. Tapi siapa yang akan tercerahkan, bukan terserah kita, tapi terserah Allah.

“Tau ga lu … gue itu udah mikirin betul script dakwahnya, gue pilihin betul kata-katanya … tapi mereka tu ya … sepertinya cuma pura-pura mendengarkan …”

Padahal kita baru berdakwah selama 950 detik. Atau sekitar seperempat jam. Belum sampai satu jam. Tentu saja, belum sampai 950 tahun seperti dakwah Nabi Nuh ‘alayhis salaam.

“Aku sudah keluarkan semua dalilnya. Dari Al-Qur’an. Dari hadis-hadis shahih. Bahkan tidak cuma dalil naqli. Dalil aqli juga aku keluarkan. Tapi hasilnya?”

Tenang, wahai para pendakwah. Fa innamaa ‘alaykal balaagh.

فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلٰغُ ۗ 

“Maka sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan.” (QS Ali ‘Imran, 3:20)

Dalam bahasa Arab, balagh artinya a word that reaches the heart. Sebuah kata yang menembus relung hati.

أُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يَعْلَمُ اللّٰهُ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَّهُمْ فِيْٓ أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا ۢ بَلِيْغًا ٦٣

Mereka itulah orang-orang yang Allah ketahui apa yang ada di dalam hatinya. Oleh karena itu, berpalinglah dari mereka, nasihatilah mereka, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya. (QS An-Nisa’, 4:63) 

Speak to them in a way that goes deep inside their soul. Bicaralah dengan mereka sedemikian rupa sehingga perkataan itu masuk jauh ke dalam jiwa mereka.

Jika kita tahu, kalau kita bicara dengan nada yang agresif, kalau kita bicara dengan gaya yang meremehkan, mereka justru menjauh, maka jangan kita lakukan yang seperti itu.

Berdakwah itu melayani umat. Berdakwah itu bukan putting our superiority over them. Tujuan dakwah bukan menempatkan keunggulan diri kita atas diri mereka.

Mari kita ingat lagi ayat sebelumnya: Ali ‘Imran 19.

اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗ

“… kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian di antara mereka …” 

Saat berdakwah, jangan sampai ada kata-kata yang mengandung baghi dari apa yang kita ucapkan. 

Baghi adalah iri, dengki, perasaan tidak puas yang berhubungan dengan kepemilikan. Bisa kepemilikan apa saja: harta, kedudukan, bahkan juga pengetahuan agama dan keberhasilan dakwah.

Yang punya baghi merasa bahwa pengetahuannya lebih hebat. Atau, merasa bahwa kalau dia yang bicara, mayoritas audiens pasti akan mendapat hidayah dan hidupnya berubah. 

Get rid of baghi in your speech. Singkirkan baghi dari kata-kata yang kita sampaikan saat berdakwah.

Don’t be critical of people in your speech. Jangan mengecam orang saat kita sedang berdakwah.

Mari kita ingat bahwa tugas pendakwah adalah balagh, menyampaikan pesan-Nya sehingga mendarat dengan selamat di lubuk hati umat.

Balagh yes, baghi no.

Saat kita akan mengoreksi perilaku yang buruk di masyarakat, kita bisa memilih “saya” atau “kita” sebagai subjek sambil menjelaskan alternatif perilaku yang diharapkan sesuai Qur’an dan Sunnah.

Adalah penting untuk memosisikan diri: bahwa “kita” adalah “mereka” juga. Kita bisa menggunakan kata-kata yang ada di surah Fushshilat.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ إِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ إِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ٣٣

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (QS Fushshilat, 41:33)

Innanii minal muslimiin. “Aku juga orang-orang muslim.” Atau dengan kata lain, “Aku juga sama dengan kalian, muslim juga.”

Kata-kata seperti ini penting untuk menghilangkan superioritas kita atas diri mereka. Kita bukan di atas mereka. Kita sama saja dengan mereka. Sama-sama muslim. Atau, sama-sama manusia. 

Yang berdakwah, atau yang sedang berada dalam posisi mengingatkan, tidak lantas berarti bahwa posisinya itu berada di atas posisi yang didakwahi atau diingatkan.

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali ‘Imran / 08. ‘Ali ‘Imran Ayah 19 (22)-22 Ramadhan 2018 (46:42 – 48:21)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s