[VoB2021] Echo Aslamtu


[VoB2021] Echo Aslamtu

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-402

Topik: Pearls from Ali Imran

Rabu, 28 Juli 2021

Materi VoB Hari ke-402 Pagi | Echo Aslamtu

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek58Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Fa-in haajjuuka. (QS Ali ‘Imran, 3:20)

فَإِنْ حَاۤجُّوْكَ

“Maka jika mereka membantahmu (Muhammad) …”

Apa hubungan ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya?

Allah sejak dulu telah menurunkan Islam. Tapi para rabi itu telah melakukan ini dan itu. “Dan jika di periode kenabianmu (Muhammad) mereka masih melakukan yang seperti itu … maka katakanlah ini kepada mereka, … faqul aslamtu wajhiya lillaah …”

فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلّٰهِ

“… aku berserah diri kepada Allah …”

Atau dengan kata lain, Rasulullah berkata, “Kamu punya masalah dengan menyerahkan diri kepada Allah? Silakan saja. Kalau aku … aku tidak punya masalah itu.”

Mereka mencoba menyerang dengan berbagai argumen akademis, “Bagaimana dengan yang ini … bagaimana dengan yang itu …”

Kata Allah, sebenarnya mereka tidak punya rasa ingin tahu. Mereka juga tidak punya masalah dengan intelektualitas mereka.

Masalah mereka adalah baghi. Yakni to stay on top. Ingin mempertahankan ketinggian posisi intelektualitas mereka. 

Yang mereka butuhkan adalah sikap kerendahhatian. Menyerahkan diri kepada Allah. 

Maka Allah minta kepada Rasulullah supaya mendeklarasikan penyerahan diri Rasulullah. Jika mereka tidak bisa berserah diri kepada Allah, itu adalah masalah mereka.

Dalam kata-kata aslamtu wajhiya lillaah, terkandung sebuah pesan yang halus dan indah (a subtle beautiful message).

Kata wajhiya di sini juga ada hubungannya dengan wajah (face). Jadi “berserah diri” di sini juga termasuk sujud kepada Allah.

Pesan yang halus dan indah. Pesan untuk keduanya, kaum Kristen dan Yahudi, terutama untuk kaum Yahudi yang mengabaikan sajdah. Karena kaum Yahudi tidak lagi mengamalkan sujud.

“Dalil apa yang akan kau berikan kepadaku … hujjah apa yang akan kau berikan kepadaku … mengapa kamu tidak mau lagi mengamalkan sujud?”

Kata haajjuuka juga menarik. 

Kita tahu bahwa hajj dilaksanakan di Ka’bah. Dan Ka’bah adalah arah yang kita tuju saat kita mengamalkan sujud. Subhaanallaah.

Pernyataan aslamtu wajhiya lillaah ini bersifat ibrahimiyah. Di surah sebelumnya, saat Bani Israil dikritik, Allah berfirman, “Balaa man aslama wajhahuu lillaahi wahuwa muhsin, falahuu ajruhuu ‘inda rabbih, walaa khawfun ‘alayhim walaa hum yahzanuun (QS Al-Baqarah, 2:112).

بَلٰى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ أَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ ࣖ ١١٢

“Siapa pun yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan mereka berbuat ihsan, maka mereka akan mendapat pahala dari Rabb mereka, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka, dan mereka pun tidak akan bersedih hati.”

Idz qaala lahuu rabbuhuu aslim, qaala aslamtu lirabbil ‘aalamiin. (QS Al-Baqarah, 2:131)

إِذْ قَالَ لَهٗ رَبُّهٗٓ أَسْلِمْۙ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ١٣١

Ketika Allah berfirman kepada Ibrahim, “Berserahdirilah!” Ibrahim menjawab, “Aku berserah diri kepada Rabb seluruh alam.”

Sama persis. Kata yang digunakan, sama persis: aslamtu (Ali ‘Imran 20 dan Al-Baqarah 131).

Rasululllah echoes the word of Ibrahim ‘alayhis salaam. Rasulullah menggemakan kembali kata yang pernah digunakan oleh Nabiyullah Ibrahim ‘alayhis salaam.

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali ‘Imran / 08. ‘Ali ‘Imran Ayah 19 (22)-22 Ramadhan 2018 (33:00 – 35:35)


Materi VoB Hari ke-402 Siang | Resonansi Aslamtu

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek58Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Aslamtu wajhiya lillaahi wamanittaba’an. (QS Ali ‘Imran, 3:20)

أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلّٰهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ ۗ

“Aku berserah diri kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.”

Lagi-lagi, pesan ini sebenarnya adalah untuk kaum Yahudi, tapi sekaligus juga pesan untuk umat Kristen.

Sekarang, mari kita simak Matthew 26:39.

And He went a little farther, and fell on His face and prayed, saying, “O My Father, if it be possible, let this cup pass from Me; nevertheless, not as I will, but as You will.”

Dan Dia (Yesus) pergi sedikit lebih jauh, dan tersungkur (bersujud) dan berdoa, berkata, “O Bapa-Ku, jika mungkin, biarkan cawan ini berlalu dari-Ku; namun, tidak seperti yang saya inginkan, tetapi seperti yang Engkau inginkan.”

Yang Ustaz soroti di sini adalah kata-kata not as I will, but as You will. “Tidak seperti yang saya inginkan, tapi seperti yang Engkau inginkan.”

Ketika kita menyerahkan keinginan kita kepada Allah, disebut apakah itu? 

Islam.

Jadi di Matthew 26:39 ini, Yesus (Nabi Isa ‘alayhis salaam) bersujud dan mendeklarasikan Islam.

Sekarang kita bisa memahami bahwa ada resonansi aslamtu (Ali ‘Imran 20 dan Al-Baqarah 131) dengan Bible. 

Ayatnya tidak selesai di aslamtu wajhiya lillah. Masih ada lanjutannya yakni wamanittaba’an.

Artinya, di sini Nabi tidak sendirian berserah diri. Demikian pula orang-orang yang mengikuti Beliau.

وَقُلْ لِّلَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتٰبَ وَالْأُمِّيّٖنَ 

Then tell those who have been given the Book. Katakanlah kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah diberi Kitab (Taurat dan Injil). Dan juga kepada mereka yang tidak bisa baca-tulis.

Pernyataan yang sangat mendalam. Yang menyasar dua grup. Dua kelompok manusia. Yakni alladziina uutul kitaab dan al-ummiyyiin.

Al-ummiyyiin memiliki tiga dimensi.

1️⃣

Pertama, kaum musyrikin di tanah Arab. Mereka yang tidak punya pengetahuan akan naskah suci terdahulu. Contohnya adalah kata ummiyyiin yang ada di surah Al-Jumu’ah, 62:2.

2️⃣

Kedua, the people of the Book. bukan Ahli Kitab tapi sebagian dari mereka yang tidak paham Taurat. Contohnya adalah kata ummiyyuun yang ada di surah Al-Baqarah, 2:78.

3️⃣

Ketiga, mayoritas umat Kristen saat itu yang tidak memahami Bible. 

Jadi, alladziina uutul kitaab adalah yang paham agama. Sedangkan ummiyyiin adalah yang tidak paham agama, kumpulan dari tiga dimensi yang baru saja disebutkan itu.

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali ‘Imran / 08. ‘Ali ‘Imran Ayah 19 (22)-22 Ramadhan 2018 (35:35 – 38:49)


Materi VoB Hari ke-402 Sore | Sebuah Aksioma yang Ditaklukkan oleh Logika Ilahiah

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek58Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Ayat waqullilladziina uutul kitaaba wal ummiyyiin ini luar biasa dahsyat. Ada dua kelompok yang dipisahkan.

Mengapa pemisahan uutul kitaaba dan ummiyyiin itu menjadi dahsyat?

Ada sebuah aksioma yang menyatakan, you have to address people according to their intellect.

Kita harus berbicara kepada orang-orang sesuai dengan kecerdasan mereka.

Jika kita berbicara kepada sekelompok ilmuwan yang semuanya adalah Ph.D., bahasa yang kita gunakan seharusnya berbeda.

Jika kita berbicara kepada sekelompok anak-anak prasekolah, bahasa yang kita gunakan seharusnya berbeda.

Kita harus mempertimbangkan audiens sebelum kita mulai berbicara. Kita harus menggunakan pendekatan tertentu, menyesuaikan jenis audiens yang kita hadapi.

Allah meletakkan dua audiens yang berbeda di ayat yang sama di sini. Alladziina uutul kitaab adalah yang berpengetahuan. Dan al-ummiyyiin adalah yang tidak punya pengetahuan tentang naskah kitab suci.

Dua kelompok itu dijadikan satu di ayat ini. Dan dua-duanya akan diberi pesan yang sama.

Tentu saja ini bertentangan dengan prinsip umum yang sudah kita bahas di aksioma tadi. 

Logika manusia tercermin di aksioma tadi. Sedangkan saat ini kita sedang berusaha memahami logika ilahiah.

Ada sebuah pesan penting yang perlu didengarkan oleh kedua kelompok audiens itu: a-aslamtum.

ءَأَسْلَمْتُمْ ۗ 

Are you going to accept submission?

“Apakah kalian akan berserah diri kepada Allah?”

Atau, “Apakah kalian akan masuk Islam?”

Mengapa kedua audiens tersebut harus menerima pesan ini?

Audiens yang berpengetahuan harus diberitahu bahwa pengetahuan mereka justru telah menjadi kendala sehingga mereka tidak mau berserah diri.

Mereka harus melupakan pengetahuan mereka. Mereka harus kembali ke pengetahuan inti karena mereka telah melangkah begitu jauh ke cabang atau ranting pengetahuan yang justru memalingkan mereka dari kemurnian agamanya.

Bagaimana dengan audiens yang tidak berpengetahuan?

Pesan itu begitu sederhana sehingga seharusnya akan mudah dipahami oleh kelompok al-ummiyyiin.

Rasulullah pernah diberitahu supaya jangan hanya mencemaskan the gate keepers. Yang dimaksud di sini adalah para pemimpin agama Kristen dan Yahudi.

Para pemimpin ini seakan-akan menjadi “penjaga pintu gerbang”. Kalau Rasulullah mau bicara, harus lewat mereka.

Rasulullah diberitahu supaya Rasulullah juga bicara dengan orang-orang mereka secara langsung. Bukan hanya dengan para pemimpin mereka.

Apa implikasinya dalam kehidupan kita di zaman ini?

Kadang-kadang saat kita mengajarkan Islam, siapa yang ada dalam pikiran kita? Orang-orang yang sudah berpengetahuan.

Kita memberikan bukti-bukti ilmiah, dan sebagainya.

Padahal mayoritas umat yang kita hadapi sebenarnya adalah mereka yang belum begitu berpengatahuan soal agama.

Ustaz teringat dengan seorang khatib yang pernah memberikan khotbah Jumat. Dalam khotbahnya, sang khatib menjelaskan betapa salahnya Syi’ah itu. Berikut bukti-bukti yang meyakinkan dan menguatkan penjelasannya.

Yang patut direnungkan: apakah audiens yang mendengarkan khotbah Jumat memerlukan khotbah itu? 

Mungkin tidak.

Audiens menghadiri salat Jumat dan mengikuti khotbah Jumat karena mereka semata-mata ingin berserah diri kepada Allah.

Maksud Ustaz adalah: materi tentang Syi’ah itu seharusnya disajikan di kajian khusus untuk membedah Syi’ah dan penyimpangannya. Bukan disampaikan saat khotbah Jumat di mana sebagian besar audiens kemungkinan besar tidak membutuhkannya.

Ustaz memikirkan umat yang menghadiri salat Jumat. Sebagian besar dari mereka membutuhkan pesan khotbah Jumat yang beresonansi dengan mereka. Pesan yang memang perlu mereka dengar.

Yakni, pesan yang temanya adalah pesan Allah kepada kedua audiens tadi sekaligus: a-aslamtum.

Insyaa Allaah kita lanjutkan minggu depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali ‘Imran / 08. ‘Ali ‘Imran Ayah 19 (22)-22 Ramadhan 2018 (38:49 – 42:37)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s