[VoB2021] Membelah Samudra Pasir


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-400

Topik: Pearls from Juz ‘Amma

Senin, 26 Juli 2021

Materi VoB Hari ke-400 Pagi | Membelah Samudra Pasir

Oleh: Heru Wibowo

#MondayJuzAmmaWeek58Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Sekarang kita masuk ke ayat kedua, wannaasyithaati nasy-thaa. 

وَّالنّٰشِطٰتِ نَشْطًاۙ ٢

Dalam bahasa Arab, nasyatha digunakan untuk sebuah simpul, atau sesuatu yang mengikat dua benda menjadi satu, sedemikian rupa sehingga bisa dilepas kembali dengan mudah.

Seperti tali sepatu yang mudah dilepas kembali.

Ide dari kata nasyatha adalah dibebaskan (released), diringankan atau dilunakkan (softened)

Dengan kata lain, tali kekang yang tadinya ditarik kuat-kuat sampai pol, kini dibebaskan.

Jadi wannaasyithaati nasy-thaa maknanya adalah mereka melepaskan tali kekang itu selepas-lepasnya.

Dan ketika tali kekang itu telah dilepas, apa yang akan terjadi selanjutnya?

Kuda-kudanya akan turun ke lembah. 

وَّالسّٰبِحٰتِ سَبْحًاۙ ٣

Wassaabihaati sab-haa

Dalam bahasa Arab, sabh artinya berenang. Atau melayang. Artinya, kuda-kuda itu berenang masuk ke dalam air.

Ini adalah bahasa kiasan. Laut atau kolam renangnya tidak ada, tapi gurun adalah sebuah “samudra” pasir. Di gurun, kuda-kuda itu “berenang” di “samudra” itu.

Sifat air, saat kapal melaju cepat, seakan-akan kapal itu “membelah” air di permukaan.

Saat kuda-kuda itu berlari kencang di gurun, hal yang sama terjadi. Kuda-kuda itu pun membelah samudra pasir.

Efek lari cepatnya kuda-kuda itu sama dengan efek yang ditinggalkan oleh speed boat atau jet ski yang membelah air.

Jadi wassaabihaati sab-haa melukiskan efek itu, yang mirip efek terbelahnya air, tapi terjadinya di daratan.

Kata sabh juga berarti melayang. Jadi, kuda-kuda itu melayang atau terbang rendah.

Lagi-lagi, ini kiasan. They are moving fast as if flying low.

Mirip dengan itu, kuda-kuda ini dinyatakan dengan istilah “terbang rendah”. Meski yang dimaksud sebenarnya adalah “berlari sangat kencang”.

Jadi ada dua implikasi dari wassaabihaati sab-haa.

Di satu sisi, kuda-kuda itu berlari kencang, turun ke lembah dan menerjang gurun. Membelah pasir.

Di sisi yang lain, kencangnya kuda-kuda itu berlari bisa disetarakan dengan terbang. Terbang rendah.

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 79. An-Nazi’at / 01. An-Nazi’at (Ayah 1-11) – A Concise Commentary (26:51 – 30:32)


Materi VoB Hari ke-400 Siang | Sampai Lebih Dahulu

Oleh: Heru Wibowo

#MondayJuzAmmaWeek58Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Kita lanjutkan dengan ayat keempat. Fassaabiqaati sabqaa. 

فَالسّٰبِقٰتِ سَبْقًاۙ ٤

Tidak mengejutkan lagi bahwa fa di ayat ini menunjukkan apa yang terjadi seketika itu juga. Terjadi dengan segera.

Ada perbedaan antara musaabiq dengan saabiq.

Musaabiq artinya someone who races. Seseorang yang balapan.

Saabiq artinya someone who gets there first. Seseorang yang mencapai garis finis lebih dahulu.

Seperti misalnya di ayat wassaabiquunassaabiquun. (QS Al-Waqi’ah, 56:10)

وَالسّٰبِقُوْنَ السّٰبِقُوْنَۙ ١٠

Saabiquun artinya golongan atau orang-orang yang paling dahulu. Yang paling dahulu beriman. Yang paling dahulu masuk surga.

Jadi fassaabiqaati sabqaa artinya kuda-kuda itu melajunya super fast. Super kencang. Kuda-kuda itu sampai ke tujuan secepat kilat.

Ada yang menafsirkan ayat ini dengan kuda-kuda yang saling berpacu, satu sama lain saling mendahului.

Penafsiran seperti itu mungkin kurang tepat karena kalau seperti itu, kata yang digunakan seharusnya adalah _fal-musaabiqaati_, bukan _fas-saabiqaati_.

Jadi kuda-kuda itu sampai di sana dengan begitu cepat. Nah … ini dia … ini dia yang ditunggu-tunggu. Setelah kuda-kuda itu sampai di sana, apa yang terjadi selanjutnya?

Tapi sebelum kita melanjutkan adegan berikutnya, ada sedikit tambahan komen terkait ayat keempat dari An-Nazi’at ini.

Ada juga penafsiran lain dari ayat ini. Yakni bahwa malaikat sampai ke tujuan dengan super cepat.

Tentu saja Bintusy Syathi’ kurang setuju dengan penafsiran tersebut. Dan yang Ustaz kagumi adalah: Bintusy Syathi’ punya dasar pemikiran yang cermat yang menjelaskan rasionalitasnya.

Dengan dasar pemikirannya itu, Bintusy Syathi’ membuat keseluruhan isi surah An-Nazi’at memiliki gambaran yang lengkap dan holistik.

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 79. An-Nazi’at / 01. An-Nazi’at (Ayah 1-11) – A Concise Commentary (30:32 – 32:32)


Materi VoB Hari ke-400 Sore | Planning and Execution

Oleh: Heru Wibowo

#MondayJuzAmmaWeek58Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Bintusy Syathi’ menambahkan, saat kita berenang, khususnya kalau kita ingin berenang cepat, pasti kita mempersiapkan diri.

Tidak mungkin mau berenang cepat kita “santai-santai saja”, tidak mempersiapkan diri, langsung datang ke lokasi begitu saja, menceburkan diri untuk menyeberangi sebuah danau, misalnya.

Tidak mungkin seperti itu. Untuk berenang cepat, kita harus punya proper preparation. Persiapan yang cukup. Persiapan yang tepat. Persiapan yang matang.

Cara berpikir Bintusy Syathi’ ini masuk akal. Dan hal ini berlaku untuk raiders. Para penunggang kuda itu.

Mereka punya perencanaan yang matang. Mereka punya disiplin yang tinggi. Masing-masing dari mereka tahu secara persis apa yang harus dilakukan.

Mereka memegang tali kekang kuda erat-erat secara bersama-sama. Kompaknya luar biasa.

Fakta bahwa mereka sampai ke tempat yang dituju secara bersama-sama, dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, menunjukkan sesuatu.

Menunjukkan bahwa mereka memang disiplin. Menunjukkan bahwa mereka memang punya perencanaan yang cermat.

Jadi Bintusy Syathi’ menjelaskan bahwa ayat ini bercerita tentang sebuah serangan mendadak yang direncanakan dengan cermat (a raid attack that was meticulously planned). 

Tidak sekadar direncanakan dengan cermat, tapi juga dilaksanakan dengan penuh disiplin.

Nah … sekarang … kita masuk ke ayat berikutnya. Ayat kelima. Sebuah ayat yang sulit.

فَالْمُدَبِّرٰتِ أَمْرًاۘ ٥

Fal-mudabbiraati amraa. 

Kata dabbara dalam bahasa Arab punya dua arti. Secara khusus Ustaz minta kita untuk berkonsentrasi supaya kita bisa memahaminya dengan baik.

Yang pertama, dabbara artinya merencanakan. 

Yang kedua, dabbara juga berarti melaksanakan rencana itu.

Dua hal yang berbeda.

Di aplikasi Al Quran (Tafsir & by Word), dabbara diartikan sebagai to arrange. Artinya mempersiapkan atau merencanakan.

Jika seseorang melakukan tadbiir, pada dasarnya dia melakukan dua hal: membuat rencana sekaligus melaksanakan rencana itu.

Seringkali, manusia melaksanakan sesuatu hal tanpa membuat rencana. Seringkali pula, manusia membuat rencana tapi tidak pernah melaksanakannya.

“Apa yang akan kamu lakukan?”

“Aku akan melakukan ini, lalu ini, lalu ini, ini dan ini.” (dari lima “ini” itu, tidak ada satu pun “ini” yang dilaksanakan)

Ustaz teringat dengan salah satu murid beliau. “Ustaz, buku apa saja yang harus saya baca?” 

Ustaz pun menyebutkan beberapa buku. “Ustaz, ketika semuanya itu sudah saya baca, buku apa lagi yang perlu saya baca?”

Ustaz tidak menjawab. Ustaz balik bertanya, “Kamu sudah baca semua buku itu?”

Murid itu pun menjawab, “Belum, Ustaz.” Yang dilakukan murid itu adalah mengunduh semua buku yang Ustaz sebutkan. Totalnya sekitar 8 GB.

“Sudah, Ustaz. Buku apa lagi yang perlu saya unduh.”

Ustaz merespons bahwa itu semua sudah cukup. Ustaz khawatir muridnya itu hanya mengunduh di smartphone miliknya saja. Padahal yang seharusnya dilakukan adalah “mengunduh” isi buku itu di dalam pikirannya.

Pernah juga Ustaz punya murid yang sedikit agak berbeda. Saat itu Ustaz sedang menerangkan sebuah bahasan dari sebuah materi.

“Ustaz, jika kita sudah mempelajari semua materi ini, apa yang akan kita pelajari selanjutnya?”

Ustaz geleng-geleng kepala. Karena Ustaz tahu bahwa murid itu masih belum menguasai materi yang saat itu sedang diajarkan. Membuat Ustaz tidak habis pikir dengannya.

Maka Ustaz pun minta kepada muridnya itu untuk memusatkan perhatian sepenuhnya pada materi yang sedang dipelajari dan dibahas saat itu.

Jadi ada orang-orang yang merencanakan saja, tapi tidak melakukannya. Dan ada orang-orang yang suka melakukan sesuatu tanpa rencana.

Tadbiir adalah kombinasi dua-duanya: perencanaan (planning) dan pelaksanaan (execution).

Dari ayat-ayat An-Nazi’at sebelumnya yang sudah kita pelajari, gambarannya adalah bahwa rencana itu sudah ada.

Sekarang adalah saatnya eksekusi. Mereka sudah tiba dan di depan mereka terhampar seluruh desa.

Mereka sudah mengatur siapa yang akan bergerak ke kiri, siapa yang bergerak ke kanan, siapa yang bergerak ke tengah, dan seterusnya.

Mereka sudah mengatur jalur keluarnya, dan berapa detik waktu yang mereka punya.

Masing-masing dari mereka tahu bagian apa yang harus dilakukan. Mereka adalah tim yang terkoordinasi.

Itulah fal-mudabbiraati amraa.

Aslinya, kata tadbiir itu berarti memikirkan apa yang akan terjadi jika kita melakukan ini, versus apa yang akan terjadi jika kita melakukan itu.

Setiap action, setiap serangan dengan cara tertentu, punya konsekuensi di belakang itu.

Jadi tadbiir itu seperti melakukan permutasi. Jika mereka diserang dari kiri, mereka harus bagaimana. Mereka memikirkan semua kemungkinan sesempurna mungkin.

Dalam sebuah rencana yang berbahaya harus diperhitungkan berbagai kemungkinan (multiple possibilities), dan dipertimbangkan apa yang ada di balik setiap move yang diambil.

Imam Raghib Al-Isfahani menafsirkan ayat kelima ini, yakni beberapa malaikat membagi-bagi tugas untuk mengatur urusan dunia. 

Pendapat ini dinilai kurang tepat dan bisa berpotensi syirik karena yang mengatur itu adalah Allah ta’aalaa, bukan malaikat. 

Insyaa Allaah kita lanjutkan minggu depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 79. An-Nazi’at / 01. An-Nazi’at (Ayah 1-11) – A Concise Commentary (32:32 – 36:51)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s