[VoB2021] Akar Pohon Intelektual


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-377

Topik: Parenting

Sabtu, 3 Juli 2021

Materi VoB Hari ke-377 Pagi | Akar Pohon Intelektual

Oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek54Part1

💎💎💎💎💎

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Sebagai umat muslim kita punya masalah. Yakni, kita melihat iman sebagai hal yang bersifat spiritual semata. Kita tidak pernah menyusun kurikulum maupun metode edukasi di mana kita membangun iman anak-anak kita secara intelektual juga.

Seharusnya intelektualitas anak-anak itu dibangun sejak umur 10 tahun. Di umur itu mereka sudah bisa berpikir secara kognitif. Memahami berdasarkan fakta empiris. Dan mereka juga sudah bisa berpikir secara analitis. 

“Mengapa kita percaya sama Allah?”

“Siapa itu Allah?”

“Bagaimana kita bisa yakin bahwa hanya ada satu Allah?”

Harus ada percakapan seperti itu dengan anak-anak kita. Mengapa? Karena makin banyak anak-anak dan remaja yang akhirnya berpikiran liar dan berubah menjadi ateis. Dan bisa jadi mereka adalah teman sekolah anak-anak kita. 

Mereka bilang, tidak ada bukti intelektual bahwa Tuhan itu ada.

Kita tidak bisa membantah apa kata mereka itu dengan respons spiritual. Karena masalahnya bukan masalah spiritual. Masalahnya adalah masalah intelektual. 

Mari kita bayangkan yang ini. Ada fondasi sebuah bangunan. Atau bahkan yang lebih baik: ada akar dari pohon yang besar. Akarnya menghujam kuat ke dalam bumi. Lalu ada dahan, cabang, dan ranting dari pohon itu. 

Lalu ada pergiliran musim. Di suatu musim, pohon itu punya banyak daun. Di musim yang lain, pohon itu tidak punya banyak daun. Di suatu musim, buahnya bagus-bagus. Di musim yang lain, buahnya tidak terlalu bagus.

Musim demi musim berlalu. Daun beraneka. Buah pun beraneka. Tapi ada yang tidak pernah berubah. Ada bagian pohon itu yang tetap. Yang selalu ada di sana. Dia adalah akarnya. Akar pohon itu.

Tanpa akar, yang lainnya tidak ada. Tanpa akar, kita tidak punya apa-apa. 

Iman yang sifatnya spiritual itu seasonal. Bersifat musiman. Naik turun. Kadang naik lagi. Kadang turun lagi. Tapi iman yang bersifat intelektual adalah akarnya. Akan selalu ada di sana. Kuat menghujam masuk ke dalam bumi.

Masalahnya, kita tidak pernah membangun akar ini. Sehingga ketika diterpa serangan angin, iman yang spiritual itu bisa goyah. Pohon yang tak punya akar akan mudah dirobohkan oleh serangan angin.

Pernahkah kita bayangkan suatu saat nanti anak kita tumbuh remaja dan bertanya pada dirinya, “Kenapa ya, aku harus menjadi seorang muslim?”

Itu bukan pertanyaan spiritual. Itu adalah pertanyaan intelektual. Dan kita harus menjawab pertanyaan itu secara cermat.

Sekarang, masalahnya dengan para orang tua adalah, mereka sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Karena selama ini mereka hanya ngikut orang tua. Artinya, mereka menjadi muslim karena orang tua mereka adalah muslim.

Tapi itu masih oke. Ustaz tidak bermaksud menyalahkan para orang tua yang seperti itu. Mengapa?

Karena kita hidup di era yang berbeda. Dulu. Ya, dulu. Saat semua orang di sekeliling kita adalah muslim. Ustaz menyebut era itu sebagai happy time. Atau happy era

Era di mana kita biasa mendengar azan. Era di mana kita “otomatis” salat berjamaah setelah mendengar azan. Era di mana kita biasa berdoa bersama dengan teman-teman kita. Doa dalam bahasa Arab.

Rasanya iman kita bisa naik dengan sendirinya di lingkungan seperti itu. Dan kita tidak pernah mempertanyakan Islam. Mempertanyakan kebenaran Islam. Mempertanyakan mengapa diri ini harus memeluk Islam.

Kehidupannya memang seperti itu. Kala itu. Akar pohonnya sudah ada di sana. Berbagi akar dengan teman-teman dan lingkungan di sekelilingnya. Tidak ada masalah, saat itu.

Tapi sekarang, beda. Kita hidup di era masyarakat pascamodern (post modern society). 

Di Texas, di California, maupun di tempat manapun yang lainnya, masalahnya sama. Akar itu telah hilang.

Zaman kini telah berubah. Sehingga cara kita mengajarkan Islam kepada anak-anak kita seharusnya berbeda dengan cara orang tua kita mengajarkan Islam kepada kita. Kita harus punya fondasi intelektual. 

Masalah ini tidak bisa terselesaikan hanya dengan ceramah. Harus ada diskusi. Anak-anak harus dilatih bertanya. Mereka juga harus dilatih untuk mampu bertanya. 

Jangan sampai mereka mulai bertanya saat mereka mulai menginjak dewasa. Tanpa tradisi diskusi di keluarga, mereka mencari jawabannya sendiri. 

Akan sangat berbahaya jika mereka tidak punya akar yang kuat sehingga mereka terseret oleh angin yang ditiupkan oleh tokoh-tokoh ateis seperti Richard Dawkins.

Ada sebuah video yang menyatakan bahwa setelah 10 menit menonton video tersebut, seorang muslim akan berubah dan tidak lagi menjadi seorang muslim. Yang nonton, jutaan. Siapakah yang menonton video itu? 

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 23. Teenagers – Parenting (20:12 – 23:57)

💎💎💎💎💎


Materi VoB Hari ke-377 Siang | Iman Two-in-One

💎💎💎💎💎

Oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek54Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Berapa jumlah remaja dan anak muda muslim yang menonton video seperti itu? Menarik untuk dipelajari. Menarik untuk diketahui statistiknya secara demografis.

Ustaz tidak tahu statistiknya tapi Ustaz yakin bahwa penontonnya yang remaja persentasenya cukup signifikan. 

Jadi mereka mengembangkan pertanyaan-pertanyaan teologis setelah menonton video-video itu. 

Mereka lalu membawa pertanyaan-pertanyaan itu ke ibunda mereka.

“Mom, dari mana kita tahu kalau Tuhan itu ada?”

“Teori evolusi itu sebenarnya bagaimana?”

“Bagaimana bisa ada Nabi Adam yang disebut-sebut sebagai orang pertama padahal ada teori evolusi yang punya bukti-bukti antropologi dan bukti-bukti ilmiah?”

Mendengar serangan pertanyaan yang bertubi-tubi seperti itu, apa respons mamanya? Alih-alih menjawab pertanyaan itu, sang mama langsung naik pitam dan menyuruh anaknya membasuh muka dengan air wudhu’ …

🙈🙈

Lalu sang mama tadi menelepon Ustaz Nouman. “Aku dapat pertanyaan-pertanyaan ini dari anakku. Buku apa yang harus aku baca?”

🤚🏻🤚🏻

Kita biasa berpikir, jika kita menjawabnya dengan solusi spiritual, masalah intelektualnya akan hilang dengan sendirinya.

Masalah dari anak-anak remaja itu adalah masalah intelektual. Jadi kita harus menggunakan bahasa yang sama. Harus merespons masalah itu secara intelektual juga.

Selain masalah intelektual, mungkin mereka juga punya masalah spiritual. Tapi kita tidak bisa berpura-pura seolah-olah masalah intelektualnya tidak ada sama sekali.

Kita harus membangun fondasi intelektual dalam agama ini (Islam). Fondasi ini harus menjadi kurikulum dari setiap orang tua muslim.

Ustaz juga ingin membuat sesi khusus tentang mengapa kita tahu, tidak cuma yakin secara spiritual, bahwa Allah itu benar-benar ada. 

Tentang mengapa kita tahu, tidak cuma yakin secara spiritual, bahwa Al-Qur’an adalah sebuah keajaiban. Bahwa Al-Qur’an itu tidak mungkin kata-kata manusia. Bahwa Al-Qur’an itu hanya mungkin berasal dari Allah.

Tentang mengapa Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam adalah utusan Allah.

Kita ingin membangun argumentasi yang meyakinkan akan hal-hal tadi, dan kemudian baru bicara soal Islam, insyaa Allaahu ta’aalaa.

Mengapa fondasi seperti itu perlu dibangun?

Karena, ketika Allah menyatakan sesuatu, ketika Rasulullah mengatakan sesuatu, ketika Allah dan Rasul-Nya menasihati kita, akan menjadi mudah buat kita untuk mengambil nasihat itu.

Memahami argumentasi-argumentasi yang meyakinkan tadi, membantu kita untuk menjadi rendah hati. Mudah mengambil nasihat dari Allah dan Rasul-Nya.

Dan lagi, Yaa Allaah, tak terbayangkan apa yang akan menyertai keyakinan argumentatif seperti itu. Apa yang secara otomatis menyertainya?

Ini dia. Ini dia daftarnya. Daftar kebaikan yang menyertainya.

Rasa percaya diri (self-confidence).

Sikap tidak mementingkan diri sendiri (selflessness).

Rasa hormat (respect).

Rasa malu (shame).

Kerendahhatian (humility).

Kesadaran akan tujuan hidup (purpose).

Segala kebaikan ini menyertainya. Menyatu dalam satu paket. Betapa bermanfaatnya pemahaman akan iman yang menyentuh aspek spiritual sekaligus aspek intelektualnya.

Tapi jika kita tidak membangunnya, apa yang terjadi? Paket manfaat tadi tidak akan kita rasakan. Manfaat-manfaat tadi hilang lenyap.

Selama ini, respons spiritual kita hanya meringankan gejalanya. Tapi tidak mengobati penyakitnya. Apa itu penyakitnya? Iman. Iman yang bersifat spiritual saja. 

Iman anak-anak kita itu biasanya bukan Iman two-in-one. Hanya bersifat spiritual saja. Bisa goyah tanpa penguatan yang bersifat intelektual.

Ustaz tidak ingin menyalahkan sekolah-sekolah Islam. Kita hanya belum pernah secara lebih serius memikirkan hal ini. Keutuhan iman spiritual dan intelektual.

Kurikulum kita lebih bersifat informational. Menjawab pertanyaan “Islam itu apa” tapi tidak menjawab pertanyaan “mengapa saya harus mempercayai semua ini”. 

Ada bahaya yang bersembunyi di balik kurikulum itu. Bayangkan hal ini: anak kita ketemu dengan seorang temannya yang bilang, “Aku dulu juga mempercayainya, tapi sekarang … entahlah …” 

“Kamu sudah nonton video yang ini?”

“Kamu sudah baca artikel ini?”

“Kamu sudah pernah mengunjungi website ini?”

Mengapa ya … anak-anak remaja kita, atau teman-temannya, bisa tertarik ke hal-hal seperti itu? Yang membahayakan Iman dan Islam mereka itu?

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 23. Teenagers – Parenting (23:57 – 27:31)


Materi VoB Hari ke-377 Sore | Transformasi Religius di Usia Remaja

💎💎💎💎💎

Oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek54Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Kita harus paham mengapa anak-anak remaja kita tertarik dengan video-video atau situs-situs teologis yang membahayakan iman seperti itu.

Islam bilang, punya pacar itu haram. Narkoba itu haram. Alkohol itu haram. Berpesta pora itu haram. Hubungan pranikah itu haram. 

Yaa Allaah … Islaaam Islaaam … sepertinya segala-galanya menjadi haraaam …

Ketika anak-anak itu mendapatkan “pencerahan (palsu)” dari luar Islam … bahayanya di depan mata. “Ternyata yang selama ini diharamkan, tidak ada basis intelektualnya!”

Ada anak-anak yang memang punya masalah spiritual. Tidak tahan godaan. Lalu mereka akhirnya menemukan jalan keluar. Mereka punya alasan intelektual untuk meninggalkan Islam. Sehingga mereka bisa memuaskan hasrat yang tak tertahankan itu.

Kita ingin membangun fondasi intelektual yang akan menjadi senjata yang ampuh untuk menangkal kemungkinan-kemungkinan seperti itu. Sehingga tidak ada alasan spiritual maupun intelektual bagi mereka untuk meninggalkan agama ini.

Ustaz mengamati bahwa sudah ada yang memulainya. Sudah ada yang mulai membangun fondasi intelektual iman ini. 

Kita tidak perlu meruntuhkan bangunan iman yang sudah ada. Kita tidak perlu mengenalkan kepada mereka dunia orang ateis itu seperti apa.

Kita bisa langsung masuk ke pemahaman intelektual tentang mengapa kita seharusnya yakin bahwa Allah itu pasti ada. 

Kita tidak perlu berpanjang kata membahas hal-hal yang terlalu abstrak dan terlalu filosofis. Al-Qur’an bukanlah naskah yang seratus persen filosofis. 

Al-Qur’an punya cara yang unik untuk membuktikan kebenarannya sendiri. Yang sangat dahsyat. Yang sangat meyakinkan.

Inilah nilai pertama yang perlu kita tanamkan ke anak-anak kita. Yakni fondasi iman yang mencakup keduanya. Spiritualitas dan intelektualitas.

Di atas fondasi itu barulah kita teruskan. Kita teruskan dengan struktur keislaman apa pun yang ingin kita bangun di atasnya.

Insyaa Allaahu ta’aalaa Ustaz akan melakukannya ke anak-anak beliau lebih dulu. Itulah prioritas pertama Ustaz.

Setelah itu, barulah Ustaz akan membantu mengusahakan bagaimana memampukan para orang tua untuk membekali anak-anaknya dengan Iman Two-in-One. Fondasi iman yang bersifat spiritual dan juga intelektual.

Membekali dengan nilai-nilai yang harus ditanamkan ke anak-anak kita. Dan nilai yang pertama adalah iman. Semua hal yang lain adalah hasil atau buah dari iman.

Hal terakhir yang penting yang ingin disampaikan Ustaz adalah ini.

Ada fakta yang menarik bahwa sebagian anak remaja itu mengalami transformasi religius di usia mereka. Di usia remaja.

Mereka berasal dari keluarga yang tidak terlalu religius. Mereka mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah umum.

Lalu entah bagaimana … mereka menonton video di YouTube atau bergaul dengan teman-teman tertentu … sedemikian rupa sehingga iman mereka mengalami aktivasi.

Dan mereka berubah menjadi pribadi yang berbeda. Mereka sama sekali berubah. Mereka menjadi “tidak seperti biasanya” lagi.

Mereka mengasingkan diri. Tidak mau lagi bergaul seperti biasanya. Jaga jaraknya bukan 1 atau 2 meter tapi lebih dari 10 meter.

Kesannya jadi mereka tidak percaya diri, tidak rendah hati, tidak mau lagi berbagi, semua sisi manusiawi mereka serasa pergi.

Kadang-kadang yang seperti ini memang terjadi. Transisi dari kondisi awam lalu terkena sentuhan iman. Tapi iman tidak utuh. Tiba-tiba merasa menjadi orang suci, dan yang lain harus dijauhi.

Imannya mendadak naik tinggi, padahal naiknya baru satu inci. Itu pun baru dari satu sisi. Yang tersentuh baru spiritualitasnya, belum intelektualitasnya.

Ustaz berharap bisa ikut berkontribusi memberikan solusi. Tidak hanya menyingkirkan gejala, tapi juga mengobati penyakitnya.

Insyaa Allaah kita lanjutkan Sabtu depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 23. Teenagers – Parenting (27:31 – 31:23) [End]


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s