[VoB2021] Berebut Tamu Spesial


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-383

Topik: Pearls from Al-Kahfi

Jum’at, 09 Juli 2021

Materi VoB Hari ke-383 Pagi | Berebut Tamu Spesial

Ditulis oleh:  Heru Wibowo 

#FridayAlKahfWeek55Part1

Part  1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dalam bahasa Arab, kata alladzii adalah kata sifat dari kata Allah. Di ayat pertama Al-Kahfi ini, alladzii menjelaskan alasan dari hamd

Jadi kata alladzii menjelaskan alasan mengapa kita memuji dan berterima kasih kepada Allah.

Dan alasan untuk hamd itu adalah karena Allah menurunkan Al-Qur’an. Itulah alasan utama mengapa kita mengucapkan alhamdulillah, dalam konteks pembahasan ayat pertama Al-Kahfi ini.

Anzala ‘alaa ‘abdihil kitaab. Alhamdulillah karena Allah telah menurunkan Al-Qur’an kepada hamba-Nya.

Kata anzala ini ada hubungannya dengan keramahtamahan dan sambutan yang hangat dan bersahabat kepada seorang tamu.

Al-Qur’an adalah tamu itu. Rumah aslinya adalah di Lauh Mahfuzh. Saat wahyu turun, Al-Qur’an bertamu di dada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Ada setidaknya dua hal yang perlu kita pahami. Pertama, Al-Qur’an adalah hadiah dari Allah. Kedua, Al-Qur’an bukan sembarang tamu.

Al-Qur’an adalah tamu yang spesial. Ketika Anda kedatangan tamu yang spesial, dan Anda menjamu tamu tersebut, siapa yang berterima kasih?

Secara umum, tamu berterima kasih kepada tuan rumah yang menjamunya. Tapi jika kita adalah tuan rumah dan tamu kita adalah tamu yang sangat spesial, maka justru kita yang berterima kasih karena telah diberi kesempatan untuk menjamu tamu tersebut.

Begitulah tamu yang spesial. Orang-orang justru memperebutkan kedatangannya. “Aku ingin dia memilih rumahku di kunjungannya berikutnya.”

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 11. Al-Kahf (Ayah 1b) – A Deeper Look (32:05 – 35:37)


Materi VoB Hari ke-383 Siang | Penyembah Peringkat Pertama

Ditulis oleh:  Heru Wibowo 

#FridayAlKahfWeek55Part2

Part  2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Begitulah tamu spesial. Tuan rumahnya yang justru berterima kasih. “Terima kasih Anda telah memilih bertamu di rumah kami.”

Kita memuji dan berterima kasih kepada Allah karena telah memilih Rasulullah sebagai tuan rumah dari Al-Qur’an sebagai tamu spesial beliau shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Pernahkah kita berpikir … mengapa yang dipilih adalah hamba-Nya yang itu (Rasulullah) … dan mengapa tempat turunnya yang dipilih adalah di tengah gurun Saudi Arabia?

Padahal Kerajaan Romawi terkenal dengan sejarah filsafatnya. Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan di sana saja?

Jika pun turun di Arab, mengapa diturunkannya tidak ke selebriti Makkah atau Thaif, dua kota paling besar dan terkenal saat itu?

Bukankah jika yang menerima wahyu adalah selebriti terkenal dari salah satu kota terkenal itu, akan langsung banyak umat yang menjadi pengikutnya?

Orang-orang Yahudi saat itu juga sedang menunggu-nunggu kedatangan seorang nabi dari kaum mereka. Mengapa bukan salah satu dari mereka saja yang jadi nabi?

Mengapa harus Muhammad Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam yang dipilih untuk menerima Al-Qur’an?

Jawabannya ada di surah Az-Zukhruf, 43:81. Qul in kaana lirrahmaani waladun fa ana awwalul ‘aabidiin.

Ayat ke-81 dari surah Az-Zukhruf ini menyimpan sebuah misteri filosofis. “Jika Ar-Rahman punya anak, maka aku (Muhammad)-lah yang pertama menyembahnya.”

Benarkah terjemahannya seperti itu?

Frasa fa ana awwalul ‘aabidiin itu artinya sebenarnya adalah, “Dari semua makhluk yang pernah menyembah, apa pun yang disembah itu, akulah yang paling unggul dalam menyembahnya.”

Para malaikat lebih dulu diciptakan dari Rasulullah. Tapi Rasulullah lebih unggul dalam soal menyembah Allah. Rasulullah adalah Penyembah Peringkat Pertama. 

Persoalan filosofis kedua adalah: benarkah Rasulullah berkata seperti itu? Bukankah Rasulullah lembut hatinya, dan kalimat tadi seakan-akan menyembunyikan kebanggaan diri?

Iya, benar. Kata-kata itu memang Rasulullah yang mengucapkan. Tapi atas perintah Allah. Makanya ada qul di awal ayat ke-81 tadi.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 11. Al-Kahf (Ayah 1b) – A Deeper Look (35:37 – 40:16)


Materi VoB Hari ke-383 Sore | Yang Paling Berhak Bicara tentang Allah

Ditulis oleh:  Heru Wibowo 

#FridayAlKahfWeek55Part3

Part  3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Tetap terbukti, atau makin terbukti, bahwa Rasulullah adalah “penyembah pertama” karena beliau tidak bisa menyatakannya sendiri. 

Rasulullah mengatakan hal itu karena Allah menyuruh beliau. Fakta bahwa Rasulullah melaksanakan perintah Allah, untuk mengatakan hal itu, makin membuktikan ketaatan Rasulullah sebagai “penyembah pertama”.

Jadi, Az-Zukhruf 81 itu, apa sebenarnya poinnya? 

“Jika Allah punya anak, aku pasti akan mengetahui, kamu juga pasti akan mengetahui, siapakah orangnya yang mengerjakan ibadah lebih dari yang aku kerjakan.”

Atau, sebenarnya malah lebih tegas lagi, “Tidak ada seorang pun yang beribadah lebih dari aku beribadah.”

Allah telah memilih. Allah memilih yang paling memenuhi kualifikasi dari semua ’ibaad yang ada di muka bumi.

Allah telah memilih Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam sebagai standar dari seorang ’abd

Bahkan kata ’abd ini jugalah yang digunakan di ayat pertama dari surah Al-Kahfi. Kata Ibnu ‘Asyur, kata ’abd dipilih untuk menunjukkan kedekatan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Ketika Rabb telah memanggil, siapakah yang harus segera memberikan pelayanan? ’Abd. Hamba-Nya.

Mengapa seperti itu? Karena ada hubungan yang sangat dekat. Antara Rabb, yang memanggil, dengan hamba-Nya.

“Tidak ada yang lebih dekat kepada Allah dari aku.” 

Apa implikasi dari kata-kata Rasulullah ini? “Jika ada yang berani berkata yang bukan-bukan tentang Allah, dia harus memeriksa dirinya sendiri terlebih dahulu.”

“Akulah yang pertama yang paling tahu siapa Allah itu,” ini adalah makna dari Az-Zukhruf 81. Tidak ada yang paling berhak untuk bicara tentang Allah kecuali Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam.

“Kamu bilang … Allah itu punya anak? Hmmm … siapa kamu? Seberapa dekatnya hubunganmu dengan Allah?”

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 11. Al-Kahf (Ayah 1b) – A Deeper Look (40:16 – 42:04)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.

Jazakumullahu khairan

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s