[VoB2021] Alhamdulillah


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-362

Topik: Pearls from Al-Kahfi

Jum’at, 18 Juni 2021

Materi VoB Hari ke-362 Pagi | Alhamdulillah

Ditulis oleh:  Muchamad Musyafa’ 

#FridayAlKahfWeek52Part1

Part  1

Hari ini kita akan melanjutkan ulasan kita terkait kata alhamdullillah 

Jika kita menghilangkan awalan alif-lam, maka susunan kata-katanya akan berubah menjadi hamdun lillah. Lalu apakah ada perubahan makna dari alhamdulillah menjadi hamdun lillah?

Ketika kita menghilangkan alif-lam, maka kata hamdun akan menjadi kata umum. Tidak jelas pujian mana yang untuk Allah ﷻ. Bisa jadi beberapa pujian yang ini dan di sini untuk Allah ﷻ. Sedangkan pujian yang itu dan di sana untuk selain Allah ﷻ. Jika kita ingin menyertakan bahwa semua pujian, semua yang ada di bumi ini, semua yang diucapkan, tanpa terkecuali, semuanya adalah milik Allah ﷻ maka kita bisa menyampaikannya dengan menambahkan imbuhan alif-lam, alhamdulillah.

Selanjutnya, kita juga tidak menggunakan bentuk hamdan lillah. Dalam tata bahasa Indonesia, hamdun adalah bentukan kasus nomina, sedangkan hamdan adalah bentukan kasus akusatif. Dalam istilah bahasa Arab, hamdun memiliki irab rafa’, sedangkan hamdan memiliki irab nasb.

Penggunaan bentukan kasus akusatif seperti hamdan itu membutuhkan pelaku, membutuhkan kata kerja. Kasus akusatif yang berfungsi sebagai objek akan membutuhkan siapa pelakunya, dan apa yang dilakukan. Kalimat dalam bahasa Arab normalnya tidak dimulai dengan kata benda dalam bentuk akusatif / nasb. Jika kata yang muncul di awal kalimat berbentuk akusatif/nasb, maka secara implisit ada kata kerja yang tersembunyi di situ.  Contohnya dalam kalimat subhanallah, artinya tidak hanya maha suci Allah, tetapi saya menyatakan ke-mahasuci-an Allah ﷻ.

Dalam khotbah, sering kali kita mendengar kata-kata innalhamda lillah. Ada inna, alhamda, dan lillah. Kata inna memiliki arti “sesunguhnya”. Kata inna adalah salah satu harf nasb, ia adalah salah satu hari kumpulan harf yang mengubah kata sesudahnya menjadi nasb. Dengan menambahkan kata inna, maka ada penyempitan makna, ada pengkhususan makna yang terjadi.

Dalam bahasa Arab dikenal jumlah khabariyah dan jumlah insyaiyyah. Ada kalimat informatif dan kalimat emotif. Ada kalimat yang bertujuan menyampaikan informasi, dan ada kalimat yang bertujuan menunjukkan emosi.

Kalimat alhamdulillah memiliki makna keduanya, baik informatif maupun emotif. Alhamdulillah adalah sebuah pernyataan fakta (informatif) dan pernyataan perasaan emosional kita (emotif). Dalam rasa kesenangan, rasa terima kasih, rasa penuh syukur, kita mengucapkan alhamdulillah.

Ketika kita menggunakan kata awalan inna maka maknanya akan menyempit menjadi makna informatif saja. Kata innalhamdalillah hanya bermakna informatif saja. Ia hanya menyampaikan fakta bahwa sesungguhnya segala pujian bagi Allah.

Di awal surat Al-Kahfi, Allah ﷻ tidak menggunakan kata inna. Dengan tidak menggunakan kata inna, maka pertanyaan di awal surat Al-Kahfi ini tidak hanya bermakna informatif saja, tetapi juga bermakna emotif

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Parenting / 18. Al-Kahfi ayah (1b) Deeper Look (13.32-16.53).


Materi VoB Hari ke-362 Siang | Terimakasih dan Pujian

Ditulis oleh:  Muchamad Musyafa’ 

#FridayAlKahfWeek52Part1

Part  2

Sekarang pertanyaannya adalah, kenapa alhamdulillah lebih tinggi dari pada asysyukrulillah? kenapa alhamdulillah lebih tinggi dari pada ats-tsanaulillah?

Asy-Syukur (rasa terima kasih) adalah salah satu bagian dari al-hamd

Lalu ats-tsanau lillah (pujian) juga merupakan salah satu bagian dari al-hamd

Al-Hamd memiliki makna yang lebih luas, lebih komprehensif. Ia memiliki makna yang mencakupi rasa terima kasih dan pujian. Rasa syukur dan pujian ini menyatu ke dalam satu kata yang tak dapat dipisahkan, al-hamdu.

Seseorang bisa saja di suatu waktu mengucapkan terima kasih tanpa ada rasa syukur. Misalnya seperti orang yang menerima pembayaran hutang, ia biasa saja akan mengucapkan terima kasih kepada orang yang sudah melunasi hutangnya, tapi baginya ia tak perlu memuji-muji orang yang ia hutangi itu.

Bisa juga seseorang memuji-muji orang lain, tapi ia tak memiliki alasan untuk berterima kasih pada orang yang ia puji. Seperti yang terjadi pada penggemar fanatik, hampir sebagian besar dari mereka memuji-muji idola mereka. Padahal idolanya tersebut tidak pernah menolongnya, tidak pernah berkorban untuknya.

Itulah contoh kasus di mana antara pujian dan rasa terima kasih terkadang bisa berjalan sendiri-sendiri.

Namun, ketika seseorang mengucapkan al-hamdulillah maka ia bermaksud untuk menyampaikan pujian dan terima kasih secara bersamaan kepada Allah ﷻ. Ia berterima kasih atas segala nikmat yang ia rasakan, dan ia memuji Allah ﷻ ketika ia sadar betapa sungguh maha kuasanya Allah ﷻ dalam menciptakan alam semesta ini.

Rasa syukur dan pujian telah melebur dan mengkristal menjadi satu ungkapan al-hamdulillah.

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Parenting / 18. Al-Kahfi ayah (1b) Deeper Look (16.54-19.13).


Materi VoB Hari ke-362 Sore | Karena Allah ﷻ

Ditulis oleh:  Muchamad Musyafa’

#FridayAlKahfiWeek52Part3

Part  3

Jika ada kalimat alhamdu lil khaliq, maka apa artinya itu?

Segala syukur dan pujian kepada sang pencipta. Itu artinya.

Jadi dengan kalimat itu, kita memuji dan berterima kasih karena Dia adalah sang pencipta.

Ketika ada kalimat alhamdu lil rahman, maka kita bersyukur dan memuji karena Dia adalah yang Maha Pengasih.

Ketika ada kalimat alhamdu lil hakim, maka kita bersyukur dan memuji karena Dia adalah Yang Maha Bijaksana.

Ketika di awal surat Al-Kahfi kita menemukan kalimat alhamdu lillah, maka kita bersyukur dan memuji karena?

Karena Dia adalah Allah ﷻ.

Bukan hanya karena Dia adalah pencipta, bukan hanya karena Dia adalah Yang Maha Pengasih, dan juga bukan karena Dia adalah Yang Maha Bijaksana.

Kita berterima kasih dan memuji karena semua sifat yang ada pada Allah ﷻ. Yang Maha Pencipta, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa, dan masih banyak lagi.

Kita berterima kasih dan memuji Allah ﷻ karena Dia telah menurunkan kitab kepada hamba-Nya. Ia menjadikan kita itu sebagai bimbingan yang lurus agar hamba-Nya tidak tersesat. Agar hamba-Nya tidak mendapatkan siksaan yang pedih. Agar hamba-Nya mendapatkan kabar gembira bahwa atas segala amal baiknya akan diganjar dengan kebaikan yang berlipat-lipat

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Parenting / 18. Al-Kahfi ayah (1b) Deeper Look (19.14-20.40).


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.

Jazakumullahu khairan

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s