[VoB2021] Ayat 19 dan Komunitas Kristen Najran


[VoB2021] Ayat 19 dan Komunitas Kristen Najran

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-360

Topik: Pearls from Ali ‘Imran

Rabu, 16 Juni 2021 

Materi VoB Hari ke-360 Pagi | Ayat 19 dan Komunitas Kristen Najran

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek52Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kita masih di ayat 19 dari Ali ‘Imran. Yang diawali dengan innaddiina ‘indallaahil islaam. Ayat yang cukup terkenal itu.

Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidak pernah berubah. Konsisten seperti itu. Dan konsistensi ini juga mewarnai semua ayat yang ada di Al-Qur’an. Ayat yang satu mengonfirmasi ayat yang lain. 

Islam itu sendiri, juga konsisten. Islam itu selalu sama. Kitab yang turun sebelumnya, juga mengajarkan prinsip-prinsip yang sama. Taurat begitu, Injil juga begitu.

Semua kitab suci mengajarkan prinsip-prinsip yang sama. Al-Qur’an adalah kitab suci versi terakhir. Paripurna. Sempurna. Tidak ada lagi kitab suci setelahnya.

Para nabi juga begitu. Mereka keluar rumah, berdakwah, mengajarkan prinsip-prinsip dan ajaran yang sama.

Petunjuk-Nya selalu sama. Tidak berubah-ubah. Islam akan selalu menjadi Islam. Ini adalah hal yang mendasar yang diajarkan di ayat ini. Ali ‘Imran ayat 19.

Penganut agama yang lain perlu untuk mendengarkan hal ini. Khususnya penganut agama Kristen karena kepercayaan mereka yang “aneh”.

Yang dimaksud di sini adalah, mereka tidak bisa memberikan alasan, mengapa darah Yesus menyelamatkan mereka dari dosa-dosa mereka.

Lalu kepercayaan bahwa Yesus adalah anak Tuhan, sebuah kejadian yang terlalu luar biasa dalam sejarah umat manusia. 

Padahal tidak ada nabi sebelumnya yang bicara tentang hal itu. Dan bahkan di Bible sendiri tidak disebutkan hal-hal seperti itu.

Tidak ada seorang pun dari nabi-nabi sebelumnya yang bilang, “Dosa-dosa kalian akan disucikan karena pengorbanan Tuhan.”

Tidak ada satu pun yang pernah bilang seperti itu. Bahkan kalimat yang mendekati itu sekalipun, tidak ada seorang nabi pun yang mengajarkannya.

Allah selalu mengajarkan prinsip-prinsip yang sama. Prinsip ketauhidan yang sama. Dan tidak ada ajaran tentang “darah yang menyelamatkan”, atau “pengorbanan Tuhan”, atau hal-hal serupa itu.

Allah selalu memberikan kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Allah selalu peduli dengan kemanusiaan.

Pada dasarnya, cara berpikir Kristen, terutama Kristen Najran, adalah bahwa Allah itu penuh kasih dan karenanya Allah melakukan “pengorbanan” itu untuk membersihkan dosa-dosa manusia.

Allah selalu penuh kasih sayang. Para nabi juga penuh kasih sayang. Tapi kita tidak perlu membuat sebuah “variasi kepercayaan” melakukan justifikasi bahwa Allah penuh kasih sayang.

Itulah pentingnya innaddiina ‘indallaahil islaam untuk dipahami terutama bagi komunitas atau penganut Kristen.

Kita lanjutkan pembahasannya insyaa Allaahu ta’aalaa di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali-Imran / 08. ‘Ali ‘Imran – Ayah 19 (22)-22 Ramadan 2018 (00:00 – 04:17)


Materi VoB Hari ke-360 Siang | Ayat 19 dan Komunitas Yahudi Historis

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek52Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Di sisi yang lain, ayat 19 langsung mengkritik historical Jewish community. Kaum Yahudi yang hidup pada masa itu.

Ada bagian dari kaum Yahudi kala itu yang tahu kebenarannya. Mereka juga adalah pemelihara agama. Orang-orang menganggap mereka pemimpin dalam perkara keyakinan.

Mereka adalah para imam. Mereka adalah para pengkhotbah. Mereka adalah para pengajar agama. 

Mereka lalu menjadikan agama sebagai alat untuk mengendalikan umat. Untuk mengendalikan jemaat. Mereka menjalankan kekuasaan melalui agama.

Mereka menggunakan agama untuk mengangkat status sosial mereka. Melegitimasi superioritas mereka. Dan, tentu saja juga, menjadikannya mesin uang.

Mereka telah mengubah wajah agama.

Innaddiina ‘indallaahil islaam adalah kritik yang terang-terangan terhadap praktik agama yang menyimpang seperti itu.

Sebenarnya Al-Qur’an itu sangat halus dalam mengkritik perilaku kaum Yahudi. Kritiknya langsung, tapi bahasanya tidak kasar.

Kritik dari Al-Qur’an yang halus itu sendiri mencerminkan waya’fu ‘an katsiir. “Dan Dia memaafkan sebagian besar dari mereka.” (QS Asy-Syura, 42:34)

Innaddiina ‘indallaahil islaam dilanjutkan dengan wamakhtalafalladziina uutul kitaaba illaa min ba’di maa jaa-ahumul ‘ilmu baghyan baynahum.

Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka.

Dari segi bahasa, kalimat ini mengandung unsur ketakjuban. Karena kita pantas setidaknya dua kali dibuat takjub sama mereka.

Pertama, takjub atas keilmuan mereka yang tinggi. 

Kedua, takjub karena justru ilmu yang tinggi itulah yang memunculkan kedengkian sesama mereka. Membuat mereka justru jatuh ke jurang perselisihan.

Ustaz pernah bertemu beberapa rabi atau pendeta agama Yahudi. Mereka itu belajarnya luar biasa. 

Boleh dibilang, hari-hari mereka dihabiskan untuk membaca dan menulis. Dua puluh tahun tanpa henti, 8 hingga 10 jam sehari. Berkutat dengan ribuan buku.

Kita lanjutkan pembahasannya insyaa Allaahu ta’aalaa di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali-Imran / 08. ‘Ali ‘Imran – Ayah 19 (22)-22 Ramadan 2018 (04:17 – 07:28)


Materi VoB Hari ke-360 Sore | Sebuah Tanda dari Kelompok yang Makin Menjauh dari Islam

Oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek52Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Agama itu sebenarnya sederhana. Berserah diri kepada Allah. Memeluk Islam. Itulah pesan dari innaddiina ‘indallaahil islaam.

Ibarat sebuah pohon. Itulah gambaran besarnya. Batang pohon yang besar itu merefleksikan Islam: penyerahan diri kepada Allah.

Tapi kaum Yahudi itu diskusinya sudah sampai ke dahan, ranting, cabang-cabang pohon yang begitu rinci, begitu kecil dan rumit.

Mereka melupakan batang pohon besarnya. Mereka makin jauh dari Islam. Dan sesama mereka yang “berilmu tinggi” itu, akhirnya saling bertengkar sendiri.

Islam itu berarti menyerahkan kebanggaan kita. Menyerahkan preferensi kita. Menyerahkan apa-apa yang bisa membuat kita tergoda.

Kita serahkan semuanya kepada Allah. Kita menyerah total, seratus persen. Kita biarkan Allah yang memutuskannya untuk kita.

Begitulah Islam itu. Begitu sederhana.

Tapi kita kadang mengikuti jejak langkah kaum Yahudi historis kala itu. Kita mengembangkan studi Islam yang begitu rinci dan penuh spesialisasi. Sehingga agama berubah menjadi sosok yang bersifat akademis semata.

Jantung dari agamanya sendiri, yakni menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, hilang entah ke mana.

Inilah mengapa kita terperosok ke dalam kubangan ketidaksetujuan. Perangkap perselisihan yang tak berkesudahan.

Padahal Islam juga berarti damai (peace) dengan orang lain. Dari kata salaam (سلام) yang berarti perdamaian.

Islam itu berarti to be in harmony with someone. Mengupayakan diri sendiri untuk bisa selaras dengan orang lain.

Saling bertengkar, saling berselisih, justru saat ilmunya sudah tinggi, berarti kehilangan harmoni. 

Bagaimana mungkin kita bisa disebut sebagai orang yang menjunjung tinggi Islam ketika kita saling berselisih dan saling bertengkar?

Yang jatuh ke jurang perselisihan itu bukan orang-orang biasa. Bukan orang-orang awam. Tapi justru orang-orang yang ilmunya tinggi.

Sepertinya aneh. Makin mereka belajar agama, harusnya mereka makin mengenal Allah. Dan harusnya mereka makin bersatu padu.

Apalagi ini adalah agama Ibrahim ’alayhis salaam yang menaruh perhatian pada kemanusiaan. 

Harusnya orang-orang yang ilmunya tinggi itu makin dekat sama Allah, makin menaruh perhatian pada kemanusiaan, dan makin kompak.

Bagaimana caranya kita mengetahui bahwa sekelompok orang itu makin menjauh dari Islam? 

Yakni saat studi mereka akan Islam, atau studi mereka akan apa yang mereka pikir adalah Islam, makin memberi mereka alasan untuk berbeda dari umat Islam yang lain.

Mereka makin punya banyak alasan untuk memisahkan diri dari sesama muslim. Makin eksklusif. Dan tentunya, mereka menganggap bahwa kelompok merekalah yang paling benar.

Hal seperti itulah yang terjadi dengan Bani Israil. 

Apakah hal yang kira-kira sama dengan itu, terjadi juga dengan umat Islam saat ini?

Kita lanjutkan pembahasannya insyaa Allaahu ta’aalaa di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali-Imran / 08. ‘Ali ‘Imran – Ayah 19 (22)-22 Ramadan 2018 (07:28 – 10:33)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s