[VoB2021] Tinjauan Struktur Ayat 2 Hingga Ayat 5


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-359

Topik: Pearls from Al Baqarah

Selasa, 15 Juni 2021

Materi VoB Hari ke-359 Pagi | Tinjauan Struktur Ayat 2 Hingga Ayat 5

Oleh: Heru Wibowo

#TuesdayAlBaqarahWeek52Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kini studi Al-Qur’an dilakukan dengan makin teliti. Dari penelitian yang cermat ini ditemukan bahwa Al-Qur’an memiliki susunan yang luar biasa.

Tidak ada buku atau kitab yang lain, yang susunannya mampu menyamai Al-Qur’an. Apalagi saat kita sadar bahwa Al-Qur’an dulunya disampaikan secara lisan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Keindahan susunan yang memesona!

Bukan hanya muslim yang menemukannya. Bahkan mereka yang non muslim, yang melakukan studi Al-Qur’an, juga menemukannya.

Pada kenyataannya, studi tentang struktur dan komposisi Al-Qur’an telah menjadi studi yang diminati di beberapa universitas di Barat.

Mereka tidak melakukan studi tersebut dengan tujuan untuk menyerang Al-Qur’an. Penelitian tersebut justru mengantarkan mereka ke sebuah halte kesadaran: “Ini adalah sebuah mahakarya yang sungguh luar biasa!”

Bahkan ada peneliti yang, melalui studi seperti ini, di universitas di Barat, dirinya mengalami transformasi yang luar biasa dan mengucapkan syahadat. Menjadi muslim.

Contohnya adalah Raymond Farrin. Penulis buku Structure and Qur’anic Interpretation. Buku tentang susunan Al-Qur’an dan pandangan teoretis tentang susunan itu.

Raymond Farrin meneliti puisi-puisi Arab dan bagaimana puisi-puisi itu tersusun. Lalu dia berpikir mengapa tidak sekalian meneliti Al-Qur’an yang seperti puisi.

Maka dia mulai mempelajari Al-Qur’an dan strukturnya. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah surah yang membuat dia tertegun. Yang membuat dia terpana karena tidak mungkin manusia bisa membuat yang seperti itu.

Dia melanjutkan penelitian dengan surah-surah yang lain. Hasilnya: dia makin terpana. Sampai akhirnya dia akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat.

Saat ini Raymond Farrin menjadi profesor bahasa Arab di American University of Kuwait, seorang Amerika yang mengajar bahasa Arab di tanah Arab.

Ada mahasiswanya yang bertanya-tanya, “Ada apa dengan kita, orang Kuwait, mengapa kita belajar bahasa Arab dari orang Amerika?”

Raymond Farrin menyikapinya dengan santai, “Tidak ada masalah. Orang-orang Arab juga mengajar bahasa Inggris kok …”

Ayat-ayat pertama dari Al-Baqarah adalah tentang orang-orang yang beriman. Ada simetri di ayat-ayat itu.

Ada hudan di awalnya (dzaalikal kitaabu laa rayba fiihi hudan lil muttaqiin). Lalu ada hudan juga di akhirnya (ulaa-ika ‘alaa hudan min rabbihim).

Lalu di tengahnya ada yu’minuun. Di tengah awal, alladziina yu’minuuna bil ghayb. Di tengah akhir, walladziina yu’minuuna bimaa unzila ilayka.

Ada petunjuk (hudan) di awal dan di akhir. Lalu ada yu’minuuna di tengah awal dan akhir. Sebuah simetri yang sempurna.

Bagaimana dengan ayat berikutnya?

Bagaimana struktur dari Al-Baqarah ayat 6 hingga Al-Baqarah ayat 20?

Kita lanjutkan pembahasannya insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da zhuhur.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 07. Al-Baqarah (Ayah 17-20) – A Deeper Look (55:30 – 58:27)


Materi VoB Hari ke-359 Siang | Tinjauan Struktur Ayat 6 Hingga Ayat 20

Oleh: Heru Wibowo

#TuesdayAlBaqarahWeek52Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ayat 6 hingga ayat 20 adalah ayat tentang orang-orang yang tidak beriman. Lebih tepatnya adalah orang-orang yang ingkar dan orang-orang munafik. Keduanya digabung menjadi satu grup: orang-orang yang tidak beriman.

Orang yang ingkar adalah orang yang keingkarannya ditampakkan keluar. Sehingga orang-orang yang lain tahu kalau dia adalah orang yang ingkar.

Orang yang munafik adalah orang yang menyembunyikan keingkarannya. Orang-orang yang lain tidak tahu kalau sebenarnya dia adalah orang yang ingkar.

Selanjutnya Ustaz membaca masing-masing ayat dan terjemahannya. Mulai dari ayat 6 hingga ayat 20.

Pernahkah muncul pertanyaan pada diri kita saat kita membaca ayat 6, “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.”

Pernahkah terbersit pertanyaan pada diri kita, “Mengapa mereka, orang-orang kafir itu, begitu keras kepala?”

Jawabannya kita temukan setelah kita membaca ayat-ayat selanjutnya dan sampai di ayat 16, “Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.”

Mereka telah melakukan jual beli yang merugikan diri mereka sendiri: menjual petunjuk (al-hudaa) dan membeli kesesatan (adh-dhalaalah).

Menjual sesuatu artinya mereka tadinya memiliki sesuatu itu. Tapi petunjuk itu telah dijual. Telah dilepas pergi. Itulah mengapa diberi peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman.

Di ayat 16, selain ada jawaban, juga ada penegasan: wamaa kaanuu muhtadiin. Mereka tidak mendapat petunjuk.

Itu adalah hubungan yang luar biasa dari ayat 6 dan 16. 

Berikutnya, kita juga menemukan hubungan yang menarik dari ayat 7 dan 17.

Dzahaballaahu binuurihim ada di ayat 17. Allah melenyapkan cahaya yang menyinari mereka. 

Pertanyaannya: cahaya itu ada di mana? Cahaya ada di hati. Di ayat 7, Allah mengunci hati mereka (khatamallaahu ‘alaa quluubihim)

Ayat 17 menjelaskan secara lebih rinci proses terkuncinya hati atau lenyapnya cahaya itu disertai sebuah perumpamaan.

Lagi-lagi, bagian akhir ayat (yakni ayat 16 dan ayat 17) menjelaskan bagian awal ayatnya (ayat 6 dan ayat 7).

Yang dikunci Allah bukan cuma hati (quluubihim). Tapi juga pendengaran (sam’ihim). Di ayat 18, Allah menegaskan bahwa mereka tuli (shummun). Di ayat 19, lebih jelas lagi dilukiskan kondisi mereka yang menyumbat telinga dengan jari.

Lagi-lagi, bagian akhir ayat, kali ini adalah ayat 16, 17, 18, dan 19, menjelaskan bagian awal ayatnya.

Di ayat 7 akhir, dikatakan bahwa penglihatan mereka tertutup (wa ‘alaa abshaarihim ghisyaawah). Di ayat 20, dilukiskan lebih rinci betapa mereka berada dalam kegelapan dan kebutaan.

Lalu, di ayat-ayat awal Al-Baqarah ini juga ada bahasan tentang orang-orang yang munafik. Apakah ada struktur tertentu terkait hal ini?

Kita lanjutkan pembahasannya insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da ‘ashar.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 07. Al-Baqarah (Ayah 17-20) – A Deeper Look (58:27 – 1:03:48)


Materi VoB Hari ke-359 Sore | Tinjauan Struktur Ayat-Ayat tentang Orang Munafik

Oleh: Heru Wibowo

#TuesdayAlBaqarahWeek52Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ayat-ayat tentang orang-orang yang munafik di awal Al-Baqarah dimulai dengan ayat 8. Waminannaasi man yaquulu aamannaa billaahi wabil yawmil aakhiri wamaa hum bimu’miniin.

Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.

Mereka melakukan pencitraan. Pertama, kepada Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam. Dan kedua, kepada orang-orang yang beriman.

Wamaa hum bimu’miniin. Ayat ini menarik. Mereka bukanlah orang-orang yang beriman sama sekali. 

Dari mana kita tahu itu? Dari mana kita tahu bahwa mereka sebenarnya sama sekali bukan orang yang beriman?

Allah yang menjelaskannya. Allah membuat kita tahu, berselang 6 ayat setelahnya. Tepatnya di ayat 14.

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” 

Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.”

Pernahkah, saat kita membaca ayat wamaa hum bimu’miniin, kita bertanya (setidaknya pada diri sendiri), “Benarkah mereka itu tidak beriman?”

Lagi-lagi, pertanyaan yang (seharusnya) kita tanyakan di awal ayat itu (ayat 8), terjawab di beberapa ayat sesudahnya (ayat 14).

Jika saat kita membaca ayat-ayat awal Al-Baqarah tadi, kita “rajin” bertanya dalam hati seperti itu, selang beberapa ayat sesudahnya, kita akan mendapatkan sebuah pencurahan.

”Owwwh … begitu rupanya … menjadi jelas sekarang kenapa mereka begitu …”

Atau, “Menjadi jelas sekarang kenapa mereka dilukiskan seperti itu …”

Gaya bahasa Al-Qur’an juga luar biasa: “… mereka mencoba untuk menipu … tapi mereka tidak menipu siapa-siapa kecuali diri mereka sendiri …”

Lalu ada juga: “… kami hanya berolok-olok …” 

Tapi apa yang sesungguhnya terjadi?

Allah akan memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.

Di bagian awal, ada aksi tipu-tipu dan ejekan (deception and mockery). Tapi di bagian berikutnya, keduanya berbalik 180 derajat: merekalah yang ditipu dan diolok-olok.

Demikian juga saat kita membaca ayat 10. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta.

Kita bisa bertanya, “Mengapa Allah membiarkan penyakit, yang ada di dalam hati mereka itu, makin bertambah?”

Jawabannya ada di ayat 15. Wayamudduhum fii thughyaanihim ya’mahuun. Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.

Kata ya’mahuun artinya menjadi buta mata hati mereka. Hati mereka sakit. Hati mereka buta. Karena cahaya telah dihilangkan darinya.

Di bagian tengah, atau tepatnya di ayat 11 dan ayat 13, ada juga yang menarik. Kedua ayat itu dimulai dengan wa idzaa qiila lahum. “Dan ketika dikatakan kepada mereka …”

Apa yang dikatakan kepada mereka? Di ayat 11, laa tufsiduu fil ardh. Jangan berbuat kerusakan di bumi.

Di ayat 13, aaminuu kamaa aamanannaas. “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang yang lain telah beriman!”

Apakah ada hubungannya antara ayat 11 dan ayat 13? 

Ada!

Di ayat 11, Allah meminta mereka untuk berdiri di depan cermin. Untuk ngaca. “Lihatlah dirimu itu! Janganlah engkau berbuat kerusakan!”

Di ayat 13, Allah meminta mereka untuk mengarahkan kaca itu ke contoh yang baik. “Lihatlah orang-orang yang beriman itu! Berimanlah seperti mereka!”

Tapi sayangnya mereka merasa diri mereka suci. Innamaa nahnu mushlihuun. “Sesungguhnya kamilah justru orang-orang yang melakukan perbaikan.”

Tapi sayangnya mereka merasa diri mereka hebat. Anu’minu kamaa aamanassufahaa’? “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?”

Allah tidak suka dengan arogansi mereka itu dan mengatakan “alaa” dua kali. Di awal ayat 12 dan di awal paruh kedua ayat 13. 

“Dengarkan!”

“Perhatikan!”

“Awas!”

Mereka harus mendengarkan, harus memperhatikan, harus awas terhadap apa?

Innahum humul mufsiduun. Sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan. Ini di awal ayat 12.

Innahum humus sufahaa_. Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal. Ini adalah yang di awal paruh kedua dari ayat 13.

Walaakin laa yasy’uruun. Tetapi mereka tidak menyadari. Itu di akhir ayat 12. Sedangkan di akhir ayat 13, walaakin laa ya’lamuun. Tetapi mereka tidak tahu.

Benar-benar ada keseimbangan yang sempurna dari ayat-ayat tentang orang-orang yang munafik ini.

Bisakah kita bayangkan bahwa saat itu Rasulullah menyampaikan ayat-ayat tersebut secara lisan, dan tidak pernah menuliskannya.

Bisakah kita bayangkan kesempurnaan struktur ayat-ayat-Nya itu?

Ketika kita mempelajarinya, kita menjadi terpana. Bahasanya begitu indah. Begitu terstruktur. Begitu sempurna. Bahasa lisan tidak mungkin seperti ini.

Rasa takjub ini mengakhir pembahasan ayat 20. Kita lanjutkan pembahasannya insyaa Allaahu ta’aalaa minggu depan dengan ayat berikutnya, ayat 21, insyaallah.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 07. Al-Baqarah (Ayah 17-20) – A Deeper Look (1:03:48 – 1:07:43) [End]


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s