[VoB2021] Jangan Diambil Setengah-Setengah


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-357

Topik: Heavenly Order

Ahad, 13 Juni 2021

Materi VoB Hari ke-357 Pagi | Jangan Diambil Setengah-Setengah

Oleh: Wina Wellyanna

#SundayHeavenlyOrderWeek51Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kemudian, setelah kita bisa mengapresiasi Al-Qur’an, lanjutkan dengan bahasanya itu sendiri.

Kalimat tidak akan mungkin dimengerti oleh pendengar atau pembacanya kecuali ia, si pendengar atau pembaca, telah memahami bagaimana struktur kalimat dalam bahasa tersebut disusun.

Juga memahami bagaimana bagian yang satu terhubung dengan bagian yang lainnya.

Tidak mungkin kalimat disusun dengan meloncat dari tema sebelumnya, jika Ustaz Nouman mengucapkan 10 kalimat, yang pertama mengenai cuaca di Phoenix, kalimat selanjutnya beliau mengatakan harga saham di New York lalu mengenai hal lain yang tidak berhubungan, seolah kita sedang mendengarkan siaran radio yang sedang berganti-ganti salurannya.

Tidak akan ada yang mengerti apa yang sedang Ustaz Nouman sampaikan, karena kalimat-kalimat beliau tidak logis, malah takutnya disangkat miring 😅😅😅

Kalimat-kalimat harus diucapkan saling terhubung, atau akan dianggap tidak masuk akal, tidak efektif dan tidak bisa dipahami.

Seperti di rumah sakit jiwa, pasiennya berbicara ngalor-ngidul dan tidak bisa dipahami, ucapannya lompat dari satu ke yang lainnya.

Cerita lain lagi, ketika kita hanya mengambil satu bagian dari satu kalimat dan mengabaikan kalimat selanjutnya, misal kita mendengar ceramah ustaz di awal, tapi kita sibuk dengan hal lain dari pertengahan sampai akhir ceramah, apakah kita bisa menangkap inti dari ceramah ustaz? 

Bisa jadi tidak, karena perihal yang dibahas di menit awal ternyata hanya pembuka sementara punch line atau bagian paling menohok ada di akhir ceramah.

Itu situasi jika kita hanya mengambil sebagian dari keseluruhan, akan timbul kesalahpahaman dalam pikiran kita. 

Sama seperti jika kita hanya melihat sesuatu dengan partial view atau memandang secara parsial.

Imam Farahi berusaha menyampaikan ini saat kita membaca untaian kalimat Al-Qur’an.  

Kita hanya mengambil 3 ayat dari satu surat yang keseluruhannya berisi ratusan surat lalu membuat kesimpulan sendiri, “Terlepas dari keseluruhan ratusan ayat, tiga ayat ini…”

Pasti ada sesuatu yang hilang atau salah dari kesimpulan kita, karena Allah sendiri yang menempatkan tiga ayat ini adalah bagian dari ratusan ayat, dan jelas ada maksudnya.

Tapi jangan juga mengabaikan satu ayat karena Ustaz Nouman belajar Al-Qur’an, dengan metode beliau yang sangat terpengaruh dari Imam Farahi, Ustaz mengaku tidak pernah lagi mengatakan akan berhenti melakukan studi lebih mendalam pada satu ayat ini.

“Ustaz, bisakah ustaz melihat satu ayat yang ini?” 

“Ummm, tunggu dulu, ini butuh waktu”

“Kok butuh waktu, Ustaz?  ‘Kan hanya satu ayat saja”

“Karena, saya harus melihat keseluruhan suratnya, bukan cuma satu ayat saja”

Kemudian ustaz akan menelaah dalam surat tersebut ayat ini ditempatkan dimananya? 

Dan apa dampaknya bagi keseluruhan surat?

Dari sini baru ustaz akan mendalami ayat tersebut.

Insyaallah kita lanjutkan ke part 2

Sumber: Home / Quran / Courses / Divine Speech / Heavenly Order – Lesson 03_ Spiritual Arguments (08:13 – 11:00)


Materi VoB Hari ke-357 Siang | Yang Setengah: Menghilangkan Konteks

Oleh: Wina Wellyanna

#SundayHeavenlyOrderWeek51Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ustaz tidak akan bisa menyingkirkan faktor-faktor tadi dalam memahami meski hanya satu ayat saja.

Allah menempatkan ayat tersebut di dalam satu surat ini pasti memiliki makna mendalam.

Bayangkan dalam mendengarkan ceramah, atau mengambil quote atau kutipan dari satu artikel yang panjang kemudian kita membuat tulisan panjang hanya dengan satu kutipan tersebut.

Apa mungkin tulisan yang kita buat berdasarkan satu kutipan yang barangkali hanya satu kalimat pendek dari satu artikel yang berparagraf-paragraf bisa menyampaikan pesan yang tepat? 

Sangat mungkin pemahaman kita sendiri kurang pas karena hanya ‘mencomot’ satu kalimat dari 100 kalimat.     

Juga sangat mungkin orang lain yang membaca keseluruhan artikel tersebut akan menganggap tulisan kita di luar konteks dari penulis artikel.

Ustaz memberi contoh lebih simple, dalam obrolan sehari-hari kepada teman kita

“Awas ya, saya tabok nanti, hentikan!”

Setelah itu obrolan berganti topik, es krim yang lagi hits atau yang lain, tapi kemudian seseorang mengambil kalimat sepotong yang pertama.

“Awas ya, saya tabok nanti”

Beredar gosip kalau kita orangnya sangat pemarah.

Apa yang salah dari contoh obrolan di atas? 

Konteks.

Ketika kita mengambil kalimat di luar konteks, mengabaikan kalimat sebelum dan sesudahnya, akan ada yang salah dan hilang dalam pemahaman kita.

Meskipun satu kalimat yang diambil itu kita telaah kata per kata dan mencari artinya di dalam kamus besar bahasa indonesia, kita paham arti dari satu kalimat ini, tapi kita tidak paham dalam konteks seperti apa kalimat ini sesungguhnya diucapkan, karena ini hanya satu bagian dari keseluruhan.

Omong-omong, nama Al-Qur’an berasal dari dua.

Pertama, kita membaca Al-Qur’an dengan Qiro’at.

Kedua, Quran tanpa hamzah yang berasal dari Qarana

Qarana sendiri artinya yang mengalir.

Qur’an itu mengalir.

Salah satu arti Qur’an karena memang Al-Qur’an itu mengalir.

Dan dengan pengertian mengalir ini tidak mungkin mengambil satu kalimat saja, disebut mengalir karena kalimat satu disusul kalimat lain lalu kalimat lain lalu kalimat lain begitu seterusnya, baru disebut mengalir.

Imam Farahi memiliki murid-murid yang belajar Al-Qur’an dari beliau, beliau sangat menekankan kepada murid-muridnya untuk merenungkan Al-Qur’an, pahami struktur Al-Qur’an, lihat surat di dalam Al-Qur’an secara holistik, jujurlah dalam merefleksikan Al-Qur’an.

Dan murid-murid beliau dari beragam latar belakang, ada yang mengajar fikih, mengajar akidah, mengajar hadis, dan lainnya, kemudian ada yang mulai terganggu dengan ucapan Imam Farahi.

Mempertanyakan mengapa harus menghabiskan waktu merenungkan susunan ayat dalam satu surat, padahal murid ini ada yang harus mempelajari ushul fikih dimana ia juga harus mengajarkan kembali praktek-praktek fikih kepada masyarakat.

Imam Farahi dan murid-muridnya menuai kritik.

Insyaallah kita lanjutkan ke part 3

Sumber: Home / Quran / Courses / Divine Speech / Heavenly Order – Lesson 03_ Spiritual Arguments (11:00 – 13:30)


Materi VoB Hari ke-357 Sore | ”Hanya” Ekstra Kurikuler, Katanya

Oleh: Wina Wellyanna

#SundayHeavenlyOrderWeek51Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Si pengkritik membuat uraian mengenai kritikannya terhadap Imam Farahi dan murid-muridnya, beliau adalah teman dari Imam Farahi sendiri, perlu ditambahkan ia tidak mengambil keseluruhan dari karya Imam Farahi alias hanya mengutip sebagian.

“Hal yang paling merusak dari orang-orang yang terlalu mendalami koherensi, struktur dan susunan dalam Al-Qur’an dan cara memandang Al-Qur’an dengan holistik, seolah-olah kita begitu sulit dan sering sering salah memahami konteks surat dalam Al-Qur’an, padahal bukan hal yang fundamental dalam agama ini, hanya semacam kegiatan ekstra kurikulernya agama ini.

Lebih krusial bagi kita untuk mendalami masalah yang lebih penting, belajar akidah, belajar fikih, belajar halal-haram, mengapa harus menyibukkan diri mempertanyakan kenapa ayat ini diletakkan disini dan apa hubungannya dengan ayat disana?  Huuuu, tidak penting.”

Si pengkritik mengambil hadis Rasulullah ﷺ 

“Diantara keelokan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang bukan menjadi urusannya.” 

Pengkritik menambahkan, “Apa urusan kita mendalami Alif Lam Mim yang kemudian disambung dengan żālikal-kitābu lā raiba fīh, hudal lil-muttaqīn apa ruginya kalau kita tidak tahu?  Bukan masalah besar.”

“Mencari koherensi ayat yang ini, menelaah keindahan dan keelokan bahasanya, mencari momen “WOW” saking menakjubkannya, sebetulnya hanya aktivitas tambahan di luar yang penting kan?  Membuang waktu.

Dan siapapun yang mengatakan kalau mendalami koherensi ayat Al-Qur’an adalah salah satu ilmu fundamental dalam agama ini, lebih jauh lagi mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama berarti ia telah menghalangi orang lain untuk mencari ilmu wajib dalam Islam. 

Ia sedang mengubah agama ini!  Merusak sistem pendidikan!.”

Sistem pendidikan dalam Islam sudah terbentuk dengan beberapa kategori, ada pendidikan bahasa arab, pendidikan ushul fikih, pendidikan akidah, pendidikan tafsir, pendidikan hadis, menambah ekstra kurikuler mendalami koherensi Al-Qur’an hanyalah merusak sistem yang telah ada.

Kritikan ini masih berlanjut, Insyaa Allah disambung minggu depan.

Sumber: Home / Quran / Courses / Divine Speech / Heavenly Order – Lesson 03_ Spiritual Arguments (13:30 – 16:05)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s