[VoB2021] Self-Confidence: Sebuah Kualitas yang Penting buat Anak Remaja


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-356

Topik: Parenting

Sabtu, 12 Juni 2021

Materi VoB Hari ke-356 Pagi | Self-Confidence: Sebuah Kualitas yang Penting buat Anak Remaja

💎💎💎💎💎

Oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek51Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kita adalah orang tua dari para remaja. Atau, kita adalah orang tua dari anak-anak yang akan menjadi remaja. Atau, kita akan menjadi orang tua yang nantinya punya anak remaja insyaallah.

Ada realitas yang harus kita hadapi. Yang harus dihadapi oleh para orang tua yang memiliki anak-anak di usia remaja..

Dan ada beberapa kualitas kepribadian muslim yang seharusnya mereka miliki. Yang harus dimiliki oleh para remaja itu, di usia-usia awal mereka menuju usia dewasa.

Para remaja itu memasuki usia transformatif atau usia remaja, yakni usia sekitar 13 hingga 14 tahun.

Jika beberapa kualitas kepribadian muslim itu benar-benar mereka miliki, dengan kualitas-kualitas itu, hidup mereka akan sukses insyaallah.

Kualitas-kualitas itu akan memberi mereka arah ke kehidupan moral dan etika yang baik insyaallah. 

Dengan kualitas-kualitas itu, insyaallah mereka tidak hanya akan sukses secara materi maupun duniawi, tapi juga akan sukses sukses secara diinii (ديني). Secara keagamaan.

Apa saja kualitas-kualitas itu?

Yang pertama adalah rasa percaya diri (self-confidence). Artinya, secara sederhana, mereka baik-baik saja dan menerima apa adanya, siapa mereka (they are okay with who they are).

Mereka tidak merasa diri mereka rendah (inferior) karena kondisi fisik mereka, karena berat badan mereka, karena warna kulit mereka, karena gigi tiruan (denture) mereka, atau hal-hal serupa itu.

Mereka tidak merasa diri mereka rendah karena status ekonomi mereka. Bahwa mereka bukan berasal dari keluarga yang kaya raya, atau hal-hal serupa itu.

All of these things do not define, do not take away, their self worth.

Kondisi fisik mereka, status ekonomi mereka, tidak “mendefinisikan” mereka. Tidak membuat mereka merasa bahwa diri mereka tidak berharga.

Mereka menerima diri mereka apa adanya. Semua kondisi fisik mereka. Status ekonomi keluarga mereka. 

Rasa percaya diri ini adalah sebuah nilai yang penting untuk dimiliki oleh para remaja, anak-anak kita.

Sayangnya banyak anak-anak remaja yang tidak seperti itu. Statistik kurangnya rasa percaya diri anak-anak remaja sangat mencengangkan.

Statistik bicara bahwa anak-anak remaja itu sangat tertekan (deeply depressed). Mereka punya rasa percaya diri yang sangat rendah.

Dan masalah rasa percaya diri ini, secara khusus, menjadi sangat-sangat berbahaya untuk anak-anak remaja yang putri.

Karena, para remaja putri itu, di usia mereka yang rentan (vulnerable age), mereka berpikir bahwa diri mereka tidak cukup cantik, tidak cukup istimewa, dan hal-hal seperti itu.

“Tidak ada yang peduli sama aku!”

“Tidak ada yang suka sama aku!”

“Tidak ada yang sayang sama aku!”

Dan seterusnya.

Di usia yang rapuh itu, ketika ada seseorang, yakni seseorang yang tidak jelas siapa, seseorang yang sebenarnya tidak sangat tulus, memberikan pujian atas kecantikan sang remaja putri di medsos …

“Kamu itu sangat spesial …”

“Kamu itu hal yang terindah yang pernah aku saksikan …”

Atau pujian-pujian serupa itu.

Pujian “palsu” itu bisa terjadi di medsos atau di sekolah. Tanpa sadar, sang remaja putri sedang berada dalam keadaan bahaya. Dalam kondisi yang mudah untuk dimanipulasi (easy to manipulate).

Artinya, pintu penyelewengan menjadi terbuka. Seorang remaja putri yang tidak punya rasa percaya diri, sangat mudah untuk dimanipulasi.

Bagaimana dengan remaja putra? Apakah kondisinya juga separah kondisi remaja putri yang mudah dimanipulasi jika tidak punya rasa percaya diri?

Ada bahayanya juga. 

Remaja putra yang tidak punya rasa percaya diri akan diliputi rasa ragu akan kemampuan dirinya.

Mereka tidak pernah mengambil sikap atas hal apa pun (they never take a stand on anything).

Mereka merasa belum siap untuk menghadapi realitas apa pun yang ada di hadapannya. Atau hal-hal serupa itu.

Dan anak-anak remaja putra yang seperti itu akan tumbuh menjadi pemuda yang tidak mampu untuk memimpin sebuah rumah tangga. Apalagi memimpin sebuah komunitas. Apalagi melakukan “hal-hal besar” dalam kehidupan.

Jadi masalah rasa percaya diri ini adalah sebuah persoalan yang besar. Rasa percaya diri adalah sebuah kualitas penting yang harus dimiliki oleh setiap anak remaja kita.

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 23. Teenagers – Parenting (00:00 – 03:16)


Materi VoB Hari ke-356 Siang | Selflessness

💎💎💎💎💎

Oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek51Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kita masih membahas beberapa kualitas kepribadian muslim, yang dengan kualitas-kualitas itu, kehidupan anak-anak remaja kita akan sukses insyaallah.

Kualitas yang pertama baru saja kita bahas di part sebelumnya, yakni kualitas rasa percaya diri (self-confidence).

Kualitas yang kedua adalah tidak mementingkan diri sendiri (selflessness). Tidak mementingkan kemajuan diri sendiri. Tidak mementingkan hasrat diri. Punya perhatian terhadap kepentingan orang lain.

Lawan katanya adalah egoisme (selfishness). 

Saat-saat remaja adalah saat-saat di mana anak-anak di masa transisi itu bisa menjadi sangat-sangat mementingkan dirinya sendiri (self-absorbed).

Al-Qur’an menyebutnya dengan kata ziinah (زينة). 

Apa artinya?

Anak-anak remaja itu ingin terlihat oke. Anak-anak remaja itu ingin merasa oke. Anak-anak remaja itu ingin membuat orang lain terkesan dengan brand dari apa pun yang mereka pakai.

Anak-anak remaja itu giat berolahraga. Bukan supaya sehat sebenarnya, tapi supaya tubuhnya terlihat bagus.

Anak-anak remaja itu makin sering berdiri di depan kaca lemari. Juga, kaca-kaca yang lain, termasuk kaca spion.

Anak-anak remaja putri menjadi sangat memperhatikan mode dan pakaian (fashion and clothes). 

Orang tua mereka jadi repot karena remaja putrinya suka mengenakan blue jeans yang ketat saat pergi ke mal atau pusat perbelanjaan.

Itu bawahannya. Atasannya juga sama saja. Remaja putrinya lebih suka mengenakan baju lengan pendek. Atau baju lengan panjang, tapi digulung-gulung jadi lengan pendek.

Kalau orang tuanya mengingatkan, si anak remaja jadi sewot. Jadi jengkel. Dongkol. Marah. Cemberut.

”Apaan sih! Tuh liat … yang lain juga pake kok!”

“Begini haram … begitu haram … semuanya serba haram …”

“Ada ga sih … di dunia ini, yang tidak haram?”

Seperti itulah realitas yang harus dihadapi oleh para orang tua, yang memiliki anak-anak remaja. 

Kualitas yang kedua ini, selflessness, berarti bahwa anak remaja kita lebih mencemaskan keluarganya daripada dirinya sendiri. Kualitas yang baiknya, seperti ini.

Kebalikannya, berarti kualitas yang tidak baiknya, adalah selfishness, yakni keadaan di mana sang remaja lebih mencemaskan dirinya sendiri daripada keluarganya.

If you don’t build a genuine concern for your family, then .. you aren’t gonna be able to raise children that aren’t selfish.

Jika Anda tidak membangun kepedulian yang tulus terhadap keluarga, maka .. Anda tidak akan bisa membesarkan anak-anak yang tidak egois.

Contohnya seperti apa?

“Apakah mamaku sudah makan siang?” (sebelum si anak remaja makan siang)

“Apakah kakakku (atau, adikku) sudah minum?” (sebelum si anak remaja minum segelas air)

You take care of others before you take care of yourself. That selflessness … it goes into building or fighting combating selfishness in children.

Anda mengurus orang lain sebelum Anda mengurus diri sendiri. Ketidakegoisan itu … itu akan berperang melawan rasa mementingkan diri sendiri pada anak remaja kita.

Tapi perlu dicatat juga bahwa rasa mementingkan diri sendiri (selfishness) itu, pada tingkat tertentu, adalah bagian dari kehidupan manusia.

Sebagai manusia, entah sebagai anak, remaja, atau orang tua, kita pasti menginginkan hal-hal tertentu dalam kehidupan ini. Manusia, ya seperti itu.

Tapi di usia remaja, keinginan seperti itu bisa mencapai tingkat yang tidak wajar. Bisa menjadi tak terbendung dan di luar batas.

Anak-anak remaja itu menjadi sangat mementingkan dirinya sendiri. Dunia ini serasa menjadi miliknya sendiri. Anak-anak remaja itu menjadi alam semesta dari dirinya sendiri.

Semuanya seakan-akan harus berputar mengelilingi dirinya. 

Dirinya menjadi pusat dari alam semesta.

Dan segalanya menjadi “tidak cukup” untuk mereka. 

Mereka selalu mengeluh. 

Rasa mementingkan diri sendiri (selfishness) itu juga punya pengertian bahwa anak-anak remaja itu punya “budaya” di mana mereka tidak pernah puas.

Mereka tidak pernah happy dengan apa yang mereka punya. Mereka selalu menginginkan sesuatu yang lain lagi.

Butuh diskusi yang panjang tentang bagaimana caranya anak-anak itu bisa punya rasa terima kasih. 

Butuh diskusi yang panjang tentang bagaimana caranya supaya para orang tua bisa menanamkan nilai “tidak mementingkan diri sendiri” kepada anak remaja mereka.

Insyaa Allaah kita lanjutkan di part berikutnya.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 23. Teenagers – Parenting (03:16 – 06:06)


Materi VoB Hari ke-356 Sore | Respect

💎💎💎💎💎

Oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek51Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ada dua kualitas kepribadian muslim yang sudah kita bahas, yakni rasa percaya diri (self confidence) yang juga berarti “menerima diri sendiri apa adanya”, dan sikap tidak mementingkan diri sendiri (selflessness).

Jika kita adalah orang tua yang peduli terhadap kesuksesan anak-anak kita, maka seharusnya kita berjuang supaya kualitas-kualitas itu ada di anak-anak kita.

Kualitas yang ketiga adalah kualitas yang luar biasa, yakni sikap menghormati atau menghargai (respect).

Apa maksudnya?

Subhaanallaah, saat ini kita hidup di era di mana nothing is worthy of respect. Tidak ada yang layak dihormati.

Pemerintah bisa jadi bulan-bulanan rakyatnya. Disindir dan dicemooh. Dijadikan bahan tertawaan.

Presiden dijadikan bahan tertawaan.

Tokoh-tokoh agama dijadikan bahan tertawaan.

Buku-buku keagamaan dijadikan bahan tertawaan.

Tuhan dijadikan bahan tertawaan.

Orang tua dijadikan bahan tertawaan.

Anak-anak dijadikan bahan tertawaan.

Kelompok etnis dijadikan bahan tertawaan.

Everything is subject to ridicule.

Semuanya menjadi bahan cemoohan.

Seakan-akan tidak ada lagi yang benar-benar dihormati.

Tidak ada lagi yang tidak dijadikan bahan cemoohan.

Semuanya itu dilakukan secara bebas dengan mengatasnamakan free speech. Demi freedom of speech. Kebebasan berbicara.

Al-Qur’an dihina.

Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam dihina.

Yesus juga dihina.

Dijadikan bahan lelucon.

Dan itu semua bukan hal yang baru. 

Itu semua terjadi sepanjang waktu.

Di sebuah penerbangan dari Los Angeles ke Sacramento, sebuah penerbangan yang relatif singkat yakni sekitar satu setengah jam, ada beberapa anak remaja yang duduk beberapa baris di belakang Ustaz.

Ada seorang anak yang mengeluarkan sejumlah uang. Uang yang banyak, setidaknya menurut mereka.

Anak-anak itu kadang suka ingin melucu, meski mungkin mereka sebenarnya tidak punya selera humor sama sekali.

Dan mereka juga menyukai kegaduhan. Tidak perlu bicara terlalu keras, seharusnya, kepada yang duduk di sampingnya. Atau, di dekatnya. 

Tapi mereka seperti berteriak-teriak. Sampai-sampai suara mereka terdengar jelas oleh orang-orang yang duduk beberapa baris di depan mereka. 

Termasuk Ustaz. Ustaz bisa mendengar dengan jelas, bahkan sangat jelas, apa yang sedang mereka bicarakan.

Anak yang mengeluarkan uang banyak tadi, seperti ingin mendapat pengakuan bahwa dia adalah “seseorang”. Bahwa dia adalah “sesuatu”. Gara-gara uangnya yang banyak itu.

Lalu anak yang ada di sebelahnya, yang mungkin terbelalak melihat uang yang banyak itu, berteriak juga, “Wow! Kamu lebih kaya dari Tuhan!”

Sepertinya dia ngomong begitu dengan maksud untuk bercanda. Karena setelah itu anak-anak itu tertawa terbahak-bahak.

Percakapan seperti itu rasanya sudah menjadi percakapan yang “biasa” dari budaya percakapan anak-anak kita. Tidak ada lagi yang terbebas untuk dijadikan bahan lelucon.

Artinya, tidak ada sesuatu pun, sesuatu pun bahkan Tuhan sekalipun, yang pantas dihormati secara mutlak.

Itulah budaya masyarakat kita sekarang. Itulah budaya anak-anak kita saat ini. Itulah realitas yang harus kita hadapi.

Nothing deserves absolute respect. Tidak ada satu pun tidak ada sesuatu pun, yang pantas dihormati secara mutlak.

Realitas ini, “tidak ada lagi respect atau rasa hormat”, adalah bertentangan dengan nilai-nilai keislaman.

Padahal orang tua itu wajib dihormati secara mutlak meskipun mereka itu musyrik. Meskipun mereka menyembah selain Allah.

Orang-orang yang lebih tua wajib dihormati secara mutlak.

Allah dan Rasul-Nya wajib dihormati secara mutlak.

Ada hal-hal yang tidak boleh kita jadikan bahan lelucon.

Ada hal-hal yang tidak boleh kita langgar batas-batas kehormatannya.

Kita dibesarkan, atau seharusnya dibesarkan, dengan nilai-nilai seperti itu.

Tapi, apa yang terjadi sekarang?

Saat ini, anak-anak kita melihat sebuah dikotomi.

Di satu sisi, ada budaya masyarakat yang tidak lagi mengenal rasa hormat.

Di sisi yang lain, ada kita, orang tua mereka, sedang berjuang untuk mengajarkan dan menanamkan rasa hormat sebagai sebuah nilai yang penting untuk mereka miliki.

Bagaimana cara orang tua menanamkan rasa hormat kepada anak-anaknya?

Dengan mengatakan, “Kalian harus punya rasa hormat.”

Atau, “Kalian harus punya rasa hormat!!!”

Tidak.

Caranya bukan seperti itu.

Cara seperti itu tidak akan berhasil.

Anak-anak itu tidak “terprogram” untuk mengikuti cara-cara seperti itu.

Mereka sudah “terprogram” dengan cara yang berbeda, karena dunia telah berubah.

Kita, sebagai orang tua, harus membangun, harus menanamkan rasa hormat (respect) pada diri anak-anak kita, di atas fondasi intelektual.

Mereka akan menghormati sesuatu, atau seseorang, yang mereka “pahami”.

Ada satu pertanyaan, yakni pertanyaan pertama yang perlu diajukan dalam rangka pendidikan generasi muslim, kepada anak-anak remaja.

Jika pertanyaan pertama ini dijawab secara tepat, dan jawaban atas pertanyaan ini dipahami secara jelas, pendidikan muslim untuk anak-anak muda dan remaja menjadi sangat mudah.

Jika pertanyaan pertama ini tidak bisa dijawab, maka tidak banyak yang bisa diharapkan lagi. Bahkan mungkin tidak ada lagi yang bisa diharapkan.

Apa pertanyaan itu?

Insyaa Allaah kita lanjutkan minggu depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 23. Teenagers – Parenting (06:06 – 09:00)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s