[VoB2021] Kaku Urusan Fikih Tapi Toleran terhadap Ketidakadilan


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-346

Topik: Pearls from Ali ‘Imran

Rabu, 2 Juni 2021 

Materi VoB Hari ke-346 Pagi | Kaku Urusan Fikih Tapi Toleran terhadap Ketidakadilan

Ditulis oleh: Heru Wibowo

#WednesdayAliImranWeek50Part1

Part 1

بسم الله الرحمن الرحيم

Rasa keadilan yang kuat membuat orang-orang tertarik kepada Islam. Membuat orang-orang ingin tahu lebih jauh tentang Islam.

Rasa keadilan ini mengingatkan kita pada ayat wassamaa-a rafa’ahaa wawadha’al miizaan, allaa tath-ghaw fil miizaan. (QS Ar-Rahman, 55:7-8)

Langit itu Allah tegakkan. Allah tinggikan. Dan Allah letakkan keseimbangan di langit itu. Sehingga kita tidak melanggar keseimbangan.

Ketika kita menjaga keseimbangan, kita melakukannya dengan rasa keadilan.

Wazinuu bil qisthaasil mustaqiim. Dzaalika khayrun wa ahsanu ta’wiilaa (QS Al-Isra’, 17:35)

Keadilan begitu penting dan menjadi jantung dari agama ini sehingga kita seharusnya tunduk dengan ayat-ayat ini dan merefleksikannya dalam kehidupan kita.

Apa yang terjadi dengan Bani Israil? Komitmen mereka terhadap hukum-hukum Islam menjadi sangat kaku. 

“Yang ini apa hukumnya?”

“Yang itu apa hukumnya?”

Mereka berbuat seperti itu terkait semua hal. Hukum berpakaian, hukum makan, hukum sembahyang …

Sangat kaku.

Sangat-sangat kaku.

Dan meski mereka super kaku dalam urusan itu, anehnya, mereka membiarkan ketidakadilan terbesar terjadi. Pada saat yang sama!

Di satu sisi, mereka menjadi super konservatif untuk urusan peribadatan, tapi di sisi lain mereka sepenuhnya liberal ketika terjadi ketidakadilan dalam keluarga mereka sendiri.

Berbohong, menipu, mencuri, tidak mengeluarkan uang yang seharusnya dikeluarkan, tidak memberikan gaji atau upah secara adil, memperlakukan seseorang atau kelompok tertentu secara tidak ramah, menyembunyikan kesaksian …

Semua yang disebutkan di atas, yang daftarnya masih bisa lebih panjang, buat mereka tidak masalah.

Kita mungkin berpikir bahwa masalah yang seperti itu adalah masalah kaum Yahudi zaman old yang tidak terjadi lagi di zaman now.

Bahkan kita mungkin berpikir bahwa masalah seperti itu hanyalah masalah non muslim saja.

Kita mungkin tidak pernah berpikir bahwa ada muslim yang tampak luarnya religius. Hampir selalu pakai busana muslim.

Tangannya biasa terlihat memegang tasbih. Tidak pernah mau makan daging yang haram atau yang tidak jelas tata cara penyembelihannya.

Bahkan tidak mau makan makanan atau es krim dari resto atau kafe yang lokasinya di sebelah peternakan babi. Karena takut ada rembesan osmosis entah lewat mana.

Untuk urusan seperti itu, kaku. Tapi di sisi yang lain, ternyata si muslim ini belum juga memberikan mahar kepada istrinya.

Si muslim ini ternyata menandatangani persetujuan untuk memberikan investasi di sebuah perusahaan yang memproduksi minuman keras.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Bagaimana seseorang bisa begitu cemas tentang halal tidaknya ayam goreng yang ia makan, tapi pada saat yang sama mengizinkan dirinya untuk mendapatkan penghasilan dari sumber yang haram?

Kita lanjutkan pembahasannya insyaa Allaahu ta’aalaa di part berikutnya.

***

Sumber: Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali-Imran / 07. Ali ‘Imran Ayah 19 (12) Ramadan 2018 (34:39 – 37:04)


Materi VoB Hari ke-346 Siang | Human Being: Justice-meter Inside

Ditulis oleh: Heru Wibowo 

#WednesdayAliImranWeek50Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dikotomi seperti itu memang ada. Dikotomi dalam diri. Di satu sisi, kaku urusan fikih. Di sisi yang lain, sangat toleran terhadap keadilan.

Dikotomi seperti itu melanggar ajaran Islam. Karena Islam, seperti yang sudah kita pelajari di beberapa part sebelumnya, mengajarkan prinsip-prinsip keadilan. 

Keadilan kepada diri kita sendiri. Keadilan kepada orang-orang di sekeliling kita. Keadilan kepada Allah.

Karena Allah menyatakan qaa-iman bil qisthi. (QS Ali ‘Imran, 3:18) Menegakkan keadilan itu, sangat-sangat penting.

Innaddiina ‘indallaahil islaam. (QS Ali ‘Imran, 3:19) Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam. Pernyataan ini adalah pernyataan yang sangat dalam. Mengapa?

Karena Allah adalah pencipta semua manusia. Allah adalah pencipta semua bangsa. Allah adalah pencipta semua suku bangsa.

Allah adalah pencipta semua masyarakat. Allah adalah pencipta semua bahasa. Allah adalah pencipta semua penduduk bumi.

Kita tidak tahu nabi yang mana, atau nabi apa, yang Allah utus untuk penduduk aborigin, suku bangsa asli Australia itu.

Kita tidak tahu siapa yang Allah utus di kedalaman sebuah desa di Afrika. Kita tidak tahu.

Kita tidak tahu siapa yang Allah utus di beberapa pulau kecil di sekeliling Malaysia. Kita tidak tahu.

Mungkin Allah mengutus seseorang ribuan tahun yang lalu ke tempat-tempat yang terpencil seperti itu, kita tidak tahu. 

Ada nabi-nabi yang Allah utus, tapi Allah tidak menceritakan semuanya. Allah tidak menyebutkan mereka semuanya di Al-Qur’an.

Tapi Allah memberitahu kita satu hal: di mana pun manusia berada, Allah tidak membiarkan mereka hidup tanpa petunjuk. Itu yang pertama.

Yang kedua: di mana pun petunjuk itu diberikan, petunjuk itu selalu sama. Yakni, tidak lain dan tidak bukan adalah Islam.

Mungkin namanya bukan Islam. Mungkin tidak dikenal dengan nama “Islam”. Tapi poinnya adalah ketundukan, berserah diri kepada Allah. 

Selalu ada kerinduan di relung hati manusia akan kebenaran dan keadilan. Ada suara-suara hati yang suci yang kadang berseru: “Yang ini pasti tidak benar.”

Allah put an automatic justice-meter inside us that is connected to Him, so we would be inclined towards Islam on our own

Allah menempatkan sebuah alat pengukur keadilan yang bekerja secara otomatis, di dalam diri kita, yang terhubung dengan-Nya, sehingga kita akan cenderung bergerak ke arah Islam sendiri.

Manusia pada dasarnya terprogram untuk menemukan Islam dengan sendirinya. Di mana pun manusia itu berada di sudut-sudut bumi ini.

Innaddiina ‘indallaahil islaam adalah sebuah pernyataan yang mendalam yang universal karena Allah menginginkan Islam untuk manusia.

Islam adalah true religion. Islam adalah agama yang benar. Pernyataan ini pasti benar, karena terdapat di Al-Qur’an. Kitab yang tidak ada keraguan sama sekali di dalamnya.

Kita lanjutkan pembahasannya insyaa Allaahu ta’aalaa di part berikutnya.

***

Sumber: Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali-Imran / 07. Ali ‘Imran Ayah 19 (12) Ramadan 2018 (37:04 – 39:04)


Materi VoB Hari ke-346 Sore | Iman, Islam, dan Keadilan

Ditulis oleh: Heru Wibowo

***

بسم الله الرحمن الرحيم

#WednesdayAliImranWeek50Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Islam adalah agama yang paling layak untuk kita berserah diri.

Yang juga indah dari ayat innaddiina ‘indallaahil islaam adalah adanya kata Islam yang menjadi nama dari agama itu sendiri.

Sebenarnya ada dua nama dari agama ini. Yakni “Iman” dan “Islam”. Itulah mengapa mereka yang memeluk agama ini bisa disebut “muslim”, bisa juga disebut “mukmin”.

Itulah juga mengapa di bagian akhir surah Ali ‘Imran kita menjumpai yunaadii lil iimaan (QS Ali ‘Imran, 3:193).

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam, di ayat 193 itu menyeru kepada “Iman”. Kata yang digunakan di sini adalah “Iman”, bukan “Islam”.

Karena kedua kata itu bersifat interchangeable. Dapat dipertukarkan. Iman (faith) dan Islam (submission).

Mengapa pemahaman atas dua kata ini penting untuk diketahui? Karena Iman menerangi penyerahan diri yang ada di dalam hati sedangkan Islam adalah apa yang bisa dilihat di tampak luarnya.

Keadilan (justice) itu eksekusinya ada di luar diri. Dan karena innaddiina ‘indallaahil islaam konteksnya adalah keadilan, maka kata “Islam” adalah kata yang tepat untuk digunakan di ayat ini.

Ada sesuatu yang terjadi di dalam diri ini, yaitu iman. 

What goes on inside leads to what happens outside. Apa yang terjadi di dalam diri mengarah ke apa yang terjadi di luar diri.

Iman di dalam diri ini menghasilkan Islam yang tampak di luar diri ini.

A container gives what it contains. Sebuah wadah akan memberikan atau mengalirkan apa yang terkandung di dalam wadah itu. Iman di dalam diri mengeluar dengan sendirinya ke luar diri dan menampakkan keislamannya.

Perumpamaannya adalah seperti lampu. Saat lampu menyala, cahayanya keluar dari dalam dirinya dan menerangi sekitarnya.

Al-Kisa’i, seorang ahli tata bahasa, membaca ayat ini dengan annaddiina ‘indallaahil islaam. Menarik, karena dia membacanya bukan inna tapi anna.

Mengapa seperti itu?

Karena melanjutkan ayat sebelumnya. Di ayat 18 ada syahidallaahu annahu laa ilaaha illaa huwa. Maka ayat 19 ini menjadi syahidallaahu annaddiina ‘indallaahil islaam

Artinya, Allah sendiri subhaanahu wa ta’aalaa yang mendeklarasikan bahwa agama yang tepat di sisi-Nya adalah Islam. Sebagaimana Allah juga mendeklarasikan pentingnya penegakan keadilan.

Hal ini semakin menguatkan bahwa keadilan dan Islam tidak bisa dipisahkan. Sama halnya dengan iman dan Islam yang sudah kita bahas tadi.

Kita lanjutkan pembahasannya insyaa Allaahu ta’aalaa minggu depan.

***

Sumber: Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali-Imran / 07. Ali ‘Imran Ayah 19 (12) Ramadan 2018 (39:04 – 41:08)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

One thought on “[VoB2021] Kaku Urusan Fikih Tapi Toleran terhadap Ketidakadilan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s