[VoB2021] Menyumbatkan Jari, Bukan Ujung Jari


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-345

Topik: Pearls from Al Baqarah

Selasa, 1 Juni 2021

Materi VoB Hari ke-345 Pagi | Menyumbatkan Jari, Bukan Ujung Jari

Oleh: Heru Wibowo

#TuesdayAlBaqarahWeek50Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Hujan yang amat deras. Airnya meluncur turun dari langit, memukul bumi, memekakkan telinga. Menjadikan manusia serasa tuli.

Pada saat yang sama, petir dan guntur saling menyambar. 

Yaj’aluuna ashaabi’ahum fii aadzaanihim. They stick their fingers into their ears. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jari mereka. 

Dalam bahasa Arab, the finger tips atau ujung jari disebut anaamil (انامل). Jadi kalau kita menyumbat telinga dengan ujung jari, seharusnya bahasa Arabnya adalah yaj’aluuna *anaamilahum* fii aadzaanihim.

Allah tidak mengatakan seperti itu. Mereka tidak menyumbat telinga mereka dengan ujung jari, tapi dengan seluruh jari mereka.

Apa itu artinya?

Mereka begitu tercekam, larut dalam perasaan ngeri dan ketakutan oleh ledakan minashshawaa’iq. Ledakan dari suara petir itu.

Shawaa’iq adalah the lightning hits the ground. Petir yang menyambar-nyambar hingga menyentuh tanah. Boom! Menimbulkan suara dentuman dan ledakan yang keras.

Tapi tidak cuma sekali. It keeps on happening. Terus terjadi. Boom! Lagi dan lagi. Tidak tahu kapan akan berhenti.

Mereka begitu ketakutan. Maka mereka menyumbatkan seluruh jarinya. Bukan ujung jarinya, tapi seluruh jarinya.

Mereka tidak menyumbatkan ujung jari atau bahkan setengah jari karena mereka masih bisa mendengar suara dentuman yang mengerikan itu.

Maka kata yang digunakan adalah ashaabi’ahum. Seluruh jari-jari mereka.

Hadzaral maut. Mereka takut mati. Mereka menyumbatkan seluruh jari itu sebagai tindakan pencegahan biar tidak mati.

 Sekarang, mari kita lihat situasinya dengan lebih cermat.

Ketika Anda menyaksikan orang-orang seperti mereka. Yang dibombardir dengan petir dan guntur yang saling menyambar sampai ke tanah seperti itu. Apakah menyumbatkan jari-jari ke telinga adalah solusinya?

Tentu saja tidak. Yang benar aja. Menyumbatkan jari, bahkan seluruh jari sekalipun ke telinga, tidak akan menyelesaikan masalah.

Apa itu artinya?

Tingkat ketakutan mereka sudah tidak basic atau intermediate, tapi sudah advanced. Bahkan sangat advanced. Mereka banjir ketakutan. 

Mereka sangat kewalahan. Mereka benar-benar putus asa. Tidak sanggup lagi menghadapi situasi itu. Mereka super bingung.

Sensor-sensor yang ada di dalam diri mereka overload. Kelebihan beban. Terlalu berat menghadapi suara yang sangat memekakkan telinga.

Mereka mengalami partial insanity. Kegilaan sebagian, bukan total. Karena masih sempat memaksakan jari-jari untuk menyumbat telinga mereka.

Lalu Allah menutup ayat ini dengan wallaahu muhiithun bil kaafiriin. Allah has these disbelievers completely surrounded. Orang-orang kafir itu terkepung sudah.

Orang-orang kafir itu selalu berpikir bahwa mereka bisa menjauh dan melepaskan diri. Faktanya tidak begitu.

Sebelum kita masuk ke ayat berikutnya, ayat 20, perlu kita ingat lagi bahwa ada dua gambaran yang sudah kita pelajari dari ayat-ayat sebelumnya.

Gambaran yang pertama adalah suasana malam hari, di padang pasir yang luas membentang, begitu gelap dan hitam, cahaya pun hilang.

Gambaran yang kedua masih tentang suasana padang pasir, dengan air hujan yang sangat-sangat lebat, petir dan guntur bersahut-sahutan saling menyambar.

Kita lanjutkan pembahasannya insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da zhuhur.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 07. Al-Baqarah (Ayah 17-20) – A Deeper Look (47:13 – 49:20)


Materi VoB Hari ke-345 Siang | Gambaran Pertama dan Kedua: Kemiripan Situasinya

Oleh: Heru Wibowo

#TuesdayAlBaqarahWeek50Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Yakaadul barqu yakhthafu abshaarahum. (QS Al-Baqarah, 2:20)

Lightning, when it strikes, it almost blinds them. It almost snatches their eyesight. Petir, saat menyambar, hampir membutakan mereka. Hampir merenggut penglihatan mereka.

Dengan kata lain, mereka tidak bisa melihat apa-apa di kegelapan. 

Tapi tiba-tiba ada cahaya petir. Seperti kilatan lampu kamera sesaat. Dalam sekejap mereka bisa melihat semuanya.

Kilatan kamera sesaat seperti itu juga ada di Texas. Saat pengemudi menerobos lampu merah.

Ustaz bercanda bahwa kilatan cahaya kamera sesaat di jalan raya di Texas itu adalah seperti malaikat maut

Mengapa? 

Karena kilatan cahaya itu merekam nomor polisi. Konsekuensinya adalah sebuah tiket beberapa hari kemudian.

Tertera di tiket itu: denda pelanggaran lalu lintas senilai 75 dolar. Atau senilai lebih dari satu juta rupiah.

Kembali ke Al-Baqarah.

Saat mereka melihat kilatan cahaya sekejap itu, tiba-tiba mereka sadar. Ternyata mereka berada di tepi jurang. Maka harus putar balik. Mengambil arah yang sebaliknya.

Mereka berada di tempat yang membahayakan. Mereka tidak sadar ke arah mana mereka melangkah selama ini.

Karena cahaya tadi hanya sesaat, lalu gelap lagi, langkah mereka terhenti. Mereka menunggu kilatan cahaya sesaat lagi, supaya mereka bisa melangkah lagi.

Yakaadul barqu yakhthafu abshaarahum. Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka.

Kullamaa adhaa-a lahum. Setiap kali kilat itu menyinari.

Adhaa-a itu mengandung panas. Artinya, isinya bukan hanya cahaya, tapi sesuatu yang siap meledak. Cahayanya menyinari, tapi panasnya juga terasa.

Masyaw fiihi. Mereka berjalan di bawah cahaya itu. Setiap kali kilat itu menyinari, mereka berjalan di bawah cahaya itu. Mereka bisa melangkah.

Jika Anda berada di situasi seperti itu, dengan hujan yang sangat deras, petir dan guntur bersahut-sahutan, tidak ada tempat berteduh di sekeliling, Anda akan berjalan atau berlari?

Tentunya Anda akan berlari. 

Seperti yang Anda lakukan saat Anda berjalan kaki di taman dan meninggalkan mobil Anda di parkiran. Jika tiba-tiba turun hujan, Anda pasti akan berlari ke arah mobil Anda. 

Masalahnya adalah, mereka berada di tempat yang sangat berbahaya. They can’t afford to run. Mereka tidak mampu untuk berlari. Mereka bisa terjatuh jika memaksakan diri untuk berlari.

Wa idzaa azhlama ‘alayhim qaamuu. Dan ketika gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Berdiri tegak di sana.

Mari kita lihat lagi gambaran yang Allah lukiskan di ayat sebelumnya.

Di gambaran sebelumnya, mereka menjauh dari cahaya. Apa yang Allah lakukan terhadap mereka? Allah menjadikan mereka tuli, bisu, dan buta.

Secara praktis mereka itu buta. Berada dalam situasi hujan yang sangat-sangat deras, mereka toh tidak bisa melihat juga.

Secara praktis mereka juga buta. Berada di situasi yang ekstrem seperti itu, mereka mau bicara sama siapa? Tidak akan ada yang mendengarkan mereka.

Secara praktis mereka juga tuli. Siapa pun yang mencoba berbicara dengan mereka, mau teriak-teriak sekuat apa pun, mereka tidak akan bisa mendengarkan suara itu.

Tapi mereka masih bisa melihat sedikit. Sedikit saja. Ketika ada cahaya kilat sesaat tadi. Jadi gambaran yang kedua sebenarnya sedikit lebih baik.

Di gambaran yang pertama, malam yang gelap, hitam dan kelam, mereka tidak bisa melihat sama sekali.

Di gambaran yang kedua, suasana yang sangat-sangat ekstrem, seburuk apa pun suasananya, mereka masih bisa melihat sedikit.

Maka Allah melanjutkan, walaw syaa-allaah, ladzahaba bisam’ihim wa abshaarihim. Sekiranya Allah menghendaki, pasti Allah hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka.

Maksudnya apa?

Allah bisa membuat situasinya berubah dari gambaran yang kedua, kembali menjadi gambaran yang pertama. Menjadi tidak bisa melihat sama sekali.

Allah menutup ayat ini dengan innallaaha ‘alaa kulli syay-in qadiir. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Apa artinya?

Allah bisa saja menjadikan mereka sama sekali buta. Sama sekali bisu. Sama sekali tuli. Seperti gambaran yang pertama.

Sebenarnya, gambaran yang kedua itu tentang apa sih? Apa yang ingin coba dilukiskan oleh gambaran yang kedua ini?

Kita lanjutkan pembahasannya insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da ‘ashar.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 07. Al-Baqarah (Ayah 17-20) – A Deeper Look (49:20 – 52:40)


Materi VoB Hari ke-345 Sore | Penjelasan tentang Gambaran Kedua

Oleh: Heru Wibowo

#TuesdayAlBaqarahWeek50Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Gambaran kedua itu insyaallah bisa kita pahami lebih baik bila kita mau mempelajari kembali ayat-ayat sebelumnya.

Kelompok pertama yang sudah pernah kita bahas adalah stubborn disbelievers. Orang-orang kafir yang keras kepala.

Innalladziina kafaruu sawaa-un ‘alayhim a-andzartahum am lam tundzirhum laa yu’minuun. (QS Al-Baqarah, 2:6)

Orang-orang kafir yang keras kepala ini, mereka ini shummun, bukmun, ‘umyun. Mereka tuli, bisu, dan buta. 

Mereka dilukiskan di gambaran yang pertama.

Siapa saja mereka?

Mereka adalah kaum kafir Quraisy yang keras kepala, dan para pemimpin kaum Yahudi yang tahu tentang kerasulan Muhammad tapi mereka ingkar.

Mereka terlukis di gambaran yang pertama.

Gambaran yang kedua melukiskan orang-orang yang sedikit bergerak ke arah kebaikan. Tapi mereka ketakutan. 

Apa yang mereka takutkan? Mereka takut akan lightning strike and thunder. Sambaran petir dan guntur yang saling bersahutan.

Kok bisa seperti itu ya?

Bisa.

Al-Qur’an, setelah berabad-abad lamanya wahyu diubah dan diselewengkan, untuk pertama kalinya, mereka mendengar dari Al-Qur’an tentang Hari Keadilan, tentang neraka, tentang perhitungan amal baik dan buruk.

Mereka merasakan ayat-ayat Al-Qur’an itu seakan-akan seperti mereka digempur petir dan guntur habis-habisan.

Dan Al-Qur’an tidak bicara lunak saat mengkritisi orang-orang yang punya keyakinan yang sangat menyimpang seperti itu.

Mengapa petir dan guntur menjadi gambaran yang sempurna sebagai perumpamaan atas peringatan Allah kepada mereka itu?

Wasawaa-un ‘alayhim a-andzartahum. Bukan a-da’awtahum. Peringatan, bukan dakwah. Ayat-ayat yang pernah kita pelajari sebelumnya itu semuanya adalah tentang peringatan.

Maka peringatan itu adalah seperti petir dan guntur yang menyambar mereka. Karena mereka telah menghilangkan ayat-ayat tentang Hari Keadilan dan neraka dari Taurat.

Jika kita bertemu dengan kaum Yahudi, kita bisa melakukan check and recheck terhadap fakta tersebut.

Kita bisa menanyai mereka, “Apakah Anda percaya kepada Hari Keadilan?” Mereka akan menjawab, tidak percaya. Atau, tidak yakin.

Gambaran yang kedua juga melukiskan tentang orang-orang munafik. Bagaimana penjelasannya?

Kita lanjutkan pembahasannya insyaa Allaahu ta’aalaa minggu depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 07. Al-Baqarah (Ayah 17-20) – A Deeper Look (52:40 – 54:44)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s