[VoB2021] Paralelisme dalam Surat Abasa: Makanan dan Diri Kita


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-336

Topik: Heavenly Order

Ahad, 23 Mei 2021

Materi VoB Hari ke-336 Pagi | Paralelisme dalam Surat Abasa: Makanan dan Diri Kita

Oleh: Nurfitri Anbarsanti

#SundayHeavenlyOrderWeek48Part1

Part 1

———————————

بسم الله الرحمن الرحيم

Pembahasan minggu kemarin adalah tentang penjelasan mengapa ada pembahasan tentang makanan di surat Abasa, yang nampak sekilas tidak berhubungan dengan ayat lainnya. Ternyata hikmahnya adalah bahwa penciptaan diri kita ternyata tidak jauh berbeda dengan penciptaan makanan kita. Keduanya berasal dari air atau cairan.

Jika kita mampu untuk merenung dan memikirkan tentang bagaimana diri kita diciptakan, maka mari kita coba pikirkan secara paralel tentang bagaimana penciptaan diri kita dan bagaimana penciptaan makanan kita – yang ternyata juga diciptakan dari tetesan-tetesan air (hujan). 

Lalu, di surat Abasa ayat 19, ada frasa:

خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ

“Dia menciptakannya lalu menentukannya.”

Allah menciptakan manusia, lalu menentukannya melalui beberapa tahap dalam kehidupannya. Bagian ini hampir serupa dengan ayat 27 di surat Abasa, yaitu:

فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ

“lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian,”

Allah menumbuhkan tanam-tanaman. Setiap tanaman tumbuh melalui beberapa tahap dalam kehidupan, begitu juga diri kita. Layaknya diri kita yang dimulai dari dalam perut ibu kita, tanam-tanaman dan biji-bijian pun dimulai dari dalam perut bumi. Ternyata, bumi juga “melahirkan”, kan?

Lalu, di surat Abasa ayat 20:

ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ

“Kemudian jalannya Dia mudahkan,”

Layaknya Allah membukakan pintu lahir dari seorang Ibu, lalu bayi atau beberapa bayi keluar; maka bagaimana dengan bumi? 

ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّاۙ

“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya” (QS Abasa 80:26)

Bumi terbelah dan Allah keluarkan tumbuh-tumbuhan. 

Terhubung kan? Lalu bagaimana dengan ayat-ayat berikut ini:

ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ

“kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya” (QS Abasa 80:21)

Allah berfirman bahwa Allah-lah yang mematikan kita dan mengembalikan kita kembali ke tanah (alam kubur). Bagaimana dengan makanan? Jika makanan-makanan telah selesai dimakan, maka apa yang tersisa? Misal, jika jeruk atau semangka telah selesai di makan, maka apa yang tersisa? Biji-bijian kan. Apa yang akan terjadi pada biji-bijian setelah itu?

(Sebagian) biji-bijian itu akan Allah kembalikan ke dalam tanah, dikubur. Lalu jika Allah berkehendak, apa yang akan terjadi pada biji-bijian tersebut?

ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ

“kemudian jika Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (QS Abasa 80:22)

Apapun yang Allah katakan tentang betapa tidak bersyukurnya manusia, maka Allah membuat kasus-kasus yang hampir serupa pada makanan. 

Mungkin pada awalnya, kita tidak terpikir tentang makanan saat ada yang berbicara tentang Hari Kebangkitan. Tapi sekarang, kita jadi terpikir tentang itu. 

Ayat-ayat di surat Abasa ini adalah contoh bahwa Allah sedang dan akan terus menerus mengajarkan kita apa yang tidak kita ketahui. Allah sedang mengajarkan kita untuk merenungi sesuatu yang kita tidak mampu melakukannya sendiri. Tidak akan terpikir oleh kita hal-hal tersebut jika tidak Allah beritahukan di dalam Al-Qur’an. 

Jadi, jika ada orang yang mengatakan bahwa surat Abasa akan lebih baik tanpa ayat-ayat yang berbicara tentang makanan; maka kita dapat mengatakan bahwa “Tidak, justru, ayat-ayat tentang makanan itulah yang benar-benar menstimulasi kita secara spiritual, sebelum bahasan tentang Hari Pengadilan dan kehidupan akhirat.” 

————————-

Bersambung insya Allah di Part 2

Sumber: Bayyinah TV – Home – Quran – Courses – Heavenly Order – Lesson 02_ Textual Arguments (40:32-42:33)


Materi VoB Hari ke-336 Siang | Ketiadaan Koherensi dalam Surat Ath-Thalaq

Oleh: Nurfitri Anbarsanti

#SundayHeavenlyOrderWeek48Part2

Part 2

———————————

بسم الله الرحمن الرحيم

Kasus selanjutnya yang akan kita kaji adalah tentang surat Ath-Thalaq, surat ke 65, surat tentang perceraian. Surat yang sebenarnya hanya terdiri dari 12 ayat, tapi karena masing-masing ayatnya panjang, suratnya menjadi panjang. 

Terjemahnya cukup jelas. Mari kita simak.

Di 7 ayat pertama surat Ath-Thalaq, seluruh pembahasan adalah tentang perceraian. Memang jelas juga bahwa suratnya juga berjudul “perceraian”. 

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَطَلِّقُوْهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَاَحْصُوا الْعِدَّةَۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ رَبَّكُمْۚ لَا تُخْرِجُوْهُنَّ مِنْۢ بُيُوْتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍۗ وَتِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهٗ ۗ لَا تَدْرِيْ لَعَلَّ اللّٰهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذٰلِكَ اَمْرًا

”Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu idah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan) keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas. Itulah hukum-hukum Allah, dan barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh, dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru.”

فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمْسِكُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ فَارِقُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ وَّاَشْهِدُوْا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنْكُمْ وَاَقِيْمُوا الشَّهَادَةَ لِلّٰهِ ۗذٰلِكُمْ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ەۗ وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ

“Maka apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka rujuklah (kembali kepada) mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah pengajaran itu diberikan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya,”

(QS Ath-Thalaq 65:1-2)

Allah juga berfirman mengenai wanita yang sudah menopause, yang sudah tidak mendapatkan siklus haid. Karena masa iddah ditentukan oleh siklus haid, maka surat Ath-Thalaq ini juga membahas mengenai bagaimana menyikapi wanita yang sudah tidak memiliki siklus haid, baik karena menopause atau karena hamil. 

Bagi wanita hamil yang diceraikan, surat ini juga membahas bagaimana menghitung masa iddah bagi wanita hamil, lalu apakah sang suami harus menafkahi anak yang telah lahir, lalu sampai berapa lamakah sang suami harus menafkahi anak dari istri yang telah diceraikan, dan juga ada nasihat mengenai jangan sampai kita menempatkan seseorang dalam situasi yang mempersulitnya. 

Bahasan-bahasan mengenai perceraian ini dibahas sampai ayat ke 7 surat Ath-Thalaq ini.

Lalu tiba-tiba, Allah berfirman begini di ayat 8-nya: 

وَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ اَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهٖ فَحَاسَبْنٰهَا حِسَابًا شَدِيْدًاۙ وَّعَذَّبْنٰهَا عَذَابًا نُّكْرًا

_“Dan betapa banyak (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan rasul-rasul-Nya, maka Kami buat perhitungan terhadap penduduk negeri itu dengan perhitungan yang ketat, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan (di akhirat),”_ 

————————-

Bersambung insya Allah di Part 3

Sumber: Bayyinah TV – Home – Quran – Courses – Heavenly Order – Lesson 02_ Textual Arguments (42:33-45:37)

〰️〰️〰️〰️〰️〰️〰️


Materi VoB Hari ke-336 Sore | Allah Mengajarkan Hubungan Paling Fundamental di Surat Ath-Thalaq

Oleh: Nurfitri Anbarsanti

#SundayHeavenlyOrderWeek48Part3

Part 3

———————————

بسم الله الرحمن الرحيم

Mari kita lanjutkan terjemahnya, yaitu Ath-Thalaq ayat ke-9 sampai 12:

فَذَاقَتْ وَبَالَ اَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ اَمْرِهَا خُسْرًا

“sehingga mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan akibat perbuatan mereka, itu adalah kerugian yang besar.”

اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا ۖفَاتَّقُوا اللّٰهَ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِۛ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۛ قَدْ اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكُمْ ذِكْرًاۙ

“Allah menyediakan azab yang keras bagi mereka, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal! (Yaitu) orang-orang yang beriman. Sungguh, Allah telah menurunkan peringatan kepadamu,”

رَّسُوْلًا يَّتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ مُبَيِّنٰتٍ لِّيُخْرِجَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُّدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ قَدْ اَحْسَنَ اللّٰهُ لَهٗ رِزْقًا

”(dengan mengutus) seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Allah kepadamu yang menerangkan (bermacam-macam hukum), agar Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya.”

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

”Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”

➰➰➰➰➰➰➰

Dari ayat 8, surat Ath-Thalaq membahas tentang negeri yang dihancurkan oleh Allah, maka kita harus menyikapi pesan-pesan setiap rasul dan utusan Allah dengan sangat serius. Lalu tiba-tiba ada ayat yang membahas tentang penciptaan tujuh langit. 

Bahasan-bahasan ini nampak benar-benar off-topic dari topik perceraian. Apa hubungannya kehancuran sebuah negeri dengan perceraian? Sekilas nampak benar-benar dua hal yang tidak ada hubungannya. 

Atau…. Ada hubungannya? 

Hubungan antara kedua topik inilah yang jadi isu kita kali ini. 

Hubungan yang paling rahasia dengan Allah ﷻ sebenarnya adalah hubungan yang paling fundamental dan mendasar. Allah juga membangun hubungan kemanusiaan dengan dasar bagaimana hubungan di dalam pernikahan, seperti pernikahan Adam a.s. dan Hawa. 

Ini adalah hubungan pertama dan dasar dari semua hubungan lainnya yang membentuk bagaimana manusia membangun masyarakat dan peradaban.

Allah ﷻ pada dasarnya sedang mengajari kita tentang hubungan ini di surat Ath-Thalaq.

————————-

Bersambung insya Allah di minggu depan.

Sumber: Bayyinah TV – Home – Quran – Courses – Heavenly Order – Lesson 02_ Textual Arguments (45:37-48:04)

➰➰➰➰➰➰➰


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s