[VoB2021] Keadilan Allah


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-332

Topik: Pearls from Al Baqarah

Rabu, 19 Mei 2021

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Materi VoB Hari ke-332 Pagi | Keadilan Allah

Oleh: Muchamad Musyafa’

#WednesdayAliImranWeek48Part1

Part  1

⚖️⚖️

Kita masih akan berbicara tentang keadilan. Di surat Ali-Imran ayat 18 disebutkan bahwa hanya Allah ﷻ lah yang bisa menegakkan keadilan yang benar-benar adil.

Pekan lalu sudah disampaikan bahwa keadilan manusia sangat relatif, ada kecenderungan untuk berpihak kepada satu sisi. Akan sulit bagi manusia untuk bisa memberikan keadilan yang benar-benar seimbang. Keseimbangan di dua belah pihak.

⚖️⚖️

Seperti antara keinginan antara pemerintah dan rakyatnya. Kita tahu bahwa pemerintah membuat segala aturan bagi rakyatnya. Banyak aturan-aturan yang harus kita patuhi, mau tidak mau. Pemerintah tentunya ingin menetapkan pajak yang tinggi, mereka ingin kekuasaan yang lebih luas pada rakyatnya. Dengan begitu program-program yang ingin dijalankan oleh pemerintah bisa mudah direalisasikan.

Sedangkan dari sisi rakyat, mereka tentunya ingin hidup tanpa membayar pajak. Hidup tanpa aturan birokrasi yang rumit. Mereka ingin mendapatkan fasilitas kesehatan, pendidikan secara gratis dengan kualitas yang baik. Semua orang pasti menginginkan hal ini.

⚖️⚖️

Adanya dua keinginan yang berseberangan ini, tentunya berpotensi menjadi gesekan sewaktu-waktu. Dengan adanya aturan yang ada saat ini saja, pasti rakyat memiliki keinginan lebih dari apa yang dia dapatkan dari pemerintahnya. Begitu juga dari sisi pemerintah, pasti mereka menginginkan rakyatnya menjadi rakyat-rakyat yang penurut, tidak banyak melakukan demo dan mendukung apa pun keputusan dari pemerintah.

Kondisi ketidakseimbangan antara keinginan dua belah pihak ini terjadi di mana saja, semua negara mengalaminya. Dari level organisasi negara, provinsi, wilayah, sampai daerah. Bahkan hal ini bisa terjadi pada lingkungan masjid.

⚖️⚖️

Di masjid. Bisa jadi ada perbedaan keinginan pengurus masjid dan jamaah masjid.

Atau di lingkungan sekolah, antara komite sekolah dan orang tua murid.

Di mana saja, akan selalu ada dua ekspektasi yang berbeda antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya.

⚖️⚖️⚖️⚖️⚖️

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 07. Ali ‘Imran Ayah 19 (12) Ramadan 2018.(20.19-21.28.) 

⚖️⚖️⚖️⚖️⚖️


Materi VoB Hari ke-332 Siang | Dua Sisi Manusia

Oleh: Muchamad Musyafa’

#WednesdayAliImranWeek48Part2

Part  2

Allah menciptakan manusia dalam dua dimensi yang berbeda.

Allah menciptakan kita sebagai makhluk fisik dan spiritual.

Jika kita kembali di awal surat Ali-Imran, kita mendapati Allah ﷻ berfirman,

Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim menurut yang Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Ali-Imran 3:5-6)

Di dua ayat di atas, pertama-tama Allah ﷻ berfirman tentang bumi dan langit. Apa-apa yang ada padanya, Allah ﷻ mengetahuinya. Lalu kemudian beralih tentang penciptaan manusia di dalam rahim.

Perlu kita sadari bahwa memang diri kita – manusia – memang diciptakan dari apa yang ada di langit dan di bumi. Tubuh fisik kita berasal dari bumi, sedangkan ruh kita berasal dari langit.

Tubuh fisik kita memiliki kebutuhan jasmani, memiliki kebutuhan emosional, memiliki kebutuhan sosial. Sedangkan ruh kita yang mewakili sisi spiritual kita, memiliki kebutuhan spiritual juga. Ruh kita memiliki kebutuhan untuk terhubung erat dengan penciptanya.

Sering kali apa yang diinginkan otak kita, bertentangan dengan keinginan ruh kita. Sering kali yang apa yang diinginkan hawa nafsu kita, bertentangan dengan keimanan dalam hati kita. 

Ketika kita terlalu bersenang-senang dengan nikmat duniawi, kita melupakan kebutuhan jiwa kita. Jiwa kita kosong, ia haus.

Pertentangan antara kebutuhan duniawi dan spiritual bisa saja terasa begitu kuat, begitu mengusik. Seakan-akan kita merasa dalam diri kita terobek-robek karena dua keinginan yang saling tarik-menarik ini.

Haruskah kita mengikuti keinginan nafsu duniawi, ataukah kita harus mengikuti keinginan spiritual kita? Mana yang harus kita ikuti?

______

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 07. Ali ‘Imran Ayah 19 (12) Ramadan 2018.(21.29-22.55.) 


Materi VoB Hari ke-332 Sore | Kependetaan

Oleh: Muchamad Musyafa’

#WednesdayAliImranWeek48Part3

Part  3

🔥💧

Allah ﷻ menganugerahkan hawa nafsu pada manusia.

Allah memberikannya tanpa maksud membuat kita tercekik dalam memenuhi kebutuhan nafsu-nafsunya.

Allah ﷻ tidak memberi kita hawa nafsu tanpa memberikan kita kemampuan untuk memenuhi kebutuhan itu.

🔥💧

Islam tidak beranggapan bahwa semua nafsu itu buruk. Islam tidak mengelompokkan semua hasrat adalah kejahatan. 

Tidak seperti apa yang kita lihat pada praktik agama Kristen, di mana para pendetanya benar-benar menjauhi nafsu dan hasrat alami dari manusia.

Mereka mengada-adakan rabbaniyyah  (kependetaan), padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka (yang Kami wajibkan hanyalah) mencari keridaan Allah, tetapi tidak mereka pelihara dengan semestinya. (Al-Hadid 57:27)

Mereka beranggapan bahwa mereka tidak mungkin bisa menjaga hati mereka tanpa mereka padamkan nafsu mereka. Mereka merasa mengikuti hasrat manusia pasti akan menyalahi keimanan mereka.

🔥💧

Namun sebenarnya Allah ﷻ tahu bahwa manusia tidak akan mungkin bisa begitu. Allah tahu sifat alami dari manusia karena Dia sendirilah penciptanya. Jika manusia berusaha memaksakan diri keluar dari kodrat alaminya sebagai manusia, tentunya ia akan rusak. 

Bisa saja para pendeta yang keinginan nafsunya telah dimatikan itu, akan merasa kehampaan dalam dirinya. Mungkin ia akan menjadi pendeta yang cuek, tidak peduli dengan urusan kegerejaan lagi. Bagaimana mungkin ia bisa memperhatikan jamaah gereja lainnya ketika dirinya sendiri merasa kesepian.

Atau bisa saja keinginan hawa nafsu itu malah memberontak keluar, dan disalurkan secara sembunyi-sembunyi di jalur yang tidak semestinya. Di jalur yang diharamkan. Padahal sejak awal Allah ﷻ telah menyediakan jalan-jalan yang dihalalkan untuk menyalurkan nafsu manusianya.

🔥💧

Penjabaran di atas adalah contoh kondisi bagaimana ketika manusia melupakan kebutuhan hawa nafsunya.

Di sisi seberangnya ada juga manusia yang justru melupakan kebutuhan spiritualnya, dan manusia jenis ini jumlahnya lebih banyak lagi.

🔥💧

Lalu bagaimana cara kita sebagai seorang muslim untuk menyeimbangkan kedua kebutuhan ini?

Yang tahu bagaimana cara menyeimbangkan kedua kebutuhan ini adalah Dia yang menciptakannya.

Dialah yang tahu detail kedua kebutuhan ini, karena Dialah yang menciptakannya dan menaruhnya ke dalam diri masing-masing manusia.

Jika kita menjalankan peran kita sebagai seorang muslim dengan baik dan benar, mana secara otomatis kita akan bisa memenuhi kedua kebutuhan itu. 

Aturan-aturan dalam Islam sangat memperhatikan kedua kebutuhan ini.

InsyaAllah berlanjut pekan depan

💧🔥💧🔥💧

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 07. Ali ‘Imran Ayah 19 (12) Ramadan 2018.(22.55-24.00) 

💧🔥💧🔥💧


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

Voice of Bayyinah

The Miracle Team 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s