[VoB2021] Sense of Accountability


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-330

Topik: Pearls from Juz ‘Amma

Senin, 17 Mei 2021

Materi VoB Hari ke-330 Pagi | Sense of Accountability

Oleh: Heru Wibowo

#MondayJuzAmmaWeek48Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Mendengar ada manusia-manusia yang thawaf di neraka di antara mata air yang mendidih, karena mencari sekadar seteguk atau setetes air minum, mungkin akan ada yang bertanya, ”Why is Allah so drastic?”

Mengapa Allah begitu “ganas”?

Subhaanallaah. Subhaanallaah. Subhaanallaah.

Sebagai orang beriman yang sudah belajar bagaimana nama Allah seharusnya disucikan, kita langsung tenggelam dalam tasbih.

Hati kita tidak bisa menerima nama Allah disebut dengan panggilan yang mereduksi ketinggian dan kesucian-Nya.

Tapi pertanyaan seperti itu pernah terlontar. Pertanyaan seperti itu masih akan terjadi. Terutama dari yang baru belajar agama. Atau malah belum belajar agama.

Mungkin malah masih ada “bumbu” yang lain. Misalnya dengan membanding-bandingkan, “Beda ya, dengan ajaran Kristen yang penuh kasih. Begitu indahnya.”

Suka atau tidak suka, badai akan datang. 

Suka atau tidak suka, realitasnya tidak akan berubah.

Manusia itu suka lucu dalam beragama.

Tidak semuanya tapi, ya. Tidak semuanya.

Tapi di antara manusia itu ada yang begini lo, “Aku tuh nggak nyaman dengan itu, makanya aku nggak ngikut agama itu.

Religion is not an outfit you just tried.

Agama bukanlah pakaian yang baru saja Anda coba.

Agama juga bukan video game.

Agama bukan film.

Agama bukan sebuah produk yang dibuat untuk melayani manusia.

Agama juga bukan sebuah aktivitas berbelanja. 56mm13ss

Agama adalah kebenaran.

Dan kebenaran bisa menyakitkan.

Suka atau tidak suka.

Mungkin masih banyak di antara kita yang berpikir bahwa agama adalah sesuatu yang melayani kita.

“Aku tidak melayani Allah. Allah yang melayaniku. Mengapa aku harus salat?”

Subhaanallaah. Subhaanallaah. Subhaanallaah.

“Mengapa aku harus berangkat haji?”

Subhaanallaah. Subhaanallaah. Subhaanallaah.

“Mengapa aku harus melapar-laparkan diri berpuasa?”

Subhaanallaah. Subhaanallaah. Subhaanallaah.

“Aku tu sudah berdoa siang malam tapi kenapa aku masih gagal ujian?”

Subhaanallaah. Subhaanallaah. Subhaanallaah.

Begitulah.

Manusia menginginkan supaya agama melayani dirinya. 

Mempertanyakan apa yang bisa Islam lakukan untuknya.

Jika kita masih tergolong manusia yang seperti itu, semoga saja tidak, maka kita harus memahami yang ini: Allah tidak bicara kepada kita dalam posisi sedang melayani kita.

Kita adalah ’abd.

Kita adalah hamba-Nya.

Tidak pada tempatnya seorang hamba datang kepada Tuannya, kepada Tuhannya, kepada Rabb-nya, dan bertanya, “Apa yang Engkau lakukan untukku hari ini?”

Subhaanallaah. Subhaanallaah. Subhaanallaah.

Apa pun yang kita lakukan, Dia tahu.

Dia Maha Mengetahui.

Pertanyaannya adalah: apa yang saya lakukan dan apa yang Anda lakukan?

Pertanyaan yang lebih besarnya adalah ketika Allah melukiskan tentang deskripsi yang mengerikan ini: “Siapa yang layak dilayani? Bagaimana bisa seseorang punya sikap ingin dilayani seperti ini?”

Di ayat 26 Allah menggunakan kata jazaa-an. Artinya adalah earned income. Penghasilan atau pendapatan yang diperoleh. 

Dengan menggunakan kata jazaa-an, Allah sebenarnya menegaskan bahwa air mendidih dan nanah itu adalah earned. Sesuatu yang didapatkan sebagai hasil dari amal perbuatan.

Apa artinya?

Deserved. Layak untuk didapatkan. Pantas untuk dijadikan ganjaran. Setimpal dengan apa yang pernah diperbuat.

Tapi Allah tidak berhenti di jazaa’. Allah masih melanjutkan. Jazaa-an wifaaqan. Masih di ayat ke-26 dari Surah An-Naba’.

Wifaaq adalah mashdar dari waafaq yang artinya agreeable, appropriate, right. Malah absolutely right. Benar-benar tepat. Benar-benar setimpal.

Jadi wifaaqan berarti bahwa “ini adalah kompensasi atau balasan yang dibayarkan secara pantas, secara tepat, sangat sesuai”.

Jika Anda pernah berpikir tentang bayaran yang pantas, yang sangat adil, maka inilah dia. Jazaa-an wifaaqan adalah bayaran yang sangat pantas.

Bukan jazaa-an muwafiqan. Tapi jazaa-an wifaaqan. Yang digunakan adalah bentuk mashdar

Definisi yang sesungguhnya, definisi yang sebenar-benarnya tentang appropriateness, tentang kepantasan, kepatutan, atau kelayakan, adalah wifaaqan.

Mengapa?

Kejahatannya apa sih?

Innahum kaanuu laa yarjuuna hisaabaa (QS An-Naba’, 78:27). Sesungguhnya dahulu mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan.

Ini adalah bagian pertama dari kejahatannya. Tidak punya sense of audit. Tidak punya sense of accountability. Merasa tidak akan pernah dihisab. Sekaligus berarti: tidak punya rasa tanggung jawab.

Insya Allah kita lanjutkan ba’da zhuhur.

💎💎💎💎💎

Sumber: Home / Quran / Deeper Look / 78. An-Naba / 02. An-Naba (Ayah 14-37) – A Concise Commentary (56:49 – 58:55)


Materi VoB Hari ke-330 Siang | YOLO Lifestyle

Oleh: Heru Wibowo

#MondayJuzAmmaWeek48Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Mereka hidup secara tidak bertanggung jawab. Mereka tidak peduli soal neraka. Mereka tidak peduli soal Hari Keadilan. 

Tapi bukan itu saja.

Mereka tidak peduli dengan ibunda mereka saat meminta mereka menahan amarah.

Mereka tidak peduli dengan saudara mereka yang terbaring di rumah sakit.

Mereka tidak peduli dengan ayah mereka yang melarang pergi ke pesta yang ga jelas.

Mereka suka mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan kepada orang tua mereka. Bahkan cenderung kasar.

Ketika disuruh mengerjakan sesuatu. Atau dilarang berbuat sesuatu. Mereka tega menjawab, “Aku bukan milikmu.”

Mungkin benar. Anak itu hanya titipan. Bukan milik orang tuanya. Tapi kata-kata seperti itu tadi tidak sopan. Sangat kasar.

Laa yarjuun.

No sense of accountability.

Tidak ada rasa tanggung jawab.

Tidak bertanggung jawab dan tidak peduli sama sekali.

Itu adalah kejahatan pertama. Yakni, stop caring. Berhenti untuk peduli. Berhenti untuk mengindahkan hal-hal yang perlu diperhatikan.

Mereka punya YOLO lifestyle. Gaya hidup you only live once. Gaya hidup yang hanya mengejar kenikmatan dunia sepuas-puasnya. Karena hidup hanya sekali. Menurut mereka.

Artinya, mereka tidak peduli dengan kehidupan sesudah mati. Karena mereka percaya bahwa hidup itu hanya sekali.

Sekali lagi, kaanuu laa yarjuuna hisaabaa.

Mereka tidak pernah berharap akan datang Hari Keadilan.

Kalau ada yang mencoba menasihati mereka secara halus dan lembut, mereka merespons dengan, “Iya, aku sudah tahu itu. Sudahlah, rileks. Jangan khawatirkan hal itu.”

Tapi ada kejahatan yang sesungguhnya. Wakadzdzabuu bi-aayaatinaa kidzdzaabaa (QS An-Naba’, 78:28). “Dan mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami.”

Ayat-ayat Allah tidak pernah mereka “anggap”. Mungkin pernah, tapi mereka menganggap ayat-ayat Allah itu sebagai sebuah kebohongan.

Mereka tidak cuma menyangkal. Mereka menyebut ayat-ayat yang suci itu sebuah kebohongan. Mereka mengejek dan mentertawakan.

Padahal selain ayat-ayat Allah itu, ada tanda-tanda dalam kehidupan mereka sendiri. Yang seharusnya membuat mereka humble, membuat mereka merendahkan diri di hadapan Allah.

Mungkin ada kecelakaan tepat di depan mereka. Dan mereka selamat dari kecelakaan itu karena tepat satu atau dua menit sebelumnya, mereka berpindah lajur. 

Mereka selamat! 

Orang beriman tidak akan berpikir seperti itu. Orang beriman akan memuji-Nya dan bersyukur, “Alhamdulillah, Allah menyelamatkanku.”

Insya Allah kita lanjutkan ba’da ‘ashar.

💎💎💎💎💎

Sumber: Home / Quran / Deeper Look / 78. An-Naba / 02. An-Naba (Ayah 14-37) – A Concise Commentary (58:55 – 1:01:33)


Materi VoB Hari ke-330 Sore | The Book of Revelation & the Book of Deeds

Oleh: Heru Wibowo

#MondayJuzAmmaWeek48Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Orang itu selamat dari kecelakaan. Lantas dia berpikir, “Untung aku tadi berpindah lajur! Ada yang pernah bilang sih kalo aku itu hebat soal nyetir.”

Hmmm.

Dia masih belum sadar posisi. Dia pikir, siapa yang mengilhamkan kepadanya untuk berpindah lajur tepat satu detik sebelum tabrakan terjadi??!!

Dia mendapatkan “tanda” itu dari Allah. Bahwa dia berhasil menghindari kecelakaan, itu pun atas seizin Allah.

Fakta-fakta yang sudah jelas seperti itu, yang bahkan menolong dirinya dan menyelamatkan nyawanya itu, dia menyebutnya sebuah “kebohongan” juga.

Sudah begitu dia bukannya puter balik pulang ke rumah, tapi malah lanjut ke pesta yang tidak jelas, menghambur-hamburkan, waktu, energi, dan uang.

Itu adalah contoh kadzdzabuu bi-aayaatinaa. 

Tidak hanya menyangkal ayat-ayat-Nya. Tapi juga mengejek, mencemooh, mengolok-olok, mentertawakan.

Wakulla syay-in ahshaynaahu kitaabaa (QS An-Naba’, 78:29). Dan segala kejahatan, segala sesuatu, telah Kami catat dalam suatu Kitab (buku catatan amalan manusia). Ada arsipnya semuanya di sisi Allah.

Ustaz mengingatkan bahwa ketika kita belajar surah makkiyyah, ada dua jenis kitab: kitab wahyu (the book of revelation) dan kitab amal perbuatan (the book of deeds).

Penting untuk disadari: bagaimana cara kita merespons Al-Qur’an atau kitab wahyu, akan menentukan “nilai” kita di kitab amal perbuatan.

Silakan saja seseorang menyangkal Kitab-Nya, maka perbuatannya itu akan tercatat rapi di kitab amal perbuatan dirinya.

Apa saja yang Allah catat sih sebenarnya?

Sanaktubu maa qaaluu (QS Ali ‘Imran, 3:181). 

We will write down what they say.

Di sisi Allah tercatat apa saja yang manusia katakan.

Kadang kita pernah bilang sesuatu dan ayah kita, atau ibu kita, atau kakak kita, atau adik kita, atau suami kita, atau istri kita, masih ingat kata-kata itu sampai kapan pun. Karena kata-kata itu sangat menyakitkan buat mereka. Membekas begitu dalam.

Kata-kata itu pun tidak luput dari catatan yang ada di sisi-Nya. Bahkan tidak cuma itu. Kata-kata yang sudah dilupakan orang pun, masih ada. Tercatat dan tersimpan rapi di sisi-Nya.

Setiap kata yang penuh bunga-bunga, setiap kebohongan, setiap kata yang menekan orang lain, setiap kata yang kasar, semuanya tertulis. Semuanya ada catatannya.

Allah juga punya catatan tentang bagaimana kita melihat atau memandang seseorang. 

Tsumma nazhar. Tsumma ‘abasa wabasar. Tsumma adbara wastakbar. (QS Al-Muddatstsir, 74:21-23).

“Kemudian dia (merenung) memikirkan, lalu berwajah masam dan cemberut, kemudian berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri.

Semuanya itu tercatat di sisi-Nya.

Insya Allah kita lanjutkan minggu depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Home / Quran / Deeper Look / 78. An-Naba / 02. An-Naba (Ayah 14-37) – A Concise Commentary (1:01:33 – 1:03:35)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

2 thoughts on “[VoB2021] Sense of Accountability

Leave a Reply to [VoB2021] Sense of Accountability – determinendah Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s