Palestina di Hati Kita – Bagian 2: Apakah Negara Israel adalah Bani Israil?


Palestina, di Hati Kita – Bagian 2: Bagaimana Negara Israel Terbentuk?

Di bagian awal podcast ‘Palestina, di hati Kita’, sekilas kita mendapatkan gambaran, mengapa situasi kembali memanas di wilayah Al-Aqsa saat malam 25 Ramadan 1442 H lalu. Pihak aparat Israel tiba-tiba membubarkan warga yang sedang berkumpul untuk menyambut Lailatul Qadar di area Al-Aqsa.

Penembakan dan pembubaran bahkan terjadi saat warga Palestina sedang khusyuk menjalankan ibadah sholat tarawih berjamaah. Ketegangan memang semakin memuncak di Palestina. Ketegangan dipicu oleh kebijakan pemerintah Israel yang melalui pengadilannya melegalkan pengusiran paksa sebagian warga Palestina di daerah Sheikh Jarrah dan mengizinkan para pemukim liar Israel (Israeli’s settler) untuk mengambil alih rumah warga Palestina.

Padahal, notabene Sheikh Jarrah berada di wilayah Tepi Barat, wilayah yang sesuai resolusi PBB adalah sah di bawah penguasaan Palestina. Di wilayah ini, seharusnya tidak berlaku hukum Israel. Apa pun argumennya, tetap saja pengadilan Israel tidak diperbolehkan membuat keputusan atas nama hukum Israel terhadap wilayah yang bukan di bawah penguasaannya.

Pengusiran inilah (atau istilah internasionalnya: eviction) yang akhirnya memicu protes warga Palestina, tak hanya di Sheikh Jarrah, tapi di seluruh wilayah Palestina lainnya, seperti Gaza dan Tepi Barat. Mereka berkeyakinan, kebijakan absurd pemerintah Israel yang sepihak ini, akan merembet juga untuk wilayah Palestina lainnya.

Kalau kita ingin membahas kejahatan kemanusiaan yang ada di Palestina lebih jauh, maka wajib fardlu ain hukumnya kita tahu terlebih dahulu bagaimana asal usul dua bangsa yang terlibat di sini. Siapa Israel? Siapa Palestina? Bagaimana asal mula keduanya terbentuk? Bagaimana status keduanya di mata dunia?

Insya Allah, Kita akan membahasnya satu per satu via podcast bersambung seri ‘Palestina, di hati Kita.’

—- Jeda musik bentar———

Meskipun ini bukan soal pertikaian agama 2 negara, namun saat membahas Negara Israel, kita tak akan bisa lepas dari pembahasan mengenai asal usul Bani Israil yang diklaim sebagai nenek moyang Bangsa Israel kini. Kita akan coba menelusuri sejarah menurut pandangan 3 agama, yakni Islam, Nasrani, dan Yahudi. Mengapa? Karena bagaimanapun, di Yerusalem, kota sentral antara Palestina dan Israel, terdapat tiga situs peribadatan yang tidak hanya disucikan menurut 3 agama tersebut, tapi juga saling diperebutkan.

Di area ini terdapat: beberapa bangunan Masjid Utama (di kompleks Al-Aqsa) untuk umat Muslim, Tembok Ratapan bekas Bait Suci berdiri untuk umat Yahudi, dan Gereja Makam Kudus tempat penyalipan Yesus untuk umat Nasrani. Ketiga situs ini, diyakini sakral oleh masing-masing penganutnya.

Nah, kembali ke sejarah Bani Israil, mengapa kita harus menilik sejarahnya dari kitab suci? Karena Bani Israil ini jugalah satu-satunya golongan umat yang disebutkan dalam kitab suci 3 agama tersebut. Kebetulan? Tentu tidak! Karena apa pun yang tertulis dalam kitab suci, bagi penganutnya yang meyakini, adalah kejadian sebenarnya dari Tuhan. Maka, kita akan mencoba menelusuri asal usul Israel berdasarkan pada ketiga kitab suci tersebut.

Dari sisi ajaran Yahudi, mereka menganut Kitab Taurat. Dalam sejarahnya, Taurat yang dianut Bangsa Yahudi ini berbeda dengan Taurat yang dipercayai Kaum Muslim yang hanya mengenal 10 perintah Allah. Oke, di sini, kita akan mengacu pada Taurat versi Bangsa Yahudi saat ini karena inilah yang mereka percayai. Taurat Bangsa Yahudi terbagi dalam 5 kitab, di mana kitab ini juga diadopsi oleh umat Nasrani, yang terangkum dalam Kitab Perjanjian Lama.

Dalam Kitab Perjanjian Lama (Yoshua 15:8), disebutkan bahwa awalnya kota Yerusalem merupakan milik suku bangsa Yebus. Yebus adalah salah satu keturunan Bangsa Kanaan. Secara rinci, begini kutipan Kitab Yoshua yang lain (15:63): ‘Tetapi orang Yebus, penduduk kota Yerusalem tidak dapat dihalau oleh bani Yehuda.’ Masih menurut Kitab Kejadian 15:18-21, Tuhan kemudian memberikan daerah ini kepada Abraham, mulai dari Sungai Mesir sampai Sungai Efrat. Yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, dan orang Yebus itu.

Ada pun menurut Al-Qur’an, cerita Bani Israil, bila ditarik ke belakang adalah merupakan keturunan Nabi Ibrahim, melalui Nabi Ishak, yang kemudian memiliki anak Nabi Ya’kub, yang kemudian memiliki nama sebutan sebagai Israil yang artinya ‘hamba Allah’.

Berarti, kakek Nabi Ya’kub adalah Nabi Ibrahim. Bisa dikatakan, Nabi Ibrahim inilah nenek moyang Bangsa Israil. Lalu pertanyaannya, di manakah beliau tinggal? Dalam al-Qur’an surat Al-Anbiya (21:71), disebutkan bahwa Allah SWT menyelamatkan Nabi Ibrahim dari siksaan api Raja Namrud untuk kemudian diperintahkan menuju ‘Tanah Yang Diberkahi’.

Para ulama kemudian sepakat bahwa tanah yang dimaksud dalam Al-Qur’an ini adalah negeri Syam, tempat di mana Nabi Ibrahim didaulat untuk berdakwah pada penduduknya (tafsir Ibnu Katsir dan Al Qurthubi).

Sampai sini, cerita asal muasal Bani Israil bisa dikatakan menemukan titik temu antara tiga agama samawi, Islam, Yahudi dan Nasrani, bahwa dapat disimpulkan:

  1. Nenek moyang Bani Israil adalah Nabi Ibrahim.
  2. Nabi Ibrahim merupakan pendatang, yang semula diperintahkan menuju ‘Tanah Yang Diberkahi’ untuk mendakwahi penduduk asli di Tanah Yang Diberkahi
  3. Tanah Yang Diberkahi oleh Nasrani dan Yahudi disebut sebagai tanah Kanaan, sementara Muslim menyebutnya negeri Syam, yang menurut peta dunia pada abad 12 SM, wilayahnya meliputi: Palestina, Suriah, Lebanon, Yordania, dan sebagian kecil Mesir.

Lalu, kenapa dunia mengenal tanah yang sekarang disengketakan oleh Israel dengan sebutan Palestina? Kisah referensi dari Al-Qur’an ini, mungkin bisa membantu.

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, Bani Israil berasal dari keturunan Nabi Yakub, yang memiliki nama alias Israil. Nabi Yakub yang memiliki 12 anak dari 4 istri (salah satunya Nabi Yusuf), yang selanjutnya semua keturunannya disebut Bani Israil.

Semula, mereka menempati tanah Kanaan/Syam. Pada saat Nabi Yusuf diangkat menjadi pejabat Mesir, semua saudara dan keluarganya diboyong ke Mesir. Mereka berkembang dan bercampur dengan warga Mesir.

Sejalan bergantinya masa dan generasi, pada masa Firaun, keturunan Bani Israil ini dianggap selalu bermasalah dengan karakternya. Meskipun cerdik, mereka juga selalu membangkang. Bahkan, oleh pemerintah Firaun, mereka sampai dianggap ancaman karena ada ramalan bahwa akan muncul dari mereka, orang yang akan menghancurkan tahta pemerintahan Firaun. Maka, pembunuhan besar-besaran terhadap Bani Israil pun terjadi di masa pemerintahan Firaun Mesir, sebagian yang hidup dijadikan budak.

Singkat cerita, Nabi Musa kemudian diperintahkan Allah SWT untuk pindah membawa Bani Israil keluar dari Mesir, menuju wilayah yang kemudian disebutkan sebagai ‘Tanah Yang Dijanjikan’. Saat mereka akan memasukinya, diceritakan dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah (5:21-22) bahwa sesungguhnya semula mereka membangkang dan menolak.

Alasannya, di dalam wilayah itu ada penduduk yang sudah lama menempati dan perawakannya kuat dan kejam. Mereka inilah yang konon kemudian disebut sebagai suku Filistin. Pada zaman kuno, penamaan daerah disesuaikan dengan nama suku yang menguasai. Maka, saat itu, tanah ini disebut sebagai tanah Filistin atau Palestina.

Belakangan hari di tahun 2016, para arkeolog dunia mengungkapkan hasil penelitian selama 30 tahun terkait penemuan kerangka suku Filistin, yang ternyata merupakan para pelaut dari Yunani yang bermigrasi dan menempati daerah Gaza dan sekitarnya sebelum kedatangan Bani Israil.

Jadi sesungguhnya, penduduk asli Palestina itu bukanlah Bani Israil, yang saat ini diakui sebagai nenek moyang Bangsa Israel. Tapi, ada suku-suku kuno, antara lain suku Kanaan (pada masa Nabi Ibrahim) dan juga suku Filistin (pada masa Nabi Musa), serta kabilah-kabilah asli dari Arab lainnya yang terpaksa bermigrasi ke wilayah baru karena musim kekeringan yang melanda tanah kelahiran mereka.

Apabila Taurat dan Al-Kitab menyebutkan mengenai Tanah Yang Dijanjikan adalah untuk Bani Israil, tapi justru dalam Al-Qur’an (Al-Maidah 5:26), Allah akhirnya mengharamkan tanah Palestina yang tadinya dijanjikan Allah untuk Bani Israil, karena mereka telah membangkang perintah-Nya. Kemudian, sejak saat itu sampai 40 tahun berikutnya, mereka terlarang memasuki Palestina, mereka seperti kaum kebingungan, mengembara tanpa kejelasan.

Setelah 40 tahun mengembara, sepeninggal Nabi Musa, Bani Israil akhirnya menempati Palestina bersama penduduk setempat yang terlebih dahulu ada di sana. Namun demikian, mereka sering berselisih satu sama lain. Sehingga mereka terbagi menjadi 2 kelompok, Bani Israil yang menempati wilayah Palestina Bagian Utara (mendirikan Kerajaan Israil) dan Bagian Selatan (mendirikan Kerajaan Yehuda yang bermukim di wilayah Yerusalem dan sekitarnya).

Sebagai bangsa pendatang di tanah Palestina, perkembangan Bani Israil selanjutnya, kemudian dicatat oleh sejarah dunia mengalami beberapa kali penguasaan di bawah kerajaan-kerajaan besar dunia. Bani Israil ini mengalami beberapa kali pergantian penguasa.

Pada tahun 597 SM, saat Kerajaan Babilonia menguasainya, Raja Nebukadnezar bahkan mengusir mayoritas Bani Israil keluar dari Palestina. Pada masa ini juga, bangunan peribadatan kebanggaan kaum Yahudi, yaitu Bait Suci atau Haikal Sulaiman yang terletak di Yerusalem dihancurkan. Hingga saat kekuasaan Babilonia jatuh pada Kerajaan Persia (539 SM), maka Raja Cyrus kembali mengizinkan semua warga Yahudi kembali ke tanah Palestina. Namun demikian, kejadian pengusiran kembali terulang, saat tanah Palestina jatuh ke tangan Romawi. Kedua kalinya Bait Suci dihancurkan oleh Romawi.

Kerajaan Romawi dengan ajaran Nasrani yang ketat, memaksa semua warga jajahan memeluk agama Nasrani. Hal ini tentu dirasa tidak cocok dengan ajaran Yahudi yang selalu merasa merekalah umat pilihan Tuhan. Ajaran merekalah seharusnya yang paling benar. Mereka selalu membuat masalah dan membangkang. Sehingga, terjadi migrasi besar-besaran warga Yahudi yang diusir serta keluar dari Palestina dan menyebar ke seluruh dunia terutama sebagian besar adalah ke daratan Eropa. Mereka inilah yang kemudian disebut diaspora Yahudi.

Saat kemudian Palestina jatuh pada kekuasaan Ottoman Turki, warga Palestina yang terdiri dari sebagian muslim Arab, Nasrani, dan sebagian Yahudi yang memilih tetap tinggal, diizinkan untuk beribadah sesuai keyakinannya. Sesungguhnya, tidak semua Yahudi memiliki karakter selalu negatif, karena Yahudi pun terdiri dari banyak suku yang berasal dari 12 anak Nabi Yakub. Intinya, saat masa di bawah Kekaisaran Turki, semua etnis hidup dalam kebersamaan yang damai. Sampai Zionisme datang memasuki tanah Palestina.

Apa itu Zionisme? Zionisme merupakan suatu pergerakan nasionalis Yahudi internasional. Ide pergerakan Zionisme pertama kali diajukan oleh seorang wartawan Yahudi diaspora yang bermukim di Austria, bernama Theodore Herzl.

Kata Zion berasal dari makna ‘Batu’ tempat Bait Suci berada di sentra Yerusalem. Hal ini pula yang menjadi dasar nantinya mengapa Yahudi ingin menguasai Yerusalem. Herzl mengamati bahwa orang Yahudi yang tersebar di dataran Eropa selalu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari penduduk asli dikarenakan perilaku keturunan Yahudi itu sendiri, yang sebagian cenderung selalu berulah dan keras kepala sehingga susah diterima di manapun mereka berada.

Seperti selalu merasa menjadi bangsa pilihan Tuhan sehingga mereka cenderung tidak disukai. Perbuatan lainnya adalah mereka memonopoli perdagangan dengan menjadi rentenir berbunga super tinggi bagi penduduk setempat. Gagalnya asimilasi orang Yahudi dengan penduduk setempat inilah, yang membuat kekhawatiran akan lenyapnya eksistensi warga Yahudi di dunia. Terlebih, adanya Gerakan Antisemit yang digaungkan Pemerintah Jerman di bawah Adolf Hittler, dengan puncaknya peristiwa Holocaust (Pembantaian Kaum Yahudi Jerman).

Pada tahun 1896, Herzl pun membuat sebuah buku berjudul Yudanstaat atau Negara Yahudi, dalam rangka mendukung pemikirannya bahwa semua orang Yahudi di manapun berada harus kembali bersatu membentuk satu negara khusus Yahudi. Masalahnya adalah, untuk membuat sebuah negara, mereka butuh tanah bukan? Bagaimana bisa membentuk sebuah negara tanpa tanah untuk ditinggali rakyatnya? Konsep Negara Yahudi ini pun mulai dia ‘jual’ ke orang-orang Yahudi berpengaruh di dunia.

Ide Yudanstaat ini, awalnya mendapatkan reaksi Pro dan Kontra pada internal Yahudi. Sebagian menyebut bahwa ini adalah ide gila dan tak masuk akal, karena mereka sadar, sekaya apa pun mereka saat itu, tetap saja mereka tidak memiliki tanah yang bisa disebut negara.

Tanah yang diincar oleh Herzl, tak lain dan tak bukan, adalah Palestina. Tanah yang diyakini dalam kitab suci Yahudi sebagai Tanah Yang Dijanjikan Tuhan. Framing soal ‘Tanah Yang Dijanjikan’ inilah yang sampai saat ini selalu disusupkan dalam propaganda Israel untuk menghalalkan kolonialisme alias pencaplokan Palestina oleh Israel.

Justifikasi agama ini juga yang dianggap akan mampu memudahkan membujuk seluruh warga Yahudi di dunia agar mau melakukan migrasi ke Palestina. Benar-benar rencana licik yang sempurna! Padahal, menurut Hukum Internasional, tidak diperbolehkan suatu kelompok membangun suatu negara berdasarkan dalih adanya keterikatan sejarah di masa lampau (historic title atau historic right), terlebih apabila hal ini dilakukan dengan cara kolonialisasi, penjajahan bangsa lain, perampasan, atau tindakan kekerasan lainnya. Tentu saja, hal ini tidak digubris oleh Herzl dan kelompok Zionismenya.

Seiring berjalannya waktu, Herzl tak patah semangat mengampanyekan konsep Negara Yahudi ini. Dia terus bergerilya menemui orang-orang penting yang dianggap mampu memuluskan idenya. Di antara orang penting itu, tersebutlah seorang hartawan Banking Yahudi bernama Rotschild. Sehingga pada tahun 1897 M terbentuklah Kongres World Zionist Organization, dengan agenda utama: mendirikan Negara Yahudi (saat itu belum Israel) di tanah Palestina.

Palestina sendiri, saat itu berada di bawah Kekaisaran Ottoman Ustmaniyah (Kesultanan Turki). Singkat cerita, Herzl bolak balik mendekati Sultan Abdul Hamid II dari Turki agar mau memberikan sebagian tanah Palestina kepada warga Yahudi dengan imbalan penutupan hutang-hutang Turki. Namun permintaan ini dua kali ditolak oleh Sultan (pada tahun 1897 dan 1901).

Sampai akhirnya meletuslah Perang Dunia I pada 1914, Turki dan aliansinya kalah dan harus menyerahkan wilayah Palestina kepada Inggris (di bawah nama Mandat Britania Raya). Bak dapat angin segar, karena Inggris adalah sekutu Yahudi, Herzl pun kembali melakukan pendekatan terkait permintaan wilayah Palestina. Semula, menurut sejarah, Inggris menawarkan beberapa opsi wilayah, yaitu Argentina, Uganda, dan Mozambik. Tapi petinggi organisasi Yahudi, ngotot menginginkan Palestina. Tentu saja, pasti ada imbal jasa akan hal ini.

Pada tahun 1917, berkat pengaruh Roschild pada pejabat Inggris , cita-cita Herzl mulai menampakkan titik terang. Melalui deklarasi Balfour, Arthur Balfour, seorang Menteri Luar Negeri Inggris, yang berkuasa atas wilayah semenanjung Palestina dan Transyordan, secara resmi menyatakan bahwa Yahudi diperbolehkan menempati sebagian wilayah Palestina. Maka, migrasi diaspora Yahudi dari seluruh penjuru dunia pun secara masif dimulai dan berangsur-angsur masuk ke Palestina.

PBB pada 1947 mengeluarkan resolusi yang justru membagi Palestina menjadi 3 wilayah zona, berbagi dengan warga Yahudi yang saat itu belum membentuk negara Israel, yaitu Zona Yahudi, Zona Palestina, dan Zona Bersama Yerusalem.

Selama itu pula, lebih dari 30 dekade terakhir, 521.000 Yahudi telah bermigrasi ke Palestina, menjadikan pergeseran komposisi demografi penduduk yang semula hanya 3% menjadi 31% penduduk Palestina pada 1948. PBB pun justru tidak berpihak pada Palestina, sebagai bangsa pemilik tanah yang sah. Maklum saja, PBB saat itu diketuai oleh Amerika, sekutu Inggris.

Ini berarti kaum Yahudi telah memenuhi wilayah Palestina dengan bantuan penuh Inggris, hingga deklarasi Negara Israel dicetuskan pada 14 Mei 1948. Pemilihan kata ‘Israel’ untuk menamai konsep Negara Yahudi ciptaan Herzl pun sesungguhnya ide yang sangat brilian.

Kenapa? Karena kata itu terasosiasi pada sejarah agama Nasrani dan Yahudi sekaligus, memudahkan menarik simpati penganut dua agama tersebut untuk membenarkan apapun tindakan Zionis ke depan. Lagi-lagi, dengan dalih, seolah inilah kebangkitan bangsa Israel yang dulu adalah umat ‘pilihan Tuhan’, sebagaimana tertulis di kitab suci mereka.

Pertanyaannya, benarkah warga Negara Israel saat ini, adalah benar keturunan Bani Israel umat pilihan Tuhan? Bukankah umat Pilihan Tuhan, seharusnya berperilaku layaknya umat mulia penebar kebaikan pada sesama? Namun, mengapa yang terjadi adalah sebaliknya?

Sejak deklarasi kemerdekaan Negara Israel, penjarahan tanah dan segala upaya kekerasan terhadap warga Palestina dipertontonkan kepada dunia. Penghapusan etnis yang selalu mereka sangkal perlahan mereka jalankan dengan pengeboman dan penembakan wanita dan anak-anak di Palestina, demi memperkuat kedudukan dan memperluas wilayah kekuasaan Israel, yang kemudian memicu pergolakan rakyat Palestina, hingga sekarang.

Bagaimana perjuangan rakyat Palestina selanjutnya? Apa itu Gerakan Intifada? Mengapa lahir PLO ? Siapakah Hamas? Dan apa itu Solusi Dua Negara? Mengapa negara-negara di semenanjung Arab dan sekitarnya seolah ‘diam’ atas penindasan terhadap Palestina?

Nantikan kelanjutan podcast ‘Palestina di Hati Kita’ di seri berikutnya.

Penulis: Noor Ida Fitriya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s