[VoB2021] Perbandingan dalam Ayat Pertama Surat Al-Kahfi


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-320

Topik: Pearls from Al-Kahfi

Jum’at, 07 Mei 2021

Materi VoB Hari ke-320 Pagi | Perbandingan dalam Ayat Pertama Surat Al-Kahfi

Ditulis oleh: Rizka Nurbaiti

#FridayAlKahfWeek46Part1

Part 1

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah menurunkan Al-Qur’an untuk memisahkan gelap dan terang, seperti yang terdapat dalam QS At-Taghabun ayat 8,

فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالنُّوْرِ الَّذِيْٓ اَنْزَلْنَاۗ

Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul dan cahaya yang Kami turunkan.

Al-Qur’an sendiri disebut sebagai nuur (cahaya). 

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

Dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang, yaitu Al-Qur’an. (QS An-Nisa, 4:174)

Penjelasan mengenai Al-Qur’an merupakan cahaya dan Kitab yang dapat membuat kita bisa melihat, terdapat dalam QS. Al Hud ayat: 24

مَثَلُ ٱلْفَرِيقَيْنِ كَٱلْأَعْمَىٰ وَٱلْأَصَمِّ وَٱلْبَصِيرِ وَٱلسَّمِيعِ ۚ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran? (QS. Hud,11:24)

Pada ayat ini Allah menggambarkan dua golongan, golongan pertama yaitu golongan orang yang buta dan tuli. Jadi, mereka tidak bisa menerima informasi dari mata ataupun dari telinganya

Golongan kedua adalah golongan orang yang dapat melihat dan mendengar.

Saat kita merasakan petunjuk, sebenarnya petunjuk itu bukan sesuatu yang kita lihat, melainkan sesuatu yang kita dengar. 

قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌۭ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا

Katakanlah (Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan. (QS Al-Jinn, 72:1)

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍۢ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (QS Al-Baqarah, 2:285)

Dua ayat di atas menjelaskan bahwa “petunjuk” (Al-Qur’an) didapatkan melalui “mendengar”. 

Sebaliknya, jika kita “tidak mendengarkan” petunjuk yang Allah berikan dengan baik, maka kita tidak hanya tuli tapi kita juga buta.

Pada surat Ar-Rad ayat 16, Allah juga menyebutkan perbandingan antara orang yang tidak dapat melihat dengan yang dapat melihat,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلْأَعْمَىٰ وَٱلْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِى ٱلظُّلُمَـٰتُ وَٱلنُّورُ

Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang ….

Perbandingan antara orang yang buta dengan yang dapat melihat, dan orang yang tuli dengan orang yang dapat mendengar, merupakan hal yang penting untuk kita bahas ketika kita mempelajari ayat pertama surat Al-Kahfi. Mengapa?

Karena pada surat Al-Kahfi ayat pertama ini Allah mengatakan bahwa Ia tidak menaruh penyimpangan di dalam Al-Qur’an dan Al-Qur’an berdiri tegak (tidak bengkok). 

Jadi, ada perbandingan antara semua hal yang menyimpang dan semua hal yang tidak tegak dengan semua yang tidak menyimpang dan semua yang tegak. Seperti halnya perbandingan antara seseorang yang buta dengan yang dapat melihat dan seseorang yang tuli dengan seseorang yang dapat mendengar.

Seseorang yang buta tidak akan mengetahui apakah dia berjalan dengan lurus atau tidak ketika dia melewati suatu jalan. Mereka mungkin saja berjalan berbelok-belok karena mereka tidak dapat melihat jalan.

Sedangkan mereka yang dapat melihat, mereka bisa berjalan dengan lurus.

Jadi, dengan kata lain ayat ini membandingkan antara orang bisa melihat dan yang tidak dapat melihat juga.

Selanjutnya Ustaz menjelaskan bagaimana konteks “alhamdulillah”, yang terdapat di dalam Al-Qur’an. 

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Surahs – Deeper Look – 18. Al-Kahf – 10. Al-Kahf Ayat 1a – A Deeper Look (08:16-10:01)


Materi VoB Hari ke-320 Siang | Alhamdulillah:  When Allah Introduces Himself

Ditulis oleh:  Rizka Nurbaiti

#FridayAlKahfWeek46Part2

Part 2

بسم الله الرحمن الرحيم

Konteks pertama dari alhamdulillah yaitu Allah ﷻ mendeskripsikan diri-Nya dan menjelaskan siapa Dia. 

Contohnya seperti yang terdapat dalam QS Ghafir, 40:65, yaitu sbb: 

هُوَ ٱلْحَىُّ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ فَٱدْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ۗ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji dan syukur bagi Allah Tuhan semesta alam.

Jadi ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ 

Di sini konteksnya adalah bahwa Allah ﷻ memperkenalkan tentang-Nya kepada kita.

Contoh ayat lain yang memiliki konteks alhamdulillah ini yaitu pada Al-Fatihah 

 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Ketiga ayat surat Al-Fatihah ini berisi pengenalan Allah ﷻ yaitu rabbil’aalamiin, Ar-Rahman dan Ar-Rahim, serta maalikiyawmiddiin.

Hikmah di balik konteks alhamdulillah yang pertama ini, adalah kita sangat bersyukur kepada Allah ﷻ karena Ia ﷻ memperkenalkan diri-Nya kepada kita, Dia ﷻ tidak meninggalkan  kita bertanya-bertanya tentang siapa Dia, oleh karena itu kita mengucapkan ”alhamdulillah”. 🥺

Sudahkah kita mengucapkan “alhamdulillah” yang terdapat di dalam surat Al-Fatihah, yang kita baca saat kita shalat dengan sikap yang benar? 

Sudahkah kita meresapi makna “alhamdulillah” yang kita baca?  😥

Konteks alhamdulillah yang terhubung dengan pengenalan tentang siapa Allah juga terdapat di QS Al-Isra, 17:111

وَقُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًۭا وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌۭ فِى ٱلْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ وَلِىٌّۭ مِّنَ ٱلذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًۢا

Dan katakanlah: “Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah) Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.

Pada ayat ini  Allah ﷻ memastikan bahwa  kita memahami “Siapa yang Bukan Tuhan (Allah)”. Dengan kata lain, Allah ﷻ tidak hanya menjelaskan tentang siapa Dia, tapi Ia ﷻ juga menjelaskan siapa yang bukan Dia, atau siapa yang bukan Allah.  

Jadi, ayat ini juga merupakan ayat yang menjelaskan mengenai siapa Allah ﷻ.

🍂🤲🍂

Konteks alhamdulillah kedua yaitu alhamdulillah yang diucapkan ketika di jannah (surga).

Seperti yang disebutkan dalam QS Al-A’raf ayat 43,

وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَـٰرُ ۖ وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَـٰذَا 

Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Alhamdulillah” yang telah menunjuki kami ke sini.

Menunjukkan ke mana?

Ke surga.

Konteks alhamdulillah yang diucapkan saat berada di surga juga disebutkan dalam  QS Yunus, ayat 10,

دَعْوَىٰهُمْ فِيهَا سُبْحَـٰنَكَ ٱللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَـٰمٌۭ ۚ وَءَاخِرُ دَعْوَىٰهُمْ أَنِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

Ada hal yang menarik terkait kata “سُبْحَـٰنَكَ ٱللَّهُمَّ” yang terdapat di dalam ayat ini.

Bagaimana penjelasannya?

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Surahs – Deeper Look – 18. Al-Kahf – 10. Al-Kahf Ayat 1a – A Deeper Look (10:01-12:49)


Materi VoB Hari ke-320 Sore | Alhamdulillah yang Diucapkan di Surga

Ditulis oleh:  Rizka Nurbaiti

#FridayAlKahfWeek46Part3

Part 3

بسم الله الرحمن الرحيم

QS Yunus, 10:10,

دَعْوَىٰهُمْ فِيهَا سُبْحَـٰنَكَ ٱللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَـٰمٌۭ ۚ وَءَاخِرُ دَعْوَىٰهُمْ أَنِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

Do’a mereka di dalamnya ialah: “Subhaanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam”. Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”. 

Ketika mereka berada di surga, mereka akan mengucapkan, “Subhaanakallahumma” (Maha suci Engkau ya Allah). Dan mereka saling menyapa dengan damai. 

Ayat ini menyatakan bahwa di dalam surga mereka akan mengatakan “subhaanaka”, bukan ”subhaanallah”. Mereka mengatakan Maha suci Engkau, bukan Maha suci Allah. 

Mengapa demikian?

Hal ini karena di surga nanti orang-orang yang berada di dalamnya berada di dekat Allah ﷻ sehingga kata yang digunakan adalah kata ganti orang kedua. Mereka telah berada di sisi Allah ﷻ ketika mereka berada di jannah.

Hal epik terakhir yang mereka katakan, dan merupakan titik klimaks dari rangkaian ucapan yang terdapat di ayat ini adalah mereka mengucapkan  “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”. 

Mereka berjalan mengelilingi surga, melihat keindahan yang ada di sekeliling mereka dan melihat orang-orang mukmin yang wajahnya berseri-seri, lalu mereka mengucapkan ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ. Masyaa Allah.

Semoga kita semua diberikan rahmat oleh-Nya sehingga bisa berada di jannah dan mengalami seperti apa yang dituliskan di ayat ini. Aamiin ya Rabbal aalamiin.

Ayat selanjutnya yaitu QS Saba, 34:1,

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَهُ ٱلْحَمْدُ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ 

Alhamdulillah (kepada Allah) yang memiliki segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan spesial hamd bagi-Nya di akhirat.

QS Az-Zumar, 39:74,

وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى صَدَقَنَا وَعْدَهُۥ وَأَوْرَثَنَا ٱلْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ ٱلْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَآءُ ۖ فَنِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَـٰمِلِينَ

Dan mereka mengucapkan: “Alhamdulillah kepada Yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki; maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal”.

Kata نَتَبَوَّأُ dapat diartikan dengan menemukan tempat yang sempurna untuk menetap dan hidup. 

Contohnya ketika kita ingin mencari sebuah rumah, kemudian kita menemukan rumah yang kita inginkan. Rumah tersebut berada di lingkungan asri, memiliki halaman yang indah, jalannya bagus, bentuk rumahnya sesuai sama selera kita dan lain sebagainnya, sehingga kita memutuskan untuk membeli rumah tersebut. Maka rumah tersebut disebut tabawwu.

Jadi, orang-orang yang berada di surga nantinya akan melihat-lihat sekeliling surga kemudian mereka akan berkata alhamdulillah karena mereka bisa memilih tempat tinggal yang mereka inginkan.

Mereka bahkan tidak perlu repot-repot memikirkan biayanya, tidak seperti di dunia. Mereka bisa memiliki rumah yang sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Mereka bisa memilih rumah yang dikelilingi oleh sungai atau yang di depannya adanya taman, mereka bebas memilih rumah yang mana saja.

Selanjutnya Ustaz menjelaskan QS Az-Zumar, 39:75

وَتَرَى ٱلْمَلَـٰٓئِكَةَ حَآفِّينَ مِنْ حَوْلِ ٱلْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ ۖ وَقُضِىَ بَيْنَهُم بِٱلْحَقِّ وَقِيلَ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.

Jadi, setelah proses peradilan dan keputusan atas segala perkara selesai, para malaikat akan mengucapkan “alhamdulillah” kepada Allah penguasa alam semesta di Arsy.

Kata ٱلْعَرْشِ  (Al-Arsy) yang terdapat pada ayat ini memiliki hubungan dengan surga. Apakah hubungannya?

Al-Arsy berada di dekat Sidrat-Al-Muntaha. Ketika seseorang telah sampai di Arsy berarti ia telah melewati Sidrat-Al-Muntaha. 

Kemudian bagaimana hubungan antara Sidrat-Al-Muntaha dengan jannah?

Hal ini dapat kita lihat dari QS. An-Najm Ayat 14-15. Pada ayat ini Allah membahas Sidrat-Al-Muntaha dan jannah.

عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنتَهَىٰ

(yaitu) di Sidratil Muntaha. (QS An-Najm, 53:14)

عِندَهَا جَنَّةُ ٱلْمَأْوَىٰٓ

di dekatnya ada surga tempat tinggal. (QS An-Najm, 53:15)

Hal ini berarti berarti Jannah memiliki zip code yang sama dengan Al-Arsy.

Jadi, ketika malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy, bertasbih sambil memuji Allah dengan mengucapkan ”alhamdulillah”, peristiwa tersebut terjadi di dekat jannah. 

Sehingga malaikat-malaikat yang berlingkar di dekat jannah ini dapat menjadi petunjuk kita untuk menuju jannah, kita seperti memiliki Google Maps melalui para malaikat-malaikat ini. Masyaa Allah.

Selanjutnya Ustaz menjelaskan konteks alhamdulillah yang ketiga, yaitu alhamdulillah yang diucapkan ketika seseorang merasa aman tentang apa yang terjadi di masa depan.

Bagaimana penjelasannya?

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Surahs – Deeper Look – 18. Al-Kahf – 10. Al-Kahf Ayat 1a – A Deeper Look (12:49-16:26)

***

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s