[VoB2021] Memuji Keunikan Anak Kita


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-314

Topik: Parenting

Sabtu, 1 Mei 2021

Materi VoB Hari ke-314 Pagi | Memuji Keunikan Anak Kita

Oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek45Part1

💎💎💎💎💎

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Mari kita sekarang bicara tentang cinta.

Saya mencintai semua anak saya tapi mereka tidak tahu itu. Perasaan mereka berbeda dengan perasaaan saya. Mereka tidak bisa membaca perasaan saya.

Cara supaya perasaan kita diketahui oleh orang lain adalah melalui kata-kata. Tapi kata-kata itu pun kadang tidak cukup.

Misalnya ketika Ustaz Nouman mencoba mengungkapkan perasaannya kepada anak-anaknya, ”I love you equally.” Cinta Ustaz kepada semua anaknya adalah sama rata. Tidak ada pilih kasih. Tidak ada yang dibeda-bedakan.

Apakah dengan mengungkapkan seperti itu, anak-anak Ustaz seratus persen paham bahwa Ustaz benar-benar adil dalam usahanya mencintai anaknya?

Belum tentu.

Ada anaknya yang mempertanyakan kebenaran ungkapan itu, “Oh ya? Karena itukah aku harus tidur jam 9 malam. Dan yang lain boleh tidur belakangan? Itukah yang disebut cinta yang sama rata?”

Ada lagi yang mempertanyakan, “Kenapa aku cuma boleh makan dua batang Kit Kat padahal yang lain boleh makan banyak?”

Ustaz gemas dengan pertanyaan seperti ini sehingga beliau buru-buru menanggapi, “Karena gigi kamu baru saja ditambal sore ini! Kamu harusnya merasa beruntung masih boleh dapat dua.”

Ustaz harus menyoroti hal ini. Sesuatu yang penting. Sesuatu yang dicontohkan sendiri oleh Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam.

Rasulullah biasa mencari hal-hal apa yang spesifik dari masing-masing sahabat beliau SAW untuk diberikan pujian.

Rasulullah biasa mencoba mencari tahu sesuatu tentang sahabatnya, suatu hal yang unik, atau yang Rasulullah pikir unik, lalu Rasulullah memberikan pujian kepadanya tentang hal yang unik itu.

“Jika ada orang yang ingin tahu bagaimana zuhud dari Nabi Isa ’alayhis salam, maka lihatlah Abu Dzar.” 

Itu adalah contoh bagaimana Rasulullah SAW memuji Abu Dzar.

“Jika ada orang yang ingin tahu bagaimana sebuah keadilan ditegakkan, maka belajarlah dari bagaimana Umar menegakkan keadilan.”

Yang ini adalah contoh bagaimana Rasulullah SAW memuji Umar radhiyallaahu ‘anhu.

“Jika ada orang yang ingin belajar tentang cinta dan kasih sayang (love and compassion) maka contohlah ‘Utsman.”

Begitulah Rasulullah SAW mengamati sisi unik dari para sahabatnya, dan menggunakannya untuk memuji para sahabatnya itu.

Rasulullah menyoroti hal-hal yang spesifik, yang unik, dari para sahabatnya.

Anak-anak kita pun demikian. Mereka memiliki kualitas-kualitas yang tidak sama persis. Mereka memiliki sisi keunikan, sisi keunggulannya sendiri-sendiri.

Dan kualitas-kualitas yang kita amati itu tidak melulu harus kualitas keislaman, kualitas keimanan, atau yang sejenisnya. Bisa juga yang bersifat umum.

“Aku suka gambarmu, sayang. Sepertinya kamu bisa menjadi seniman yang berbakat. Kamu bisa menjadi seniman yang menghasilkan karya-karya yang menakjubkan.”

“Aku suka kreativitasmu. Itu bagus banget, ya Allah! Dunia membutuhkan orang-orang yang kreatif seperti kamu.”

“Ini adalah anak saya yang paling lucu. Hidup ini indah dan menyenangkan kalau bersama dia. Saya menyukai selera humornya. Cari dan dekati dia, maka kamu akan tersenyum dan tertawa.”

Pelajaran yang penting yang dibagikan Ustaz kali ini adalah bahwa kita sebagai orang tua seharusnya memperhatikan hal-hal yang unik. Hal-hal yang spesifik.

Sehingga kita memuji anak-anak kita pun secara spesifik. Jangan memuji dengan kata-kata seperti, “Kamu itulah anak yang adil.” Atau, “Kamulah anakku yang bertakwa.”

Atau, “Kamu adalah anakku yang imannya paling tinggi.” 

😃😃 

Jangan! Jangan berkata seperti itu.

😃😃

Anda bisa mengamati apa yang mereka, masing-masing anak kita itu, sukai dan bilang, “Ayah suka kamu menyukai hal itu.” Atau, “Ibu suka kamu suka menjahit.”

Bahkan ketika ada anak kita yang suka Teddy Bear, kita juga bisa memuji kesukaannya itu. “Kamu adalah Teddy Bear kami.”

Apa yang akan terjadi jika kita sebagai orang tua memperhatikan dan memuji keunikan masing-masing anak kita itu?

Insyaa Allaah pembahasannya akan disajikan ba’da zhuhur.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 21. Comparing Children Part 2 – Parenting (00:00 – 02:02)


Materi VoB Hari ke-314 Siang | From Bullying to Loving Words

Oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek45Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Apa manfaat yang Anda dapatkan sebagai orang tua ketika Anda memperhatikan dan memuji keunikan masing-masing anak Anda?

Anda telah menunjukkan cinta Anda dengan cara mereka. Dan memuji seperti adalah cara yang aman. Super aman.

Mengapa?

Karena tidak terjadi apa yang tidak kita harapkan. Yaitu membanding-bandingkan satu anak dengan anak yang lain.

Memuji dengan memperhatikan keunikan masing-masing anak kita membuat kita terhindar dari membanding-bandingkan yang tidak perlu.

Masing-masing anak sekarang mendapatkan apresiasi untuk hal-hal yang berbeda.

Jadi kita harus melakukan identifikasi terhadap hal-hal yang spesifik dari setiap diri masing-masing anak kita.

Seperti misalnya salah satu anak Ustaz. Beliau sungguh-sungguh mengapresiasi bagaimana dia membantu ibundanya.

“Do you know what I love the most about you? You help your Mom a lot. I love that about you.”

Ustaz mengungkapkan perasaannya kepada anak itu, “Tahukah kamu apa yang ayah paling suka dari kamu? Kamu sangat rajin membantu ibu. Ayah suka sekali kamu membantu ibu.”

Pengungkapan perasaan itu tentu saja tidak dibatasi hanya saat anak-anak melakukan perbuatan seperti membantu ibundanya di dapur. Tapi juga bisa dilakukan saat kita mengetahui bahwa anak kita menyukai jenis olahraga tertentu.

Misalnya ketika anak kita bilang, ”This is what makes me good.” Ada sebuah hal yang disukainya dan membuatnya gembira.

Si A suka marah-marah tapi selalu bersedia membantu si B menyelesaikan tugas tertentu dari sekolah.

Maka sebagai orang tuanya, kita bisa bilang ke A, “Ayah suka kamu karena meski kamu sedang marah kamu selalu meluangkan waktumu untuk membantunya menyelesaikan tugas sekolahnya.”

Karena si A adalah anak sulung, kita juga bisa menambahkan, “Saya harap adik-adikmu nanti juga bisa seperti kamu saat mereka lebih besar, mampu mengendalikan diri terutama saat mengulurkan tangannya kepada saudaranya yang sedang membutuhkan bantuan.”

Saat kita mengungkapkan perasaan kita sebagai orang tua itu, kita tidak mengharapkan sebuah jawaban. Kita tidak berharap bahwa anak-anak kita merespons ungkapan perasaan kita itu.

Tapi ungkapan yang mengandung pujian yang spesifik sesuai jati diri mereka itu akan berpengaruh positif terhadap diri mereka.

Kita harus mengulang-ulang ungkapan yang memuat pujian atas keunikan anak kita itu terus-menerus. Jangan pernah bosan mengungkapkannya.

Pada saat yang sama kita harus membuang jauh-jauh panggilan-panggilan yang meremehkan anak kita. Yang tidak disukai anak kita.

Contohnya? Yaa himaar (يا حمار). Ustaz mengucapkan contoh ini sambil sedikit tersenyum. 

Tapi memang agak lucu juga kalau dibayangkan. Masa ada orang tua, manusia, yang punya anak, juga manusia, tapi memanggil anaknya dengan, “Hai keledai.”

Semua kata dan panggilan yang bernuansa bullying itu harus kita singkirkan. Kita ganti dengan kata-kata dan panggilan yang penuh cinta kasih (loving words).

Insyaa Allaah kita lanjutkan ba’da ‘ashar.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 21. Comparing Children Part 2 – Parenting (02:02 – 04:00)


Materi VoB Hari ke-314 Sore | Kata-Kata yang Harus Dihapuskan dari Kamus Parenting

Oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek45Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kita pun harus adil. Maksudnya, panggilan yang penuh cinta kasih itu harus kita ucapkan ke setiap anak kita.

Tidak pilih kasih. Jangan sampai ada anak kita yang selalu kita panggil dengan loving words. Sementara itu ada anak kita yang lain yang dapat jatah panggilan bullying words

Bahkan untuk urusan ini pun kita bisa belajar dari Al-Qur’an.

Yusuf ’alayhis salaam melihat sesuatu dalam mimpinya. Ini bukanlah prestasi seperti berhasil menaklukkan pendakian sebuah gunung atau apa. “Hanya” melihat sesuatu dalam mimpinya.

Anda sendiri, pernah bermimpi? Melihat sesuatu dalam mimpi? Bagaimana menurut Anda sendiri: apakah yang seperti itu dapat dianggap sebagai sebuah prestasi?

Tentu saja tidak.

Usaha apa, coba, yang kita lakukan, supaya kita dapat melihat sesuatu dalam mimpi? Kerja keras yang seperti apa yang harus kita lakukan untuk “meraih” sebuah mimpi?

Tidak ada kerja keras.

Tapi Yakub ’alayhis salaam tetap mendengarkan mimpi Yusuf itu dengan seksama. Lalu beberapa ayat selanjutnya kita menyaksikan pujian dari Yakub kepada Yusuf ’alayhis salaam.

وَكَذَ ٰ⁠لِكَ یَجۡتَبِیكَ رَبُّكَ وَیُعَلِّمُكَ مِن تَأۡوِیلِ ٱلۡأَحَادِیثِ وَیُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَیۡكَ وَعَلَىٰۤ ءَالِ یَعۡقُوبَ كَمَاۤ أَتَمَّهَا عَلَىٰۤ أَبَوَیۡكَ مِن قَبۡلُ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ وَإِسۡحَـٰقَۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِیمٌ حَكِیمࣱ

(QS Yusuf,12:6)

One on top of the other on top of the other on top of the other. Maksudnya, ayat itu berisi pujian di atas pujian di atas pujian.

Dan demikianlah, Tuhan memilih engkau (untuk menjadi Nabi) dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi dan menyempurnakan (nikmat-Nya) kepadamu dan kepada keluarga Yakub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang kakekmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sungguh, Tuhanmu Maha Mengetahui, Mahabijaksana.

Allah telah memilihmu.

Allah telah mengajarimu berbagai macam interpretasi.

Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu.

Kamu akan membuat kakekmu bangga kepadamu.

Pujian yang spesifik, yang menyasar keunikan masing-masing anak kita, adalah penting. Pujian seperti ini menghindarkan anak kita dari membanding-bandingkan antara dirinya dengan saudaranya.

Anakku yang ini dikenal karena ketangkasannya.

Anakku yang ini dikenal karena kreativitasnya.

Anakku yang ini dikenal karena kepiawaiannya menulis.

Anakku yang ini dikenal karena tertawanya.

Semuanya kita puji secara spesifik untuk alasan yang berbeda. Maka mereka tidak punya waktu untuk membanding-bandingkan antara diri mereka sendiri.

Itulah yang kita ingin tanamkan. Setiap anak punya keunikan. Dan kita sebagai orang tua mampu melihat keunikan itu.

Dan yang lebih penting lagi, ini dia, yang lebih penting lagi, mereka melihat, anak-anak kita itu menyaksikan, bahwa kita mampu mengenali dan mengakui keunikan mereka masing-masing.

Hal yang seperti ini tidak akan terjadi jika kita malah bilang ke anak kita, “Kenapa kamu tidak bisa menjadi seperti _e_ _e_ _e_ _e_ _e_

“Mengapa kamu tidak bisa menjadi orang yang lebih baik?”

“Mengapa kamu tidak bisa melakukan sebaik _e_ _e_ _e_ _e_ _e_?

Bahasa-bahasa “mengapa kamu tidak bisa …” seperti itu harus dihapuskan. 

Bahasa-bahasa “mengapa kamu tidak bisa …” itu, hilangkan dari perbendaharaan kata-kata kita kepada anak-anak kita.

Bahasa-bahasa “mengapa kamu tidak bisa …”, jangan pernah gunakan bahasa itu.

Kata-kata “mengapa kamu tidak bisa …” harus dihapuskan dari kamus parenting.

Because it’s not who they are. Karena anak kita bukanlah orang yang sama dengan sosok impian dan angan-angan kosong yang kita bayangkan. Anak kita punya keunikannya sendiri.

وَلَا تَتَمَنَّوۡا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضࣲۚ

(QS An-Nisa’, 4:32)

Don’t wish for what Allah has favored some over others with.

Jangan berharap atas apa yang telah Allah lebihkan kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.

Ada anak kita yang akan diterima di program sarjana perguruan tinggi favoritnya tanpa susah payah. Tapi ada anak kita yang lain yang mungkin diterima di program diploma perguruan tinggi biasa saja sudah beruntung. Tidak masalah. Mereka memang tidak sama.

Jangan sampai kita bilang, 

“Mengapa kamu tidak bisa sepintar kakakmu?”

“Kakakmu bisa jadi dokter, kenapa kamu enggak bisa sih?”

Kita ini muslim. 

Nabi Yusuf saja berdoa supaya diwafatkan sebagai seorang muslim.

Mengapa kita menganggap bahwa tidak menjadi dokter itu seperti tidak menjadi muslim?

💎💎💎💎💎

Insyaa Allaah kita lanjutkan minggu depan.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 21. Comparing Children Part 2 – Parenting (04:00 – 06:23)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s