[VoB2021] Pujian dan Terima Kasih


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-313

Topik: Pearls from Al-Kahfi

Jum’at, 30 April 2021

Materi VoB Hari ke-313 Pagi | Pujian dan Terima Kasih

Ditulis oleh: Rendy Noor Chandra

#FridayAlKahfWeek45Part1

Part 1

بسم الله الرحمن الرحيم

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ ٱلْكِتَٰبَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُۥ عِوَجَا ۜ

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya (QS. Al-Kahfi: 1)

Biidznillah, kita akan memulai diskusi pembahasan ayat pertama dari surah Al-Kahfi. Metode pendekatan Ustaz Nouman pada kuliahnya kali ini adalah menjelaskan satu aspek dari pendalaman Al-Qur’an dalam hal hubungan intertekstual. 

Makna dari istilah intertekstual adalah Allah menjelaskan satu makna dari ayat tertentu di ayat yang lain di dalam Al-Qur’an. 

Kalau kita ingin mendalami Al-Qur’an, kita perlu melihat apa yang Allah katakan di ayat lain tentang hal yang sama. Biasanya kita akan menemukan di banyak tempat di Al-Qur’an apa yang Allah ajarkan tentang sesuatu hal tertentu.

Jadi pada sesi kali ini kita akan melihat beberapa ayat lain yang mendukung apa yang dibahas di sebagian ayat pertama surah Al-Kahfi ini. Bagian pendahuluan Al-Qur’an atau suatu surah biasanya sangat kuat secara makna dan memancing kita untuk berpikir.

Jadi, jangan bayangkan waktu yang kita butuhkan untuk membahas ayat pertama dari surah Al-Kahfi sama dengan ayat-ayat lainnya.

Kalau dalam satu sesi kuliah Ustaz Nouman di Bayyinah Institute selama 1 jam  bisa membahas 1 atau 2 ayat, kalau ayat pertama ini mungkin membutuhkan beberapa sesi karena amat kuat maknanya dan banyak yang bisa kita pelajari. Bagian pertama pendahuluan surah Al-Kahfi ini memang membutuhkan waktu, jadi Ustaz Nouman berharap kita bersabar mendalaminya.

Yang akan kita bahas pada bagian ini adalah fragmen alhamdulillah.

Pertama kita akan membahas fragmen alhamdulillah secara umum, bukan dari sisi linguistik. Pembahasan dari sisi linguistik akan Ustaz Nouman sampaikan di sesi kuliah berikutnya.

Secara umum, fragmen alhamdulillah dapat diartikan sebagai segala pujian adalah milik Allah. 

Ustaz Nouman menyebutkan ada 2 hal yang harus kita pahami: Yang pertama adalah madah dan tsana.

Madah dan tsana memiliki makna yang berdekatan. Maknanya adalah pujian atau menghargai sesuatu. Yang kedua adalah Asy-Syukr yang artinya adalah rasa terima kasih. 

Jadi dapat kita simpulkan, ada dua dimensi dari kata hamd. Di satu sisi ada pujian dan penghargaan, dan di sisi lain ada ucapan terima kasih. Pujian dalam bahasa Arab adalah madah dan tsana, sedangkan terima kasih dalam bahasa Arab yaitu syukr.

 Secara mendasar, keduanya adalah hal yang berbeda. 

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Surahs – Deeper Look – 18. Al-Kahf – 10. Al-Kahf Ayat 1a – A Deeper Look (00:00-02:33)


Materi VoB Hari ke-313 Siang | Dua Hal yang Berbeda

Ditulis oleh:  Rendy Noor Chandra

#FridayAlKahfWeek45Part2

Part 2

بسم الله الرحمن الرحيم

Memuji seseorang bukan berarti kita berterima kasih kepadanya. Berterima kasih kepada seseorang juga bukan berarti kita memujinya.

Kita harus memahami perbedaan keduanya.

Misalnya ketika ada sebuah mobil melintas di depan kita, kita mengatakan, 

“Wah, mobilnya bagus, ya.”

Ini artinya kita memuji mobil tersebut. 

Lantas, apakah kita berterima kasih kepada mobil itu? Tentu tidak, kan?

Sama halnya ketika kita memuji seorang anak yang lucu. Kita tidak berterima kasih kepada anak tersebut. 

“Wah, lucu anet ya bayinya.”

Tetapi kita tidak mengatakan, “Terima kasih ya, bayi.” Karena pada umumnya, seorang bayi belum bisa banyak bergerak

Ketika kita berterima kasih dan memuji itu hal yang sama sekali berbeda.

Terima kasih merupakan sebuah reaksi. Sesuatu diberikan atau dilakukan kepada kita, kemudian kita akan mengucapkan terima kasih.

Kita mungkin bahkan perlu mengucapkan terima kasih kepada orang yang tidak pantas untuk dipuji. Contohnya seperti apa?

Ayah Nabi Ibrahim ‘Alayhissalam, bukanlah seorang laki-laki yang pantas untuk dipuji. Ia adalah seorang pembuat patung berhala. Walaupun begitu, Nabi Ibrahim ‘Alayhissalam di dalam Al-Qur’an akan berterima kasih kepadanya.

Mengapa? Jawabannya adalah karena sudah sepantasnya kita berterima kasih kepada orang tua kita, walaupun mereka mungkin tidak layak untuk dipuji.

Kita bisa memuji seseorang atau sesuatu tanpa berterima kasih kepadanya, dan kita bisa berterima kasih kepada seseorang walaupun tanpa memujinya.

Bahkan ketika Nabi Musa ‘Alayhissalam berhadapan dengan Fir’aun, beliau berterima kasih karena Fir’aun telah mengasuhnya sejak masih bayi.

 Fir’aun sudah bersikap baik kepada Musa, membiarkan ia tetap hidup ketika bayi lain dibunuh, dan lebih utamanya lagi membiarkan istrinya mengasuhnya sebagai anak angkat.

Walaupun begitu, tetap saja Nabi Musa ‘Alayhissalam tidak akan memuji Fir’aun karena Fir’aun menganggap dirinya sebagai Tuhan.

Ketika mengucapkan alhamdu , di saat yang bersamaan kita memuji dan berterima kasih. Itulah pengertian dasar yang perlu kita pahami.

Pembahasan secara linguistik yang lebih mendalam akan dibahas Ustaz Nouman pada sesi berikutnya.

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Surahs – Deeper Look – 18. Al-Kahf – 10. Al-Kahf Ayat 1a – A Deeper Look (02:33-04.24)


Materi VoB Hari ke-313 Sore | Tak Terbatas Waktu, tapi Spesifik

Ditulis oleh:  Rendy Noor Chandra

#FridayAlKahfWeek45Part3

Part 3

بسم الله الرحمن الرحيم

Hal lain yang perlu kita ketahui tentang alhamdulillah adalah fragmen kata tersebut tidak terbatas oleh waktu. Dari sisi bahasa Arab fragmen ini bermakna khabari dan insyaa’i. Artinya, kalimat ini bermakna segala pujian dan ucapan terimakasih milik Allah.

Karena dalam fragmen ini tidak terdapat kata inna yang artinya sesungguhnya, maka ia termasuk dalam kalam insyaa’i yang artinya sebuah ekspresi  dari emosi kita.

Kita tidak hanya menyampaikan informasi ketika mengucapkan alhamdulillah, tetapi kita juga menyuarakan perasaan kita. Seperti ketika kita mendapat kado atau hadiah, kita mengucapkan, 

”Alhamdulillah, dapat hadiah. Seneng banget.”

Ustaz Nouman memberikan contoh ketika beliau mengajarkan kosa kata tertentu dalam kelas atau beliau mengajarkan konsep tentang alhamdulillah.

Di dalam kelas tersebut, ketika Ustaz Nouman mengajarkan alhamdulillah artinya kalimat tersebut merupakan informasi.

Ketika kelas berakhir dan beliau mengatakan,

“Alhamdulillah, kita sudah menyelesaikan kelas kita hari ini.”

Maka alhamdulillah yang terakhir merupakan ekspresi dari perasaan beliau. 

Kalimat kedua bukanlah informasi tapi ekspresi emosi. Kalimat alhamdulillah ini selain membawa ide tetapi juga membawa emosi. Keduanya terangkum dalam satu kalimat yang sama.

Sekarang kita akan membahas untuk apa kita mengucapkan hamd kepada Allah. Kita mengucapkan hamd kepada Allah atas segala sesuatu. 

Tidak ada batasan kita berterima kasih atau memuji atas apa.

Akan tetapi di ayat pertama surah Al-Kahfi ini disebutkan,

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ ٱلْكِتَٰبَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُۥ عِوَجَا ۜ

Ketika Allah menempatkan isim mawsul, bagi yang memahami tata Bahasa Arab, itu artinya apapun yang muncul setelah alhamdulillah, maka ia menjadi batasan akan alhamdulillah tadi. Ia menjadi tidak terpisah dengan hamd. Hamd kepada Alah adalah atas segala sesuatu, tapi di konteks ayat ini adalah spesifik akan sesuatu. 

Ada hamd khusus kepada Allah karena apa yang Allah turunkan kepada hamba-Nya. Tidak mungkin ada penyimpangan makna lainnya. 

Adanya kata alladzii yang merupakan isim mawsul,  menunjukkan ada pujian dan ucapan terima kasih khusus kepada Allah akan sesuatu. Sesuatu itu apa?

Sesuatu itu adalah fakta bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an kepada hamba-Nya, yaitu Rasulullah ﷺ.

Hal ini membut Ustaz Nouman berpikir, karena ada sekitar dua puluh tiga ayat atau lebih yang menggunakan kata hamd di dalam Al-Qur’an. Allah membahas tentang pujian dan terima kasih. 

Apa yang Allah katakan di banyat ayat tersebut?

Misalkan kita mengambil ayat pertama dari surah Al-An’am, 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمٰتِ وَالنُّوْرَ

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan gelap dan terang,

ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ

Namun demikian orang-orang kafir masih mempersekutukan Tuhan mereka dengan sesuatu. (QS. Al-An’am:1)

Bagaimana mungkin kita menyamakan gelap dengan terang? Bagaimana mungkin pula kita menyamakan Allah dengan sesuatu?

Allah lah cahaya langit dan bumi. 

Dengan kata lain, Allah ingin mengatakan bahwa penciptaan langit dan bumi itu akan sia-sia jika Allah tidak menciptakan gelap dan terang. Sama halnya dengan orang yang sesat dan mendapat petunjuk. 

Di ayat pertama surah Al-An’am tersebut, Allah menyebutkan alhamdulillah secara spesifik atas penciptaan langit dan bumi serta gelap dan terang. 

Akan tetapi apa sebenarnya yang Allah turunkan kepada kita yang bisa memisahkan gelap dan terang? Atau membedakan sesat dan mendapat petunjuk? Tentu saja jawabannya adalah Al-Qur’an. 

Inilah mengapa Allah menyebutkan dalam surah At-Taghabun ayat 8 yang berbunyi, 

فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالنُّوْرِ الَّذِيْٓ اَنْزَلْنَاۗ

Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul dan cahaya yang Kami turunkan.

 Al-Qur’an sendiri disebut sebagai cahaya. Sedangkan di dalam surah An-Nisa ayat 174 disebutkan

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang, yaitu Al-Qur’an. 

Pekan depan kita akan melanjutkan perbandingan menarik lainnya terkait gelap dan terang ini. Seperti apa?

Sumber: Bayyinah TV – Quran – Surahs – Deeper Look – 18. Al-Kahf – 10. Al-Kahf Ayat 1a – A Deeper Look (04:24-08:16)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s