[MFA2021] Kepada Siapa Engkau Bergantung? – Achmad Shafiq Bafadhal


Setiap orang pasti penasaran akan perbuatan yang dilakukan apakah hal tersebut sudah  benar atau tidak. Dan untuk mengetahui apakah perbuatan yang kita lakukan itu benar atau tidak, maka kita harus bertanya kepada orang ataupun pihak yang mengetahui akan hal tersebut. Ketika kita sudah tahu berada di posisi yang benar tentunya kita ingin memaksimalkan apa yang kita lakukan itu agar perbuatan yang benar itu bisa menjadi sebuah investasi amal untuk kita. Dan ketika kita berada di jalan yang salah, tentunya kita butuh petunjuk agar kita bisa menuju jalan yang benar.

Ada sebuah ayat di dalam Al-Qur’an yang sangat saya cintai karena di dalamnya memberikan sebuah pengharapan yang luar biasa. Ayat tersebut ialah Surat Al Baqarah ayat 186 yang berbunyi:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. QS. Al Baqarah, 2 : 186.

Ayat ini bagi saya pribadi sangat menarik untuk lebih didalami karena ada banyak sekali hikmah yang bisa menjadikan “lost in translation”, jika hanya melihat terjemahan ayatnya saja kita tidak bisa memahaminya dengan baik.

Ada setidaknya 3 poin penting yang ingin saya ceritakan dan beberapa alasan kenapa saya menyukai ayat ini. Poin yang pertama adalah transisi yang Allah gunakan sebagai bentuk antusiasme atau antisipasi atau kegembiraan yang Allah tunjukkan. Kemudian poin yang kedua adalah bagaimana Allah Swt secara proaktif dan dengan segera menjawab doa-doa kita. Dan poin ke-3 adalah bagaimana Allah menyuruh kita untuk berusaha secara terus-menerus dan konsisten untuk terus meminta kepada-Nya.

Poin pertama sudah ditunjukkan sejak awal ayat ini dimulai. Dalam ayat ini Allah menggunakan sudut pandang orang kedua ketika Allah berfirman kepada Nabi Muhammad Saw dengan berfirman : “Jika ada hamba-Ku”, kata Allah, “yang bertanya kepadamu”,  maksudnya adalah Nabi Muhammad Saw, kemudian dengan serta-merta Allah mengganti sudut pandang-Nya dari orang kedua menjadi orang pertama dengan menjawab : “Sesungguhnya Aku dekat”. Perubahan sudut pandang ini menunjukkan sebuah antusiasme yang luar biasa karena, instead of Allah Swt menyuruh Rasulullah Saw untuk menjawab atau menjelaskan kepada manusia bahwa Allah itu dekat, justru Allah Swt sendiri yang ingin menjawabnya langsung kepada kita bahwa Dia dekat. He’s so eager to answer our prayer directly with us. Ini poin yang pertama.

Tidak hanya itu, Allah Swt tidak hanya pasif menunggu doa-doa kita tapi Allah itu justru sangat menunggu doa-doa dari kita. ini ditunjukkan dari lanjutan ayatnya nya bahwa Allah sendiri menjamin bahwa dia menjawab setiap doa dari hamba-hamba-Nya. Ustaz Nouman menyebutkan bahwa Allah menggunakan atau memilih kata “ujiibu”. Kata “ujiibu” ini sendiri secara tersirat mengandung 2 makna. Makna yang pertama adalah bahwa Allah sangat menunggu doa-doa kita. So much so that He wants to answer it immediately. Sebagaimana kira-kira ketika kita menunggu balasan WA dari orang yang kita sayangi. Allah is so eager to answer us more than that. Makna yang kedua adalah bahwa setiap doa itu akan dijawab dengan segera dan secara instan, at that moment the dua has been answered. Tidak hanya itu, penggunaan kata ‘dakwatan’ menunjukkan hal itu berlaku untuk setiap doa. Jadi each and every single of our dua, is being answered by Him. Jadi ketika misalnya kita berdoa, “Robbana aatina fiddunya hasanah wafil aakhirati hasanah”,  itu bukan dianggap sebagai satu doa tapi adalah 2 doa. Doa yang pertama adalah kita meminta kebaikan di dunia, sedangkan doa yang kedua adalah kita meminta kebaikan di akhirat. Allah menjanjikan bahwa dia akan secara langsung dan dengan segera menjawab kedua doa tersebut. Maa syaa Allah. Ini poin kedua yang ingin saya sampaikan.

Poin ke-3 adalah adalah harapan Allah kepada kita. Yaitu Allah Swt berharap kita juga melakukan segala hal with our best effort dan berupaya untuk terus meminta kepada-Nya. Dan Allah Swt luar biasa presisinya dalam memilih kata. Ketika menyebutkan antusiasme-Nya dalam menjawab, Dia memilih kata ‘ujiibu’. Sementara ketika memberikan perintah atau harapan kepada hamba-Nya, Dia hanya menggunakan kata ‘yastajiibu’. Perbedaannya secara makna sangat signifikan. Yang pertama bermakna “Aku akan segera menjawab” sedangkan yang kedua adalah “At least cobalah untuk menjawab”. Sebuah kemurahan Allah Swt bahwa Dia tahu hamba-Nya gak mungkin meminta kepada-Nya setiap saat sehingga Dia hanya meminta kita berupaya saja semaksimal mungkin untuk meminta kepada-Nya.

Kenapa ayat ini menjadi spesial dan sangat saya cintai? Pertama, karena ayat ini berada di rangkaian ayat tentang Ramadan dan we are right now in the special month of Ramadan. Jadi ini sangat relatable dengan kondisi kita saat ini apalagi kita ramadan itu spesial. FYI, sepanjang yang saya tahu rangkaian ayat tentang Ramadan di seluruh Quran hanya ada di surat Al Baqarah, jadi ini semakin membuatnya spesial. Kedua, karena ayat memberikan kita optimisme bahwa sesungguhnya kita tuh selalu punya tempat untuk bersandar dan meminta. Jadi sama sekali tidak ada alasan untuk berputus asa. Dan yang ketiga adalah berkaitan dengan intro di awal tulisan ini yaitu agar kita tahu apakah kita ini sudah berada di jalan yang benar atau belum. Karena Allah Swt diakhir ayat ini menyebutkan kepada kita bahwa perintah untuk berdoa ini adalah ‘la’allakum yarsyuduun’ agar kita diarahkan ke jalan yang benar, dituntun kepada jalan yang lurus. Bukankah pada akhirnya seluruh perjuangan kita ini menjadi berarti jika kita berada pada jalur yang benar. Maka jangan pernah bosan meminta kepada Allah Swt agar kita selalu ditunjukkan kepada jalan yang benar.

Sedikit side notes juga bahwa perlu kita ingat bahwa doa itu adalah kekuatan yang paling luar biasa. Karena melalui do’a lah kita langsung terhubung dengan Allah Swt. Ibarat kita punya hajat dan langsung meminta ke owner-nya langsung. Tentu berbeda dengan meminta melalui perantara. Dan perlu diingat pula bahwa doa adalah salah satu warisan para Nabi. sehingga dengan sering kita berdoa pada dasarnya kita sedang melanjutkan meneruskan warisan yang ditinggalkan oleh para Nabi dan Rasul. Jadi seharusnya ketika kita semakin mendalami ayat ini, maka seharusnya akan membuat kita semakin rajin dan berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala karena itu bukan menunjukkan kesombongan malah justru semakin menunjukkan bahwa kita semakin butuh dengan Allah Swt.

Pada akhirnya, hidup kita ini penuh dengan keinginan. Pertanyaannya sekarang, kepada siapa kah keinginan atau permintaan itu kita arahkan. Apakah kita meminta kepada makhluk yang tentunya memiliki wisdom yang sangat terbatas, ataukah kita meminta kepada Rab-nya dari makhluk yang sudah pasti sebagai pemilik segala sumber kebijaksanaan, the owner of full wisdom. Semoga Allah meneguhkan hati kita untuk bergantung hanya kepada-Nya. Dan menunjuki kita jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Allah ridhai, bukan jalan orang-orang yang Allah murkai. 

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=AgGrL1_X7eg&t=25s

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s