[VoB2021] Di Mana Keadilan Allah?


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-304

Topik: Pearls from Ali Imran

Rabu, 21 April 2021

Materi VoB Hari ke-304 Pagi | Di Mana Keadilan Allah?

Oleh: Indri Djangko

#WednesdayAliImranWeek44Part1

Part 1

بسم الله الرحمن الرحيم

Kita masih membahas tentang QS. Ali-Imran:18, yang kali ini akan membahas hal menarik dari sisi gramatikal dengan membahas kata demi kata sehingga kita bisa memahami ayat ini dengan utuh.

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالۡمَلٰٓٮِٕكَةُ وَاُولُوا الۡعِلۡمِ قَآٮِٕمًا ۢ بِالۡقِسۡطِ

Kata qooiman disini bersifat tunggal, yaitu menunjuk kepada dhomir ‘huwa’. Jika kita lihat susunannya, ada beberapa subjek yang di’loncati’, yaitu malaikat dan ulul ilmi

Jika malaikat dan ulul ilmi ikut menjadi subjek yang dimaksud, maka seharusnya menjadi qooimiina.

Melalui kata qooiman bil qisth yang menunjuk kepada huwa saja, Allah mengungkapkan fakta bahwa tidak ada yang patut disembah kecuali Dia, Yang Selalu Bersama (Berpihak kepada) Keadilan. 

Artinya, setiap ibadah kita kepada Allah, setiap kita bersyahadat-setelah deklarasi Allah dalam ayat ini-kita tidak boleh berpikir bahwa Allah itu tidak adil. Allah selalu bersama keadilan, Allah selalu adil dan fair.

Hal ini mungkin akan sangat berat untuk kita tanamkan di dalam hati kita masing-masing, karena kita melihat begitu banyak ketidakadilan terjadi dimana-mana. Lalu di mana keadilan Allah?

Di mana keadilan Allah ketika orang berlalu lalang, datang dan pergi dalam kehidupan kita, yang mungkin menyisakan banyak ketidakadilan untuk diri kita. 

Di mana keadilan Allah ketika kita menjalani hari atau bahkan tahun-tahun yang buruk, sedangkan orang lain sepanjang tahunnya selalu berbahagia?

Atau di mana keadilan Allah ketika kejahatan genosida terjadi pada suatu kelompok masyarakat.

Yang lebih parah lagi, apa itu keadilan ketika Taurat diubah padahal sudah banyak pengikut yang menjalankan ajaran dalam Taurat. Apa salah mereka? Mengapa harus diubah dan membuat banyak orang menjadi tersesat.

Mungkin hal-hal ini yang kita pertanyakan dalam hati ketika menerima informasi bahwa Allah itu adil, tetapi kita masih menyaksikan bahkan mengalami ketidakadilan.

Lalu bagaimana kita menyikapi dan menangkap keadilan Allah?

Bayyinah TV – Surahs – Deeper Look – Ali Imran – 06. Ali Imran – Ayah 16-18 Ramadan 2018 (51:10-54:05)


Materi VoB Hari ke-304 Siang | Tidak Tahan dengan Ketidakadilan adalah Fitrah Manusia

Oleh: Indri Djangko

#WednesdayAliImranWeek44Part2

Part 2

بسم الله الرحمن الرحيم

Setelah berbagai fakta ketidakadilan dibeberkan di Part 1, mungkin pembaca, termasuk saya, mengamini dan bertanya-tanya “di mana keadilan Allah?” sekaligus juga merasa bersalah, “kok bisa ya berpikir begitu tentang keadilan Allah?”. 

Ustaz melanjutkan penjelasan bahwa awal QS Ali ‘Imran ayat 18 dimulai dengan kata syahida, bukan syahidanaa. Bahwa Allah yang bersaksi. Bukan selain Allah, bukan manusia. Karena kita manusia seringkali tidak mengakui keadilan Allah. 

Kita mungkin baru akan mengakui keadilan Allah jika keadilan itu langsung terjadi di hadapan kita. Dan Allah memang menganugerahkan kepada kita keinginan untuk tidak tahan dengan ketidakadilan.

Apakah Musa tahan dengan ketidakadilan yang disaksikannya ketika melakukan perjalanan bersama Khidr?

Nope. Walaupun dia sudah berjanji tidak akan berkomentar selama perjalanan, Musa tidak bisa mendiamkan ketidakadilan.

Tidak tahan dengan ketidakadilan adalah fitrah yang Allah letakkan di dalam diri setiap manusia. Dan ini adalah salah satu tanda keimanan. 

Sebagaimana hadis ‘Man ra’a minkum munkaron fal yughayyirhu biyadih, fa in lam yastathi’ fabilisaanih, fa in lam yastathi’ fabiqalbih, wa dzalika adh’aful iman’ (HR. Abu Daud No. 3777, Muslim No. 70, Nasa’i 4922)

Jika kamu melihat kemungkaran di sekitarmu, ubahlah dengan tanganmu, jika kamu tidak mampu maka dengan lisanmu, dan jika masih tidak mampu maka ubahlah dengan hatimu.

Maka fakta bahwa hati kita akan merasa tidak tahan dengan kemungkaran atau ketidakadilan adalah tanda bahwa kita beriman.

Alhamdulillah, sedikit lebih lega, ya, mengetahui bahwa ini adalah fitrah manusia.

Tetapi, ternyata di atas fitrah ini ada level iman yang lebih tinggi. Yaitu, ketika kita tetap percaya bahwa Allah Maha Adil, baik dalam keadaan kita menyaksikan keadilan itu ataupun tidak. 

Kita beriman kepada Allah yang mengelola apa pun yang tidak kita lihat. 

Karena kemampuan manusia-apalagi kemampuan penglihatannya-sangat terbatas jika dibandingkan dengan kuasa Allah. 

Saat kita menoleh ke kanan, kita tidak melihat apa yang sedang terjadi di sebelah kiri kita. Kita tidak melihat keadilan Allah yang sedang bekerja di sisi yang tidak kita lihat.

Maka sebagai orang yang beriman, kita ingin ada di level keimanan yang mana? Level keimanan standar fitrah atau yang lebih tinggi lagi? 

Pernyataan Allah di QS. Ali ‘Imran:18 ini akan menguatkan kita menghadapi fitnah-fitnah yang kita saksikan dalam bentuk ketidakadilan.

(Bersambung insyaa Allaah ba’da ‘Ashar)

Bayyinah TV – Surahs – Deeper Look – Ali Imran – 06. Ali Imran – Ayah 16-18 Ramadan 2018 (54:05-55:43)


Materi VoB Hari ke-304 Sore | Keadilan Allah Punya Cara Kerjanya Sendiri

Oleh: Indri Djangko

#WednesdayAliImranWeek44Part3

Part 3

بسم الله الرحمن الرحيم

Dalam perjalanannya, bahkan sejak masa Rasulullah, umat muslim menghadapi fitnah dalam bentuk ketidakadilan.

Sebagaimana yang akan kita simak di ayat-ayat setelah ini tentang Perang Badr, bagaimana Allah memenangkan Islam dalam perang itu, tapi kemudian membalikkan keadaan pada Perang Uhud. 

Pada Perang Uhud, orang kafir mendulang kemenangan, Nabi hampir terbunuh, dan banyak sekali sahabat yang terbunuh saat itu. 

Islam, mengalami kehilangan yang sangat tragis pada Perang Uhud. 

Mengapa hal itu dibiarkan terjadi? Bukankah Rasulullah adalah orang yang sangat membela dan selalu bersama keadilan?

Lalu di mana keadilan Allah pada saat itu? 

Dalam QS. Ali ‘Imran:18 inilah Allah menegaskan terlepas dari manusia bersaksi atau tidak bersaksi, Allah sendiri yang bersaksi bahwa Dia selalu bersama keadilan. 

Maka bagi orang-orang yang meyakini Al-Qur’an sebagai perkataan langsung dari Allah harus yakin pula dengan penegasan ini.

Semua pengorbanan orang beriman dengan kesabaran, kebenaran, ketaatan, infaq, istighfarnya, kadang harus menelan kenyataan pahit bahwa musuh mereka memenangkan pertempuran.

Sekilas terlihat seperti ketidakadilan. Tapi apakah “wilayah kekuasaan” Allah Yang Maha Adil hanya terbatas pada ruang dan waktu ketika orang-orang beriman sedang kalah?.

Ini adalah ujian keimanan. Ketika seseorang bersyahadat, maka saat itu pula ia harus bersaksi bahwa Allah selalu adil.

Pertolongan-Nya mungkin belum terlihat, atau sedang bekerja dengan cara yang lain.

Rencana Allah mungkin bukan sesuatu yang bisa kita lihat setiap saat, tapi kita tidak boleh sekalipun berpikir bahwa Allah tidak adil.

(Bersambung insyaa Allaah pekan depan)

Bayyinah TV – Surahs – Deeper Look – Ali Imran – 06. Ali Imran – Ayah 16-18 Ramadan 2018 (55:43-57:25)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s