Tidak Sekedar Teologi


Oleh: Vivin Ardiani

Luqman adalah seorang hamba Allah yg diberi hikmah. Menurut sebagian besar ulama ia bukan seorang nabi. Atas karunia Allah, Luqman memiliki hikmah dalam berbagai aspek kehidupan. Dari bermacam-macam aspek itu, Allah memilih menyoroti hikmah Luqman dalam menasihati anaknya untuk diabadikan di dalam Al-Qur’an.

Nasihat Luqman untuk anaknya ada pada ayat 13-19 surat Luqman. Di tengah-tengah nasihat itu ada ayat 14-15, Allah langsung berkomentar, Allah langsung berbicara pada kita. Seperti seorang guru yang memutar video untuk menjelaskan sesuatu pada murid-muridnya. Di tengah pemutaran video, video dihentikan sejenak dan guru memberikan penjelasan.

Pada ayat ke-13, Allah tidak sekedar menyebut Luqman memberi nasihat untuk anaknya. Ada kata yang menarik disini yaitu يَعِظُهُ . Sebuah pengajaran untuk kita bagaimana memberikan nasihat.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَـٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَـٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌۭ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS Luqman:13)

Pertama, membaca raut muka lawan bicara

Luqman mencari waktu yang tepat untuk memberi nasihat. Luqman membaca raut muka anak lelakinya. Apakah sekarang ia siap menerima nasihat? Bagaimana kondisinya sekarang, apakah masih banyak distraksi? Anak-anak remaja tentu memiliki banyak distraksi: video game, teman, makanan, dlsb. Memang bukan hal yang mudah untuk mendapatkan perhatian seorang anak. Seorang guru bahkan membutuhkan penggaris panjang yang bisa melayang sewaktu-waktu. Sedang hubungan orang tua dan anak cenderung kaku dan tertutup. Dialog antara anak dan orang tua sekedar dialog singkat. 

“Udah ngerjain PR belum?”

“Makan ayo makan.”

“Lama banget. Ayo sudah mau terlambat ni.”

Orang tua pun mulai beralih ke pertanyaan terbuka yang memungkinkan anak menjawab lebih banyak, “Bagaimana harimu?”. Sehari dua hari si anak masih menjawab dengan baik. Hari kesekian dengan pertanyaan begitu-begitu saja, jawabannya akan berubah menjadi satu kata: “baik”, “ok”, “ga papa”. Percakapan orang tua dan anak seperti sekedar basa-basi. Semacam: ayah masih banyak urusan ini, ayolah ga usah memperpanjang urusan biar kerjaan ayah cepat selesai.

Ada pula tipe orang tua yang menjelma menjadi seorang panglima. Semula si prajurit duduk santai merapikan tali sepatu. Begitu tahu ada panglima akan datang, ia bersegera mengubah posisinya menjadi siap dan tegak. Akhirnya real conversation sulit dicapai karena anak merasa diawasi. Dialog orang tua dan anak hanya sekedar percakapan administratif seperti tentang makanan, PR. Tak ada wujud real conversation tentang sesuatu yang anak rasa dan pikirkan. Atau pertanyaan terbuka yang bisa mengungkap perasaan anak, seperti: apa yang kamu suka dari saudaramu? Karena ketika anak mulai mengungkapkan perasaan itulah momen berharga. 

Kedua, mencari momen yang tepat.

Memori apa yang kita ingat tentang orang tua? 

Bisa jadi memori yang dihabiskan berdua. Orang tua dan anak tentunya punya kesibukan masing-masing. Orang tua yang memiliki beberapa anak kemudian menyempatkan waktu hanya berdua bersama salah seorang anak, akan menjadi memori yang sangat berkesan untuk anak. Orang tua perlu menyempatkan we time orang tua dan anak. Hanya berdua. Waktu eksklusif ini akan membentuk memori  dan melekat pada anak sehingga orang tua lebih mudah memasukkan nasihat. Anak tidak akan mengingat mainan yang dibelikan karena ia akan mendapatkan mainan itu setiap hari raya.

Kita sebagai orang tua tidak pernah tahu momen apa yang akan diingat anak hingga ia dewasa. Kita tidak pernah tahu momen mana yang signifikan diingat. Jadi sebagai orang tua kita harus mindful. Harus berhati-hati dan penuh kesadaran. Jangan sampai ketika kita sedang terluka, anak kena getahnya dan justru ini yang melekat pada anak. Jika demikian, akan sulit sekali untuk menghapus memori itu karena telah melekat pada otak. Kalau sudah melekat, akan sulit menghapus dari memorinya. Kita harus mencari cara untuk mengatasi atau menambah dengan pengalaman positif.

Sebelum Luqman memberi nasihat ke anaknya, ia mencari momen dimana ia bisa berdua bersama anaknya. Tidak ada orang lain melainkan hanya Luqman dan seorang anak lelakinya. Jadi Luqman melihat momen apakah anaknya sudah siap. Alih-alih menyelidiki anak, anak kalau sudah siap mereka akan menjawab dengan kalimat utuh, mereka sendiri yang akan bercerita. Luqman bisa menangkap momen ini. Dan ketika ia tahu anaknya sudah siap, Luqman memasukkan nasihat.

Ketiga, cara yang tepat

Kalimat pertama nasihat Luqman: ungkapan cinta.

Ada kalanya anak terlihat resah, gelisah, sedih, cemas. Di saat itu, yang ia butuhkan tentu bukan nasihat untuk berubah, nasihat untuk berbuat baik. Yang ia butuhkan adalah perasaan diterima dan dicintai. Luqman memanggil anaknya ya bunayya, my little son, seakan anaknya baru berusia tiga tahun padahal sudah bukan lagi seorang balita. Luqman mengajarkan kita untuk membuat anak merasa dicintai. Sebagaimana anak kecil yang akan bergegas memeluk ayahnya ketika mendengar petir. “You’re safe with me, dear.”

Nasihat pertama Luqman bukan tentang pesan untuk menjadi anak yang baik, patuh pada orang tua, dan sejenisnya. Nasihat pertama Luqman adalah tentang otoritas Allah. Seringkali anak merasa orang tua memaksakan otoritas sebagai orang tua pada anak. Luqman tidak mengambil kesempatan untuk menjelaskan otoritas orang tua pada anaknya. Ia menjelaskan tentang otoritas Allah melalui makna yang sangat dalam pada kalimatnya. Luqman mengingatkan anaknya, 

“Suatu hari nanti, nak, ayah pun mati. Allah yang abadi. Tidak ada yang mencintaimu sebagaimana Allah mencintai. Tidak ada yang melindungimu sebagaimana Allah menjagamu. Tidak ada yang mengawasimu sebagaimana Allah Sang Maha Melihat. Tidak ada yang merekammu dengan jeli sebagaimana CCTV Allah.

Engkau tidak bisa menempatkan otoritas Allah pada manusia, nak. Engkau tidak bisa mengharap cintanya manusia sebagaimana Allah mencintaimu. Engkau tidak bisa takut pada manusia, dan rasa takutmu itu melebihi rasa takut diawasi Allah.”

Nasihat Luqman tidak sekedar teologi. Ia paham bahwa yang membahayakan anaknya mungkin bukan lagi soal berhala, tetapi bisa berwujud emosinya, hormonnya, keinginannya, ataupun hal-hal yang ia suka. 

Ketika hampir seluruh obrolan anak tentang marvel, avenger, anime, olahraga, sepatu, motor, bukankah hal itu hampir menyerupai orang yang menyembah berhala? Orang-orang yang menyembah berhala akan  bermeditasi di depan berhala lalu fokus memikirkan patung-patung di depannya. Berpikir terus-menerus hingga objek itu menjadi sepenuhnya yang ia bicarakan, yang ia pikirkan. Sama halnya dengan anak yang akhirnya apa yang ia suka itu akan turn into a God karena menginvasi hati dan pikirannya. Tentu boleh-boleh saja menyukai hal itu, tetapi tempatkan layaknya rak sepatu yang memiliki beberapa tingkatan. Bagian terendahnya untuk hal-hal tersebut. Bagian tertinggi di hati hanya untuk Allah.

“Nak, engkau datang ke dunia ini bukan untuk bermain games, bukan untuk mencari perhatian orang, bukan untuk sekedar terlihat baik di hadapan manusia, tetapi untuk mengenal siapa Tuhanmu. Engkau punya tujuan hidup, nak. Ketika memenuhi tujuan hidup itu, kita akan bisa menikmati banyak hal di dunia meski hanya sebagai seorang hamba (budak).”

 ظُلْمٌdzulm : misplace

Kata ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak tepat ditempatkan pada tempatnya. Misalnya menempatkan sepatu di rak buku. Atau mengganti oli dengan susu. Susu itu baik, tetapi kalau oli diganti susu untuk mobil tentu membuat masalah baru. Luqman berkata  إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌۭ, syirk adalah sebuah dzulm yang besar.

“Hati itu, nak, seharusnya cuma ada Allah. Jangan sampai justru engkau menempatkan sesuatu selain Allah. Kalau iya, maka semuanya akan acakadut. Berantakan. Kau akan kehilangan tujuan. Seseorang yang kabur tujuan hidupnya bagaikan seseorang yang kehilangan cahaya. Lalu bagaimana menjalani hidup jika cahaya itu tiada? Kau tak akan punya arah yang kentara untuk menjalani hidupmu. Ayah tidak tahu berapa lama Allah masih memberikan kesempatan hidup untuk ayah. Ayah mungkin tidak akan sempat memberikanmu nasihat ini untuk kali kedua. Engkau harus mampu untuk memilih pilihanmu sendiri. Setiap kali kau dihadapkan pada pilihan demi pilihan, nak, tanyakan pada dirimu sendiri, dimana engkau tempatkan Allah pada pilihanmu itu? Apakah aspek yang engkau pertimbangkan itu alasan tertingginya adalah karena Allah?”

Luqman mengajarkan kita untuk mendidik anak untuk berdiri atas dirinya sendiri. Untuk bertanggungjawab atas diri sendiri. Nasihat pertama Luqman bukan tentang sholat, untuk menjauhi yang haram, untuk memakan yang halal dan thayyib, dlsb seperti orang tua yang punya ribuan nasihat jika dihadapkan pada anaknya. Luqman mengingatkan anaknya tentang tempat tertinggi Allah di hati orang beriman. Maka jika tempat ini sudah tidak tergantikan, akan lebih mudah bagi anaknya untuk menerima dan menjalankan perintah Allah yang lain. Semuanya akan lebih mudah untuk ditaati karena Allah berada pada right place. 

Right time, right moment, right way

Luqman, sebagaimana disebut pada ayat ke-12, adalah seorang hamba yang dikaruniakan hikmah untuk bersyukur. Dengan hikmah yang ia punya untuk bersyukur, ia mengambil kesempatan dengan memberikan nasihat yang bijak untuk anaknya. Maka jika kita mengikuti teladan Luqman bagaimana ia menasihati anaknya, kita termasuk orang-orang yang bersyukur pada Allah. Sebaliknya, jika kita tidak memberikan pengajaran dengan cara yang baik, waktu tidak tepat, kita sudah merusak hikmah kata ya bunayya. Kita kehilangan hikmah pengajaran al Qur’an.

Semoga Allah membimbing kita menjadi orang tua yang bijak dalam mendidik anak-anak kita. Semoga Allah melembutkan hati anak-anak kita sehingga mereka memiliki tujuan hidup yang benderang dan bermakna, menuju Allah. 

Referensi:

One thought on “Tidak Sekedar Teologi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s