[VoB2021] Siapa Fokus Utamamu?


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-307

Topik: Parenting

Sabtu, 24 April 2021

Materi VoB Hari ke-307 Pagi | Siapa Fokus Utamamu?

Oleh: Wina Wellyanna

#SaturdayParentingWeek44Part1

Part 1

———————————————–

بسم الله الرحمن الرحيم

Kakak-kakak nabi Yusuf mengangkat isu ketidakadilan ayah mereka, yang dianggap lebih mencintai Yusuf dan adiknya.

Bahasa yang digunakan kakak-kakak Yusuf cukup menarik,  

(Yaitu) ketika mereka berkata: *”Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai* oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat).”

Biasanya seorang anak akan fokus kepada siapa yang menjadi tujuan utama mereka: 

“Ayah lebih sayang adik!” 

Lihat, tujuan utamanya menginginkan perhatian ayahnya, dalam kasus kakak-kakak Yusuf, mereka justru menempatkan isu utamanya adalah Yusuf dan Bunyamin, perhatian mereka terfokus kepada kedua adiknya tersebut.

🎯🎯

Dalam grammar bahasa Arab, urutan ini disebut jumla ismiyyah dan ini bukan hal yang normal diucapkan.

Hal ini mengungkapkan hal lain, perasaan “tidak biasa” terhadap kedua nama tersebut.

👥👥👥

Semua perbuatan dan perasaan buruk kakak-kakaknya Yusuf, jangan kira mereka tidak sadar kalau yang mereka lakukan dan rasakan itu salah, mereka sangat sangat menyadarinya, tapi menurut mereka ini terjadi karena Yusuf.

Isu utama mereka bukan ayah mereka, tapi Yusuf, dan Allah mengungkap tabir ini.

Ingat kisah Habil dan Qabil? Mereka berdua mengurbankan ternak mereka, dan ketika Allah menerima pengorbanan salah satu dari mereka, yang kurbannya tidak diterima beralih kepada yang lain dan berkata “aku akan membunuhmu”.

Kalau memang tujuan utamanya mendapatkan perhatian Allah, bukankah lebih baik mencari ternak lain dan memperbaiki niat alih-alih membunuh yang kurbannya telah diterima? 

Apa yang kira-kira ada di benaknya? 

Karena ia merasa dirinya jadi terlihat buruk karena saudaranya.

Dalam ilmu psikologi hal ini seperti membuat skenario buruk karena cemburu, biasanya dilakukan ketika ia tidak melakukan sesuatu dengan benar kemudian melimpahkan kesalahan itu kepada seseorang yang telah melakukan sesuatu dengan benar.

Seorang murid yang mendapatkan nilai buruk kemudian membenci yang nilainya bagus.

Setiap si anak pintar ini mengangkat tangannya untuk menjawab pertanyaan dari guru, dia akan terbakar rasa cemburu.

Kenapa? 

Karena ia jadi terlihat bodoh di hadapan gurunya.

Contoh lain, ketika kita bertanya kepada anak-anak kita 

“Siapa yang sudah mengerjakan PR?”

Yang belum mengerjakan PR-nya pasti akan terdiam.

Yang sudah mengerjakan dengan bangganya akan menyahut

“Aku sudah mengerjakan PR-ku”

Saudaranya yang belum mengerjakan PR pasti akan memandangnya kesal.

😒😒😒

 In syaa Allah dilanjutkan ba’da Zhuhur.

Sumber: 

– Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 20. Comparing Children Part 1 (09:35-12:25)


Materi VoB Hari ke-307 Siang | Law and Guidance

Oleh: Wina Wellyanna

#SaturdayParentingWeek44Part2

Part 2

———————————————–

بسم الله الرحمن الرحيم

Pertama ia akan menyalahkan objek yang menjadi sumber kebenciannya, kemudian merembet ke orang-orang di sekitar, bisa orang tua, guru atau atasan.

Seperti kakak-kakak Yusuf menyalahkan ayah mereka.

Diawali kebencian terhadap Yusuf, kemudian ayah mereka disangkutpautkan.

Inna abānā lafī ḍalālim mubīn

Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.

Lagi-lagi hal yang menarik, mereka tidak mengatakan ayah mereka salah atau buruk, tapi sedang bingung (dalam kekeliruan yang nyata).

Mereka menganggap ayah mereka tidak akan bisa melihat kelebihan-kelebihan mereka yang melampaui Yusuf.

Apalagi selama ayah mereka masih terpesona dengan Yusuf, masih sangat menyayangi Yusuf.

Asumsi mereka, keadaan akan berbalik apabila Yusuf tidak ada lagi di sisi ayahnya.

Hal ini melatarbelakangi kenekatan untuk membunuh Yusuf.

Kecemburuan mengarahkan mereka pada titik ekstrem ini.

Al-Qur’an tidak pernah berbagi kisah yang biasa-biasa saja, di dalamnya pasti bercerita kisah yang banyak hikmahnya, entah itu baik atau buruk.

Mengapa Allah membagikan kisah-kisah yang buruk juga? 

Karena ujian apa pun yang akan kita alami tidak akan pernah melebihi ujian-ujian dari nabi atau orang bertakwa yang disebut dalam Al-Qur’an.

Alhamdulillah meski mungkin anak-anak kita sering berkelahi, tapi mereka tidak akan mungkin mengadakan pertemuan rahasia yang membahas untuk membuang saudaranya.  

Jadi, mengapa Al-Qur’an bercerita tentang kisah ini? 

Allah ingin kita memahami falsafah laws and guidance (hukum dan petunjuk) dalam masyarakat.  

Hukum tidak akan dikenakan kepada orang-orang yang bertindak patuh pada aturan, melainkan hanya kepada pelaku kejahatan.

Apakah pelaku kejahatan jumlahnya mayoritas atau minoritas dalam masyarakat?  Alhamdulillah minoritas ’kan.

Hukuman karena membunuh, hukuman karena mencuri, dan hukuman jenis lain dibuat untuk pelaku kejahatan yang mana jumlah mereka minoritas dalam masyarakat.

Selama seseorang tidak melakukan tindak kejahatan, ia akan aman.

Fungsi guidance atau petunjuk juga seperti itu.

Allah memberi contoh perbuatan yang buruk atau jahat yang menimpa seseorang tujuannya agar kita tidak merasa ujian kita sudah paling buruk sedunia, merasa kita memiliki nasib paling malang.  

Ujian yang menimpa kita, tidak akan seburuk ujian orang-orang sebelum kita.

Nabi Muhammad ﷺ mengalami ujian yang tidak pernah dialami manusia manapun di dunia dari semenjak manusia pertama sampai terakhir.

Jadi, enggak ada alasan untuk manusia merasa ujiannya maha hebat.

Dan kembali kepada kecemburuan dan membanding-bandingkan.  

Dalam hal ini yang membanding-bandingkan adalah si anak, hikmah yang bisa kita ambil, sebagai orang tua apa yang harus kita lakukan untuk menghilangkan kecemburuan ini?

In syaa Allah berlanjut ba’da Ashar.

Sumber: 

– Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 20. Comparing Children Part 1 (12:25-15:00)


Materi VoB Hari ke-307 Sore | Setara Belum Tentu Adil

Oleh: Wina Wellyanna

#SaturdayParentingWeek44Part3

Part 3

———————————————–

بسم الله الرحمن الرحيم

Ingat siapa yang membisikkan waswasa terhadap kakak-kakak Yusuf? Setan pembisiknya.

“Ayah kalian pilih kasih terhadap Yusuf”

“Ayah kalian terlihat lebih menyayangi Yusuf”

Dan setan memang berhasil, bisikannya berbuah tindakan.

Mungkin kita pernah saking marahnya terhadap anak kita yang tanpa sadar berteriak kepada mereka.  Atau hanya sekedar bertanya, “Apa yang terjadi?”. 

Enggak ada angin enggak ada hujan mereka menjawab, “Ayah enggak sayang padaku”.

Loh? Darimana datangnya perkataan itu coba? 👀👀👀

Mungkin anak-anak sedang menginternalisasi perbuatan kita, tapi tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya.

Mungkin anak-anak belum bisa mempercayai kita untuk menyampaikan apa yang ada di benak mereka.

Hasilnya, anak-anak cenderung menjauhi kita tanpa sadar.

Dengan teenage atau remaja abege mereka menjauh dari kita karena sengaja, jadi kita yang harus mendekati, sedangkan anak yang lebih kecil kecenderungannya mendekat kepada orang tua hanya saja terkadang kita sebagai orang tua tanpa sengaja menutup pintu yang berakibat menjauhnya mereka dari kita.

Yang harus diingat sebelum anak kita memasuki usia remaja, daripada kita yang mengejar-ngejar mereka agar mereka terbuka, lebih baik saat masih pre-teen kita yang membuka diri dan menawarkan waktu sehingga mereka mendapat kesan bahwa kita orang tua yang terbuka untuk mereka.

Para remaja ini seperti burung yang telah memiliki sayap, mereka akan terbang menjauh dari kita, tidak apa-apa sih, jika mereka terbang dan selalu kembali kepada kita, yang jadi masalah jika terbangnya makin menjauh dan tidak kembali pulang.

Oleh karena itu, masa-masa Pre-Teen merupakan momen yang pas untuk menyiapkan mereka sebelum terlambat dan kita kehilangan mereka. 

🌖🌘

Tidak mungkin menyayangi dua orang sama besarnya.  Manusia tidak memiliki kemampuan itu.  

Jika ada orang tua mengatakan, “Saya menyayangi anak lelaki dan anak perempuan saya sama besarnya.” dalam hatinya ia tahu pasti hal itu tidak benar.

Kemudian bagaimana dong?  Bukankah kita sebagai orang tua harus setara? 

Al-Qur’an tidak pernah meminta kesetaraan, Al-Qur’an mengajak kita untuk adil. 

Berbeda ya, antara setara dan adil.

Memberikan kesetaraan terhadap dua hal, kadang bisa adil, bisa juga tidak.

Misal, seorang karyawan telah bekerja ekstra keras dan sampai lembur, sementara ada karyawan lain bekerja santai, ketika akan membagikan bonus, keduanya mendapat setara, apakah ini adil?

Setara jelas, tapi tidak adil, karena setara dan adil adalah dua hal yang berbeda.

Dan hanya karena dua orang diberikan kesetaraan bukan berarti mereka telah mendapat keadilan. 

📏 🧮

Berbicara tentang adil di dalam rumah bukan berarti semuanya harus setara, paradigma ini harus kita hilangkan.

Qist, ‘Adl adalah keadilan dalam bahasa Arab.

Insaf berasal dari kata nisf yang artinya kesetaraan, membagi-bagi dengan sama besar.

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an mengenai keadilan ditandai dengan qist atau ‘adl, seperti:

”Wa aqsitu” bertindak adillah, dan bukannya ”wa aqsifu” dari nisf. 

I’dilụ, huwa aqrabu lit-taqwā

.Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.

Kedua kata ini berbicara mengenai keadilan entah itu setara atau tidak setara.

Kemudian berbicara mengenai hukum waris, anak lelaki mendapat warisan 2 kali lebih banyak daripada anak perempuan yang hanya ½-nya anak lelaki, apakah ini setara?  Tidak, tetapi ini adil, terlebih adil yang datangnya dari ketetapan Allah.

Tidak setara, tetapi inilah keadilan. 

⚪🔺🟥

Kemudian bagaimana bisa kita memberikan kasih sayang yang sama besarnya kepada anak-anak kita?  Tidak mungkin bisa sama besar, tanya saja hati kita.

Tetapi kita wajib berlaku adil terhadap anak-anak kita.

Dan menjadi tanggung jawab kita untuk menghilangkan kesetaraan dari pola pikir anak-anak kita. 

“Ibu menghabiskan waktu dengan adik 20 menit, dengan aku hanya 10 menit”

“Ayah memberi 2 batang Kit Kat buat Kakak, tapi aku hanya satu batang”

Kritik yang biasa dilempar anak-anak terhadap kita, padahal tentu kita memiliki alasan sendiri.

Penting untuk menjelaskan kepada anak-anak tidak setara bukan berarti kita tidak adil.

Contoh lain, si adik yang jadwal tidurnya jam 9 malam, mengeluh kita tidak adil karena kakaknya dibolehkan tidur jam 10 malam.

Tentu penjelasannya adalah si adik masih dalam tahap perkembangan sehingga membutuhkan tidur lebih lama.

Jadi dua konsep ini, mengenai setara dan adil harus kita tanamkan dalam pemahaman mereka.

🌿 ☘️ 🍀

Minggu depan kita akan bahas mengenai cinta.

Sumber: 

– Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 20. Comparing Children Part 1 (15:00-19:54)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s