[VoB2021] Menyalakan Api untuk Bertahan Hidup


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-303

Topik: Pearls from Al Baqarah

Selasa, 20 April 2021

Materi VoB Hari ke-303 Pagi | Menyalakan Api untuk Bertahan Hidup

Oleh: Rendy Noor Chandra

#TuesdayAlBaqarahWeek44Part1

Part 1

————————————–

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Pekan lalu kita membahas tentang perumpamaan orang munafik dalam surah Ali ‘Imran ayat 17.

Kita harus terus mencari puzzle lainnya tentang orang munafik agar kita paham gambaran seutuhnya tentang golongan ini. Jadi, kita hanya akan mendapat sedikit cuplikan tentang orang munafik, yaitu pada potongan ayat:  

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا

Dalam bahasa Arab, kata مَثَلُ , atau terjemahnya adalah perumpamaan, adalah sesuatu yang dapat dianggap sebagai sesuatu yang paralel, dekat maknanya dan digunakan untuk menggambarkan kejadian lainnya agar kita bisa mengambil hikmah dari kejadian tersebut.

Bangsa Arab zaman dulu tidak menggunakan kata مَثَلُ untuk sembarang contoh. Mereka menggunakan kata مَثَلُ untuk situasi-situasi yang tidak biasanya. Ketika mereka mendengar kata مَثَلُ, yang terbayang bagi mereka adalah kejadian yang sangat aneh yang akan dibuat perumpamaan. Jika hanya hal-hal biasa, orang Arab zaman dulu menggunakan kata ‘ka’ atau كَ. Selesai.

Tapi jika hal luar biasa yang dibuat perumpamaan, mereka menggunakan kata مَثَلُ. 

Nah, sekarang kita masuk ke “gambar” yang Allah sebutkan dalam ayat ini.

Kita harus menggunakan imajinasi kita dari kata-kata yang Ustaz Nouman sampaikan. Silakan berimajinasi masing-masing.

الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang berusaha menyalakan api.

Bayangkan seorang laki-laki di tengah-tengah gurun yang gelap. Dia sedang berkelana dan tersesat. Dia sedang berusaha mencari jalan. Tidak bisa menemukan harus ke arah mana. Kemudian dia menemukan satu tempat untuk menyalakan api dengan batu atau kayu kering.

Bayangkan di tengah gurun yang gelap ada seorang laki berusaha menyalakan api, tapi ia belum berhasil menyalakannya. Makna dari اسْتَوْقَدَ نَارًا adalah ia berusaha menyalakan api, namun putus asa karena apinya tak kunjung muncul. 

Gurun tersebut mulai membeku, udaranya sangat dingin, ancaman hipotermia di depan mata. Ia bisa mendengar lolongan suara hewan sahut-menyahut. Keadaannya berbahaya sekali. Di sana tidak ada kehidupan sama sekali, tidak ada permukiman atau rumah warga yang bisa ditumpangi. Satu-satunya cara bertahan hidup dari ancaman tersebut adalah dengan menyalakan api. 

Setidaknya dengan menyalakan api itu, ia bisa melihat bahaya di sekitarnya atau membuat takut hewan-hewan yang ingin memangsanya karena hewan takut pada api. Mereka akan pergi jika melihat api. Api tersebut juga bisa menghangatkan tubuhnya karena udaranya dingin sekali. 

Seketika Allah menjelaskan dalam ayat tersebut yang berbunyi:

فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ

Ketika api itu kemudian menyala dengan sempurna. Bertambah besar sampai akhirnya besar sekali.

Ia berhasil membuat api yang sangat besar. Kelihatannya berhasil. Api itu menerangi laki-laki tersebut dan semua yang ada disekelilingnya.

Kata أَضَاءَتْ berasal dari kata Dhowu yang merupakan salah satu dari dua kata yang bermakna cahaya. Tapi ada perbedaan antara Dhowu dan Nur. 

Dhowu itu cahaya yang mengandung panas, sedangkan Nur tidak mengandung panas.

Dengan kata lain, ketika fajar sebelum matahari terbit, yang kita lihat di langit bukan Dhowu, tapi Nur. Kenapa? Karena yang kita lihat adalah pantulan cahaya matahari bukan langsung dari matahari. Ketika cahaya langsung mengarah ke kita dan mengandung panas itulah yang disebut Dhowu.

Di dalam surah Yunus ayat 5 disebutkan,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا

Dialah yang menjadikan matahari bersinar (Dhiya) dan bulan bercahaya (Nur). Karena bulan memantulkan cahaya, kata yang Allah gunakan adalah Nur.  

Lalu apa yang terjadi pada laki-laki tadi?

Sumber: 

– Bayyinah TV – Quran – Surahs – Deeper Look – Al-Baqarah – 02. Al-Baqarah (Ayah 17-20) (13:13-17:03)


Materi VoB Hari ke-303 Siang | Hilangkan Cahaya Mereka

Oleh: Rendy Noor Chandra

#TuesdayAlBaqarahWeek44Part2

Part 2

————————————–

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kita masih melanjutkan perumpamaan orang yang menyalakan api di tengah gurun di malam yang pekat.

Ketika apinya mulai membesar, ia menerangi apa pun yang ada di sekitarnya di tengah gurun tersebut. Seseorang tentu tidak akan menyalakan api di siang hari, bukan? Semua sudah terpanggang kalau siang hari di tengah gurun. 

Gambaran di ayat ini adalah ketika malam hari.

Kemudian, Allah dengan cepat mengganti keadaan tersebut seperti disebutkan di bagian ayat selanjutnya,

ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ

Allah hilangkan cahaya mereka,

Terdengar aneh, bukan? Bahkan dalam terjemah bahasa Indonesia pun ketika kita membacanya akan terasa aneh. 

Perumpamaan mereka, yaitu orang munafik, seperti seseorang yang mencoba untuk menyalakan api. Ketika apinya sudah mulai membesar dan menghangatkan sekitarnya, Allah menghilangkan cahaya mereka. 

Tapi, tunggu dulu, kok jadi “mereka”? Bukannya tadi di awal hanya menyebutkan 1 orang?

Tapi, sebenarnya Allah ingin menarik mundur (zoom out) kamera. Allah ingin memperlihatkan bahwa tidak hanya 1 orang yang menyalakan api, tapi kenyataannya di dalam gelap ada banyak orang yang mencoba menyalakan api. 

Orang-orang ini  sama-sama tersesat dan sedang mencari jalan. Satu-satunya cara menemukan jalan di tengah gurun pada malam hari adalah menemukan orang yang menyalakan api. 

Sekelompok orang itu yang juga tersesat, Allah mengambil cahaya (nur) mereka.

ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ

Tapi tunggu, apakah ada yang aneh?

Sumber: 

– Bayyinah TV – Quran – Surahs – Deeper Look – Al-Baqarah – 02. Al-Baqarah (Ayah 17-20) (17:03-18:21)


Materi VoB Hari ke-303 Sore | Pantulan pun Tidak

Oleh: Rendy Noor Chandra

#TuesdayAlBaqarahWeek44Part3

Part 3

————————————–

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Sekarang apa maksudnya Allah mengambil cahaya mereka?

Perhatikan Allah tidak menggunakan kata ضوء . Allah mengambil cahaya (nur) mereka artinya mereka sangat jauh dari sumber cahaya, mereka bahkan tidak bisa melihat cahaya itu langsung, atau mereka tidak bisa melihat pantulan cahaya tersebut. 

Biasanya kalau ada pertandingan sepak bola atau konser di sebuah stadion, dari tempat yang jauh mungkin kita bisa melihat langit di atas stadion yang cukup terang.

Ketika Allah mengambil cahaya (nur) artinya kita bahkan tidak bisa melihat pantulan cahaya seperti kasus stadion yang benderang pada malam hari tadi. Allah mengambil kemampuan orang-orang munafik untuk melihat cahaya mereka. Sebenarnya masih ada pertanyaan yang belum terjawab disini, tapi Ustaz Nouman ingin memberikan gambaran umum terlebih dahulu.

Allah sudah menetapkan bahwa orang-orang yang tersesat di gurun tersebut (orang munafik di zaman Rasulullah ﷺ), tidak akan mendapat dari manfaat dari Rasulullah yang berusaha menyalakan api. 

Api tersebut semakin besar dan membuat hangat apa pun di sekitarnya. Api yang dimaksud disini adalah agama Islam. Orang-orang munafik tersebut sebenarnya butuh “api” tersebut untuk menghangat diri. Allah sudah memutuskan bahwa Allah akan mengambil cahaya tersebut dari mereka. 

ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ

Mereka bahkan tidak mampu sedikitpun melihat pantulan cahaya dari api tersebut. Mereka tidak bisa mengikuti kemana pemilik api tersebut pergi. 

Kemudian akan muncul pertanyaan, mengapa Allah melakukan yang seperti itu kepada orang-orang ini?

Dzahaba sebenarnya bisa digantikan dengan adzhaba. Untuk yang sudah mempelajari bahasa Arab mungkin paham. Arti dari keduanya hampir sama. Tapi sebenarnya ada bedanya, apa bedanya?

Intinya, yang ingin Allah sampaikan adalah Allah sendiri yang mengambil cahaya tersebut dari mereka untuk selama-lamanya. Berbeda dengan adzhaba, jika diambil maka suatu saat akan kembali lagi. Allah mengambil cahaya tersebut, seperti Allah yang mengambil cahaya matahari saat siang hari pada saat malam hari tiba. Tapi cahaya tersebut akan kembali lagi keesokan paginya.  

Tetapi ketika Allah mengatakan ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ maka cahaya tersebut tidak akan pernah kembali. Mereka tidak akan pernah bisa mendekati cahaya itu lagi selamanya. 

Insya Allah bersambung pekan depan.

Sumber: 

– Bayyinah TV – Quran – Surahs – Deeper Look – Al-Baqarah – 02. Al-Baqarah (Ayah 17-20) (18:21-20:23)


Penutup

Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s