[VoB2021] Kecemburuan Anak-Anak


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-300

Topik: Parenting

Sabtu, 17 April 2021

Materi VoB Hari ke-300 Pagi | Kecemburuan Anak-Anak

🧔👩💗👶 💔 🙍‍♂🙍‍♀️

Kecemburuan Anak-Anak

Oleh: Rizka Nurbaiti

#SaturdayParentingWeek43Part1

Part 1

———————————————–

بسم الله الرحمن الرحيم

Pekan ini kita akan mulai membahas bab baru yaitu “Comparing Children”, atau dalam bahasa berarti membandingkan anak-anak.

Salah satu kesalahan paling umum yang kita buat sebagai orang tua kepada anak-anak kita adalah membandingkan mereka, baik secara langsung atau tidak langsung. 

🧓: “Mengapa kamu tidak bisa lebih pintar, sih? seperti kakakmu?

👩‍🦳: “Kakak kamu waktu seumuran kamu tidak pernah melakukan ini, tapi kenapa kamu sekarang melakukannya?

🧓: “Ade kamu enggak pernah marah-marah, tidak seperti kamu apa-apa marah”

👩‍🦳: “Si ade tidak memukul kamu, kan? Terus mengapa kamu pukul dia?”

“Membandingkan anak-anak” adalah contoh pengasuhan yang tidak tepat. Seperti yang kita ketahui, anak-anak juga bisa melakukan perbandingan ini. 

Terkadang anak-anak merasa bahwa orang tuanya lebih menyukai saudaranya yang lain. Seperti si kakak merasa ibunya lebih sayang kepada adiknya, sedangkan si adik merasa ibunya lebih sayang kepada si kakak. 

Contohnya adalah kisah anak-anak Nabi Yakub alaihissalam, kisah ini terdapat di dalam QS Yusuf, 12:8 

إِذْ قَالُوا۟ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰٓ أَبِينَا مِنَّا 

(Yaitu) ketika mereka (saudara-saudara nabi Yusuf) berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri…..

Kakak nabi Yusuf merasa bahwa ayah mereka lebih menyayangi adiknya yaitu Nabi Yusuf alaihissalam  dan Bunyamin daripada mereka. Jadi, anak-anak bisa berpikir demikian, dan jika hal itu terjadi kita sebagai orang tua mereka harus lebih memperhatikan mereka.

Pada bab ini ustaz memulai pembahasannya dengan perbandingan tersebut. Perbandingan yang berasal dari anak-anak kita.

Anak-anak melakukan perbandingan ini belum tentu disebabkan karena orang tua mereka. Belum tentu karena kita yang menanamkan pemikiran tersebut.

Perbandingan ini bisa saja hanya datang dari diri mereka sendiri dan itulah yang terjadi dalam kisah Nabi Yakub alaihissalam

Seperti yang Ustaz sering jelaskan bahwa Nabi Yakub alaihissalam adalah salah satu teladan terbaik orang tua dalam Islam, di mana namanya sering disebutkan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tentang parenting

Salah satu pelajaran terbesar yang dapat kita ambil dari kisah Nabi Yakub alaihissalam adalah tentang pengasuhan anak. Seperti yang terdapat pada surat Yusuf dan beberapa ayat pada surat Al-Baqarah. 

Setiap kali Nabi Yakub alaihissalam disebutkan di dalam Al-Qur’an, maka materi “pengasuhan” muncul. Jadi Nabi Yakub alaihissalam adalah tokoh kunci dalam “parenting” dan sekaligus seorang “nabi” ‘alaihi sholatu wassalam

Fakta tersebut menunjukkan bahwa beliau alaihissalam adalah ayah yang baik dan bukan ayah yang tidak adil kepada anak-anaknya. 

Dia alaihissalam tidak membandingkan dan pilih kasih kepada anak-anaknya. Namun, Anak-anaknya lah yaitu kakak-kakak Nabi Yusuf yang menganggap beliau pilih kasih, mereka membanding-bandingkan kasih sayang yang mereka dapatkan dengan yang didapatkan oleh Nabi Yusuf alaihissalam dan adiknya (Bunyamin).

Jadi, hal pertama yang harus kita pahami di sini adalah tidak peduli seberapa baik kita sebagai orang tua, anak-anak masih mungkin merasakan seperti itu. Mereka tetap mungkin membanding-bandingkan cinta yang mereka dapatkan dengan yang didapatkan saudaranya.💔

Bahkan ini terjadi bukan hanya pada anak kita yang masih kecil, melainkan juga terjadi pada anak kita yang sudah dewasa. Seperti apa yang terjadi pada kakak-kakak Nabi Yusuf. 

Mengapa mereka bisa berpikiran seperti itu?

Bersambung insya Allah ba’da zhuhur. 

Sumber: 

– Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 20. Comparing Children Part 1 (00:00-02:45)


Materi VoB Hari ke-300 Siang | Cinta Tidak Dapat Dilihat, Sedangkan Bukti Cinta Secara Nyata Terlihat 

💗👨‍👩‍👧‍👧💗 

Cinta Tidak Dapat Dilihat, Sedangkan Bukti Cinta Secara Nyata Terlihat 

Oleh: Rizka Nurbaiti 

#SaturdayParentingWeek43Part2 

Part 2

———————————————–

بسم الله الرحمن الرحيم

Kakak-kakak Nabi Yusuf berpikiran bahwa ayahnya lebih menyayangi Nabi Yusuf alaihissalam dan adiknya (Bunyamin) daripada mereka.  

إِذْ قَالُوا۟ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰٓ أَبِينَا مِنَّا  

(Yaitu) ketika mereka (saudara-saudara nabi Yusuf) berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri. (QS Yusuf, 12:8) 

Pemikiran itu jelas tidak benar. 

Jika kakak-kakak Nabi Yusuf bisa berpikiran secara logis, mereka akan memahami bahwa adik-adik mereka lebih diperhatikan karena mereka masih kecil. 

Anak kecil membutuhkan lebih banyak waktu karena mereka belum bisa mandiri. Mereka lebih memerlukan pengasuhan, lebih perlu untuk dididik (tarbiyah), perlu untuk diberi makanan, disiapkan pakaiannya dan lain sebagainya.  

Jadi, mereka lebih bergantung kepada orang tuanya dibandingkan anak-anak yang sudah dewasa karena mereka belum dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Kemudian, seiring bertambahnya usia mereka, maka kita tidak perlu mengawasi mereka 24/7, karena semakin dewasa mereka akan semakin mandiri.  

Bahkan anak-anak remaja akan banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, mereka tidak banyak menghabiskan waktu dengan orang tuanya di rumah. 

Kembali ke kisah Nabi Yusuf alaihissalam, berdasarkan penjelasan di atas maka seharusnya kakak-kakak Nabi Yusuf dapat mengerti hal tersebut. Mereka seharusnya tahu bahwa Nabi Yusuf alaihissalam  dan Bunyamin mendapatkan perhatian yang lebih karena mereka masih kecil. 

Waktu dapat diartikan sebagai cinta. Pembahasan mengenai ini adalah poin berikutnya yang Ustaz jelaskan.  

Cinta adalah hal yang tidak berwujud, kan? 

Seperti halnya kita tidak tahu, apakah kita lebih mencintai ayah kita daripada ibu kita, atau kita lebih sayang kakak kita daripada adik kita.  

Tidak ada cara bagi kita untuk mengetahui kadar cinta kita kepada seseorang karena cinta adalah suatu hal yang tidak bisa diukur dan dibuktikan secara ilmiah. 

Kita tidak bisa berdiri di atas mesin untuk mengetahui seberapa besar rasa cinta kita kepada seseorang dan membandingkannya dengan rasa cinta terhadap orang lainnya. 

Lantas hal apa saja yang berwujud di dalam cinta? 

Hadiah adalah suatu hal yang berwujud. 

Waktu juga merupakan suatu hal yang berwujud.  

Kita bisa menghitung waktu. Misalnya kita berbicara dengan si A selama dua puluh menit. Sedangkan kita berbicara dengan si B hanya dua menit. Anda dapat menghitungnya, bukan? 

Selanjutnya, hal secara nyata yang dapat dilihat adalah perhatian. Misalnya kita berbicara kepada si A dengan sangat baik, sedangkan saat kita berbicara kepada si B kita lebih cuek. Kita selalu baik pada si A tapi tidak ke si B. 

Jadi, cinta itu sendiri memang tidak terlihat, tetapi buah dari cinta atau bukti cinta (seperti waktu, perhatian, dan hadiah), entah itu diartikan secara benar atau salah, yang pasti hal tersebut dapat dilihat. 

Mungkin seseorang bisa mengartikan apa yang kita lakukan dengan benar sesuai apa yang kita pikirkan, namun mungkin juga salah.  

Jika kita menghabiskan lebih banyak waktu dengan salah satu anak kita, maka saudaranya akan menganggap bahwa kita lebih peduli dengan anak kita tersebut.  

Jika kita berbicara kepadanya dengan sangat baik dan lemah lembut, saudaranya akan menganggap bahwa kita lebih menyayangi anak kita tersebut. 

Jadi, anak-anak dapat menarik kesimpulan yang tidak ilmiah dan salah terhadap sikap orang tuanya.  

Mereka mengambil kesimpulan tersebut dari apa? 

Mereka menyimpulkan hal tersebut berdasarkan waktu, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan sikap yang ditunjukkan oleh orang tua mereka. 

Kembali ke kisah Nabi Yusuf dan saudaranya, Ada penjelasan menarik terkait kesimpulan yang dibuat oleh kakak-kakak nabi Yusuf tentang kasih sayang ayah mereka.  

Seperti yang kita telah ketahui bahwa kakak-kakak Nabi Yusuf ini sudah remaja dan bahkan mereka membanggakan diri mereka, dengan menyebut diri mereka وَنَحْنُ عُصْبَةٌ, kami adalah sekelompok saudara.  

Kata وَنَحْنُ عُصْبَةٌ ini dapat menjelaskan bagaimana mereka bisa menganggap Nabi Yakub alaihissalam lebih menyayangi Nabi Yusuf alaihissalam dan Bunyamin.  

Bagaimana penjelasannya? 

Bersambung insya Allah ba’da ashar.   

Sumber: 

– Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 20. Comparing Children Part 1 (02:45-04:53)


Materi VoB Hari ke-300 Sore | Terjebak ke dalam Pemikiran yang Salah

Terjebak ke dalam Pemikiran yang Salah

Oleh: Rizka Nurbaiti

#SaturdayParentingWeek43Part3

Part 3

———————————————–

بسم الله الرحمن الرحيم

Kakak-kakak nabi Yusuf menyebut diri mereka dengan  وَنَحْنُ عُصْبَةٌ, kami adalah sekelompok saudara. 

إِذْ قَالُوا۟ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰٓ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ 

(Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). 

Ucapan tersebut menandakan bahwa mereka melakukan hal bersama sebagai bentuk kelompok. Kata عُصْبَةٌ (‘ushbatun) memiliki akar kata yang sama dengan عَصَبِيَّةٌ (‘ashobiyyatun) yang dapat diartikan sebagai prasangka. 

Kata عَصَبِيَّةٌ  digunakan ketika suatu bangsa berprasangka bahwa mereka lebih baik dari bangsa lain. Mereka menyebut bangsa mereka عَصَبِيَّةٌ. 

Jadi ketika kakak-kakak Nabi Yusuf tersebut menyebut diri mereka dengan عُصْبَةٌ  hal tersebut berarti mereka adalah sekelompok remaja yang bergaul satu sama lain, pergi keluar rumah dan mengintimidasi orang lain. Mereka bukanlah anak rumahan.

Jika mereka sering di luar rumah, maka siapa yang sering berada di rumah?

Nabi Yusuf alaihissalam dan adiknya (Bunyamin).

Mereka berdua selalu berada di dekat ayahnya, Nabi Yakub alaihissalam.  

Nabi Yakub alaihissalam adalah seorang Nabi, sehingga jelas beliau akan mengambil setiap kesempatan untuk mendidik anak-anaknya. 

Nah, karena Nabi Yusuf alaihissalam dan adiknya sering bersama beliau maka mereka berdua lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengannya serta belajar darinya. 

Sehingga setiap kali kakak-kakak Nabi Yusuf pulang, mereka melihat Nabi Yusuf alaihissalam sedang melakukan sesuatu bersama-sama dengan ayahnya terus, entah itu ngobrol, berdoa bersama, atau sedang belajar. 

Kemudian, dari sanalah mereka berpikir bahwa ayahnya selalu memperhatikan adik-adiknya, dan tidak memperhatikan mereka.

Masalah ini terus berlanjut karena mereka tidak membicarakan keresahan mereka tersebut kepada ayah mereka. Mereka tidak mengatakannya secara langsung. 

Jika meraka mengungkapkan apa yang mereka pikirkan, maka Nabi Yakub alaihissalam dapat memberikan penjelasan kepada mereka, bahwa sebenarnya bukan beliau alaihissalam yang tidak ada waktu untuk mereka tapi mereka lah yang tidak ada waktu untuk beliau alaihissalam  karena pergi keluar terus.

Jadi, kesalahpahaman kakak-kakak Nabi Yusuf ini terjadi karena mereka tidak mendatangi ayah mereka dan mengatakan apa yang mereka rasakan, melainkan mereka membicarakan hal ini kepada sesama mereka.

Pelajaran penting yang dapat kita ambil di sini adalah anak-anak belum tentu memberi tahu orang tua mereka ketika mereka memiliki keresahan terhadap sikap orang tua mereka.

Mereka mungkin tidak mendatangi orang tua mereka dan malah mengatakannya kepada saudaranya yang lain, yang menurut mereka memiliki perasaan yang sama juga. 

Ketika mereka saling bercerita satu sama lain maka itu akan membuat kesalahpahaman menjadi semakin memburuk.

Omong-omong, hal ini bukan hanya terjadi pada hubungan antara orang tua dan anak, melainkan dapat terjadi kepada hubungan kita kepada semua orang. 

Umumnya, ketika seseorang memiliki masalah dengan orang lainnya dan mereka membicarakan masalah tersebut ke kelompoknya sendiri  maka dia akan membicarakan kesalahan orang lain tersebut.

Contohnya konflik yang terjadi antara karyawan dengan bosnya. Beberapa karyawan akan berkumpul dan berbicara tentang bos mereka dan mereka mengatakan hal-hal buruk tentang bos mereka juga. 

Mereka saling mengeluh tentang atasan mereka tersebut, tanpa menceritakan kesalahan yang mereka lakukan. Seperti mereka terkadang datang terlambat, terkadang mereka melakukan kesalahan yang merugikan perusahaan dan lain sebagainya.

Percakapan tersebut tidak akan muncul ketika mereka berada di dalam kelompoknya, karena lebih mudah menyalahkan orang yang tidak ada di sana.

Saat seseorang yang memiliki keresahan membicarakan keresahannya tersebut ke kelompoknya yang memiliki keresahan yang sama, maka pembicaraan yang mereka lakukan belum tentu mencari kebenaran. Melainkan, mereka mencari pembenaran.

Mereka memvalidasi kekhawatiran mereka dan menyemangati satu sama lain.

Yang perlu kita ingat saat kita tidak membicarakan permasalahan kita langsung ke orang yang bersangkutan, dan malah membicarakannya kepada kelompok kita maka kita hanya melihat permasalahan tersebut dari sudut pandang kita saja. 

Sehingga bisa membuat masalah kecil bisa menjadi sangat besar dengan cepat. 

Misalnya, sekelompok saudara ini berkumpul, mereka memiliki tingkat keresahan yang berbeda. 

Satu orang hanya merasa bahwa ayahnya hanya tidak memberikannya banyak waktu.

Satu orang lainnya berharap ayahnya bisa lebih banyak berbicara kepadanya.

Jadi, masing-masing dari mereka tidak memiliki masalah besar dan lubang besar di hati mereka. 

Tetapi ketika mereka berkumpul lubang kecil di hati mereka tersebut menjadi sangat besar.

Satu dari mereka berkata kepada yang lainnya, “Yeah, man ayah tidak punya waktu untuk kita”.

Kemudian mereka nantinya akan berpikir “oh bisa jadi  suatu hari nanti ayah tidak berbicara dengan kita lagi dan kita sudah tidak diperhatikan lagi”.

Mereka membesar-besarkan masalah kecil tersebut ketika mereka saling bercerita satu sama lain. Karena bukan hanya dari 1 kepala lagi tapi dari 10 kepala.  Jadi karena dia mendengar dari 9 orang lainnya, maka akhirnya ia akan merasa benar.

Ini adalah masalah serius karena seperti yang Ustaz sampaikan pada materi-materi sebelumnya bahwa komunikasi antara orang tua dan anak harus dilakukan secara langsung. 

Kita tidak bisa melakukan komunikasi kepada sekelompok dari mereka langsung. Dan kita juga harus mencegah adanya komunikasi antar mereka saat mereka memiliki keresahan kepada kita.

Pembahasan selanjutnya, bersambung insya Allah pekan depan.

Sumber: 

Bayyinah TV – Quran – Courses – Parenting – 20. Comparing Children Part 1 (04:53-09:35)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s