[MFA2021] Qum (Bangkitlah) – Refianto Damai Darmawan


Kata-kata ini mungkin terdengar sederhana, hanya terdiri dari dua huruf hijaiyyah, dan artinya pun cukup sederhana. Kata ini adalah قم (qum), atau dalam terjemahan bebas, sering diartikan sebagai bangkitlah, karena merupakan kata kerja.

Oke, mari kita berhenti sejenak. Bangkit? Kenapa harus bangkit? Apa gunanya? Pada awal surat Al-Muddatstsir, Allah berfirman <2>  يٰۤاَيُّهَا الۡمُدَّثِّرُ<1>  يٰۤاَيُّهَا الۡمُدَّثِّرُ “Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan.” Ustadz kita, Nouman Ali Khan, memberi komentar khusus terkait ayat ini. Apabila kita perhatikan dengan seksama, Allah memberi perintah khusus pada orang yang berselimut.

Orang yang berselimut di sini, sudah pasti Nabi Muhammad. Tapi tahukah teman, kalau istilah berselimut itu juga dipakai dalam surat Al Muzzammil? Lalu apa bedanya? Beda yang cukup mencolok antara Al Muzzammil dan Al Muddatstsir adalah keadaan jiwa atau psikis seseorang saat menggunakan selimut. Al Muzzammil adalah keadaan seseorang yang memakai selimut dengan ketenangan, kebebasan dari masalah, dan biasanya dipakai untuk membantu agar tidurnya menjadi lebih pulas.

Beda halnya dengan Al Muddatstsir. Di sini, selimut tidak digunakan untuk membantu tidur pulas, namun lebih seperti representasi fisik bahwa jiwa seseorang ini perlu dilindungi, seperti kucing yang masuk bersembunyi dalam lubang karena ketakutan, kucing itu tidak masuk untuk tidur, namun masuk untuk mencari perlindungan.

Kisah turunnya surat Al Muddatsir dimulai saat Nabi Muhammad SAW berjalan, lalu beliau mendengar panggilan. Setelah melihat sekitar, ternyata ada sesosok makhluk yang berambut panjang, berjubah putih, dan duduk di antara langit dan bumi. Dalam keadaan takut dan penuh tanya, Nabi Muhammad SAW mempercepat jalannya untuk pulang, dan sesampainya di rumah, beliau meminta kepada istrinya Khadijah ra. untuk menyelimutinya. Nah, menyelimuti di sini konteksnya bukan untuk tidur, namun lebih untuk memberikan ketenangan atas bahaya atau ketakutan yang dirasakan. Lalu setelah itu turunlah ayat Al Muddatstsir.

Baik, kita lanjutkan ke kedua dan ketiga dulu, karena ini berkaitan.<3> قُمۡ فَاَنۡذِرۡ<2> وَرَبَّكَ فَكَبِّ “Bangunlah, dan berilah peringatan. Dan Tuhanmu, agungkanlah.” Secara eksplisit, sudah jelas bahwa ayat ini adalah ayat tentang dakwah. Meskipun dalam keadaan takut, Nabi Muhammad SAW tetap diperintah Allah untuk berdakwah, memberi peringatan, dan mengagungkan Tuhan. Namun ada satu hal yang unik di sini, yakni makna dari bangun atau bangkit itu sendiri, yang pada ayat ini disebut dengan قُمۡ . 

Ustadz Nouman menyebutkan bahwa, bangun di sini tidak hanya bermakna bangun atau bangkit secara fisik, namun juga secara status sosial. Maksudnya, sebelum memberi peringatan kepada orang-orang, kita harus bangkit dan terlihat dulu di mata orang-orang tersebut. Hal ini bisa dalam bentuk popularitas, prestasi, ataupun perbuatan besar yang menjadikan kita dikenal orang banyak, dalam arti positif. Di sini, Al Quran sebagai kitab utama kita menyuruh kita untuk bangkit, stand out, get noticed, agar pesan-pesan kita didengar, atau minimal memiliki bobot yang signifikan sehingga masyarakat mau mendengarnya.

Contoh mudahnya seperti ini. Apabila anda mendengar nasihat “Jangan suka berkata bohong”, dari seseorang yang anda ketahui hidupnya biasa-biasa saja, bahkan mungkin dulu dia pernah melakukan kecurangan saat ujian tulis, alam bawah sadar kita mungkin akan berpikir bahwa pesan ini tidak terlalu penting, karena berasal dari orang yang tidak terlalu penting juga. Nah, sekarang pesan yang sama, keluar dari lisan seorang pimpinan pondok pesantren, yang sudah terkenal akan kejujuran dan amanahnya, beliau sudah merintis pesantren ini dari awal, sampai besar seperti sekarang. Bahkan saat dirinya suka ditipu oleh orang lain, beliau tetap sabar dan menjaga kejujuran dalam setiap langkah kehidupannya. Pasti pesan yang diucapkan itu membekas, atau minimal mendapat tempat di pikiran kita untuk dipikirkan dan direnungkan. Karena memang seperti itulah peran status sosial dalam psikologi manusia.

Jadi, teman-teman, bangkitlah. Seperti Nabi Muhammad SAW yang sudah mendapat respek dari penduduk Makkah karena kejujurannya dalam berdagang dan menjaga amanah. Seperti Muhammad Al Fatih yang tak mundur dari benteng konstantinopel meskipun pengepungan yang melelahkan terjadi berbulan-bulan. Seperti Ustadz Nouman Ali Khan, yang dakwahnya didengar oleh dunia, serta lisannya mampu memahamkan Al Quran pada kita.

Orang-orang tersebut adalah orang-orang yang ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT karena prestasinya. Dan karena derajat yang tinggi tersebut, setiap peringatan yang mereka ucapkan, dan setiap langkah yang mereka perbuat memiliki dampak tersendiri bagi orang-orang yang sudah hormat atau respek dengannya.

Pelajaran penting yang saya dapat dari ayat ini adalah, it’s okay to be outstanding. Islam tidak menyuruh kita untuk diam, pasif, dan beribadah dalam kesendirian. Tapi Islam menyuruh kita untuk memberi peringatan pada manusia. Dan sebelum memberi peringatan, Al Quran menyuruh kita untuk bangkit, meraih prestasi, meminta derajat yang tinggi kepada Allah, agar kita dapat menyampaikan peringatan, seperti yang tertulis pada firmannya.

يٰۤاَيُّهَا الۡمُدَّثِّرُ

قُمۡ فَاَنۡذِرۡ

وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s