[MFA2021] Sunnatullah dan ‘Inayatullah


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Oleh : Nur’azizah Inayati

Ramadan tahun ini menjadi Ramadan kedua pada masa pandemi yang hingga saat ini belum tuntas secara total di Indonesia. Namun, bulan Ramadan kali ini menjadi cerita yang berbeda untuk diriku dibanding dengan Ramadan tahun lalu. Pada Ramadan tahun lalu, selepas aku mendapat puasa total 5 hari, tubuhku drop. Sebuah kondisi drop yang benar-benar kehilangan daya. Perlahan satu persatu dari anggota tubuhku kehilangan dayanya, dari mulai badan, kedua tangan, kedua kaki, hingga berujung aku benar-benar tergeletak di kasur dengan kondisi mengangkat kepala pun tidak bisa.

Kondisi pandemi yang baru saja ramai di Indonesia membuat keadaan Rumah Sakit saat itu terkesan panik. Terlebih aku berada di zona merah nasional keberadaan Covid-19, pengobatanku saat itu terombang-ambing karena kondisi di lingkunganku demikian mencekam. 

Namun, selayaknya sunnatullah ketika seseorang sakit, maka usaha untuk mencapai pengobatan harus aku lakukan. Sunnatullah sendiri biasa kita kenal dengan hukum alam, sebuah ketetapan-ketetapan Allah yang terkait dengan hal yang lazim dilakukan oleh manusia. Seseorang yang lapar maka harus makan untuk membuatnya kenyang, seseorang yang haus juga harus minum untuk menghilangkan dahaganya. Maka, aku yang sakit saat itu harus mencari obat agar aku sembuh. Namun, apakah obat itu yang menyembuhkanku? Pada kenyataannya bukan.

﴿وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ یَشۡفِینِ﴾ [الشعراء: ٨٠]

Dan apabila aku sakit, maka hanya Dia yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syuara:80)

Inilah satu-satunya ayat “yasyfiin” yang dapat ditemukan di dalam Al-Qur’an. Penggunaan kata idzaa (apabila) mengandung makna besarnya kemungkinan atau bahkan kepastian terjadinya apa yang dibicarakan, dalam hal ini adalah sakit. Ini mengisyaratkan bahwa sakit berat atau ringan, fisik atau mental, merupakan salah satu keniscayaan hidup manusia. Selanjutnya yang kedua mengenai redaksi kalimat yang mengatakan “Apabila aku sakit” bukan “Apabila Allah menjadikan aku sakit”, dalam hal ini berarti sakit yang kita alami bisa muncul bukan semata-mata takdir, melainkan ada sebab akibat, artinya di sini pula kita diajak untuk merenungi kekeliruan yang telah kita lakukan sehingga kita bisa sakit, karena pada akhirnya Allah menilai bagaimana sikap kita untuk menghadapinya.

Hal ini juga diterangkan oleh Ustaz Nouman Ali Khan bahwa dalam hal penyembuhan, seperti juga dalam pemberian hidayah, makan dan minum, yang diterangkan pada beberapa ayat sebelumnya secara tegas dikatakan bahwa Yang melakukannya adalah Dia (Allah SWT), Tuhan semesta alam.

Selepas berbagai macam terapi dan pengobatan yang dilakukan, aku belum juga pulih seutuhnya, sampai aku melakukan berbagai macam scanning tubuh di sebuah rumah sakit besar di bilangan Kota Jakarta Selatan. Seluruh ruang radiologi pada rumah sakit tersebut sudah aku masuki, aku menjalani rontgen, foto tulang, EEG hingga MRI, yang pada akhirnya memunculkan beberapa diagnosa yang sama sekali tidak aku duga. Kaget namun aku tenang sekali mendengarnya, saat itu aku berfikir bahwa dengan kebenaran itulah yang akan membuatku menyikapi dengan tepat apa yang sedang aku hadapi. Sampai selesai serangkaian scanning itu, tubuhku masih terkulai tak berdaya, aku bahkan belum bisa berjalan terhitung sudah 5 bulan sejak aku drop.

Salah seorang kerabatku akhirnya membawaku ke sebuah rumah sakit di daerah Kabupaten Purwakarta, Rumah Sakit itu menggunakan pendekatan holistik yang mana seperti yang kita ketahui holistik memiliki arti secara keseluruhan. Pengobatan holistik adalah satu sistem kedokteran yang merawat, mencegah dan mengobati tubuh secara menyeluruh dengan mengembalikan keseimbangan sistem tubuh secara optimal yang melibatkan keseimbangan kerja fisik, mental, emosional dan psikologikal dengan mengutamakan nutrisi makanan sebagai obat utama.

Terhitung selama delapan hari aku menginap di sana sembari menjalankan sembilan jenis terapi setiap harinya, sejak awal sakit tubuhku sudah menerima setidaknya ratusan suntikan, pada hari ketiga di sana qodarullah aku kembali bisa berjalan, hari-hari berlalu hingga aku kembali melakukan scanning tubuh, dan alhamdulillah semua diagnosa yang ada tidak fatal terjadi padaku karena penanganan yang tepat. Selayaknya beberapa hal yang melibatkan kecocokan, mungkin pengobatan inilah yang cocok untuk diriku.

Pengalaman itulah yang kusebut ‘Inayatullah, yakni pertolongan dan bimbingan Allah di luar kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Sakit  adalah wujud kelemahan manusia. Adapun menyembuhkan pada hakikatnya adalah hak Allah SWT. Oleh karenanya, manusia dituntut juga untuk berusaha, baik secara lahiriah ilmiah (melakukan sunnatullah) maupun secara batiniah ubudiyah (memohon ‘inayatullah).

Saat ini aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya, melakukan berbagai hobi-hobiku, Alhamdulillah, senangnya.

Sumber: https://youtu.be/X27X8awm9eI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s