[VoB2021] Wamaa Kaanuu Muhtadiin Itu Bukan Pasif


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-289

Topik: Pearls from Al-Baqarah

Selasa, 6 April 2021

Materi VoB Hari ke-289 Pagi | Wamaa Kaanuu Muhtadiin Itu Bukan Pasif

💎💎💎💎💎

Wamaa Kaanuu Muhtadiin Itu Bukan Pasif

Oleh: Heru Wibowo

#TuesdayAlBaqarahWeek42Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Membeli kesesatan dengan petunjuk. Apa itu artinya?

Petunjuk Allah itu tidak mudah. Memperolehnya tidaklah mudah. Bahkan untuk orang yang mencari petunjuk itu sekalipun. 

Kita berdoa setiap hari. Ihdinashshiraathal mustaqiim. Jika kita sadar apa yang kita ucapkan, di setiap salat, di setiap rakaat itu, maka kita paham bahwa setiap hari kita berdoa untuk meminta petunjuk.

Itu baru berdoa. Itu belum mencari. 

Ada doa, ada ikhtiar. Doa sudah kita lakukan. Kita meminta petunjuk-Nya di setiap rakaat salat kita. Bagaimana dengan ikhtiar kita untuk menjemput petunjuk-Nya?

Salah satu ikhtiar kita adalah melalui VoB karena VoB adalah tentang Al-Qur’an. Tentang petunjuk-Nya. Tentang petunjuk-Nya di surah tertentu, dan tentang petunjuk-Nya untuk tema tertentu.

Contoh “membeli kesesatan dengan petunjuk” itu bisa sesederhana sikap “yang penting agamaku di KTP masih Islam”.

Mengapa begitu?

Karena sikap seperti itu berarti membiarkan diri kita dalam keadaan tidak mencari petunjuk. Bahkan mungkin tidak berdoa untuk minta diberi petunjuk, karena tidak menjalankan salat.

Itu namanya Islam pencitraan. Hanya di KTP dan di tampak luar. Bagian dalamnya tidak diisi dengan nilai-nilai Islam sebagai hasil dari usaha untuk meraih petunjuk-Nya.

Wa maa rabihat tijaaratuhum wa maa kanuu muhtadiin. Mereka tidak pernah berkomitmen dengan petunjuk. Tidak pernah sama sekali.

Sebelumnya, kita pernah mempelajari tiga jenis reaksi terhadap petunjuk.

Extreme love adalah jenis reaksi di mana, apa pun yang terjadi, mereka tidak akan meninggalkan agama ini.

Extreme hate adalah jenis reaksi di mana, apa pun yang terjadi, mereka tidak akan menerima kebenaran Islam.

Lalu ada reaksi ketiga, yang berada di antara keduanya, di mana mereka belum tahu persis apakah mereka akan berkomitmen terhadap Islam atau tidak.

Kita mengenal kondisi yang disebut ihtida. Atau, yang di Qur’an kita jumpai dalam berbagai bentuk: ihtada, yahtaduun, muhtadiin. Kondisi di mana orang-orang memegang teguh petunjuk. Kondisi di mana orang-orang aktif berdoa memohon petunjuk dan meraih atau menjemput petunjuk.

Lalu apa makna wamaa kaanuu muhtadiin? Apakah artinya adalah “mereka tidak mendapatkan petunjuk”?

Itu adalah kata-kata di terjemahan Al-Qur’an. Kata-kata itu kurang tepat karena memiliki kesan yang pasif. Padahal kata-kata yang dimaksud di ayat ini adalah kata-kata yang bersifat aktif.

Jadi, apa makna dari ayat itu sebenarnya? Apa makna yang lebih tepat? “Mereka tidak berkomitmen terhadap petunjuk.” 

Atau, “Mereka bukanlah orang-orang yang berkomitmen terhadap petunjuk”. Mereka tidak mau berpegang teguh kepada petunjuk-Nya. Tidak mau sama sekali. 

Itu adalah kritik yang Allah luncurkan. Artinya, mereka tidak bisa bergerak ke mana-mana jika mereka tidak mau memulai untuk berkomitmen terhadap petunjuk Al-Qur’an.

Di titik ini, Ustaz ingin mengajak kita untuk kembali memahami hebat dan dahsyatnya dualitas dari Al-Qur’an. Yakni kualitas ayat Al-Quran yang bisa berlaku untuk orang-orang munafik, dan pada saat yang sama juga untuk komunitas Yahudi.

“Mengapa kalian tidak beriman kepada apa yang telah diimani oleh orang-orang yang beriman?” 

Karena orang-orang yang beriman itu percaya kepada Allah, kepada Hari Akhir, tapi juga kepada Rasulullah SAW.

Mereka tidak mau seperti itu. Mereka hanya mau beriman kepada Allah dan kepada Hari Akhir saja. Mereka tidak mau beriman kepada Rasulullah SAW.

Itu namanya sama saja. Sama saja bahwa mereka tidak beriman. Karena iman mereka tidak utuh. Iman mereka tidak lengkap. Ada “potongan keimanan” yang mereka abaikan. 

“Mengapa kalian tidak beriman seperti orang-orang yang beriman secara utuh?”

Mereka menjawab, anu’minu kamaa aamanassufahaa’? “Akankah kami beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?”

Apa yang dimaksud dengan “kurang akal” di sini? 

Mereka percaya bahwa mereka adalah kaum yang terdidik. Kaum terpelajar. Dan mereka percaya bahwa kaum Arab adalah kaum yang ummiyyiin, kaum yang unlettered, kaum yang tidak terpelajar.

Sebenarnya penggunaan kata ummiyyiin dimaksudkan untuk penghinaan. 

Sementara Al-Qur’an menggunakan kata itu, ummiyyiin, untuk menunjukkan noble characteristics dari Rasulullah SAW. 

Untuk menunjukkan keluhuran dan kemuliaan Rasulullah SAW. Sekaligus untuk menunjukkan dahsyatnya Al-Qur’an: Rasulullah belum mengenal baca tulis tapi bisa bilang alif laam miim.

Tapi kaum Yahudi gagal paham. Mereka gagal fokus. Seharusnya mereka terpana: kok Rasulullah SAW bisa mengucapkan kata-kata yang dahsyat itu padahal belum mengenal baca tulis?

Mereka tidak berpikir yang seharusnya. Mereka malah menggunakan kata ummiyyiin itu untuk menghina dan mencela. Meremehkan kenabian Rasulullah yang mulia.

Ummiyyiin. Unlettered people. Orang-orang yang buta huruf. Satu kata yang sama. Tapi beda cara menyikapinya.

Kita lanjutkan pembahasannya insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da zhuhur.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 06. Al-Baqarah (Ayah 12-16) – A Deeper Look

(47:57 – 50:08)


Materi VoB Hari ke-289 Siang | Terjebak dalam Rincian yang Tak Perlu

💎💎💎💎💎

Terjebak dalam Rincian yang Tak Perlu

Oleh: Heru Wibowo

#TuesdayAlBaqarahWeek42Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Seakan-akan mereka berkata, “Saya itu Ph.D. di bidang ilmu Taurat. Itu belum seberapa. Saya masih punya banyak ijazah yang lain. Yang berderet-deret. Belum lagi piagam penghargaan keilmuan saya yang tidak cukup untuk dipajang di dinding rumah. Lalu saya harus percaya dengan kata-kata seorang yang buta huruf?”

“Aku kamu suruh turun level gitu? Aku kamu suruh ngikutin yang levelnya bertingkat-tingkat di bawahku?”

“Maaf. Anu’minu kamaa aamanassufahaa’? Yang benar aja!”

Allah menjawab, ‘alaa innahum humussufahaa’. Allah menyingkirkan semua titel dan ijazah mereka. Yang kurang akal itu mereka, kata Allah. 

Belum cukup sampai di situ. Allah menambahkan, walaakin laa ya’lamuun, they don’t even know. Bahkan mereka tidak tahu. 

Luar biasa jawaban Allah ini! 

Satu hal yang mereka banggakan adalah pengetahuan. Allah langsung “menampar” mereka dengan mengatakan bahwa mereka itu sebenarnya tidak tahu.

Mereka bahkan tidak tahu dengan apa yang dimaksud dengan truly believe, sungguh-sungguh beriman.

Mereka bahkan tidak paham situasinya. Mereka bahkan tidak paham dengan apa yang sedang dibicarakan.

Apalagi yang satu ini: the purpose of revelation. Tujuan dari turunnya wahyu. Mereka tidak paham itu.

Mereka tidak paham tentang kesalahan yang dilakukan oleh “ulama mereka” terhadap Kitab mereka sendiri.

Kita, kaum muslimin, tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Kesalahan yang mereka lakukan terhadap Kitab mereka.

Kesalahan apa yang mereka lakukan terhadap Kitab mereka?

Mereka “terperosok” ke dalam rincian yang tidak perlu. Mereka terjebak dalam furu’, perbedaan pendapat akan rincian yang tidak perlu. 

Karena mereka sok pintar, mereka membagi agama menjadi beberapa kategori. Lalu masing-masing kategori itu mereka bagi lagi menjadi subkategori. Lalu masing-masing subkategori itu mereka bagi lagi menjadi subsubkategori. Begitu seterusnya sehingga ada subsubsubkategori, bahkan yang lebih rinci lagi dari itu.

Akibatnya?

Mereka jadi hobi berdebat. Mereka memperdebatkan rincian-rincian yang terlalu rinci dan tidak perlu. Perdebatan yang tidak ada ujungnya.

Padahal di depan mata mereka ada ketidaktaatan terhadap Allah. Tapi mereka tidak mempermasalahkannya. 

Padahal itu masalah yang besar. Tapi mereka tidak menganggap itu sebagai masalah. Yang penting mereka masih bisa berdebat. Memperdebatkan hal-hal yang sangat kecil.

Prioritas mereka dalam beragama menjadi bengkok. Kalau kita ikut-ikutan cara mereka, maka kita akan menderita penyakit yang mereka derita.

Kita bisa saja membahas sebuah masalah, misalnya apakah ucapan basmalah dalam salat dibaca keras atau tidak. 

Atau, apakah setiap kali kita mengucapkan Allaahu Akbar dalam salat, kita harus selalu mengangkat tangan atau tidak. Padahal ada anak yatim yang berada di luar masjid yang sedang menangis kelaparan.

Dan tidak ada satu pun peserta diskusi yang peduli dengan tangisan seorang anak yatim tepat di luar masjid itu!

Asyik berdiskusi masalah agama, apalagi masalah khilafiyah, tapi cuek terhadap derita orang lain, apalagi orang lain yang dekat dengannya, bukanlah cara orang Islam beragama. Yang seperti itu, bukanlah ajaran Islam. 

Prioritas agama yang bengkok itu lebih mirip ke rabbinic tradition, tradisi yang berhubungan dengan pendeta Yahudi.

Ada kejahatan yang sedang terjadi di depan mata. Misalnya blatant racism. Rasisme yang terang-terangan. Sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama Islam sejak awal.

Tidak cuma rasisme. Ada korupsi, kebohongan, penipuan, pencurian. Di depan mata kita. Tapi kita menganggapnya: tidak masalah?

Salah satu contoh terburuknya sepertinya justru di “dunia muslim” itu sendiri. Maksudnya di negara-negara muslim.

Manusia yang hidup di planet bumi berhak untuk berpikir bahwa contoh-contoh terbaik umat Islam, contoh-contoh terbaik dari praktik agama Islam, pastilah ada di negara-negara muslim.

“Aku akan mengunjungi negeri-negeri muslim itu. Supaya aku bisa melihat contoh-contoh terbaik dari umat Islam. Karena nilai-nilai Islam pasti hidup di sana,” pikir mereka.

Begitu orang-orang itu, begitu kita sendiri juga, berada di negeri-negeri muslim, kita justru menangis.

Ada orang-orang yang, secara religius, punya pengetahuan. Banyak yang hafal Qur’an 30 juz. Banyak juga ulamanya. 

Tapi ketika seseorang bertamu di negeri muslim itu, ada teh yang dihidangkan oleh seorang pelayan, tapi pelayan ini diperlakukan seperti seekor binatang.

Akankah Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam berbicara dengan pelayannya seperti itu? Akankah Rasulullah memperlakukan pelayannya seperti itu?

Kita lanjutkan pembahasannya insyaa Allaahu ta’aalaa ba’da ‘ashar.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 06. Al-Baqarah (Ayah 12-16) – A Deeper Look

(50:08 – 53:07)


Materi VoB Hari ke-289 Sore | The Joke is on Them

💎💎💎💎💎

The Joke is on Them

Oleh: Heru Wibowo

#TuesdayAlBaqarahWeek42Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Aneh, aneh, aneh. Aneh sekali melihat seorang muslim, yang tinggal di negeri muslim, yang bicara dengan pelayannya seperti makhluk yang tak berharga.

Padahal sama-sama manusia.

Sejak kapan manusia memperoleh sertifikat atau lisensi untuk memperlakukan manusia lainnya secara tidak patut?

Tidakkah manusia itu berpikir jauh ke depan, membayangkan apa yang akan terjadi di yaumil qiyamah. 

Manusia yang suka memandang rendah yang lainnya itu: akankah Allah menganggapnya tinggi? Atau justru Allah akan memandang rendah dirinya?

Dari mana manusia yang merasa dirinya lebih hebat itu tahu posisi dia dalam pandangan Allah? Apakah dia yakin bahwa Allah juga meninggikan posisinya di atas pelayannya?

Aneh, aneh, aneh. Aneh karena ini terjadi di rumah seorang majikan yang dianggap punya pengetahuan terhadap agama. Bukan di rumah orang tidak tahu agama.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Ini bisa terjadi karena ada disonansi kognitif (cognitive dissonance), ada perilaku yang kontradiktif terhadap keyakinan yang dipegang.

Dalam keyakinan yang dipegang, atau dalam ajaran Islam, semuanya sama di hadapan Allah. Semuanya adalah ’abd. Bahkan Rasulullah saat Isra’ Mi’raj pun, disebut ’abd.

Subhaanalladzii asraa bi’abdihii laylan. Kata yang digunakan adalah bi’abdihii. Lagi-lagi: ’abd.

Tapi dalam sebuah keluarga, di negeri muslim, seorang yang bukan nabi, seorang yang dianggap memiliki pengetahuan agama yang tinggi, ternyata memperlakukan sesama muslim lainnya secara tidak patut. Seakan-akan lupa bahwa dia dan pelayannya sebenarnya sama. Sama-sama ’abd.

Apakah ijazahnya yang bertumpuk-tumpuk itu bisa dijadikan sebuah legitimasi bahwa dia bisa memperlakukan orang lain seenaknya?

Apakah seperti itu karakter Islam?

Yang seperti ini adalah justru contoh sufahaa’, foolishness, kedunguan. 

Wa idzaa laqulladziina aamanuu qaaluu aamannaa. Dan ketika mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.”

Tapi ketika mereka kembali ke bos mereka, ke pemimpin mereka, mereka bilang apa? “Kami bersama kamu. Kami tidak mengikuti mereka.”

“Mungkin sepertinya kami mengikuti mereka, tapi sesungguhnya tidak. Tidak seperti itu. Kami hanya berolok-olok.”

Tapi kenapa kalian tampak akrab gitu ya, ketika kalian sedang bersama-sama dengan orang-orang yang beriman itu?

“Ya, ya, ya. Itu mah biasa. Kan ada kesamaan cara pandang, tapi itu untuk hal-hal tertentu. Dan sebagai manusia biasa, ada yang mereka suka, yang kebetulan kami suka juga. Wajarlah itu. Tapi untuk urusan keimanan, ya enggak lah. Kami tetap fan berat kamu, bukan mereka. Sama mereka itu kami cuma bercanda saja.”

Allaahu yastahzi-u bihim. Yang sebenarnya terjadi adalah: Allah memperolok-olok mereka.The joke is on them. Merekalah yang diperolok-olok.

Wayamudduhum fii thughyaanihim ya’mahuun. Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.

Allah membiarkan mereka terus berpura-pura dengan apa yang mereka yakini. Terus bermain-main dengan Taurat mereka. Meskipun Al-Qur’an telah diturunkan.

Ulaa-ikalladziinasytarawudhdhalaalata bil-hudaa. Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk.

Mereka sungguh-sungguh membaca Kitab mereka. Lalu mereka melihat Rasulullah SAW dan Al-Qur’an. 

Mereka sadar bahwa kehadiran Rasulullah dan Al-Qur’an sudah tersirat di Kitab mereka. Tapi mereka buru-buru menutup bab yang membahas itu. Pura-pura tidak tahu. 

Famaa rabihat tijaaratuhum. Maka perdagangan mereka itu tidak menghasilkan keuntungan.

Perdagangan yang dimaksud di sini adalah “jual beli kesesatan dan petunjuk”. Mereka menjual petunjuk untuk membeli kesesatan. 

Hmmm. Indah sekali bahasa Al-Qur’an.

Ini adalah jenis jual beli tanpa uang. Tapi barter. Perdagangan dengan saling bertukar barang.

Mereka sudah punya “barang” yakni petunjuk. Tapi bodohnya mereka, barang mereka yang berharga itu malah ditukar dengan “barang” yang lain yang tak berharga, yakni kesesatan.

Wamaa kaanuu muhtadiin. Mereka tidak pernah berkomitmen untuk mendapatkan petunjuk. Mereka telah mereduksi agama untuk kepentingan bisnis semata.

Mereka telah “memanfaatkan” agama untuk kepentingan politik semata. 

Mana buktinya mereka berkomitmen untuk memegang teguh petunjuk Al-Qur’an?

Kita menyaksikan di bagian awal Al-Baqarah ini bahwa tema kemunafikan dibahas agak panjang. 

Di bagian awal, iman dibahas sangat ringkas, kufur juga dibahas sangat ringkas, lalu dilanjutkan dengan bentuk yang tersembunyi dari kufur, yaitu nifaaq.

Pembahasan ayat ini belum ditutup saat ini. Insya Allah akan ditutup di bagian berikutnya. 

Dan saat bagian ini ditutup nanti, kita akan mempelajari sebuah perumpamaan, sebuah contoh, sebuah gambaran, yang luar biasa, yang ada di Al-Qur’an.

Sebenarnya agak rumit, tapi ketika kita merenungkannya, bercermin di ayat-ayat itu, memahaminya dengan baik, maka pelajaran dan hikmah yang akan kita dapatkan adalah luar biasa indahnya.

Allah sungguh-sungguh “melukis sebuah gambar”, melalui rangkaian kata-kata. Kita akan melihat sebuah “pemandangan” nantinya. 

Dan ketika kita memahami “pemandangan” itu, kita akan memahami pesan yang Allah sampaikan.

Dalam urutan mush-haf Al-Qur’an, itu akan menjadi perumpamaan pertama, contoh pertama yang ada di Al-Qur’an.

Itulah mengapa Ustaz sangat bersemangat untuk menjelaskannya. Tapi saatnya bukan sekarang.

Kita lanjutkan insyaa Allaahu ta’aalaa minggu depan.

💎💎💎💎💎

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 06. Al-Baqarah (Ayah 12-16) – A Deeper Look

(53:07 – 56:15) [End]


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

One thought on “[VoB2021] Wamaa Kaanuu Muhtadiin Itu Bukan Pasif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s