[VoB2021] Verbal Abuse


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-272

Topik: Parenting

Sabtu, 20 Maret 2021 

Materi VoB Hari ke-272 Pagi | Verbal Abuse

Oleh: Muchamad Musyafa

#SaturdayParentingWeek39Part1

Part 1

👺💥

Selanjutnya dalam pembahasan parenting hari ini, kita akan membahas soal pelecehan verbal yang juga sering terjadi selama interaksi orang tua dan anak.

Pelecehan verbal tergolong sebagai sebuah kekerasan, ia adalah sebuah pelanggaran. Tidak hanya pelanggaran antar manusia, tetapi pelanggaran terhadap agama kita juga.

Pelecehan verbal juga mencakup isyarat raut muka. Rasulullah ﷺ juga pernah dikritik oleh Allah ﷻ ketika menampakkan wajah masam di hadapan orang yang buta. Walaupun  orang yang buta itu tidak bisa melihat raut muka Rasulullah ﷺ, tetapi Allah ﷻ tetap menegurnya. Kita bisa membaca kisahnya di surat Abasa.

👺💥

Kita tahu bahwa nabi Muhammad memiliki kualitas di atas standar manusia. Rasulullah ﷺ sebagai pemimpin tentunya berada di posisi teratas di antara kaumnya. Oleh karena itu, kesalahan sedikit pada raut muka beliau sangat bisa melukai perasaan kaumnya. Sehingga Allah ﷻ juga mengingatkan kepada nabi Muhammad ﷺ untuk tidak menampakkan rasa frustrasinya di hadapan sahabatnya. Adalah hal yang sangat berarti bagi para sahabat ketika Rasulullah ﷺ bisa menunjukkan rasa senang terhadap mereka. Hati mereka akan merasa sakit dan sedih ketika mengetahui Rasulullah marah atau kecewa pada mereka.

Hal yang sama itu akan dirasakan oleh anak-anak kita. Ekspresi marah, raut muka kecewa, itu semua tidak boleh kita jadikan suatu kebiasaan di hadapan anak-anak kita. Karena hal seperti itu bisa sangat melukai hati mereka. 

👺💥

Ustaz Nouman pernah mencoba membuat eksperimen dengan menunjukkan ekspresi marahnya kepada anak kecil, walaupun sesungguhnya ia tidak bermaksud begitu. Dari situ ia bisa melihat ekspresi balik dari wajah anak kecil itu. Tentu saja anak kecil itu ketakutan, mulai menangis dan meminta pengasihan.

Bahkan seorang bayi pun bisa merasakan ekspresi marah yang ditampakkan di wajah kita ataupun yang dikeluarkan dari intonasi suara kita. Para bayi ini memang bisa sangat sensitif merasakan rasa yang ada di sekitarnya.

Jadi ekspresi kita, raut muka dan intonasi suara kita tetap harus dikendalikan ketika sedang berkomunikasi dengan anak-anak kita.

👺💥

Selain itu, kadang-kadang kita membuat lelucon atas anak kita. Misalnya ketika mereka menangis keras, lalu kita mencoba menirukan suara tangisan mereka. Kita menganggap hal itu lucu. Meniru ekspresi seperti ini juga termasuk salah satu tindakan yang dianggap sebagai ejekan.

Janganlah kita seperti sekelompok pendosa yang saling mengedipkan mata ketika ada orang beriman yang lewat di hadapan mereka. Mereka itu bermaksud mengejek-ejek para mukmin itu.

Dan apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya (QS. AL-Muthafifin 83:30)

👺💥

Sebenarnya boleh-boleh saja membuat lelucon di depan anak kita, cerita-cerita lucu, bergaya-gaya lucu dan hal lainnya. Namun kita harus ingat agar melakukannya tanpa unsur sarkastis dan mencela.

Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk (QS. Al-Hujurat 49:11)

Semua hikmah yang ada di ayat al-Hujurat di atas masih relevan dengan pembahasan kita kali ini. Jagalah lelucon kita agar tidak menyinggung perasaan anak-anak kita. Jangan sampai kita menyebut anak kita cengeng, pendek, hitam, penakut dan lain sebagainya. Jangan panggil mereka dengan sebutan-sebutan yang buruk yang tidak disukai mereka.

insyaAllah bersambung lagi di part-2

👺💥👺💥👺

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Courses / Parenting / 19. Verbal Abuse – Parenting (00.00 -03.20)


Materi VoB Hari ke-272 Siang | Verbal Abuse 2

Oleh: Muchamad Musyafa

#SaturdayParentingWeek39Part2

Part 2

😌👶🏻

Ketika kita menggunakan panggilan yang buruk atau ejekan pada anak kita, maka anak kita yang lain akan menirunya, sehingga mulailah terjadi saling mengejek antar saudara. 

Kita tidak ingin ada panggilan seperti ini di rumah kita :

“Sek, Pesek. Ayo belajar jangan main game terus.”

“Ibuk, Mas Gendut ini lho nggak mau mandi, bau.”

Sebagai orang tua kita harus bisa memberi contoh yang baik. Salah satunya memberi contoh bagaimana cara memanggil anak-anak kita satu sama lain.

😌👶🏻

Nasehat ini tidak terbatas di agama Islam saja, banyak budaya di dunia ini yang mengajarkan bagaimana cara kita menunjukkan rasa sayang kepada yang lebih muda, dan rasa hormat kepada yang lebih tua.

Di Indonesia saja, kepada orang yang lebih tua, kita terbiasa menggunakan panggilan khusus di depan namanya. Mas, mbak, kakang, teteh, uda, uni, bapak, ibu, dan sebagainya. Mereka yang sudah terbiasa menggunakan panggilan-panggilan itu pasti akan merasa sangat tidak nyaman jika harus disuruh menyebut nama langsung.

Dalam aturan berbahasa pun, ada perbedaan penggunaan kata-kata jika yang diajak berbicara adalah orang seumuran atau yang lebih tua. Kesalahan penggunaan kata bisa terasa tidak sopan bagi mereka.

😌👶🏻

Dalam berkomunikasi, tidak selalu kita perlu menanggapi kemarahan dengan marah. Bisa juga kita merespons marah dengan humor. Kita bisa mencairkan suasana dengan itu.

Pilihlah dengan baik kapan waktu yang tepat jika kita memang harus menunjukkan marah. Tidak perlu semua hal yang kecil-kecil kita tanggapi dengan marah-marah. Tidak semua hal kecil selalu kita komentari. Tidak semua hal yang remeh perlu kita ceramahi. Itu berlebihan juga namanya.

Jika dua anak kita berselisih kecil, cukup kita ingatkan mereka dengan nada tenang agar tidak berkelahi. Tidak perlu sampai menarik urat leher kita. Jika anak kita menumpahkan susunya, kasih tahu ia untuk lebih berhati-hati. Tidak perlu marah-marah.

😌👶🏻

Anak kecil itu masih butuh banyak belajar, jadi wajar saja mereka banyak membuat kesalahan. Jadi kesalahan-kesalahan yang wajar itu perlu kita maklumi sebagai orang tuanya. Santai saja pada mereka, tidak perlu diambil emosi.

insyaAllah berlanjut di part 3

😌👶🏻😌👶🏻😌

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Courses / Parenting / 19. Verbal Abuse – Parenting (03.20 -07.00)


Materi VoB Hari ke-272 Sore | Konsistensi

Oleh: Muchamad Musyafa

#SaturdayParentingWeek39Part3

Part 3

⏰🏁

Dalam mendidik anak, kita membutuhkan yang namanya konsistensi. Begitu juga jika menyangkut perilaku yang kita tunjukkan ke anak kita.

Tingkah laku dari seorang anak tidak akan berubah jika kita tidak menjadikannya sebuah kebiasaan. Apa yang kita ajarkan sekali dua kali, tidak bisa kita harapkan langsung dipahami dan diikuti oleh anak. Kita harus mengajaknya secara rutin, kita pun juga harus memberinya contoh perilaku secara konsisten. Pengasuhan anak memang membutuhkan kesabaran. Kita akan sulit mendapatkan hal yang berkualitas baik dengan cara-cara instan.

⏰🏁

Misalnya ketika kita mengajari anak kita agar tidak mengompol. Pertama-tama kita harus membiasakan anak kita untuk tidak banyak minum air sebelum tidur, lalu menyuruh mereka untuk buang air kecil sebelum tidur. Seperti apa pun penolakan mereka, kita harus bisa memaksa mereka untuk melakukannya. Tentunya dengan cara paksaan yang baik.

⏰🏁

Atau ketika kita melatih anak kita yang sudah cukup besar untuk terbiasa tidur sendiri. Mungkin awalnya mereka akan menolak. Atau mereka cuma tahan tidur sendiri sejam dua jam saja, setelah itu ia akan menghampiri kamar tidur orang tuanya. Tentunya jika kita ingin melatih mereka, maka kita harus mengantarkan mereka kembali ke tempat tidur mereka, atau membiarkan mereka bergabung di kamar orang tuanya sejenak, lalu mengembalikan mereka ke kamar tidur mereka sendiri.

Mungkin setelah itu mereka akan kembali ke kamar orang tuanya lagi, tapi tidak apa-apa, tidak masalah. Beberapa saat kemudian ajaklah mereka kembali ke kamarnya. Bagaimana jika mereka kembali ke kamar orang tua lagi? Bersabarlah, ajak mereka kembali ke kamar mereka. Begitu seterusnya.

⏰🏁

Memang begitulah kondisinya, kita harus bersabar sehingga akhirnya mereka bosan dan memberanikan diri untuk tidur sendiri di kamar mereka. Melelahkan? Iya. Hampir semua orang tua pasti merasakan keletihan di malam hari. Mereka para orang tua sebenarnya juga ingin istirahat di malam hari, tapi apa daya mereka tidak akan bisa istirahat jika anak-anak mereka masih merengek, minta ini itu. 

Begitulah usaha pengasuhan anak, tidak ada yang bisa dicapai dengan instan. Semuanya butuh konsistensi. Ini selaras dengan hadis Rasulullah ﷺ : 

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit. (HR Bukhari dan Muslim).

⏰🏁

Pencapaian-pencapaian dalam hidup kita sebagian besar membutuhkan konsistensi. Agar juara kelas, kita harus konsisten belajar. Agar badan sehat, kita harus konsisten berolahraga. Agar diet berhasil, kita harus konsisten menjaga pola makan. Agar bisa menghafal Al-Qur’an, kita harus konsisten menghafal ayat-ayat. Agar bisa masuk surga, kita harus konsisten melakukan amal-amal baik, dan konsisten menghindari perbuatan dosa.

Tanpa adanya konsistensi, pencapaian-pencapaian itu tidak akan terjadi. Jika konsistensi dalam pengasuhan tidak tercapai, maka jangan harap adanya perubahan perilaku pada anak. Jika kita sudah menetapkan sebuah peraturan di dalam keluarga kita, jadilah orang tua yang konsisten untuk melaksanakan dan menegakkan aturan-aturan itu. 

insyaAllah akan dilanjut pekan depan.

⏰🏁⏰🏁⏰

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Courses / Parenting / 19. Verbal Abuse – Parenting (07.01 -09.45)

⏰🏁⏰🏁⏰


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s