[VoB2021] Semua Butuh Proses


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-265

Topik: Parenting

Sabtu, 13 Maret 2021

Materi VoB Hari ke-265 Pagi | Semua Butuh Proses

Oleh: Naima Bibianasyifa

#SaturdayParentingWeek38Part1

Part 1 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Alhamdulillah, minggu lalu kita sempat bicara tentang bagaimana anak harus mencari solusi sendiri. 

Pada awalnya mungkin, hanya diam merengut dengan tangan terlipat, ngambek

Tapi mulai yang kelima, keenam, ketujuh, pasti mereka menyerah. 

“Kita ngomong aja deh,” 

“Ayah, Ibu, kami minta maaf. Lihat, kami berpelukan sekarang😁”.

Tapi, ini bukan proses 1 kali, ini membutuhkan proses 10,15, bahkan 20 kali.

Sampai rasa defensive, amarah, dan frustrasi sang anak itu luruh. 

Sampai mereka sadar ini adalah “hukum” dan kita tidak bisa mengabaikan “hukum” ini. 

Dan ini bukan kesepakatan 1 kali, kebanyakan taktik kita gagal karena kita hanya melakukannya 1 kali, kita tidak meneruskannya.

Kita harus menetapkan hukum dan tetap menerapkannya.

Jika anak tahu bahwa orang tuanya menetapkan aturan dan tetap berpegang padanya, mereka tidak akan menggubris aturan itu.

“Semoga mulai hari ini kalian lepas dari hal ini. ” kata Ustaz. 

Anak yang mem-bully adiknya, mengejek adiknya, mendorong adiknya, mengambil mainan mereka, itu karena mereka bosan.

Mereka menunggu action

“Aku belum lihat ada action nih, mungkin aku colok saja matanya atau patahin krayonnya,😏”. 

Dia butuh excitement dalam hidupnya!

Ini bukan karena mereka jahat, mereka hanya bosan, tidak tahu mau melakukan apa.

 “Aku terhibur dengan mellihat adikku mencoba memukulku, lalu aku berlari.” 

Dan drama pun bermula, paling tidak ada “kehidupan” dalam rumah ini.

Beberapa anak begitu, kita harus memberikan perhatian kepadanya☺.

Kita harus bicara dengan mereka, bukan hanya saat mereka berbuat nakal saja. 

“Hei, kamu adalah kakak yang baik, kamu tahu betapa sayangnya adikmu padamu, kamu tahu dia ingin menjadi sepertimu,☺”.

Validasi mereka, hargai mereka.. 

Katakan pada mereka:

“Ini yang aku ingin kau lakukan, aku ingin menjadi sangat bangga padamu, bagaimana kalau kita berikan hadiah pada adikmu? Berikan mainan truk untuknya?”

“Ya, itu ide yang  bagus.😄”

Ajak dia ke Kidz Station, Toys City, atau Toys Kingdom, biarkan dia memilih. 

“Kira-kira mana yang akan dia suka?”.

Kita belikan juga dia hadiah kejutan, jangan sampai dia tahu, karena dia telah berbuat baik pada adiknya.

Kita hanya berinteraksi pada anak kita saat dia berbuat salah,

We got to stop doing that,” kata Ustaz Nouman. 

Dorong mereka untuk untuk berbuat baik bagi saudara atau saudarinya. Apalagi untuk anak yang lebih tua.

Saat mereka merasa sedang menjaga adiknya, itu akan menjadi perasaan yang berbeda.. 

Lambat laun, perkelahian akan berhenti. Sedikit demi sedikit, butuh waktu, tapi pasti akan berhenti. 

Kita tidak boleh terburu-buru dalam menghakimi orang lain.

“Aku melihat contoh ini di Qur’an, bahwa kita tidak boleh terburu-buru dalam menghakimi orang lain.” kata Ustaz. 

Kira-kira kisah siapa yang akan dicontohkan Ustaz? 

Bersambung Insya Allahu ta’aala di part selanjutnya.

💎💎💎💎💎💎💎💎💎

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Parenting / 18. Lessons in Parental Psychology Part 2/ 18. ‘Lessons in Parental Psychology Part 2(13.07.-16.07)


Materi VoB Hari ke-265 Siang | Sikap Kita dan Anak

Oleh: Naima Bibianasyifa

#SaturdayParentingWeek38Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Nabi Musa ‘alayhissalam meninju seorang lelaki karena lelaki tersebut juga meninju seseorang dari kaum sang Nabi.

Nabi teburu-buru dalam menghakimi orang, lalu berkata:

“hadza min ‘aamalisy syaithaan”. 

Nabi Daud ‘ alayhissalam saat menghadapi dua saudara yang sedang berdebat. 

Satu saudara mempunyai 99 ternak, saudaranya hanya punya 1.

Yang punya 99 ternak ingin menggenapkan ternaknya.

Mereka berdebat dan saling menyalahkan. Nabi Daud langsung membela si “korban”, 

“Harusnya dia gak langsung minta satu ternakmu ini.”

Tiba-tiba, “POOF!” kedua saudara itu menghilang. 

Saat itu, Nabi Daud langsung menyadari kesalahannya. 

Beliau tergesa-gesa dalam menghakimi kedua saudara tersebut, tanpa bertanya ke setiap pihak versi cerita mereka. 

“Rushing to judgement is a serious problem, don’t rush to judgement with your kids, don’t do that.” kata Ustaz Nouman.

“Jangan berkata, ‘ I’ve seen this a hundred times, I already know 😏 .’ Tidak, kamu tidak tahu,”.

“Para Nabi saja tidak diperbolehkan untuk begitu bahkan untuk hal-hal yang sudah jelas, masa kita boleh melakukan hal tersebut dengan anak kita? Mereka akan kehilangan keluguannya dengan begitu.” kata Ustaz.

Jadi ini adalah tahapan selanjutnya, tidak terburu-buru dalam menghakimi anak.

Yang pertama, tidak berusaha untuk melerai pertengkaran, lalu tidak terburu-buru dalam menghakimi anak. 

Untuk kebanyakan kasus, kita biarkan anak-anak untuk mencari solusinya. 

“You don’t want to be the judge all the time.”

Kita harus bisa melepas “seragam polisi” kita sesekali😅. 

Jika kita selalu berusaha untuk menjadi “pemecah”, maka hal ini akan kehilangan efeknya.

“Kalau kita selalu berteriak, tidak akan ada efeknya, kalau kita selalu menghukum mereka, tidak akan ada efeknya, kalau kita selalu marah, mereka hanya akan ‘Ya sebentar lagi ibu akan mengomel, lalu masalah akan selesai😏’.” kata Ustaz. 

“Nanti saat ibu selesai mengomel, aku akan benar-benar membalasmu.”

Tidak ada efeknya dengan begini…

Ustaz mencontohkan dengan keluarga beliau sendiri. 

Yang mendisiplinkan adalah istri beliau, beliau jarang marah kepada anak. 

Namun jika sesekali Ustaz marah, tanpa perlu berteriak, anak-anaknya akan paham.

Ustaz cukup bertanya tentang perilaku sang anak, dan anaknya akan paham bahwa “Aba” sedang tidak senang. 

Ada efeknya…

Ustaz juga tidak melakukan ini saat saudara-saudaranya ada di sekitar. 

Ruangan terpisah dan pintu tertutup, tidak ada anak-anak yang lain mencoba menguping di depan pintu.

“And, man, it’s therapeutic, she will come out of that room and she will hug her mother,” kata Ustaz. 

Sang ibu akan merespons:

“No, don’t hug me. I don’t want your hug😠.”

Nantinya Ustaz akan meminta sang istri untuk memeluk anak yang berbuat salah.

“You have to do that too sometimes.” kata Ustaz Nouman. 

Selanjutnya, Ustaz ingin memberikan gambaran ideal bagi orang tua. 

Apa ya kira-kira?

Insya Allahu ta’aalaa bersambung di part selanjutnya. 

💎💎💎💎💎💎💎💎💎

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Parenting / 18. Lessons in Parental Psychology Part 2/ 18. ‘Lessons in Parental Psychology Part 2(16.08.-20.17)


Materi VoB Hari ke-265 Sore | Idealnya Orang Tua…

Oleh: Naima Bibianasyifa

#SaturdayParentingWeek38Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Ustaz mengatakan kalau kita ingin menjadi orang tua yang selalu ingin “disiplin”, paling tidak jangan keduanya. 

Ada satu yang baru terlihat “serius” kala situasi emergensi, situasi yang sudah serius saja.

“But, ideally each parent should be like that, each parent should actually be not angry most of the time,” kata Ustaz.

 Kita harus berusaha untuk memainkan peran “psikolog”.

 Namun, adakalanya kita sudah tidak tahan, itu akan terjadi sesekali, kita lepas kendali.

 Itu tidak membuat Anda menjadi jahat.

Semisal, anda sedang menyetir, dan anak-anak ada di kursi belakang. 

Anda menerima telpon penting, dan Anda mengingatkan anak-anak:

“Aku harus mengangkat telpon ini, dan aku ingin kalian diam selama 5 menit,”

2 menit kemudian, apa yang terjadi? 

Lalu, Anda harus bicara dengan penelepon:

“Anak-anakku mulai rewel nih, aku telepon balik aja ya?”

Lalu, Anda akan berkata:

“Heiii… Aku sangat marah😠”, 

Dan disaat itu istri Anda jangan bilang “Fashbir shabran jamiilan”. 

Ada waktu untuk bersabar dan ada waktu untuk mengajarkan anak bahwa kita marah, namun untuk mengedukasi mereka.

Untuk mengedukasi, bukan untuk mengeluarkan frustrasi kita.

“Kita salurkan amarah kita dengan pertanyaan : ‘Kenapa Aku harus begini? Kenapa ini terjadi? Kenapa aku harus menaikkan suara di depan kalian?’”.

Itu membutuhkan banyak sekali pengendalian diri.  

Jika kita bisa melakukannya, Insya Allah hubungan kita dengan anak kita akan semakin membaik.

“Hubungan terbaik orang tua dengan anak adalah, ketika si orang tua tidak perlu terlihat atau mengatakan kemarahannya agar anak tahu mereka sedang marah,” kata Ustaz.

Dari raut muka sang ibu atau raut muka ayah, bahkan tidak perlu dengan muka marah memuncak, cukup sedikit muka sedih.

“Ibu, ada apa?”

“Bagaimana kalau kamu yang jelasin ada apa? Ibu tidak mau membicarakannya, kenapa tidak kamu saja yang bilang ke Ibu?”

“Memangnya aku melakukan apa Bu?”

“Oh, kamu tidak melakukan apapun ya? Berarti, kita tidak perlu bahas apa-apa,”

Nantinya, mereka yang akan kembali dan mengaku ke kita. 

“Iya, Bu. Tadi aku mendorong adikku ke tangga. Tapi, gak sengaja kok,”

“Oke, kenapa gak bilang kalau itu tidak sengaja? Dan kenapa kamu tertawa?”

 “You have to have those kind of conversations,” kata Ustaz.

Dengan marah? Ustaz menggeleng. Tidak akan bisa.

Jadi, berusaha untuk tidak menjadi “hakim”, biarkan anak menyelesaikan masalahnya.

 Jika ingin menghukum tapi tidak tahu pelakunya, maka hukum keduanya.

 Hukumannya? Tidak perlu berteriak, biarkan saja mereka melakukan sesuatu berdua.

“Kamu harus buat tulisan satu halaman tentang betapa baiknya adikmu. Jika tidak bagus, aku minta kau tulis ulang, jangan keluar kamar sampai kamu selesai menulis.” kata Ustaz.

Apa yang akan terjadi?

“Bu, pliis jangan dihukum ini Bu, yang lain ajaa 🥺”.

Itu yang akan membuat mereka jera, dan hukuman seperti inilah yang mau kita terapkan pada anak.

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Parenting / 18. Lessons in Parental Psychology Part 2/ 18. ‘Lessons in Parental Psychology Part 2(20.18-24.12) 

💎💎💎💎💎💎💎💎


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahaya-Nya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiara-Nya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s