[VoB2021] Physical Universe First


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-264

Topik: Pearls from Al-Kahfi

Jum’at, 12 Maret 2021

Materi VoB Hari ke-264 Pagi | Physical Universe First

Ditulis oleh: Heru Wibowo

#FridayAlKahfWeek38Part1

Part 1

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Minggu lalu kita berkelana dengan mesin waktu. Mengunjungi masa lalu. Saat di mana lahir banyak isme. 

Naturalisme, materialisme, skeptisisme, positivisme, humanisme, realisme, pragmatisme, eksistensialisme, komunisme, dan sebagainya. Boleh juga ditambahkan fraudisme jika kita mau.

Semua isme ini, meski berjalan berpencar, mereka sama-sama menjadi sebuah ancaman. Apakah ancaman itu? 

Isme-isme tadi tampak bergerak ke segala arah yang tak beraturan. Tapi ada satu hal yang menyatukan mereka semua.

Ini dia: mereka yang melahirkan isme-isme itu, dan yang terlibat dalam diskusi tentang isme-isme itu, mereka tidak tahu, Tuhan itu ada atau tidak. Mungkin Dia ada. Mungkin Dia tidak ada. 

Sebagian orang Eropa bilang, Tuhan itu tidak ada. Sebagian yang lain bilang, atau berpikir, bahwa Tuhan itu ada.

Banyak ilmuwan di zaman revolusi Eropa bahkan sangat percaya akan adanya Tuhan. Mereka adalah strong believers in God.

Mayoritas karya ilmiah dari ilmuwan-ilmuwan tadi menyebutkan keberadaan Tuhan. Sedangkan minoritas karya mereka barulah tentang ilmu pengetahuan.

Lebih dari jutaan halaman tulisan tangan telah dihasilkan, saat itu, yang bercerita tentang Tuhan. Menariknya, tulisan itu sebenarnya lebih dekat ke tauhid Islam daripada ke kekristenan.

Tapi mereka akhirnya semua berlabuh kepada sebuah kesadaran: apakah Tuhan itu ada atau tidak, itu tidak masalah.

Ngeri ya?

“Jika kamu mau percaya bahwa Tuhan itu ada, silakan saja!”

“Jika kamu mau percaya bahwa Tuhan itu tidak ada, silakan juga!”

“Mau percaya kek, mau tidak kek, nggak ada bedanya!”

“Daripada mikirin Tuhan, kalau kita memperhatikan alam semesta fisik (physical universe) lebih dekat, jika kita menjelajahi dan menyelidikinya, kita akan merasakan manfaatnya.”

Dan mereka sebenarnya sudah mulai merasakan manfaat-manfaat itu, bukan? Setelah mereka melakukan eksplorasi terhadap alam semesta fisik?

Saat penemuan-penemuan ilmiah merebak di mana-mana di Eropa, maka muncullah revolusi industri. 

“Kita telah membahas Tuhan selama berabad-abad, apa hasilnya? Apa manfaatnya? Dibawa ke mana kita dengan diskusi-diskusi itu?”

“Lalu kita melakukan eksplorasi alam semesta fisik, padahal baru sebentar saja, dan lihatlah apa yang kita dapat!”

“Lihatlah mesin-mesin yang mampu kita hasilkan!”

“Lihatlah pabrik-pabrik yang kita bangun!”

“Lihatlah berbagai moda transportasi yang kita kembangkan!”

“Lihatlah kemajuan teknologi persenjataan!”

“Lihatlah semua hal yang telah mengalami perubahan!”

“Lihatlah transformasi arsitektur yang kita hasilkan!”

“Jadi, meskipun kita tidak menyangkal keberadaan Tuhan, mari kita pinggirkan saja diskusi-diskusi ketuhanan itu. Mari kita kerahkan energi dan fokus kita kepada apa yang benar-benar penting, yakni penelitian alam semesta fisik.”

Pada dasarnya, saat itu, secara praktis, “Tuhan” telah digantikan dengan “alam semesta fisik”. Diskusi ketuhanan meredup. Digantikan dengan diskusi-diskusi ilmu pengetahuan.

Kita bisa memaklumi bahwa seseorang akan mempelajari sesuatu secara lebih dalam jika orang itu merasakan manfaatnya. 

Saat mereka mempelajari ilmu pengetahuan, apakah mereka merasakan manfaatnya? Ya, mereka sangat merasakan manfaatnya.

Apakah hal itu mendorong mereka untuk mempelajari lebih jauh lagi? Lalu, mempelajarinya lagi, dan lagi, dan lagi? 

Di dunia Islam saat ini, di mana kebanyakan dari kita mungkin berasal dari keluarga muslim, dengan orang tua kita yang muslim, kakek dan nenek kita yang juga muslim, tidakkah kita rasakan bahwa di keluarga-keluarga ini, ada penekanan yang besar bahwa kita diharapkan untuk meraih gelar akademik berbasis ilmu pengetahuan alam?

Ayo ngaku !

Penekanan seperti itu, supaya kita memiliki gelar insinyur, dokter, arsitek, dan sebangsanya itu, bukan berasal dari ruang hampa. Bukan berasal dari kevakuman.

Jika ingin sukses, harus ada hasilnya. Harus jelas hasilnya. Harus bisa dirasakan, atau segera dirasakan, hasilnya. 

Jika ada seorang muslim, yang diminta orang tuanya untuk mengejar gelar akademik berbasis sains, tapi dia berkata kepada orang tuanya, “Aku ingin mempelajari ilmu tentang ketuhanan.”

Apa kira-kira respons dari orang tuanya? Apa yang akan dialami oleh si anak tadi, yang “berbeda arah” dengan orang tuanya?

Tergantung jenis orang tuanya seperti apa, tapi bisa jadi orang tuanya akan menggampar kepala anak itu. Ini sih jenis orang tua yang sadis ya.

Bagaimana jika jenis orang tuanya adalah yang penuh pengertian? Mungkin respons orang tuanya seperti ini, “Ayah sudah mengatur fakultas dan jurusan yang akan kamu masuki.”

Sebentar, penulis mungkin perlu meminta maaf kepada para ayah. Itu tadi hanya contoh. Sebenarnya, bisa ayah, bisa ibu.

Menarik juga untuk dilakukan survei, sebenarnya. Untuk jenis orang tua seperti ini, siapa yang lebih dominan mengarahkan anaknya ke fakultas tertentu: ayah atau ibu. 

Sang ayah, atau ibu, tadi, mungkin menambahkan, “Kalau kamu mempelajari ketuhanan, ayah tidak tahu apa yang akan kamu perbuat dengan kehidupanmu kelak.”

Para orang tua itu secara tidak sadar telah menggemakan (echoing) sentimen dari revolusi industri tadi, tanpa mereka menyadarinya.

Itulah ancaman yang terjadi. Dan itu nyata. Bahkan masih terjadi sampai sekarang. Mungkin masih akan terjadi sampai beberapa tahun atau puluh tahun ke depan.

Dan itu baru ancaman yang pertama. Masih ada ancaman yang kedua. Apakah ancaman yang kedua itu.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 08. Al-Kahf and Dajjal Part 1 – A Deeper Look (34:40 – 38:02)


Materi VoB Hari ke-264 Siang | Sains, Tubuh, dan Kehidupan Saat Ini

Ditulis oleh:  Heru Wibowo

#FridayAlKahfWeek38Part2

Part 2

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Ancaman kedua adalah: “Kita tidak yakin bahwa jiwa (soul) itu ada. Tapi kalau ada yang mau percaya, silakan saja.”

Penelitian tentang “jiwa”, tidak terlalu berkembang. Sudah ada ilmuwan yang menelitinya, tapi tidak terlalu banyak yang dihasilkan.

Tapi kalau kita mempelajari tubuh manusia, tubuh secara fisik, kita berhasil mengalami banyak kemajuan dalam memahami fisiologi tubuh manusia. Ada banyak terobosan di dunia kedokteran dan pengobatan.

Kita juga memahami diet secara jauh lebih baik. Banyak hal baru yang kita ketahui di bidang kesehatan. Usia harapan hidup (life expectancy) juga lebih baik.

Jika ada yang berpendapat bahwa kita, manusia, berasal dari “jiwa”, barangkali tidak masalah jika kita punya sebuah ruangan kecil untuk pendeta di rumah sakit. Atau ruang salat di sekolah kedokteran.

Tapi untuk apa kita ada di rumah sakit atau di sekolah kedokteran tadi, seharusnya fokusnya semata-mata adalah untuk mempelajari tubuh manusia secara fisik.

Jadi pada dasarnya penekanan pada “jiwa” di masyarakat premodern, berubah penekanannya menjadi penelitian tubuh manusia secara fisik di masyarakat pascamodern.

Gereja, saat itu, terus-menerus menekankan “penyiksaan” tubuh seseorang bahkan sampai dia meninggal dengan dalih bahwa hal itu justru “membantu” dia menyembuhkan jiwanya.

Bagaimana bisa kita menyalahkan revolusi Eropa yang menyuarakan, “Saya tidak berpikir kami ingin menyelamatkan jiwa lagi. Kami lebih memilih untuk menyelamatkan tubuh manusianya.”

Dan tentu saja saat ada penemuan-penemuan yang luar biasa dalam bidang fisiologi, kedokteran, dan pengobatan, di beberapa abad terakhir. 

Sebelumnya, dunia tidak pernah menyaksikan penemuan-penemuan gemilang seperti ini.

Sehingga, saat “Tuhan” digantikan oleh “alam semesta fisik”, yang juga terjadi berikutnya adalah penekanan pada “jiwa” digantikan oleh penekanan pada “tubuh” manusianya.

Pertanyaan ketiga yang menyodok agama adalah: “Mungkinkah ada kehidupan setelah mati, mungkinkah ada surga dan neraka?”

“Tapi bagaimana ya? Kehidupan kita saat ini, kehidupan di dunia ini, agama menyatakan bahwa kita bisa memiliki kehidupan yang menyedihkan di dunia ini, tapi kita bisa memiliki kehidupan yang baik di surga. Benar nggak ya?”

“Apakah itu pasti? Terus terang aku tidak tahu apakah aku akan memiliki kehidupan yang baik, atau kehidupan yang lebih baik, di kehidupan nanti. Yang jelas, aku ingin memiliki kehidupan yang baik di dunia ini.”

Jadi marilah kita melakukan mempelajari bagaimana supaya kita bisa memiliki kehidupan yang baik, di sini. Di dunia ini.

Mari kita pelajari psikologi sehingga kita bisa memiliki kehidupan emosi yang lebih baik. Kita bisa mengelola reaksi psikologis dan fisiologis secara lebih baik.

Mari kita pelajari sosiologi sehingga kita bisa memahami sifat dan perilaku masyarakat. Sehingga kita bisa mengelola masyarakat secara lebih baik.

Mari kita pelajari ilmu politik, antropologi, sejarah, dan pembangunan wilayah perkotaan, perencanaan kota, supaya kita bisa memperbaiki kualitas kehidupan.

Mari kita perbaiki sistem sanitasi. Mari kita perbaiki infrastruktur. Mari kita perbaiki arsitektur kota. Mari kita perbaiki sistem transportasi.

Semua perbaikan dan penyempurnaan itu akan membuat hidup kita lebih baik, di sini, di dunia ini, di Indonesia ini, di Jakarta ini. Atau di kota mana pun Anda tinggal.

Dan pada saat mereka menaruh perhatian dan penekanan kepada semua hal yang disebutkan tadi, apakah mereka mendapati adanya perubahan?

Apakah kehidupan masyarakat, secara fisik, tampak lebih baik? Faktanya, kita menikmati buah dari itu semua, termasuk di dalamnya adalah teknologi yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Itu adalah hasil dari penekanan pada perbaikan kualitas kehidupan. Betul, kan? Jadi ada tiga hal yang ditekankan: (1) ilmu pengetahuan fisik, (2) tubuh secara fisik, dan (3) kehidupan saat ini, di dunia ini, sekarang ini. 

Ada satu hal lagi yang ingin dibahas Ustaz, yang perlu kita ketahui supaya poinnya menjadi lebih jelas. Menurut Ustaz, poinnya masih belum begitu jelas hingga titik ini.

Apakah satu hal itu?

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 08. Al-Kahf and Dajjal Part 1 – A Deeper Look (38:02 – 41:30)


Materi VoB Hari ke-264 Sore | Kembali ke Ayat

Ditulis oleh:  Heru Wibowo

#FridayAlKahfWeek38Part3

Part 3

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ

Agama mengajarkan moral yang bersifat universal. Agama mengatakan, yang ini benar, dan yang ini salah. Dan yang benar serta yang salah itu tadi, berlaku untuk selamanya (timeless).

Tuhan menyingkapkan kebenaran itu. Dan Tuhan selalu menyingkapkan kebenaran yang sama. Prinsip-prinsip yang diajarkan tidak pernah berubah.

Kita dibuat jelas tentang apa yang harus kita lakukan dan apa yang jangan kita lakukan. 

“Tapi, tunggu sebentar. Agama itu sendiri sangat menindas.” Seperti yang sudah kita bahas di part sebelumnya, ada “penyiksaan” yang katanya membebaskan jiwa.

“Itu artinya: agama itu bisa salah. Berarti apa yang selama ini dianggap benar, belum tentu semuanya itu benar.”

“Agama mungkin mengandung hal-hal yang baik. Tapi seharusnya kita tidak membiarkan agama memutuskan apa yang benar dan apa yang salah.”

Ada kebijakan Gereja saat itu yang berseberangan dengan hal ini. Paus memutuskan apa yang benar dan apa yang salah. 

“Apa tidak sebaiknya kita musyawarahkan saja, kita sama-sama mencari tahu apa yang baik dan apa yang salah. Sehingga kita bisa merumuskan “apa yang benar dan apa yang salah”, yang semoga lebih baik dari konsep benar dan salah yang ada sekarang.

Jadi, benar dan salah menjadi relatif.

“Tidak masalah buat Anda untuk mempertanyakan lagi sebuah perkara yang sudah dianggap salah selama berabad-abad, kita bisa memikirkannya kembali secara logis, dan kita bisa menyepakati kesimpulan yang baru terhadap perkara tadi.”

“Saat ini kita bisa berpikir secara bebas untuk kita sendiri. Untuk masyarakat kita. Karena kita telah membebaskan pikiran kita. Tidak lagi terjerat oleh rambu-rambu agama.”

”We can redefine right and wrong.”

“Kita bisa mendefinisikan kembali apa yang benar dan apa yang salah.”

“Yang kita definisikan saat ini, mungkin tidak perlu secara kaku kita terapkan. Siapa tahu besok atau tahun depan kita lebih tertarik dengan definisi yang berbeda.”

Kesimpulannya: Moralitas biasanya dianggap sesuatu yang mutlak. Kemudian dia berubah dan tidak lagi seperti itu. Moralitas berubah menjadi sesuatu yang subjektif.

Contohnya: homoseksualitas tadinya dianggap sebagai sebuah kelainan psikologis oleh Asosiasi Psikologi Amerika, tapi sekarang sudah tidak lagi seperti itu. Bahkan jika ada psikolog yang masih berpendapat “kaku” seperti itu, di Amerika, mungkin dia tidak akan bisa menjadi profesor di universitas ternama, di sana.

Bukan saja tidak bisa menjadi profesor, ada hal yang lebih parah yang bisa terjadi: kehilangan jabatan, pencopotan lisensi praktik sebagai psikolog, dan kehidupan profesional pun “selesai” sudah.

Ketika kita memahami hal ini, maka kita menyadari bahwa perubahan-perubahan telah terjadi begitu cepat. Bergerak sangat-sangat cepat. Standar-standar telah berubah.

Ustaz ingin kita kembali kepada apa yang pernah Ustaz ucapkan. Bahwa pusat dari wahyu yang Allah turunkan adalah “ayat”.

Dan “ayat” merupakan deskripsi dari realitas yang terlihat, dan pada saat yang sama, juga merupakan deskripsi dari realitas yang tak terlihat.

Masalah di Gereja saat itu adalah ketidakseimbangan (imbalance). Sementara itu, Islam selalu mengajarkan keseimbangan (balance).

Islam mengajarkan, di satu sisi kita ada di dunia ini untuk mengabdi kepada Allah, tapi juga huwa ansya-akum minal-ardhi wasta’marakum fiihaa (QS Hud, 11:61).

“Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya.”

Ketika Eropa bilang, “Kita ingin membangun masyarakat yang lebih baik dan menyempurnakan infrastruktur,” Allah tidak ada masalah dengan hal itu.

Ketika dibilang, “Kita harus memperhatikan dan merawat tubuh kita,” Rasulullah SAW pun menyatakan, “Tubuhmu punya hak atas kamu.”

Ketika dibilang, “Makanlah yang baik-baik,” Al-Qur’an tidak menyangkal hal itu. Al-Qur’an juga menyuarakan hal yang senada, dengan konsep halaalan thayyiban

Lalu bagaimana dengan the life here and now atau penekanan terhadap hidup saat ini dan the life after atau hidup di masa nanti, hidup setelah mati? Bagaimana pula dengan Allah dan alam semesta?

Apakah Allah meminta kita untuk melakukan refleksi terhadap alam semesta? Untuk melakukan eksplorasi terhadap apa-apa yang baik dari alam semesta?

Waqaddara fiihaa aqwaatahaa (QS Fushshilat, 41:10). “Dan Dia tentukan makanan-makanan bagi penghuninya.” 

Allah telah meletakkan tenaga (power) dan sumber daya alam (resources) di dalam bumi, untuk kita semua.

Waja’alnaa lakum fiihaa ma’aayisy (QS Al-Hijr, 15:20). Allah telah menjadikan padanya sumber-sumber kehidupan untuk keperluan manusia. Supaya kita bisa hidup dengan baik.

Dengan kata lain, dunia yang terlihat (the seen world) dan dunia yang tak terlihat (the unseen world), keduanya seharusnya sinkron. Sejalan, selaras. 

Sayangnya kekristenan memisahkan hubungan antara kedua “dunia” tadi, dan bilang, “Kita berupaya untuk menyelamatkan jiwamu.”

Menariknya, meski ada “penyiksaan fisik” seperti itu, Paus sendiri hidup di istana yang cukup luas. Tapi dalam ceramahnya, beliau biasanya berkhotbah tentang hidup yang penuh kesengsaraan dan kepedihan.

Kesenangan, kegembiraan, dan suka cita itu adalah tentang kehidupan nanti, begitu biasanya isi khotbahnya, sedangkan hidup ini adalah sebuah kutukan. Hidup ini sendiri adalah sebuah hukuman. Jadi, tidak masalah jika kita tidak punya apa-apa, di dunia ini. 

Apakah Islam mengajarkan bahwa kita harus hidup miskin. Atau, kita harus menjalani hidup yang penuh penderitaan?

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Deeper Look / 18. Al-Kahf / 08. Al-Kahf and Dajjal Part 1 – A Deeper Look (41:30 – 45:50)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s