[VoB2021] Proses Editorial: Kita Perlu, Allah Tidak


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-263

Topik: Divine Speech

Kamis, 11 Maret 2021

Materi VoB Hari ke-263 Pagi | Proses Editorial: Kita Perlu, Allah Tidak

oleh: Rendy Noor Chandra

#ThursdayDivineSpeechWeek38Part1

Part 1

————————————–

بسم الله الرحمن الرحمن

Sebelumnya kita membahas tentang pertukaran urutan pada QS. Al-Mulk:29  yang berbunyi,

قُلْ هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ءَامَنَّا بِهِۦ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا 

Katakanlah: “Dialah Allah Yang Maha Penyayang kami beriman kepada-Nya dan (hanya) kepada-Nya-lah kami bertawakkal.

Kita sedang membicarakan tentang penyampaian yang mungkin bagi kita butuh sekitar 10 menit. Tapi bagi Allah, pertukaran urutan itu bisa dilakukan dalam hitungan detik. Setidaknya untuk manusia, kita butuh menambahkan kata “hanya”.

Bahkan untuk terjemah dalam bahasa Inggris disebutkan arti dari ayat tersebut, sebagai berikut.

“Say, He is The Most Merciful, we believe in Him and we rely upon Him.”

Begitulah terjemahan Al-Mulk ayat 29 dalam bahasa Inggris. Tapi tunggu dulu, ada yang hilang di sini. Kita hanya menggantungkan hidup kita kepada-Nya.

Bahkan ketika kita menuliskan terjemah dari ayat tersebut, yang mana berbeda ketika kita berbicara langsung, kita tidak memikirkan untuk menambahkan kata ‘hanya’. Walaupun sebenarnya kita punya banyak waktu untuk berpikir dan menambahkan kata tersebut. Allah ﷻ bisa menyampaikan makna tersebut dengan tepat dalam sekejap mata. 

Ustaz Nouman mengajak kita untuk memahami dan memikirkan tentang realitas ini selama kita melewati bagian dari kuliah Divine Speech.

Ketika manusia berbicara, manusia bisa berbuat salah. Hal itu tidak bisa dihindari. Di hari sebelumnya, Ustaz Nouman menyampaikan kuliah Divine Speech dalam beberapa jam. Ustaz Nouman bahkan sampai lupa kesalahannya sendiri.

Dalam beberapa jam tersebut, beliau yakin bahwa beliau banyak membuat kesalahan secara tata bahasa. Beliau yakin bahwa ada bagian pidato yang beliau ulang beberapa kali. Ketika beliau mengulang mengatakan suatu kalimat, itu akan dianggap sebagai kesalahan.

Kalau ada yang membuat transkrip dari setiap kata yang diucapkan Ustaz Nouman dalam kuliah beliau, kita akan menemukan Ustaz Nouman salah mengucapkan suatu kata, atau secara tata bahasa kurang tepat, atau beliau mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan orang lain, atau beliau mengulang suatu kata yang sebenarnya tidak perlu.

Sedangkan ketika menulis atau mengirim email kita punya banyak waktu untuk mengoreksi tulisan kita, atau meminta orang lain mengecek apabila ada kesalahan. Sama halnya dengan menulis artikel, esai, atau makalah. Orang lain bisa memperbaiki kesalahan penulisan kita. Kesalahan seperti pengulangan kata yang “tidak perlu” bisa dihindari. Proses ini dikenal sebagai proses editorial. 

Ketika kita sekolah atau kuliah, kita akan menghadapi tugas menulis makalah. Beberapa guru, dosen atau profesor sangat baik karena mereka bahkan meminta kita mengirimkan draft makalah yang oleh kita sendiri belum kita cek. Kemudian, mereka mencoret banyak sekali dan mengembalikannya kepada kita, dan mengatakan “Kumpulkan tulisan yang sudah diperbaiki dari ini.”

Apakah kita akan menulis makalah hanya sekali saja atau akan ada banyak versi? Biasanya kita menamakannya “Makalah Final” atau “Makalah Super Final” atau “Makalah Super Final Banget Pokoknya.”

Kita akan memeriksa tiap kata dan tanda baca. Kita mungkin menghapus beberapa kata dan menggunakan kata ganti. Kita mungkin memindahkan paragraf atau menambahkan indent untuk membuat paragraf baru. 

Kita sering seperti ini ketika menulis, bukan?

Itulah yang namanya proses editorial. 

———————————————–

Bersambung insya Allah ba’da Zhuhur.

Sumber: 

Bayyinah TV  – Quran – Courses – Divine Speech – 07. Sequencing in the Quran (07:00-09:22)


Materi VoB Hari ke-263 Siang | Lihat Sebelum Dengar: Sebuah Anomali

oleh: Rendy Noor Chandra

#ThursdayDivineSpeechWeek38Part2

Part 2

————————————–

بسم الله الرحمن الرحمن

Proses editorial ini tidak hanya untuk kita dan teman-teman kuliah kita saja. Penulis buku pun juga melalui proses yang sama. Ketika sebuah buku terbit akan ada edisi pertama, kedua, dan ketiga. 

Di bagian pendahuluan buku tersebut, penulisnya mengucapkan terima kasih kepada saudara dan teman yang menyarankan untuk menghapus bab tertentu. Atau kepada ibunya yang mengucapkan kritik yang justru malah menjadi motivasi menulis 😁 . Mereka menulis seperti itu karena ada proses editorial ini.

Yang menakjubkan dari Al-Qur’an adalah ia tidak diturunkan dalam bentuk buku. Al-Qur’an disampaikan secara lisan oleh Rasulullah ﷺ. Masalahnya ketika satu kalimat keluar dari mulut, kita tidak bisa menambahkan kata di antara kata-kata yang diucapkan. Ketika kita menulis di kertas, kita bisa mencoret suatu kata dan menambahkan kata baru. Ketika mengetik di ponsel, kita bisa menghapus kata sebelum mengirimkannya. Masih ada kesempatan untuk mengeditnya.

Ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan Al-Qur’an tidak ada pengulangan untuk merevisi. Setelah selesai menyampaikan ayat, tidak akan ada revisi kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Hanya sekali saja. Itulah versi akhirnya. Versi yang terus dibaca hingga sekarang. 

Ketika versi pertama saja sudah sempurna, itu tidaklah mungkin bagi manusia. Itulah yang akan kita bahas kali ini. 

Kenapa penyampaian seperti ini tidak mungkin direplikasi manusia?

Kita akan mengambil contoh ayat yang agak sulit dipahami dulu. 

أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ ۚ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan

QS. Al-Kahfi:26

Ayat ini membahas tentang Allah ﷻ. Yang aneh adalah Allah ﷻ menyebutkan penglihatan terlebih dahulu kemudian pendengaran. Pada umumnya Allah ﷻ menyebutkan pendengaran dulu lalu penglihatan. 

Misalnya pada ayat ketika Allah menjadikan pendengaran dan penglihatan kepada manusia. 

فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

Karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

QS. Al-Insan:2

Kami (Allah) membuatnya bisa mendengar dan bisa melihat. 

Jadi “mendengar” disebutkan sebelum “melihat”. Al-Qur’an menyebut urutan ini secara konsisten di banyak tempat.

Hanya ada 2 pengecualian tentang urutan ini, dari belasan ayat yang menyebutkan pendengaran sebelum penglihatan. Pertanyaannya adalah mengapa mengubah urutan di dua tempat ini?

———————————————–

Bersambung insya Allah ba’da Ashar.

Sumber: 

Bayyinah TV  – Quran – Courses – Divine Speech – 07. Sequencing in the Quran (09:22-13:16)


Materi VoB Hari ke-263 Sore | Lihat Sebelum Dengar: Alasan dan Detail Kecil

oleh: Rendy Noor Chandra

#ThursdayDivineSpeechWeek38Part3

Part 3

————————————–

بسم الله الرحمن الرحمن

Kasus pertama di mana urutan ini diubah di surah Al-Kahfi. Pemuda-pemuda ini kabur meninggalkan kota mereka dan pergi menuju ke suatu gua. Ketika mereka bersembunyi di dalam gua, masalahnya bukan tidak ada yang bisa mendengar mereka, tapi tidak ada yang bisa menemukan alias melihat mereka. 

Dalam konteks tersebut, Allah ﷻ ingin menekankan bahwa tidak ada yang tahu di mana mereka dan hanya Allah yang mampu melihat mereka. Ada alasan mengapa menekankan penglihatan dulu kemudian pendengaran.

Sebagai tambahan, kita tidak akan bisa tahu di mana mereka. Allah ﷻ tidak hanya punya pengawasan penuh dalam kegelapan gua, tetapi juga menjelaskan detail kecil dari percakapan di antara para pemuda tersebut. 

Di zaman tersebut belum ada mikrofon. Tidak ada kamera yang merekam pembicaraan mereka. Tidak ada jurnalis juga di sana. Tidak ada yang menerjemahkan pembicaraan mereka. Tidak ada catatan sejarah tentang apa yang terjadi di dalam gua.

Yang menjadi saksi kejadian tersebut hanyalah Allah ﷻ. Allah yang merekam pembicaraan mereka dan memasukkannya ke dalam Al-Qur’an.

Hal ini menjadi catatan tersendiri buat Ustaz Nouman, bahwa Al-Qur’an punya perspektif yang unik terhadap sejarah. Ketika kita membaca buku sejarah, kita akan mendapat perspektif dari penulisnya atau kita melihat sudut pandang peneliti sejarah. 

Ketika kita membaca sejarah dalam Al-Qur’an, kita sedang membaca dari sudut pandang siapa?

Sudut pandang Allah ﷻ sendiri.

Kita akan melihat dari sudut pandang Allah peristiwa sejarah dalam Al-Qur’an. Bukan dari ahli sejarah atau manusia. Itulah yang luar biasa. 

Ketika seorang ahli sejarah menulis sejarah, ia akan menyebutkan detail yang menurutnya penting. Misalnya, sekelompok pasukan A berjumlah sekitar 3000 orang. Mereka mengarah dari utara ke selatan. Mereka berkelana selama 3 bulan. Perang terjadi selama 4 tahun. Ahli sejarah itu akan menyebutkan keterangan-keterangan yang menurutnya penting untuk dijelaskan.

Ahli sejarah itu tidak akan menuliskan tentang percakapan antara 2 anggota pasukan dalam perang tersebut. Bahkan memerinci isi percakapan di antara mereka. Kenapa?

———————————————–

Bersambung insya Allah pekan depan.

Sumber: 

Bayyinah TV  – Quran – Courses – Divine Speech – 07. Sequencing in the Quran (13:16-15:48)


Penutup

Semoga Allah terangkan, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon do’akan kami agar bisa istiqomah untuk berbagi mutiara-mutiaraNya. 🙏

Jazakumullahu khairan 😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s