[VoB2021] Manifestasi Iman dan Kemunafikan


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-261

Topik: Pearls from Al Baqarah

Selasa, 9 Maret 2021 

Materi VoB Hari ke-261 Pagi | Manifestasi Iman dan Kemunafikan

Ditulis oleh: Icha Farihah

#TuesdayAlBaqarahWeek38Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ بسم الله الرحمن الرحيم

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ ءَامِنُواْ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓاْ أَنُؤۡمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُۗ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَٰكِن لَّا يَعۡلَمُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman.” Mereka menjawab, “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?” Ingatlah, Sesungguhnya merekalah orang-orang yang kurang akal; tetapi mereka tidak tahu.” (QS Surah Al-Baqarah, 2:13)

Kita melanjutkan pembahasan tentang orang-orang munafik di surat Al-Baqarah.

Di ayat ke-13 ini, orang-orang munafik mendapatkan nasihat dari teman-temannya yang muslim.

Teman-teman muslim mereka berkata, aaminuu, berimanlah.

Dalam kasus ini, teman-temannya tidak mengatakan kepada mereka: aamannaa billaahi wabil yawmil aakhir.

Berimanlah kepada Allah dan hari akhir.

Seperti yang telah kita ketahui, orang-orang munafik sebenarnya telah mengatakan bahwa mereka beriman. Tapi, sebagai seorang teman, mereka, orang-orang muslim, dapat melihat bahwa ada yang salah dengan keimanan temannya sendiri.

Tentu kita tahu bahwa keimanan terletak di dalam hati. Kita tidak bisa menghakimi seseorang dari luarnya saja. Lalu kenapa teman-teman muslimnya ini menghakimi mereka dengan mengatakan “berimanlah”?

Iman memang perkara hati, tapi ketika seseorang memiliki iman yang benar, cahaya keimanan seharusnya akan memancar ke luar. Iman bermanifestasi ke dalam perilaku, karakter, dan kepribadian seseorang.

Orang yang beriman tidak perlu mencari cara untuk menunjukkan keimanannya itu kepada siapa pun kecuali kepada Allah. 

Tidak ada keinginan sedikitpun untuk orang yang beriman membuktikan betapa salehnya dan taatnya dia di hadapan makhluk.

Jadi, teman-teman muslimnya yang menyadari perilaku orang-orang munafik ini mendatangi dan menyampaikan kepada mereka di suatu forum yang tertutup, mereka tetap menjaga adab untuk menasihati dalam sepi. 

Orang-orang muslim ini mengatakan kepada mereka, “Berimanlah. Lihatlah bagaimana orang-orang beriman. Mereka beriman, tapi tidak melakukan sesuatu yang engkau lakukan. Bagaimana kamu mengatakan beriman, tapi keimananmu itu tidak memberikan inspirasi sedikit pun terhadap perilakumu. Kenapa kamu tidak berperilaku seperti orang-orang Islam seharusnya?”

In syaa Allah bersambung ba’da zhuhur.

🌤🌤🌤🌤🌤

***

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 06. Al-Baqarah (Ayah 12-16) – A Deeper Look

(10:07 – 11:32)


Materi VoB Hari ke-261 Siang | Beriman dengan Kriteria Minimal

Ditulis oleh: Icha Farihah

#TuesdayAlBaqarahWeek38Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ بسم الله الرحمن الرحيم

Orang-orang munafik pada ayat ke-13 diminta untuk beriman sebagaimana orang lain beriman.

Menariknya, kalimat tersebut berbunyi kamaa aamanan naas. Bisa saja sebenarnya yang digunakan adalah kamaa aamanal mu’minuun (sebagaimana orang-orang mukmin) atau kamaa aamanal muhajiruun (sebagaimana orang-orang muhajirin) atau kamaa aamanas sabiquun (sebagaimana orang-orang terdahulu).

Teman-teman muslimnya tidak meminta orang-orang munafik beriman sebagaimana orang mukmin, orang muhajirin, atau sahabat-sahabat nabi yang paling dahulu beriman.

Ayat ini menunjukkan bahwa mereka diminta beriman sebagaimana orang-orang biasa beriman.  

Dengan kata lain, ada banyak orang yang mirip dengan orang-orang munafik ini dalam segi pengetahuan dan perjalanannya dalam berislam. Mereka bukan seperti kaum muhajirin yang telah berjuang bersama nabi shalallaahu ‘alayhi wa salam sejak awal dakwah di Makkah. Meskipun demikian, orang-orang biasa ini tetap taat dan tidak berperilaku seperti kaum munafik.

Orang-orang munafik hanya diminta beriman sebagaimana orang-orang biasa beriman. Itu saja. Seharusnya itu bukanlah sesuatu yang sulit. Hanya beriman dengan kriteria minimal.

🌤🌤🌤🌤🌤

Beberapa pendapat lain mengatakan bahwa penggunaan kata an naas dalam ayat ini bertujuan untuk memberikan referensi kepada orang-orang munafik terhadap kelompok Yahudi yang telah memeluk Islam.

“Berimanlah sebagaimana orang-orang Yahudi seperti Abdullah bin Salam telah beriman.” 

Jadi, mereka telah diberi tahu untuk beriman seperti orang-orang biasa atau orang-orang di sekitar mereka, tapi mereka tetap saja pada perilaku yang sama. Dan itulah ciri dan karakter dari kemunafikan.

🌤🌤🌤🌤🌤

Kaum munafik bisa saja ada di dalam kelompok orang-orang yang baik. 

Ketika seseorang ada di sebuah kelompok yang buruk, ia akan merasa dikelilingi oleh hal-hal negatif, mulai dari mabuk-mabukan, berkata kotor, dan sampai tidak percaya kepada eksistensi Tuhan. Keburukan-keburukan itu lambat laun akan memengaruhi dirinya dan ia menjadi sama seperti orang-orang di kelompok tersebut. Ia akan membuat banyak alasan karena berperilaku demikian. “Mau bagaimana lagi teman-temanku seperti itu.”

Berbeda jika seseorang dikelilingi oleh orang-orang baik. Kegiatan mereka dipenuhi hal-hal positif dan bermanfaat sehingga tentunya sangat sedikit membuat alasan-alasan untuk berbuat buruk. Ia tidak bisa menyalahkan lingkungannya kalau dia sendiri yang berperilaku buruk.

Itulah mengapa di ayat ini, teman-teman muslim mereka datang dan seolah-olah mengatakan, “Lihatlah sekelilingmu. Kamu berada di antara orang-orang baik. Kenapa hanya kamu yang memiliki iman yang tidak sehat?”

In syaa Allah bersambung ba’da ashar.

🌤🌤🌤🌤🌤

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 06. Al-Baqarah (Ayah 12-16) – A Deeper Look (11:32 – 13:25)


Materi VoB Hari ke-261 Sore | Anggapan Kebodohan Kaum Munafik

Ditulis oleh: Icha Farihah

#TuesdayAlBaqarahWeek38Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ بسم الله الرحمن الرحيم

Orang-orang munafik akhirnya merespons perkataan teman-teman muslim mereka dengan mengatakan, qaaluu anu’minu kamaa aamanas sufahaa. Artinya, “Mereka menjawab, “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?””

Mengapa orang-orang munafik ini memberikan panggilan “kurang akal” kepada kaum muslim?

Kata kurang akal atau bodoh di dalam ayat ini memiliki makna sebagai seseorang yang tidak mempertimbangkan segala konsekuensi atas pilihan atau tindakannya.

Asal kata dari kebodohan (foolishness/stupidity) adalah safah (سفه) yang artinya berkurangnya tingkat intelektualitas seseorang dan ketidakmampuan dalam membuat sebuah keputusan yang matang.

🌤🌤🌤🌤🌤

Menurut orang-orang munafik, keputusan yang pintar adalah keputusan yang berkaitan dengan melindungi masa depan. Merencanakan keuangan jangka pendek menengah dan panjang, melakukan investasi, merencanakan kehidupan setelah pensiun, dan hal-hal lain yang sebenarnya sangat lazim untuk manusia saat ini. Kita juga melakukan hal yang sama dalam kehidupan karir, keuangan, keluarga, dan masa tua.

Tapi, kemudian, apa yang terlihat di hadapan orang-orang munafik tentang keadaan muslim saat itu adalah sebaliknya. 

Mereka melihat betapa mengenaskannya kondisi para sahabat dan umat muslim saat tiba pertama kali di Madinah.

Apa yang dibawa Abu Bakar ke Madinah?

Apa yang diinvestasikan Utsman di Madinah?

Apa yang direncanakan Sa’ad untuk hidup di Madinah?

Tidak ada. Mereka pada saat itu datang dalam keadaan bangkrut, tidak ada harta, jabatan, dan bahkan keluarga. Semua mereka tinggalkan di kampung halaman Makkah demi membawa satu-satunya harta yang paling berharga bagi mereka yaitu iman. Hanya iman harta yang mereka miliki saat itu.

Orang-orang munafik berpikir betapa kurang akalnya keputusan mereka. Dahulu saat di Makkah, orang-orang ini adalah pebisnis yang makmur, mereka punya rumah, mereka punya harta, mereka memiliki reputasi yang baik. Tapi sekarang apa? Mereka menjadi gelandangan di Madinah. Mereka memilih tinggal di tanah imigran dan pergi berperang. 

Keputusan yang menurut para sahabat sangat baik karena semua itu terinspirasi dari keimanan yang mereka miliki.

Maka dari itu, ketika teman-teman muslimnya mengatakan di ayat ini, “Berimanlah sebagaimana orang lain beriman”, mereka menolak dan seolah-olah mengatakan, “Tidak. Terima kasih. Itu sama sekali bukan keputusan yang pintar, malah lebih ke arah ekstrim. Seharusnya mereka hidup dalam pendekatan yang seimbang. Itu baru keputusan yang benar.”

Ketika diajak berperang, mereka pun akan menimpali dengan berkata, “Kenapa kami perlu ikut berperang bersama umat Islam? Mereka telah kehilangan rumah, harta, dan reputasi mereka. Jadi, berperang atau tidak, mereka sebenarnya sudah kalah dan tidak punya apa-apa. Sedangkan kami berbeda. Kami memiliki sesuatu yang berharga. Kami tidak akan berperang, kalah, dan kehilangan. Lagi pula, kami tidak ada masalah dengan kaum Quraisy. Jadi, kami tidak akan ikut.”

🌤🌤🌤🌤🌤

Sufaahaa. Orang-orang kurang akal. Itulah panggilan orang munafik kepada kaum muslim atas keputusan dan pengorbanan yang didasari oleh iman.

In syaa Allah bersambung ba’da ashar.

***

Sumber: Bayyinah TV > Surahs > Deeper Look > 06. Al-Baqarah (Ayah 12-16) – A Deeper Look

(13:25 – 16:14)


Semoga Allah terangi, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon doakan kami agar bisa istiqomah berbagi mutiara-mutiaraNya.🙏

Jazakumullahu khairan😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s