[VoB2021] Guidance


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-262

Topik: Pearls from Ali ‘Imran

Rabu, 10 Maret 2021

Materi VoB Hari ke-262 Pagi | Guidance

Oleh: Muchamad Musyafa

#WednesdayAliImranWeek38Part1

Part 1

💡💡

Ada sesuatu yang lebih baik bagi kita saat kita menerima agama Islam. Kata “Innanaa aamannaa” pada surat Ali Imran ayat 16, memang menggambarkan kesedihan, tapi juga mencakup perkataan Allah yaitu “Ada orang-orang yang telah membuktikan bahwa apa yang Aku punya yaitu, taman-taman dan pasangan di surga itu jauh lebih baik, dan mereka telah menyatakannya dengan menyatakan keimanan mereka.”

Karena mereka telah menyatakan keimanan mereka, maka mereka meminta pengampunan dari Allah ﷻ. 

(Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka (QS. Ali Imran 3:16).

💡💡

Ada 2 sisi yang bisa kita pahami di sini, yang pertama  mereka yang telah beriman, mereka datang kepada tuhannya, mereka meminta dosa-dosa lama mereka diampuni. Mereka meminta pengampunan atas dosa yang mereka lakukan sebelum mereka memeluk Islam. Sebelumnya mereka telah lalai, kini mereka memohon ampun atas apa yang mereka lalaikan itu. Seperti janji Allah ﷻ kepada mereka yang pertama kali mengucap syahadat, maka Allah akan menghapuskan dosa mereka sebelumnya. Mereka telah menerima Islam. 

Sisi kedua yang bisa kita lihat dari ayat 16 ini adalah bahwa walaupun mereka telah menyatakan keimanannya, bukan berarti mereka akan menjadi seperti malaikat. Mereka tetaplah manusia biasa, yang bisa saja ke depannya tetap melakukan kesalahan-kesalahan. Mereka tetap memiliki nafsu, setan-setan tetap saja akan bisa berbisik di hati mereka. Mereka bisa saja dengan mudah terpengaruh hal-hal buruk. Mereka bukan malaikat yang akan terjaga dari kelalaian. Oleh karena itu mereka meminta Allah ﷻ memberi mereka harapan bahwa mereka akan diberikan pengampunan jika di masa yang akan datang mereka lalai.

💡💡

Orang yang beriman itu tidaklah memiliki petunjuk selamanya, mereka tidak suci seterusnya. Tidak bisa kita berkata “Alhamdulillah, sekarang saya telah mendapatkan petunjuk”. Tidak seperti itu, Allah ﷻ bisa saja memberi kita petunjuk di suatu saat, tapi kita tetap harus memohon petunjuk itu terus menerus. Allah ﷻ mengajarkan kita untuk memohon petunjuk terus menerus. Dalam salat kita berucap ihdina shiratal mustaqim tunjukilah aku ke jalan yang lurus. Kita harus terbiasa meminta petunjuk di tiap rakaat salat kita. 

Petunjuk bukanlah sesuatu yang bisa kita miliki selamanya. Ia datang dan pergi. Ilmu pengetahuan bisa kita miliki, kita bisa menjadi ulul ilmi, namun tidak ada istilah namanya ulul huda. Karena tak seorang pun yang menjadi pemilik segala petunjuk. Tiap-tiap orang tetap harus meminta, terus meminta petunjuk kepada Allah ﷻ. Boleh jadi ilmu seseorang terus menerus bertambah, tapi itu bukan jaminan bahwa petunjuk yang ia dapatkan pun terus bertambah.

InsyaAllah berlanjut nanti siang

💡💡💡💡💡

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali-Imran / 06. ‘Ali ‘Imran – Ayah 16-18 Ramadan 2018  (07.12-10.00)


Materi VoB Hari ke-262 Siang | Ekor Unta

Oleh: Muchamad Musyafa

#WednesdayAliImranWeek38Part2

Part 2

🐪🐫

Tiap-tiap orang tetap harus meminta, terus meminta petunjuk kepada Allah ﷻ. Boleh jadi ilmu seseorang terus-menerus bertambah, tapi itu bukan jaminan bahwa petunjuk yang ia dapatkan pun terus bertambah. Bahkan ada orang yang Allah biarkan makin tersesat karena pengetahuannya itu.

Allah berfirman,

Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. (Ali Imran 3: 7-8)

🐪🐫

Mereka ini memiliki ilmu, mereka beriman kepada Al-Qur’an. Tapi mereka tetap memiliki kekhawatiran atas hati mereka. Mereka tetap memohon agar hati mereka dijauhkan dari kesesatan.

Yang namanya hati memang bisa bermasalah kapan pun. Isi hati bisa naik sesaat lalu kemudian turun lagi setelahnya. Orang-orang bisa saja mendapatkan ijazah atas keberhasilan memperoleh tingkatan ilmu tertentu. Namun tidak ada orang yang bisa mendapatkan ijazah atas ‘kelulusan’ hatinya. Mereka yang hatinya hari ini bersih, bisa jadi esok menjadi sangat kotor jika ia tidak menjaga hatinya. Oleh karena itu usaha-usaha untuk menjaga hati harus terus dilakukan sampai kapan pun. 

🐪🐫

Omong-omong, jika kita perhatikan bahwa di surat Ali Imran ayat 16, ayatnya seperti ini:

Alladzina yaquluna rabbana innana amanna faghfir lana dzunubana waqina ‘adzaba nar.

Sedangkan di surat Ali Imran ayat 193:

Rabbana innana sami’na munadiya yunadi lil iman an aminu birabbikum fa amanna. Rabbana faghfir lana dzunubana wakaffir  ‘anna sayyiatina watawaffana ma’a alabrar.

Bisa kita lihat di sini, doa kecil di awal surat Ali Imran seakan-akan telah mengembang, mekar, menjadi bunga yang indah di akhir surat Ali Imran. 🌺

🐪🐫

Tapi untuk sekarang kita akan fokus apa yang ada di ayat 16 dulu. Di sana ada kata dzunub. Ia biasanya diterjemahkan sebagai dosa. Di ayat 193 dikenal ada juga istilah sayyi’at. Dzunub berasal dari kata dzanab yang memiliki arti ekor dari hewan. Dalam literatur bahasa Arab, hidung (anfu) memiliki arti kiasan yang berlawanan dengan ekor (dzanab). 

Hidung berada di tempat yang tinggi dan terdepan dibanding ekor yang ada di belakang dan di bawah. Jadi orang Arab mengasosiasikan hidung sebagai sebuah kebanggaan. Sedangkan ekor diasosiasikan sebagai sesuatu yang memalukan. Sehingga mereka memiliki ungkapan ‘hidung unta’ anfu naqal sebagai sebutan untuk orang yang memiliki kedudukan yang tinggi. Kebalikannya adalah ‘ekor unta’ dzanabun naqal untuk menyebut orang rendahan yang memalukan.

Lalu apa hubungannya antara ekor dzanab dan dosa dzunub?

InsyaAllah akan dilanjut nanti sore.

🐪🐫🐪🐫🐪

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali-Imran / 06. ‘Ali ‘Imran – Ayah 16-18 Ramadan 2018  (10.00 -12.12)


Materi VoB Hari ke-262 Sore | Perbedaan Standar Perilaku

Oleh: Muchamad Musyafa

#WednesdayAliImranWeek38Part3

Part 3

✅❌

Ada beberapa tindakan yang bisa membuat kita merasa malu, dan ini disebut sebagai dzunub. Sedangkan sayyi’at lebih terkait kepada tindakan dosa seperti membunuh, mencuri. Ini berbeda dengan dzunub yang jenisnya bisa beragam. Apa yang memalukan bagi seseorang belum tentu memalukan bagi orang lain.

✅❌

Mari kita beri contoh kasusnya,

Seorang Ustaz mendatangi salat Subuh. Biasanya dia selalu datang paling awal, bahkan dialah yang biasa mengumandangkan azan. Namun hari itu, Ustaz ini datang terlambat. Ia datang ke masjid lebih belakang dibanding orang-orang lain. Jadi ia telah melewatkan waktu azan dan juga ia ketinggalan rakaat pertama.

Lalu bersama dengan Ustaz tadi, ada si Fulan yang juga datang terlambat ke masjid. Hari itu adalah hari pertama bagi Fulan untuk mengikuti salat Subuh setelah hampir 5 tahun ia melewatkannya. Mereka berdua masuk ke masjid untuk menyusul jamaah yang sudah ada di rakaat kedua.

Setelah mereka berdua selesai salat, Ustaz tadi merasa malu di hadapan Allah ﷻ. Ia malu karena hari itu ia datang terlambat. Ia merasa lalai. Ia merasa gagal atas tekadnya untuk selalu datang salat tepat waktu. Sedangkan Fulan di sampingnya membatin, ia merasa senang karena hari ini ia bisa menghadiri salat Subuh berjamaah di masjid. Ia memang malu karena dulu dia banyak meninggalkan salat di masjid, tapi hari ini ia bahagia atas pencapaiannya. Ia tidak mempermasalahkan kalau ia datang terlambat, ia tidak mempermasalahkan bahwa meninggalkan sunah salat subuh dan lainnya. Yang pasti ia merasa hari ini telah mencapai hal yang luar biasa. 

✅❌

Kita bisa lihat di sini, mereka berdua sebenarnya melakukan hal yang sama, tetapi mereka merasakan hal yang berbeda. Jadi definisi hal yang memalukan bagi mereka berdua ini terlihat berbeda. Ustaz tersebut merasa malu, tetapi bagi si Fulan dia malah merasa sukses.

Jika seorang mukmin berevolusi, ketika keimanannya bertambah, maka standar baku perilaku mereka berubah. Tolok ukur mereka telah naik, Target-target mereka meningkat. Sehingga akhirnya apa-apa yang membuat mereka malu akan berubah jika dibanding diri mereka yang lama.

✅❌

Namun seorang ahli tahajud tidak bisa memaksakan standar baku perilakunya kepada anak kecil untuk bisa mengikutinya untuk rajin salat tahajud. Boleh saja kita ini memaksa orang lain untuk mengerjakan hal-hal yang wajib. Namun untuk hal-hal yang sifatnya sunah, kita hanya bisa terbatas sekedar memberikan anjuran. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk melakukan ibadah-ibadah sunah. Karena seperti yang disampaikan di atas bahwa masing-masing orang memiliki level keimanan yang berbeda, sehingga standar perilaku mereka pun berbeda-beda. 

Itulah mengapa bagi Rasulullah ﷺ, Allah berfirman. 

لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ وَيَهۡدِيَكَ صِرَٰطٗا مُّسۡتَقِيمٗا  

Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus (QS. Al-Fath 48:2).

✅❌

Allah ﷻ menggunakan kata dzanb/dzanab di sana untuk menyebut dosa/kesalahan nabi Muhammad. Allah ﷻ tidak menggunakan sayyi’at. Itu artinya bahwa kesalahan nabi Muhammad ﷺ tersebut adalah kesalahan yang dirasa memalukan bagi seseorang yang levelnya nabi Allah. Mungkin jika kita tahu apa kesalahan itu, kita akan merasa bahwa perbuatan itu wajar-wajar saja bagi kita, tapi apa yang kita anggap wajar dan biasa itu bisa jadi memalukan bagi seorang nabi Muhammad ﷺ. Wallahu’alam.

✅❌✅❌✅

Sumber : Bayyinah TV / Home / Quran / Deeper Look / 3. Ali-Imran / 06. ‘Ali ‘Imran – Ayah 16-18 Ramadan 2018  (12.13 -15.15)

✅❌✅❌✅


Penutup

Semoga Allah terangkan, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon do’akan kami agar bisa istiqomah untuk berbagi mutiara-mutiaraNya. 🙏

Jazakumullahu khairan 😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s