[VoB2021] Saudara Sekandung adalah Prioritas


Voice of Bayyinah (VoB) Hari ke-258

Topik: Parenting

Sabtu, 6 Maret 2021

Materi VoB Hari ke-258 Pagi | Saudara Sekandung adalah Prioritas

Oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek37Part1

Part 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Wa ulul-arhaami ba’dhuhum awlaa biba’dhin fii kitaabillaah. Ustaz menyebutkan bahwa ayat ini ada di surah Al-Anfal, surah ke-8. Tepatnya di ayat 75. Ayat ini juga ada di surah Al-Ahzab, surah ke-33, ayat 6.

Orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain (the people of close family ties), orang-orang yang terikat dengan rahim seorang ibu, misalnya saudara kandung (siblings), lebih diprioritaskan menurut Al-Qur’an.

Itulah yang secara harfiah Allah sebutkan di Al-Qur’an. Hubungan saudara sekandung itu sungguh-sungguh Allah tekankan untuk diprioritaskan.

Ulul-arhaam, mereka yang punya ibu kandung yang sama, yang terikat oleh rahim yang sama, mereka lebih dekat, mereka punya prioritas satu sama lain. Sesuai yang disebutkan di Al-Qur’an.

Konteks ayat ini memang tentang waris-mewarisi, tapi secara umum dalam kehidupan seharusnya juga seperti itu.

Pikirkan kakak atau adik kandung kita lebih dulu. Jangan sampai kita banyak membantu orang lain, tapi kakak atau adik kandung kita lupa dibantu. Jangan sampai kakak atau adik kandung lebih membutuhkan, tapi yang kita bantu justru orang lain.

Mau bermain dan bersenang-senang? Lakukan dengan saudara sekandung lebih dulu. Itu prioritasnya. Bukan dengan tetangga, teman sekolah, atau yang lain. Prioritasnya adalah saudara sekandung lebih dulu.

Jangan malah mengucilkan, mengecualikan, mengabaikan saudara kandung sendiri. Tertawa gembira dengan teman tapi saudara sekandung malah dicuekin.

Ini adalah hal yang pertama yang perlu Ustaz sampaikan. Supaya kita bisa mengingatkan anak-anak kita, bahwa pertalian saudara sekandung itu adalah sebuah ikatan kehidupan (a bonding for life).

Hal yang kedua adalah tentang menghentikan pertengkaran (breaking up a fight). 

Tidak bisa dipungkiri, pertengkaran pasti akan terjadi. Itu adalah realitasnya. Ada saudara sekandung yang tidak pernah bertengkar? Yang seperti itu tidak akan pernah terjadi.

Hanya karena kita mendengar cerita yang indah-indah tentang Hasan dan Husain, tidak berarti mereka selalu akur sepanjang waktu.

Mereka juga anak-anak. Mereka juga tidak luput dari pertengkaran.

Brothers will wrestle. Seorang laki-laki dengan saudaranya yang laki-laki akan bergelut, bergulat, bercanda, dan bergumul. 

Insya Allah kita lanjutkan ba’da zhuhur.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 18. Lessons in Parental Psychology Part 2 – Parenting (07:22 – 08:39)


Materi VoB Hari ke-258 Siang | Gerak Tubuh, Rasa Benci, dan Kata-Kata

Oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek37Part2

Part 2

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Bukan hanya saudara-saudara sekandung laki-laki yang akan bergumul. Anak-anak perempuan pun, meski saudara sekandung, akan berdebat. Akan bertengkar.

Anak-anak laki-laki bisa sampai berguling-guling di lantai. Seakan-akan mereka menikmati pergumulan itu. Sampai salah satu siku yang satu menghantam gigi yang lainnya.

Benar-benar berkelahi. Tipe perkelahiannya bisa bermacam-macam. Ada yang hanya wrestling. Semacam judo. Berusaha untuk menjatuhkan lawan.

Ada yang perkelahiannya seperti UFC (Ultimate Fighting Championship). Mungkin mereka, anak-anak laki-laki itu, terinspirasi oleh Khabib Nurmagomedov 😃😃.

Ustaz menganggap bahwa tipe perkelahian UFC memiliki level lebih tinggi dari wrestling, dan anak-anak laki-laki itu bisa cepat sekali berubah tipe perkelahiannya dari wrestling ke UFC 😃😃.

Itulah realitas yang terjadi pada anak-anak kita. 

Lalu bagaimana caranya memisahkan mereka? Yang sedang “khusyuk” berkelahi itu? Dan apa yang akan terjadi jika kita tiba-tiba melerai mereka?

Misalnya seorang ayah yang baru masuk rumah dan menjumpai anak-anak laki-lakinya sedang adu jotos. Meski bukan polisi, sang ayah memosisikan diri sebagai polisi, “What happened here?” 

“Ada apa nih???!!!”

Atau mungkin, “Apa-apan nih???!!!”

Apa yang terjadi kemudian? Mereka pause, berhenti sebentar. Lalu saling tunjuk. Kakaknya melemparkan jari telunjuknya ke arah adiknya. Adiknya juga berbuat hal yang sama. 

Drama berlanjut. Sang adik tentu saja membela diri, “Aku??!! Nggak mungkinlah aku yang memulai! Dia tuh yang memulai!” Sang adik bahkan tidak lagi memanggil “kakak”, tapi “dia”,

Para orang tua yang berpengalaman sudah tahu bahwa kebanyakan perkelahian itu awalnya berasal dari sesuatu yang bersifat nonfisik.

Misalnya pertengkaran antara dua saudara kandung perempuan. Saat dilerai, dan ditanya kenapa, salah satunya berujar, “Dia sih, panggil aku gendut!”

Setelah diselidiki lebih jauh, ternyata salah satunya memang memicu pertengkaran, “Kamu tahu kan, boneka gajahku? Itu lebih kurus dari kamu.” Body shaming yang menyakitkan. Dari situlah muncul tamparan yang pertama. 

😡😡😡😡😠😠😠😠

Kadang pertengkaran terjadi bukan karena kata-kata. Hanya karena gesture. Hanya karena gerakan atau isyarat tertentu. Yang bisa disengaja, tapi bisa juga tidak disengaja.

Gerakan atau isyarat itu membuat saudaranya marah. “Kamu itu memang sukanya ngeremehin orang deh!”

Yang dimarahi berkilah, ”I didn’t do anything.” Dia tidak melakukan gerakan yang macam-macam. Yang meremehkan atau apa.

I didn’t hate her!” Saudara perempuan yang satu bilang, sekaligus memastikan, bahwa dia tidak membenci saudara perempuannya.

Enggak percaya! Kamu itu memang benci sama aku!” 

Ustaz meminta kita, para orang tua, untuk memahami, bahwa penyebab pertikaian itu biasanya adalah tiga hal: gerak tubuh, rasa benci, dan kata-kata. 

Untuk orang Indonesia, mudah menghafalkannya. Karena bisa disingkat menjadi GeRaK. 

Gerak tubuh bisa memicu pertengkaran.

Rasa benci bisa memicu pertengkaran.

Kata-kata bisa memicu pertengkaran.

Gerak tubuh itu bisa saja berupa sekadar “pandangan mata”. Yang dipersepsi sebagai pandangan mata curiga. Atau pandangan mata merendahkan. Atau apapun. 

Bisa salah, bisa benar. Bisa disengaja, bisa tidak disengaja. Tapi gara-gara itu, pertengkaran tak terhindarkan. 

Tapi anak-anak kita seharusnya belajar dari situ. Karena mereka tahu persis apa yang bisa membuat kakaknya merasa terganggu. Apa yang bisa membuat adiknya merasa terganggu. 

Yang menarik, menurut Ustaz, 99% kemungkinannya kita tidak tahu siapa yang sesungguhnya memulai pertengkaran itu. 

Apa itu artinya?

Insya Allah kita lanjutkan ba’da ‘ashar.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 18. Lessons in Parental Psychology Part 2 – Parenting (08:39 – 10:55)


Materi VoB Hari ke-258 Sore | Taktik Deprivation

Oleh: Heru Wibowo

#SaturdayParentingWeek37Part3

Part 3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Karena 99% kemungkinannya kita tidak tahu siapa yang memulai, maka kita tidak bisa “menghukum” siapa pun.

Berarti harus ada policy atau kebijakan yang baru di rumah kita untuk merespons atau menyikapi situasi ini.

Policy pertama adalah bahwa kita tidak menyikapi pertengkaran anak-anak kita seperti seorang polisi. 

Maksudnya, bukan polisi yang “sahabat anak”, tapi polisi yang suka marah-marah, angkuh dan arogan, main intervensi tanpa memahami situasinya.

Lalu policy seperti apa yang seharusnya kita terapkan?

Datangilah pertengkaran itu sebagai seorang psychologist. Sebagai seorang psikolog atau ahli ilmu jiwa.

Yang pertama kita lakukan adalah memisah mereka berdua secara perlahan-lahan. Dengan penuh ketenangan. Luka jiwa sudah ada, dan kita coba bantu mereka supaya tidak terjadi luka fisik. Fa ash-lihuu baynahumaa.

Make peace between them. Mendamaikan mereka yang bertengkar itu. “Everybody calm down. You sit on your bed. You sit on your bed.”

Kita meminta semuanya untuk tenang. Kita sendiri tentunya bicara seperti itu dengan penuh ketenangan. Lalu kita minta sang kakak untuk duduk di tempatnya. Demikian juga dengan sang adik.

Relax. Take a deep breath.” Kita meminta anak-anak kita yang bertikai itu untuk rileks. Untuk menarik nafas panjang.

Kita harus memikirkan bagaimana caranya supaya kita sendiri tetap tenang, super tenang, cool, sehingga tercipta suasana yang benar-benar tenang dan kondusif.

Tak kan bisa terbayangkan jika kita mendatangi anak-anak itu dalam kondisi marah, sementara mereka satu sama lain juga sedang bertengkar dengan penuh kemarahan.

Mengomentari situasi seperti itu, situasi kemarahan yang sedang beradu dengan kemarahan, lalu ada orang tua yang datang memperparah keadaan dengan tambahan amunisi kemarahan, kata Ustaz, too many explosive devices inside that room 😃😃.

Terlalu banyak alat peledak di dalam ruangan itu. 

Kita tidak suka dengan teroris yang meledakkan bom sembarangan. Tapi kita sendiri, dalam contoh situasi tadi, telah menjadi “teroris” di dalam rumah kita sendiri 🙊🙊🙏🙏.

Saat melangkah masuk ke ruangan di mana anak-anak kita bertengkar, kita perlu tetap tenang dan memusatkan perhatian kita untuk menciptakan suasana yang tenang. Berpikir bagaimana supaya ketegangan anak-anak kita itu mereda.

Itulah yang seharusnya kita lakukan. Apakah itu mudah? Tentu saja tidak. Ustaz mengakui bahwa untuk tetap tenang, sehingga akhirnya suasananya berubah menjadi tenang, itu adalah sesuatu yang berat untuk dilakukan.

Misalnya Anda sedang berbicara dengan seseorang di telepon, lalu Anda mendengar suara anak-anak Anda saling berteriak satu sama lain, maksudnya bukan berteriak kegirangan tapi berteriak saling menyerang, apa yang Anda pikirkan? Apa yang Anda lakukan?

Bisa saja Anda berpikir, “Kurang ajar bener anak-anak ini. Mempermalukan aku di depan Pak Fulan. Pasti kedengaran dong dari ujung sana. Apa kata keluarga Pak Fulan nanti tentang keluargaku?”

Lalu Anda buru-buru bilang ke Pak Fulan, “Oh ya Pak, maaf, bisakah saya menghubungi Bapak besok pagi-pagi?”

Setelah itu Anda segera menutup telepon dan bergegas menuju ke arah suara-suara dengan nada yang sangat tinggi tadi. Lalu Anda ikut bersuara dengan nada yang jauh lebih tinggi lagi untuk meluapkan amarah Anda. Betapa anak-anak Anda itu telah mempermalukan keluarga di depan Pak Fulan!

😇😇😀😀🙏🙏🙈🙈🙊🙊😃😃

Apa solusinya menghadapi situasi seperti itu?

Anda bisa menerapkan semacam aturan atau kebijakan (policy) di dalam rumah tangga Anda. Kebijakan itu bukan tentang hukuman (punishment) tapi lebih mengarah ke “pencabutan” (deprivation).

Apa itu maksudnya?

Yang dimaksud dengan “pencabutan” di sini sebenarnya adalah sebuah taktik yang bisa kita gunakan sebagai orang tua.

Kita “mencabut” mereka dari “lokasi pertengkaran”, mengajak mereka duduk bersama di satu ruangan. Atau pindah lokasi ke meja makan.

Tidak perlu berlama-lama. Mungkin cukup 20 menit saja. Mempertemukan semuanya di situ. Kita beri mereka waktu 20 menit itu untuk bicara satu sama lain.

“Kalian akan berada di sini sampai 20 menit ke depan. Mungkin bisa lebih cepat dari itu. Silakan kalian berembuk. Pikirkan bagaimana caranya kalian bisa saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Pikirkan bagaimana caranya kalian tidak saling menyakiti satu sama lain. Begitu kalian sudah selesai berembuk, datanglah dan bicarakan pada ayah.”

You don’t judge. Let them figure it out for themselves.

Anda tidak menghukum mereka. Anda tidak menghakimi mereka. Anda tidak ikut-ikutan berteriak-teriak yang tidak perlu. Biarkan mereka mencari jalan keluar untuk mereka sendiri. 

Insya Allah kita lanjutkan minggu depan.

Sumber: Bayyinah TV > Home / Quran / Courses / Parenting / 18. Lessons in Parental Psychology Part 2 – Parenting (10:55 – 13:06)


Semoga Allah terangkan, lembutkan, dan kuatkan hati kita dengan cahayaNya.🤲

Mohon do’akan kami agar bisa istiqomah untuk berbagi mutiara-mutiaraNya. 🙏

Jazakumullahu khairan 😊

Salam,

The Miracle Team 

Voice of Bayyinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s